Eros menutup mulutnya rapat-rapat ketika kakaknya akan menyuapinya bubur. "Ayo buka mulutmu! Astaga," gerutu Naura. "Tidak!" tolak pria itu dengan tegas. Saking gemasnya dengan tingkah manja sang adik, Naura sampai mengusap wajahnya kasar. Wanita itu menyerah jika harus berhubungan dengan sifat keras kepala si bungsu. "Kapan aku bisa pulang? Aku kan hanya pendonor, tapi kenapa mendapat perawatan selama ini," protes Eros. Tampaknya pria itu sudah sangat bosan berada di rumah sakit. Terlebih setiap hari hanya boleh memakan makanan yang disediakan oleh rumah sakit yang pastinya bukan seleranya. Sudah 1 minggu lebih ia menjalani perawatan paska operasi transplantasi sumsum tulang tersebut karena kondisinya yang terkadang kembali drop. Naura langsung menyimpan mangkuk bubur itu di meja kecil yang ada di sampingnya. Kemudian ia membelai rambut hitam milik sang adik dengan penuh kasih sayang. Jika biasanya saat kakaknya memperlakukannya bak anak kecil seperti ini Eros akan langsung protes, tetapi kali ini pria itu membiarkannya. Sentuhan tangan lembut Naura membuatnya nyaman dan sadar bahwa masih ada yang sangat sayang dan peduli padanya. Percayalah jika wanita di hadapannya ini adalah ibunya, Eros tidak akan pernah malu meski ia diperlakukan seperti anak kecil bahkan seorang bayi sekalipun. "Sudah jangan banyak protes. Dokter lebih tau mana yang terbaik untukmu," kata Naura, "anggap saja ini jatah liburanmu setelah 7 tahun bekerja." Entah ia bercanda mengatakan itu atau tidak. "Aish ... aku hanya tidak yakin dengan kinerja suamimu, Kak," timpal Eros bercanda, tetapi memasang wajah seserius mungkin. "Hey! Kau jangan meremehkannya," sambut Naura menjadi tameng terdepan dalam membela suaminya. "Tapi sepertinya pekerjaanmu memang tidak cocok untuknya." Sambung Naura langsung terkikik ketika membayangkan wajah melas sang suami yang curhat padanya tentang betapa padatnya jadwal seorang Eros Kalandra Karisma. Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba seseorang masuk ke ruangannya dengan masih memakai pakaian kerja serta menjinjing keranjang buah. Naura menyambut kedatangannya dengan tersenyum lebar. "Ah, akhirnya pawangmu sudah datang," katanya. "Selamat pagi Kak Naura cantik," sapa seseorang itu yang tak lain adalah Zora. "Ngapain dia di sini?" gumam Eros, tetapi masih terdengar jelas oleh sang kakak. Terbukti pria itu langsung mendapat delikkan tajam darinya. "Mulutmu kasar sekali," cibir Naura dengan berbisik. Sedangkan pria itu diam-diam memutar bola matanya malas. "Terima kasih sudah datang, Zora," ucap Naura, "tolong, ya." Setelah memberi pesan, ia langsung keluar meninggalkan sepasang kekasih tersebut. Saat pintu ruangan sudah tertutup, wanita itu tersenyum cukup lebar membayangkan keromantisan yang akan terjadi di dalam. Namun, itu hanya ada dalam benaknya. Karena pada kenyataannya 2 pasang anak manusia itu seperti kucing dan tikus. "Kau meninggalkan pekerjaanmu? Aish! Karyawan sepertimu ini yang bisa membuat perusahaan rugi," cibir Eros. "Hey! Aku tidak akan ke sini jika kau tidak bersikap seperti bayi," balas Zora tidak terima dengan pernyataan yang diucapkan pria itu. "Ternyata sifat evil-mu itu hanyalah cover untuk menutupi sifat bayimu, ya" Sambung Zora menaik-turunkan alisnya untuk menggodanya. Lagi-lagi pria itu hanya mendengkus sembari memutar bola matanya jelak. "Buburnya dimakan dong, Sayang. Aku sampai jauh-jauh ke sini dan meninggalkan pekerjaanku hanya untuk memastikan bahwa kekasih tampanku ini menghabiskan sarapannya," kata Zora dengan sangat manisnya. "Tolong jaga ucapanmu. Bersikaplah semestinya," ingat Eros yang entah risih atau justru merasakan wajahnya memanas serta jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. "Aku kan kekasihmu. Wajar kan seorang kekasih bersikap seperti ini pada kekasihnya." Balas Zora kembali menaik-turunkan alisnya. Eros langsung menimpali, "Kekasih pura-pura jika kau lupa." "Sssttt! Jangan keras-keras. Bisa saja kakakmu itu mendengarkan pembicaraan kita di balik pintu." Setelah menempelkan telunjuknya di bibirnya, kini telunjuknya beralih ke bibir Eros membuat pria itu membulatkan matanya. "Apa yang kau lakukan?" Pekik pria itu tertahan seraya menggosok-gosok bibirnya. Seakan ada kuman yang menempel di bibirnya. Ceklek! "Loh buburnya belum di makan juga, Zo." Heran Naura yang baru kembali membeli sarapan untuknya dan juga calon adik iparnya tersebut. "Dia sangat manja Kak," ujar Zora berbisik, tetapi masih sangat terdengar jelas oleh pria di belakangnya. "Huh, adikku ini memang seperti bayi. Bahkan bayi saja kalah dengannya." Cibir Naura seraya berkacak pinggang. Kemudian Zora berbalik menghadap Eros yang langsung menatapnya dengan tajam seakan mengatakan, "Awas kau." "Sayang buka mulutnya! Aaaa...." Wanita itu mengangkat tinggi-tinggi sendok yang berisi makanan lembek tersebut dan membuka mulutnya sendiri. "Cepat buka mulutmu! Kalau tidak Kakakmu akan tahu semuanya," sambungnya berbicara sepelan mungkin. Pria itu langsung membulatkan matanya, tidak percaya bahwa karyawannya tersebut sudah berani mengancamnya. Eros membuka mulutnya lalu mengunyah makanan lembek itu dengan wajah terpaksa, tetapi justru terlihat lucu menurut kacamata dua wanita yang sangat menyayanginya. "Hmm, giliran pacarnya yang nyuapin mau." Goda Naura menarik sudut bibirnya seraya menaik-turunkan alisnya. Baru beberapa suap pria itu kembali menutup mulutnya rapat-rapat seraya mendorong tangan Zora untuk menjauhkan sendok yang ia pegang dari mulutnya. "Cukup!" Tolak Eros masih menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Zora hanya menghela napas seraya menurunkan tangannya. "Baiklah setidaknya kau bisa meminum obatmu sekarang." *** "Saya akan mencolok bola matamu jika kau terus menatap saya dengan tatapan bodoh seperti itu," ancam Eros yang menyadari bahwa kekasih pura-puranya sedari tadi terus memandangnya. Zora mengerjap dan membenarkan posisi duduknya. "Huh, kenapa kekasihku ini galak sekali," eluhnya. "Berhenti mengatakan saya kekasihmu. Kau harus ingat kita hanya berpura-pura," timpal Eros dengan tegas. "Harus berapa ratus kali saya mengingatkanmu." Sambungnya seraya menekan pelipisnya dan sedikit mengernyit. Dan itu membuat wanita itu refleks berdiri dari duduknya dan segera menekan tombol merah yang ada di atas ranjang. *** Ceklek! Pintu ruangan terbuka dan nampak seorang dokter dengan kacamata yang bertengker di pangkal hidungnya sedang tersenyum ke arahnya. Dokter itu masuk dan menyapa seorang pria yang sedang sibuk dengan laptopnya meski sebelah tangannya masih terpasang infus. "Tuan, ini rumah sakit bukan kantormu," kata sang dokter yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu mendongakkan kepalanya ketika mengenali suara tersebut. "Dokter Panji," ucap Eros. Dokter Panji menjatuhkan bokongnya ke kursi di belakangnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Maaf saya baru bisa datang menjenguk," tanyanya sekaligus meminta maaf. Kemudian ia hanya menghela napasnya seraya menepuk pelan punggung tangan Eros. "Kenapa aku memiliki pasien sekeras kepala dirimu?" "Kau hampir membuatku jantungan ketika Dokter Rangga mengatakan kau yang menjadi pendonor untuk pasiennya," sambung Dokter Panji menyiratkan kekhawatiran. "Dokter terlalu berlebihan," timpal Eros, "tapi, terima kasih sudah mencemaskanku." "Dokter tenang saja, pasienmu ini tidak selemah itu," pungkasnya untuk menenangkan sang dokter.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap
16/08/2025
0wihh keren
16/07/2025
0bgus 👍🏻
13/07/2025
0Lihat Semua