“Katy.” Suara Zoey mengembalikanku dari lamunan panjang. Aku menoleh dan memperhatikan jari-jari tangannya yang memegang kemudi dengan erat. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengajukan pertanyaan yang semenjak kami duduk berdua di dalam mobil, pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. “Kenapa lo mau?” Zoey mengerutkan keningnya. “Apa?” “Ini semua.” Aku melirik tajam ke arahnya. “Lo diminta Jace untuk datang. Dan lo datang dengan senang hati.” “Jace bilang lo dalam masalah dan dia butuh bantuan gue.” “Lo terlalu jauh mencampuri urusan gue.” Nada suaraku meninggi. “Lo itu menantang bahaya, Kat!” “Tapi ini semua enggak ada hubungannya sama lo. Lo bukan siapa-siapa gue lagi.” Zoey menggelengkan kepala. Seolah kecewa dengan apa yang telah aku ucapkan. “Kat, sadar! Lo terlalu tergila-gila sama cowok itu. Sikap lo udah enggak wajar.” Aku membuang pandanganku ke samping. Mencoba menyembunyikan bulir bening yang mulai berjatuhan dari ujung mataku. “Kalian berdua mempermainkan gue.” Aku sebetulnya tidak boleh menaruh separuh kesalahanku hari ini pada Zoey. Namun, aku butuh seseorang untuk disalahkan. Aku merasa terlalu lelah untuk menduga dan mencari tahu alasan kenapa aku dibuang seperti sampah. Aku tidak menemukan satu pun rumus yang bisa memecahkan persoalanku dengan Jace. Dan semua metode algoritma yang sudah aku susun juga tidak mampu membawaku pada jawaban yang aku cari. *** Pada malam sebelum pensi dilaksanakan, aku dan tim panitia mengadakan rapat akhir tata laksana. Kami me-review kembali semua hal dari mulai jam tampil pengisi acara, sampai kontrak upah dengan menejemen artis yang sudah dikonfirmasi hadir esok hari. “Vania, laporan keuangannya itu belum final. Gue bahkan belum cek lagi setelah gue terima dari Maudy. Harusnya lo bilang dulu ke gue sebelum laporan itu lo kirim ke vendor,” keluhku pada sekretaris acara ketika mengetahui laporan keuangan sudah terkirim ke beberapa vendor. Termasuk pada kepala sekolah. “Gue juga ngirim atas persetujuan Kak Doni. Lagian itu gue nerusin dari email lo. Gue pikir itu udah final,” kilahnya tidak mau disalahkan. Aku mendecak kesal. Aku ingin mengecek kembali laporan keuangan yang di buat oleh Maudy dan Nina tempo hari. Namun, ternyata laporan itu kepalang terkirim. Tidak mungkin aku menarik laporan itu dan merevisi di kemudian hari. Vania berkata jujur. Email yang dia teruskan ke berbagai pihak memang dari email resmi kepanitian Pensi bertanda tangan ketua acara, yaitu aku. Aku tidak pernah selalai ini. Kesibukanku dalam persiapan kompetisi OSN dan hubunganku yang kacau dengan Jace membuatku tidak fokus dengan acara pensi. Rapat sudah selesai dua jam yang lalu. Panitia lapangan tidak pulang malam ini. Mereka sibuk membantu mempersiapkan tenda dan panggung untuk esok hari bersama vendor terkait. Aku sendiri berkutat dengan rincian laporan keuangan yang sudah kepalang terkirim di ruang rapat. Memastikan kembali bahwa semua angka sudah sesuai dengan bukti pemasukan dan pengeluaran yang aku terima dari tim. Aku keluar ruangan rapat dan berjalan melewati kelasku. Tiba-tiba aku mendengar ada yang sedang mengobrol dari dalam kelas. Aku mengenali suara itu. “Gue harus kasih tahu Katy.” Suara Sheryl terdengar pelan. Aku tertarik untuk menguping ketika namaku disebutkan dalam pembicaraan Sheryl dengan seseorang di ruang kelas yang sepi. “Nanti dulu. Gue belum punya banyak bukti.” Sekarang suara Shafira yang terdengar dari dalam. Keningku berkerut. Apa yang sedang mereka bicarakan? “Terus kita harus gimana? Kita enggak bisa biarin Katy sendirian kali ini.” Terdengar kecemasan dari nada bicara Sheryl. Tipikal Sheryl ketika ada sesuatu yang mengganjal hatinya. “Gue bakal coba deketin Doni lagi dan mengorek info lebih jauh. Gue bakal pura-pura masih benci sama Katy supaya dia mau jujur.” Ada apa ini? Kenapa mereka merencanakan sesuatu di belakangku? Aku mendengar mereka bergerak menuju pintu. Buru-buru aku bersembunyi pada pilar pembatas antar kelas di belakangku. “Briya tahu tentang ini?” tanya Sheryl ketika dia keluar dari kelas sambil memegangi secarik kertas di tangannya. “Belum. Gue belum berani bilang ke siapa pun tentang ini. Sebenarnya gue udah curiga sejak lama. Tapi, gue butuh bantuan orang lain buat ngebongkar ini semua.” Shafira meremas kedua tangannya. “Gue pasti bantuin lo. Apalagi ini berkaitan tentang Katy.” Shafira menoleh pada Sheryl dan tersenyum kecil. “Gue tahu lo masih peduli sama dia.” “Gue enggak bisa begitu aja tinggalin dia sendirian. Walau bagaimana pun juga, dia tetap sahabat gue.” Ada rasa haru ketika mendengar pengakuan Sheryl itu. Namun, aku lebih tertarik untuk mengetahui apa yang mereka sembunyikan dariku. Kalau ini tentang aku, kenapa mereka tidak bilang langsung padaku? Ada banyak hal yang Sheryl sembunyikan dariku. Termasuk ketika dia bilang bahwa aku harus bersiap untuk kecewa jika mengetahui siapa Jace sebenarnya. Dulu aku pikir, dia hanya sakit hati saja padaku dan menakutiku dengan menyebutkan hal yang tidak baik tentang Jace. Jika Jace memang seburuk itu, kenapa dia mau berpacaran dengannya dulu? *** Pensi diselenggarakan di lapangan utama sekolah. Acaranya meriah dengan banyak penampilan dari tiap klub ekstrakulikuler sekolah dan perwakilan beberapa kelas. Tenda-tenda kreasi dari setiap kelas juga berjajar rapi di kanan kiri panggung utama. Rata-rata tenda itu menjual berbagai macam makanan dan minuman yang dibuat dan dijual oleh para siswanya sendiri. Dari siang sampai sore hari, banyak pertunjukan yang mengundang decak kagum. Mulai dari klub marching band, klub tari yang menampilkan tarian B-Boying dan macam-macam atraksi lainnya. Namun, para siswa tetap menantikan acara utamanya nanti malam. Yaitu penampilan dari Virda Bestadi. Penyanyi cowok yang sedang di gandrungi para remaja putri saat ini karena liriknya yang dalam dan cocok untuk para kaum patah hati. “Kat, kita lihat tenda jualan anak kelas XII. Mereka jual baju branded bekas. Masih bagus-bagus,” ajak Maudy ketika aku sedang berjalan menuju kelasku. “Gue mau ngambil baju ganti dulu. Lengket banget badan dari pagi belum ganti.” “Jam segini toilet lagi penuh. Lo mau mandi di mana?” Maudy mengingatkan. Aku berpikir sebentar. “Mungkin gue enggak akan mandi. Gue cuma mau cuci muka doang dan ganti baju di gudang OSIS. “Ya udah, gue ke bawah duluan ya,” pamitnya meninggalkanku. Aku berjalan menuju kelasku untuk mengambil baju ganti. Dari kejauhan aku melihat Doni sedang menggandeng seorang cewek ke ujung koridor yang sepi. Cewek itu memakai seragam salah satu sponsor yang tendanya di pasang di jajaran paling depan, dekat gerbang sekolah. Mereka terlihat akrab dan saling menggoda. Sikap Doni ini sangat menggelikan karena setahuku, dia masih berstatus sebagai pacaranya Shafira. Namun, aku tidak mau mengganggu mereka dan memutuskan kembali ke ruang kelas untuk mengambil baju ganti. Malam tiba dan keramaian beralih ke panggung utama. Band-band sekolah bergiliran tampil. Setiap siswa yang merasa kelasnya di wakili oleh band yang tampil, akan bersorak paling kencang sambil membentang bendera slank. Tidak peduli apa pun jenis musiknya. Kemudian yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Virda Bestadi menyapa kami semua dari atas panggung. Sontak semua yang menonton berteriak histeris. “Ayo ketengah, Kat.” Maudy menarik tanganku. “Eh bentar-bentar. Ada yang telpon.” ucapku ketika merasakan handphone-ku bergetar. Nama Aiden terpampang di layar. “Halo?” Aku menutup satu telingaku supaya bisa mendengar suara telepon dengan lebih jelas. “Kat, pulang sekarang, ya.” Suara Aiden terlalu kecil untuk bisa aku mengerti. Apalagi teriakan orang-orang di lapangan semakin menggila. Mereka meneriakan nama Virda Bestadi dengan sangat kencang. “Apa? Gue enggak denger.” Aku meninggikan suaraku sambil mencari tempat yang lebih sepi. “Tunggu di situ, nanti Jace yang anter lo pulang.” “Pulang? Kenapa?” Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Aiden tahu aku sedang sibuk. Tidak mungkin dia memintaku pulang jika tidak ada hal yang penting. Aiden tidak menjawab. Hanya saja aku mendengar suaranya bergetar. “Pulang aja dulu, Kat.” “Ada apa, Aiden?” Aku semakin cemas. “Katy, Papa!” Aku mendengar suara ibuku histeris di belakang Aiden. “Ada apa sama Papa?” Dadaku mulai berdegup kencang. “Mah, tenang dulu.” Aiden mencoba menenangkan ibuku, walaupun dari suaranya dia terdengar sedang ketakutan. “Kat, pulang ya sekarang. Gue tunggu.” Sambungan belum berakhir ketika tiba-tiba aku mendengar ibuku kembali menjerit. “Papa!!” Hah? Apa maksudnya ini. “Aiden! Papa kenapa? Aiden jawab gue!” Aku panik. Tanganku sudah berkeringat walau belum tahu apa saebenarnya yang terjadi. “Jawab gue! Papa kenapa?” Kini aku semakin histeris. Aku berusaha menampik hal buruk yang kini menyerang isi kepalaku. Aiden masih tidak mau menjawabku. “Kat, pulang sama Jace. Gue udah telepon dia. Hati-hati di jalan.” Tut! Sambungan terputus.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (126)
Ultraman NoaIrsyad
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya
12/08
0Bagus banget suka sama ceritanya
17/11
0bagus
03/06/2025
0Lihat Semua