Aku berdiri cukup lama di bawah pohon beringin angker ini sambil menahan kecewa setelah kepergian Jace tadi. Bekas luka tusuk di perutnya saja bahkan belum hilang. Kini dia malah menyambut luka baru yang mungkin akan menghiasi bagian tubuhnya yang lain. Membayangkannya saja, rasanya menyesakan dan menbuatku ingin menangis Setelah merasa mataku tidak akan mengeluarkan butiran beningnya, aku segera memutuskan untuk mencari bantuan. Aku berlari ke kantin. Tempat di mana anak klub basket biasa berkumpul. Sesuai dugaanku, aku menemukan cowok yang sedang aku cari di sana. “Rully,” panggilku pada cowok kurus berambut keriting yang sedang bercanda dengan teman-temannya. Diantara anak-anak klub basket yang lain, aku paling sering melihat Jace bersama Rully. Jadi mungkin dia mau membantuku untuk menyelamatkan temannya dari bahaya kali ini. “Lo tahu markasnya Niko?” tanyaku ketika Rully sudah di depanku. Dia mengerutkan keningnya. “Tahu.” Dia diam sebentar kemudian membulatkan matanya seperti menyadari sesuatu. “Jace ke sana?” Aku mengangguk kemudian menggigit bibir bawahku. Kalau Rully sampai bereaksi seperti ini, berarti Jace sedang berhadapan dengan sesuatu yang berbahaya. “Anter gue ke sana.” Rully menatapku ragu. “Lo mau ngapain di sana?” Aku kembali menggigit bibirku sambil berpikir. Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang akan aku lakukan nanti. “Pokoknya anterin gue. Gue cuma mau ngomong doang sama Jace. Habis itu kita langsung pulang.” Rully memberi jeda beberapa saat sebelum dia mengangguk setuju. “Ya udah. Ayo.” Lokasi markas Niko itu lumayan jauh dari sekolah, tetapi dekat dengan kantor polisi. Konyol sekali kedengarannya. Entah polisi yang menutup mata dengan kondisi lingkungannya, atau memang markas itu tidak seburuk yang aku pikirkan. “Katy?” Suara Jace menyambutku ketika dia melihatku turun dari motor Rully. Dia memandangku penuh tanya sambil berjalan cepat ke arahku. “Sorry, Jace. Dia maksa gue,” cicit Rully di belakangku. Jace tidak menggubris pembelaan diri Rully. Matanya masih mengarah padaku dengan kening yang berkerut. “Ngapain ke sini?” Aku melihat sekeliling ketika hendak bicara. Beberapa cowok bertato yang sedang merokok di teras memandang ke arahku, membuatku ragu untuk bersuara. “Bisa bicara di tempat sepi?” “Ikut gue.” Jace menarik tanganku. Dia membawaku masuk ke dalam rumah sederhana yang dijadikan markas oleh Niko dan teman-temannya. Di ruang tamu, ada empat orang cowok sedang duduk di sofa. Di depan mereka ada beberapa kertas putih yang tertutup majalah dewasa. Ada tulisan 'Irgi attack' yang terlihat di baris paling atas dari kertas itu. “Cewek lo?” tanya salah satu dari mereka. Jace tidak menjawab. Dia tetap berjalan melewati mereka tanpa melepaskan genggamannya. “Si Susi udah di buang? Buat gue aja kalo gitu.” Temannya yang lain ikut berceloteh membuatku membatin. Susi? Siapa Susi? “Sheryl goblok! Susi mah tukang ikan depan pasar, noh.” Koreksi yang lain membuatku bernapas lega. Aku kira Jace punya cewek lain selain Sheryl selama ini. Tidak ada satupun yang Jace tanggapi. Wajahnya masih datar ketika akhirnya dia membawaku ke sebuah kamar di dekat dapur. Sebelum masuk, aku melihat Niko keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi. Dia menatap kami sekilas lalu melenggang tanpa bicara apa-apa. “Rumah siapa ini?” tanyaku ketika aku sudah duduk di atas ranjang. Kamar ini jauh lebih bersih ketimbang ruangan lain di rumah ini yang penuh dengan asap rokok dan bungkus makanan. “Rumah Niko,” jawab Jace singkat. Dia menutup pintu kamar dan berbalik menghadap ke arahku. Kini wajahnya jauh lebih manusiawi dibanding ketika dia menyambutku di depan. “Kenapa lo ke sini, Kat?” Aku senang tidak ada nada marah dari pertanyaanya itu. “Gue mau ngasih penawaran.” Jace menaikan kedua alisnya. “Sejak kapan lo jadi agen asuransi?” “Gue serius!” seruku dengan kesal. “Mau denger enggak?” Jace tersenyum kecil sambil bergeser mendekat. “Iya, gue dengerin.” Aku berdeham beberapa kali sebelum bicara. Lalu menatap matanya lekat-lekat. “Kalau lo enggak ikut tawuran lagi, dan enggak begaul dengan mereka, gue mau jadi pacar lo.” Jace terdiam mendengar negosiasiku ini. Dia balik menatapku tanpa ada ekspresi yang bisa aku artikan. Apakah dia setuju atau tidak. Sama sekali tidak terbaca. "Gue enggak bisa ninggalin mereka sekarang, Kat." Jace mendesah kasar. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi kembali mengatup erat. “Gue enggak maksa lo jawab sekarang. Pikirin baik-baik,” pungkasku lalu beranjak dari ranjang. Tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut Jace ketika aku berjalan menuju pintu. Walau aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya, tetapi aku yakin dia pasti akan mempertimbangkan tawaranku. Jace mengekor di belakangku dan mengantarku sampai ke depan rumah. Dia sempat berpesan pada Rully untuk membawaku dengan hati-hati. "Jangan sampai lecet, biaya molesnya mahal!" teriaknya dari ambang pintu. "Yo'i. Tenang brader." "Sial, memangnya gue mobil H'onda," sungutku pelan. Kemudian Jace kembali ke dalam rumah saat motor yang aku tumpangi bergerak meninggalkannya Motor baru bergerak beberapa meter, ketika tiba-tiba ada yang mencegat kami di pertigaan jalan. Sosok Niko turun dari motor yang memotong jalur kami tadi. “Ngomong apa lo sama Jace?” tanyanya dengan nada yang tidak bersahabat sambil berjalan mendekat ke arahku. Aku dan Rully terpaksa turun dari motor dan memasang sikap waspada. Kami tidak tahu apa yang di inginkan cowok ini sampai dia harus mengejar dan mencegat kami. “Apa urusannya sama lo?” seruku ketus. “Jelas ini urusan gue. Gara-gara lo semua urusan gue jadi kacau. Jace jadi menjauh dan bikin Si Irgi makin berani ganggu anak buah gue.” Niko mulai meradang. “Kenapa jadi nyalahin gue? Lo aja yang enggak becus jagain anak buah lo sendiri.” Aku tidak mau kalah sengit. Tidak peduli dia adalah pemimpin grup tawuran, aku harus menghentikan Jace terlibat dengannya. “Nyolot lo ya.” “Eits, tenang, Bro. Inget dia tuh cewek, enggak usah pakai urat.” Rully maju beberapa langkah dan menghalangi badanku dari telunjuk Niko yang sudah mengacung ke udara. “Justru karena dia cewek jadi seenaknya main larang-larang Jace. Lo tahu enggak, Jace hampir mati kemarin tuh gara-gara lo. “Lo gila. Jelas-jelas itu salah kalian yang bodoh main tusuk orang saat tawuran.” “Jaga mulut lo ya.” Niko merapatkan tubuhnya padaku membuatku terdorong ke belakang. Aku hampir jatuh jika saja Rully tidak menahan dan menarikku ke samping. Niko masih belum puas menggangguku. Dia menarik tanganku dengan kasar dan mendorong Rully hingga cowok keriting itu terjatuh. Namun, secara mengejutkan sebuah tinju melayang dan menghantam rahang lelaki kasar ini. Diiringi oleh seseorang yang berteriak dengan berang padanya. “Berani-beraninya lo sentuh cewek gue!”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (126)
Ultraman NoaIrsyad
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟 🌟 bisa top up sepuas nya
12/08
0Bagus banget suka sama ceritanya
17/11
0bagus
03/06/2025
0Lihat Semua