"Bos mau bawa aku ke mana?" tanya Zora ketika pria itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya. "Diam. Dan pakai seatbelt-nya," perintah Eros tanpa menoleh ke arahnya. Dan sedetik kemudian ia sudah menancapkan gas meninggalkan kantor tersebut. Di sepanjang jalan Zora terus melirik pada Eros yang fokus membelah jalanan yang tak pernah mengenal sepi itu. Dia benar-benar tidak membuka mulutnya dan itu membuat Zora mengerucutkan bibirnya. Berada dalam satu mobil, tetapi ia berasa sendirian. Ibaratkan sebuah benda, dia hanya menjadi bayangan. Antara ada dan tiada. *** Setelah menempuh waktu 30 menit akhirnya mereka telah sampai. Zora langsung mengerutkan keningnya ketika pria itu memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. "Untuk apa Bos mengajakku ke sini? Memangnya siapa yang sakit? Bos Eros?" tanyanya bertubi-tubi. Eros hanya memutar bola matanya seraya melepaskan seatbelt-nya. "Jangan banyak bertanya. Kau cukup ikuti apa yang saya katakan." "Dan satu lagi. Nanti saat di dalam jangan pernah memanggil saya dengan sebutan itu. Paham?" Lanjut Eros melihat sekilas pada Zora. Zora yang baru akan melayangkan protesnya langsung diam ketika pria itu kembali melihatnya namun kali ini dengan mata elangnya. "Bagus," lanjut Eros, "sekarang turun." Masih memasang wajah bingung, Zora turun dari mobil diikuti oleh Eros. Dan lagi-lagi wanita itu hanya mendengkus ketika pria itu berjalan mendahuluinya. "Aish! Selalu saja." Gerutunya seraya mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah lebar Eros. Karena berjalan dengan terburu-buru Zora tidak menyadari bahwa pria itu tiba-tiba berhenti yang mengakibatkan wajah cantiknya menabrak punggung Eros. "Aw!" Pekik Zora mengusap kening dan hidung mancungnya. Sedetik kemudian ia dibuat terkejut karena tiba-tiba Etos menggenggam tangannya. "Eros," sapa wanita cantik berambut emas kecoklatan. Sepertinya wanita itu lebih tua darinya, pikir Zora sedikit melirik wanita itu sekilas. Hatinya mendadak panas ketika melihat Eros tersenyum pada wanita di depan mereka. "Ini siapa Dek?" lanjut wanita itu bertanya. "Kekasihku," jawab Eros dengan santainya. Berbanding terbalik dengan Zora yang langsung membulatkan matanya seraya menoleh pada pria di sampingnya. "Tunggu! Dek?" ujar Zora dalam hatinya. Sedetik kemudian dia langsung memukul dahinya pelan. "Konyol. Aku cemburu pada kakaknya sendiri," pikirnya merasa malu sendiri. "Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?" Bukan Eros yang bertanya, melainkan wanita di depannya. Eros mengikuti arah pandang Naura. Jika saja tidak ada kakaknya di sini, mungkin ia akan langsung memutar bola matanya dan meninggalkannya. "Wanita aneh," cibir Eros meski hanya diucapkan dalam hatinya saja. "Ah, aku tidak apa-apa Bu, eh Mbak, eeuu ..." Entah kenapa tiba-tiba Zora menjadi salah tingkah. "Haha.. kekasihmu ini lucu sekali." Sambut Naura seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan sebelahnya lagi ia gunakan untuk memukul pelan lengan si bungsu. "Panggil saja aku Kak Naura," sambungnya. "Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Naura yang sepertinya sudah sangat penasaran. "2 minggu." Bukan Zora yang mengatakannya, melainkan pria yang masih setia menggenggam tangannya. Eros mengatakan itu seperti tidak memiliki beban sama sekali. "Aish! Aku tidak meminta jawaban darimu," timpal Naura. "Aku atau kekasihku yang menjawabnya sama saja," balas Eros. "Kurang-kurangi sifat dinginku itu." Cibir Naura dan langsung menarik Zora untuk ikut dengannya. "Ayo kita berbincang di dalam. Biarkan saja pria menyebalkan ini di sini." Sambung Naura seraya merangkul Zora untuk memasuki rumah sakit tersebut. "Aku harap kau tahan ya dengan sikap ajaib adik bungsuku," bisik Naura dan hanya diangguki oleh Zora. Sepertinya wanita itu setuju dengan apa yang diucapkan Naura. "Hey! Bisakah kalian membicarakanku saat orangnya sudah tidak ada," cibir Eros dari belakang. Naura menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya. "Membicarakan seseorang di belakang itu tidak baik." Ucapan wanita itu sontak membuat Zora tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Bagaimana tidak perkataan Naura berhasil membuat pria itu mendengkus dan memutar bola matanya jelak. Dan itu terlihat sangat lucu dalam kacamatanya. *** "Benar kau kekasih Eros?" tanya Endru memastikan. Sebenarnya tadi dia tidak percaya dengan yang diucapkan adiknya saat mengatakan akan membawa kekasihnya ke hadapannya. Namun, ternyata pria itu benar-benar membuktikan ucapannya. Dia benar-benar membawa seorang wanita ke sini. "Aish! Kalian ini jangan mendesaknya," ucap Eros. Dalam hatinya ingin sekali ia mengutuk Zora yang hanya diam seperti orang bodoh. "Astaga kau posesif sekali," cibir Naura. Seorang wanita yang berada tidak jauh dari Eros hanya menundukkan kepalanya. Hatinya terlalu sakit bahkan hanya untuk sekadar melihat wanita yang disebut sebagai kekasih mantannya tersebut. "Maaf, aku mengangkat telepon dulu." Wanita itu langsung pergi dari ruang rawat suaminya. Sebenarnya mengangkat telepon hanya alibinya saja. Karena sebenarnya dia sendiri yang menyalakan musik untuk seakan-akan ada yang menghubunginya. *** "Kenapa harus sesakit ini?" Kirana menangis dibalik dinding yang tak jauh dari Ruangan VVIP yang ditempati oleh suaminya. Wanita itu memukul-mukul dada kirinya dengan kuat ketika rasa sesak itu kembali menyerangnya tanpa ampun. "Lupakan aku dan mulailah lembaran baru dengannya," ucap seseorang yang sangat Kirana kenali. Wanita itu mengangkat kepalanya dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Eros yang sedang berdiri tidak jauh darinya. "Jadi ini alasanmu memintaku untuk kembali padanya?" tanya Kirana terdengar parau karena menangis. "Ya, seperti yang kau lihat," jawab Eros. Percayalah di lubuk hatinya ia mengutuk dirinya sendiri karena telah mengeluarkan kata-kata yang begitu kejam pada wanita yang pernah ada di hatinya. Ah, bukan! Wanita yang masih ada di hatinya. "Aku sudah memiliki kekasih. Jadi berhenti berharap kita akan kembali bersama. Kau sudah menjadi seorang istri. Jadilah istri yang baik dan bahagiakan suamimu," sambung Eros. "Kau tidak mencintainya," ujar Kirana masih mencoba berfikir positif. "Kau sengaja menyewanya hanya untuk meyakinkan mereka kan? Aku tahu kau, Eros." Sambungnya menatap ke dalam mata pria itu. Eros langsung menghindari tatapan Kirana. Dia tidak ingin wanita itu melihat kegelisahannya. Tidak lama kemudian dia tertawa sumbang. "Terserah. Aku tidak butuh kau percaya--" "Aku akan percaya jika kau berani menikahinya," potong Kirana menantangnya. Karena wanita itu yakin jika pria di depannya itu tidak mungkin seberani itu. Namun, dia harus kembali merasakan sakit untuk kesekian kalinya ketika pria itu berkata ya dengan suara tegasnya sebelum dia berlalu meninggalkannya sendiri meratapi kisah percintaannya yang berakhir menyedihkan. *** "Sayang, ayo kita pulang." Ajak Eros kembali menggenggam tangan kekasihnya. "Eros, mau ke mana? Kau harus segera mendapat perawatan," kata Naura. "Mendapat perawatan? Kau sakit?" Tanya Zora spontan mengangkat tangannya untuk mengecek suhu tubuh pria jangkung itu mulai dari kening, pipi sampai ke lehernya. Semua orang yang berada di sana hanya mengulum senyum melihat keromantisan dari sepasang insan tersebut. "Aish! Kalian membuatku iri," ujar Naura. Tiba-tiba dia merindukan suaminya yang masih berada di kantor. Seakan tidak peduli dengan sekelilingnya, Zora mengangkat tangannya lagi dan kali ini ia meraba suhu tubuhnya sendiri. "Kau tidak demam," sambungnya. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Kau tidak perlu khawatir." Balas Eros menekan kata sayang seraya sedikit melotot. Untung saja mereka semua tidak menyadari reaksi pria itu karena ia berdiri membelakangi. "Ayo kita pulang." Sambungnya langsung menarik Zora dari sana. *** Setelah berada di dalam mobil Zora langsung melihat Eros, meminta penjelasan. Sedari tadi ia menahan diri untuk tidak bertanya, tetapi kali ini ia sudah benar-benar tidak bisa menahannya lagi. "Apa maksud Bos mengatakan aku adalah kekasihmu?" tanya Zora. "Apakah cara menembak seorang pria aneh sepertimu seperti ini?" lanjutnya dan langsung mendapat delikkan dari pria itu. "Aish! Menembak kau bilang?" ucap Eros mengulang perkataan Zora, "hanya dalam mimpimu." "Hey! Kau sendiri yang mengatakan itu tadi," sanggah Zora tidak terima. "Tunggu! Apa kau benar-benar menganggap ini serius?" tanya Eros membuat wajah wanita itu merah seketika. "Astaga saya minta kau jangan terbawa perasaan, Nona. Ok, sekarang kau diam dan cukup dengarkan," kata Eros dan Zora masih tetap fokus mendengarkan pria itu menyelesaikan perkataannya. Setelah Eros menjelaskan maksudnya, Zora hanya menghela napasnya. Entahlah apa ia harus senang atau justru sedih. Pria itu mengatakan bahwa dia akan membayarnya untuk menjadi kekasih pura-puranya. Mereka harus terlihat meyakinkan sebagai pasangan yang bahagia didepan keluarganya. Dan bersikap sebagai atasan dan bawahan ketika tidak bersama keluarganya. Gila? Sepertinya tidak ada kata lain yang lebih pantas ia layangkan pada pria di sampingnya itu. Bagaimana mungkin dia menjalankan rencananya tanpa bertanya terlebih dahulu padanya? Setidaknya jika pria itu mengatakan maksud tujuannya terlebih dulu, mungkin Zora tidak akan terlihat seperti orang bodoh di depan keluarga pria itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
16/08/2025
0wihh keren
16/07/2025
0bgus 👍🏻
13/07/2025
0Lihat Semua