BAB 13

Aku menyiapkan semua keperluan untuk pergi ke Padang. Tanganku dengan cekatan melipat baju-baju dan yang lain. Aku masukan semuanya dengan rapi ke dalam koper besar.
“Bella, Kamu lihat kemeja aku nggak? Warna abu-abu itu loh,” Mas Bara terlihat mengacak-acak lemari dengan cepat.
“Ya kamu cari sendiri dong, Mas. Aku mau bantuin mama buat siap-siap,” ucapku dengan jutek lalu berdiri.
“Bella, Kamu jangan gini dong! Bantuin suami kek, suami mau pergi masa kamu nggak mau bantu beresin barang-barangnya. Katanya istri Solehah,” sindir Mas Bara dengan mendekat ke telingaku.
Aku mendengus kesal.
“Oke, aku akan bantuin kamu. Ini karena aku taat sama kamu ya. Bukan berarti aku tidak marah kamu selingkuh,” ucapku dengan tegas.
“Bella, aku tuh nggak jahat loh, sama kamu. Aku ini masih menganggap kamu sebagai istriku. Karena aku sayang sama kamu Bella,” jelas Mas Bara dengan melihatku membereskan baju-bajunya.
“Kalau sayang kenapa harus selingkuh, Mas?” tanyaku dengan jelas di depan wajahnya.
“Ya karena aku sayang sama Arum,” jawab Mas Bara dengan percaya diri.
Aku menatap wajahnya dengan kesal.
“Maksud kamu gimana sih, Mas? Kamu pengin punya istri dua begitu?” tanyaku dengan spontan sampai aku menghentikan aktivitas kedua tanganku.
“Ya kalau kamu membolehkan. Ya aku mau. Tapi mungkin itu nggak mudah buat mama,” jawab Mas Bara seolah tidak punya salah.
Aku menggelengkan kepalaku melihat Mas Bara dengan heran.
“Sumpah ya, Mas kamu tuh, bener-bener nggak punya hati,” ucapku dengan hati yang sakit sekali. Membayangkan aku dan Arum meladeni Mas Bara di rumah ini. Aku mungkin tidak akan kuat menjalani rumah tangga.
“Aku nggak punya hati?” tanya Mas Bara dengan wajah polos.
“Iyalah, kamu nggak punya hati!” seruku dengan kesal menahan air mata. Aku menutup koper Mas Bara dengan kasar.
“Aku tuh, masih punya hati, Bel. Kalau aku nggak punya hati mungkin sekarang aku udah ninggalin kamu. Tapi aku masih sayang sama kamu dan juga mama jadi aku ya nggak ninggalin kalian berdua,” kata Mas Bara.
Aku menatap Mas Bara dengan tajam dan mengatakan,
“Kalau kamu punya hati. Harusnya kamu tuh, nggak akan selingkuh dari aku, Mas.”
Aku langsung meninggalkan kamar itu dan menutup pintu dengan membanting. Aku mempercepat jalanku menuju ke kamar mama. Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin pikiran Mas Bara seperti itu. Dia bahkan menginginkan mempunyai dua istri. Gila, ini gila sekali. Dia hanya seorang karyawan kantoran tetapi dia bermimpi mempunyai dua istri? Heh, itu nggak mungkin sekali.
“Udah siap semua, Ma?” tanyaku dengan lembut.
Mama sedang bingung pilih baju mana yang akan dia bawa. Wajahnya tampak serius melihat baju di depannya.
“Menurut kamu mama pakai baju yang mana? Yang kebaya atau gamis aja,” kata mama dengan wajah bingung.
“Hm, kalau menurut Bella sih, bagus semua. Tapi sebagai perempuan muslim. Mungkin mama lebih cantik kalau memakai gamis dan kerudung panjang ini, Ma,” jawabku dengan ramah dan mengambil baju gamis yang menggantung di lemari itu.
“Hehehe, tetapi mama belum siap memakai gamis di acara yang banyak orang. Mama pakai kebaya aja ya,” kata mama dengan tersenyum. Wajah yang sudah terlihat keriput namun putih itu terlihat bahagia. Rambut yang di sanggul adalah ciri khas mama sejak pertama aku kenal Mas Bara.
“Oh nggak papa kok, kalau mama mau pakai kebaya itu. Ya udah yuk! Ma, aku bantuin beres beres ya,” seruku dan aku segera membereskan baju-baju dan barang apa saja yang akan di bawa oleh mama.
“Ma? Mama beli ini?” tanyaku dengan heran memperlihatkan diaper orang tua.
Mama tersenyum malu.
“Iya, kemarin mama ngompol sendiri pas duduk di depan tv. Mama juga nggak tau kenapa bisa ngompol. Ya jadi mama suruh Mirna buat beli pemper itu. Mama juga takut nanti di acara sunatan Bagas anak Siska nanti mama ngompol gimana? Mama kan malu,” jelas mama dengan sedikit malu-malu.
“Oh begitu ya, ma,” jawabku datar. Ya Allah ternyata mama sudah seperti itu. Kuatkan aku untuk terus menjaga mama mertuaku Ya Allah.
Kini aku dan Mas Bara berada di depan sementara di jok belakang ada mama dan Mirna. Kemungkinan kita semua akan tinggal di Padang selama satu minggu. Semoga saja aku di beri kekuatan untuk berpura-pura bahagia di depan semua keluarga.
“Assalamu’alaikum, Bu?” ucapku menelfon ibu.
“Walikumsalam, Bella.”
“Ibu gimana kabarnya? Bella udah jalan nih mau ke Padang,” ucapku tersenyum.
“Ibu baik-baik aja. Maaf ya, ibu nggak bisa ikut. Ibu takut nanti malah mabuk perjalanan dan merepotkan semuanya,” kata ibuku dengan lembut.
Mama tiba-tiba mendekat ke bagian depan. Tepatnya ke telingaku.
“Ibu Sukma, doakan kita semua ya, semoga lancar perjalanannya,” kata mama dengan semangat.
Aku kaget mendengar suara keras mama mertuaku. Aku melihat ke belakang dan tersenyu kepada mama.
“Ma, bahaya ah! Jangan gitu. Pasang sabuk pengamannya, Ma,” seru Mas Bara dengan kesal kepada mama.
“Iya, iya Bara bawel banget sih,” jawab mama lalu Mirna membantu mama untuk memasang sabuk pengaman.
“Itu suara mama, Bu,” ucapku lalu tertawa.
“Oh, ya ibu doakan supaya semuanya sehat sampai tujuan ya. Salam untuk mama Linda ya,” kata ibuku dengan lembut.
“Iya siap, Bu. Assalamualaikum,” aku menutup ponsel setelah ibu menjawab salamku.
Perjalanan ini akan memakan waktu yang lama. Mungkin sekitar dua hari satu malam. Karena kami menggunakan mobil. Kalau menggunakan pesawat mungkin akan mahal sekali dan mama juga lebih nyaman menggunakan mobil.
Semoga saja aku bisa kuat dan tidak mengeluarkan air mataku di depan mereka. Mobil masih berada di jalan kota dan belum memasuki jalan tol. Tetapi tiba-tiba mobil berhenti di pinggir jalan.
“Sebentar ya, ada telfon nih,” kata Mas Bara lalu keluar begitu saja.
Aku yakin sekali itu pasti Arum. Sejak kapan Mas Bara mengangkat telfon dengan menghindar seperti itu.
“Akhir-akhir ini Bara sibuk terus ya kayaknya. Ya mungkin aja program tv di acaranya ratingnya lagi naik,” kata mama dengan santai.
Aku hanya terdiam melihat terus punggung Mas Bara yang berada di luar.
“Kamu harus sabar ya, Bella. Kalau Bara lagi sibuk seperti itu pasti jarang perhatian sama kamu kan, kamu harus sabar terus ya Bella,” kata mama dengan lembut.
“Iya, Ma. Bella selalu sabar sama Mas Bara,” ucapku dengan jelas.
Aku hanya bisa memendam perasaanku sendirian. Selama ini memangnya aku tidak sabar? Aku bahkan sabar di saat Mas Bara berselingkuh. Entah sampai kapan aku harus menjaga keburukan Mas Bara di depan mama. Aku melakukan ini semua karena aku sayang sama mama. Aku tidak mungkin menyakiti hati seorang orang tua yang sudah pasti sayang sekali denganku.

Komentar Buku (127)

  • avatar
    dwiiindahh

    soo good

    5d

      0
  • avatar
    Nurhadidah 123

    bagus banget

    01/01

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru