BAB 38

Aku sudah sangat siap bertemu dengan Arum. Kulihat diriku di bayangan cermin. Gamis panjang dan kerudung segiempat yang menutupi dada. Sementara wajahku yang bersih dan putih aku biarkan tanpa bedak. Aku hanya memakai sedikit pelembab dan krim agar terlihat lebih segar. Kedua bulu mataku memakai maskara supaya mata ini terlihat lebih bagus.
Kini aku sudah sampai di sebuah kafe yang terlihat hanya ada beberapa orang saja. Aku memasuki kafe itu dan aku naik ke tangga. Karena aku sudah memesan tempat di atas.
Kakiku sudah sampai di lantai atas. Kulihat pemandangan hiruk pikuk jalanan terlihat ramai. Angin segar juga menyapaku di tempat ini.
Aku duduk dengan tenang. Hati ini ada sedikit rasa gugup. Tetapi aku berusaha tenang dengan cara beberapa kali menghirup nafas dan mengeluarkannya lembut.
Sekitar sepuluh menit dua minuman sudah datang di meja. Cangkir itu berisi kopi dan dua kue kecil yang ada di atas piring terlihat cantik.
Hari ini aku akan bertemu seorang perempuan yang sudah membuat Mas Bara jatuh cinta. Aku tidak tahu jelas bagaimana mereka berdua jatuh cinta tetapi hari ini aku akan melakukan percakapan dengan Arum dengan tanpa emosi. Aku akan berusaha agar energik tidak habis sia-sia hanya untuk emosi kepada Arum. Lagi pula aku di haruskan untuk ikhlas. Aku akan mencobanya selagi itu tidak buruk.
Kini aku bisa melihat seorang wanita dengan sepatu berhak hingga jenjang kakinya terlihat jelas. Dia memakai sebuah rok yang ketat serta kemeja dengan warna pink. Aku berdiri untuk menyambut dirinya. Sebisa mungkin aku tersenyum kepada Arum.
“Silahkan duduk,” ucapku dengan ramah.
“Terimakasih, Mbak Bella,” kata Arum wanita dengan bibir tipis itu.
“Oh ya, silahkan itu mainannya di minum dulu,” kataku dengan ramah dan aku juga ikut menyeruput minuman milikku.
Setelah beberapa detik melihat lihat ke sekeliling. Aku sudah berani memulai pembicaraan.
“Oke, jadi pertemuan kita saat ini mungkin kamu sudah tahu ya, kalau aku akan membahas bagaimana nanti pernikahan kamu dan Mas Bara,” ucapku dnegan jelas.
“Iya, Mas Bara sih. Udah bilang sama aku. Kalau dia mau nikahin aku dengan cara nikah Siri. Tapi aku nggak mau, Mbak. Aku maunya nikah secara hukum juga” kata Arum dengan wajah serius.
“Nggak bisa, kamu nggak bisa nikah sama Mas Bara secara hukum. Aku juga harus menjaga perasaan Mama. Aku mau kamu tetap menjaga rahasia ini. Aku ingin tidak ada yang tahu perkawinan kamu dengan Mas Bara. Ku mohon Arum. Kasihan mama kalau sampai mengerti soal ini. Aku berharap kamu juga mengerti,” pintaku dengan menatap wajah Arum.
Dia melirik terlihat kesal.
“Tapi suatu saat aku bisa kan nikah dengan Mas Bara secara hukum dan di saksikan banyak orang?” tanya Arum melihatku serius.
“Aku nggak bisa jawab soal itu. Intinya saat ini aku hanya ingin Mama tidak tahu soal apapun tentang kamu dan Mas Bara. Kamu ngerti kan?” ucapku dengan jelas.
“Heh, ya udah deh mau gimana lagi. Dari pada nggak nikah sama sekali,” ujar wanita dengan riasan make up itu. Ia seolah tidak punya pilihan lagi selain menurut dengan caraku.
Aku meminum kembali minumanku sejenak. Kini Arum melihat penampilan aku dengan detail.
“Lagian aku heran ya, kenapa juga Mas Bara nggak cerai aja sama kamu. Terus nikah deh, sama aku,” seru Arum dengan wajah sok cantik.
“Mas Bara itu masih sangat mencintai aku, Arum,” tegasku di depan wajahnya.
“Mas Bara itu Cuma manfaatin kamu doang. Supaya kamu jaga mamanya Mas Bara. Lagian nggak ada yang merawat mamanya Mas Bara selain kamu kan?” bibir tipis itu berbicara tanpa berdosa.
Aku memperhatikan wajah Arum lebih jelas.
“Aku nggak akan percaya dengan apa yang kamu katakan padaku. Aku hanya percaya dengan Mas Bara,” jelasku dengan penuh penekanan.
Mata kami bertemu dengan tajam. Namun aku berusaha untuk tidak lebih emosi lagi.
“kalau begitu sepertinya sudah cukup. Aku harap kamu sudah tau apa yang aku katakan hari ini. Selamat bertemu lagi di acara akad. Arumsari,” ucapku dengan tegas saat berdiri. Kini aku pergi meninggalkan Arum di kursi itu. Aku tidak ingin terlalu lama dengan dia.
***
Wanita dengan dagu lancip itu terlihat memandang Bella dengan tatapan sinis.
“Awas saja kamu, Bella. Kamu pikir aku nggak bisa jadi istri Mas Bara satu satunya! Aku pasti bisa menyingkirkan kamu, Bella!”
Kini Arum langsung saja menelfon kekasih hatinya. Bara kala itu langsung mengangkatnya dengan cepat.
“Halo, calon istriku sayang? Kenapa?” tanya Mas Bara dengan suara lembut yang di buat-buat.
“Istri kamu itu nyebelin banget sih,” gerutu Arum dengan manja.
“Ya udah nggak usah di pikirin. Kan bukan dia yang mau jadi suami kamu. Aku yang bakal jadi suami kamu. Jadi udah lah nggak usah mikirin orang lain. Oke?” pria dengan rambut cepak itu berusaha menghibur Arum.
“Ih apaan sih. Nggak jelas banget tau nggak. Garing! Udah kamu cepetan ke kosan aku. Aku tunggu ya, pokoknya jangan sampe aku nunggu lama-lama. Cepetan! Aku kangen sama kamu nih,” Arum cemberut seperti anak kecil.
“Iya iya sayangku. Aku akan segera datang. Tunggu ya? Bye, i love you,” kata Bara dengan lirih.
Arum pun membalasnya lalu menutup sambungan panggilan. Kini ia segera pergi dari kafe itu dan menaiki go car untuk ke kosannya. Ia benar-benar tidak sabar akan segera bertemu calon suaminya.
“Lama banget sih, Mas Bara,” gerutu wanita yang memakai dress tanpa lengan itu. Mulutnya mengunyah keripik singkong sementara matanya melihat layar ponsel.
Suara ketukan pintu terdengar. Badan Arum beranjak dari sofa dan lari kegirangan. Di bukanya pintu terlihatlah sosok tampan bernama Bara Mahesa itu.
Tubuh langsing Arum langsung menubrukkan diri di dada bidang milik Bara. Kedua tangan Barapun langsung memeluknya dengan erat. Lima detik setelahnya Arum berwajah bete.
“Kenapa, Sayang?” tanya Bara sambil mengikuti Arum yang berjalan ke sofa.
“Kamu tau nggak tadi istri kamu itu nyebelin banget. Seriusan aku sama kamu nanti nikahnya siri?” tanya Arum melihat wajah Bara.
Bara menarik nafas sejenak. Ia memberanikan diri untuk berkata jujur.
“Yap, bener banget. Karena aku nggak pengin Mama tau dulu. Kasihan kan kondisinya belum membaik. Apalagi mama juga punya riwayat jantung,” kata Bara dengan tegas.
“Yah, nggak enak dong. Aku menjadi seorang istri simpanan,” kedua tangan Arum melipat di dadanya.
Tangan Bara segera mendekat dan mengelus-elus rambut lurus milik wanita yang di cintainya.
“Cup, cup cup. Nanti kalau waktunya tepat semua juga akan tahu kalau kamu adalah istri cantik seorang Bara Mahesa sang produser,” seru Bara dengan wajah sombongnya.
Telapak tangan putih itu melayang di pipi Bara dengan cepat.
“Apaan sih, kamu!” kata Arum setelah memukul ringan pipi suaminya.
“Ih atit tau sayang,” keluh Bara sambil memegangi bagian yang sakit.
Bibir Arum langsung saja mencium pipi itu dengan kilat.
“Lah, kok cepet banget?” tanya Bara dengen segera memeluk Arum dari samping.
Mereka berdua kini mulai bermesraan di dalam ruangan tersebut.
BAB 39
Aku berjalan dengan pikiran lelah memasuki rumah. Hingga sampai akhirnya aku sampai di sebuah ruang tengah. Aku duduk bersender di sofa dengan nyaman.
“Udah pulang kamu, Bella?” tanya Mama yang saat ini berada di sampingku. Mama sudah bisa menggunakan kursi roda dengan tanpa di bantu.
“Eh, iya Ma. Mama udah makan siang, Ma?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Belum,” jawab Mama melihat keseluruhan wajahku.
“Kamu habis kemana, Bella? Lama banget, mama kalau di rumah ini merasa sepi kalau nggak ada kamu,” keluh Mama dengan wajah sayunya.
“Iya, Ma. Maaf ya, Ma. Bella terlalu lama pergi keluar. Bella cuma ada urusan sebentar sama temen Bella, Ma,” ucapku dengan wajah memelas.
“Iya, Mama maafin. Tapi kamu jangan ulangi lagi ya. Hidup mama Cuma sebentar lagi di dunia ini. Jadi tolonglah buat mama nyaman ya,” kata Mama lalu tersenyum lembut.
“Nggak boleh ngomong begitu ah, Ma. Mama nih, sukanya bikin Bella takut aja deh,” seruku dengan cepat berdiri dan mendorong kursi roda mama untuk menuju ke ruang makan.
“Ya emang bener Bella. Mama kan udah tua,”
“Ya sudah sekarang mama makan dulu ya, Bella temenin mama nih, Bella juga udah laper mau makan,” ucapku dengan bersemangat.
Makan siang di ruangan ini hanya ada aku,Mama dan juga Mirna pembantuku. Tidak ada Mas Bara. Dia pasti sedang makan siang di kantornya atau mungkin juga ada di kosan Arum. Entahlah aku tidak tau.
Tidak tau kenapa setelah aku mengatakan pada Arum kalau dia akan menikah siri dengan Mas Bara. Rasanya hati ini merasa takut. Aku takut Mas Bara tidak akan lagi mencintaiku. Ketakutan yang lain juga sering kali muncul di sela sela aku sedang makan ataupun aktivitas lain. Apa aku bisa di madu seperti nantinya? Kenapa aku merasa takut sekali rasanya.
Beberapa hari berlalu dengan sibuk. Aku sibuk mengurus mama dan toko roti ku. Sementara Mas Bara juga sibuk mengurus acara pernikahan sirinya. Aku sama sekali tidak membantu apa apa soal pernikahannya itu. Entahlah, aku hanya malas saja.
“Gimana Mas? Semuanya sudah siap? Jangan lama lama mas. Semakin lama, dosa kamu bermaksiat dengan Arum juga semakin menumpuk,” sindirku yang melihat Mas Bara sibuk di depan meja kerja miliknya.
Mas Bara menengok ke samping melihatku dengan wajah kesal.
“Ya nggak lama-lama lah, ini juga udah selesai berkas berkasnya. Besok juga aku bakal nikahin Arum. Kamu ikut kan?” tanya Mas Bara membuat hatiku teriris.
“Kalau nggak ikut menyaksikan nggak papa kan Mas?” tanyaku dengan ragu.
“Hah? Kamu nggak ikut menyaksikan? Ya jangan begitu dong, Bella. Kamu harus ikut ke sana. Itu adalah bukti kalau kamu ikhlas bahwa aku menikah lagi,” kata Mas Bara seolah tidak melihat kesedihan aku.
“Ya baiklah, aku akan ikut besok Mas. Tapi jangan lama-lama ya. Mama nggak suka kalau aku pergi keluar terlalu lama,” ucapku pada Mas Bara.
“Nah gitu dong kan hati aku jadi adem ayem,” seru Mas Bara dengan lega. Tangannya memelukku dari samping. Aku kaki ini tidak mengelaknya. Tangan itu berada di perutku dengan erat. Beberapa detik Mas Bara langsung membuat badanku ada di pangkuannya. Dia memelukku dengan erat. Kini kepala Mas Bara aku rangkul bersembunyi di dadaku. Rasa ini akan selalu ada untukmu Mas. Tetapi kenapa aku harus merasakan sakit jika mencintaimu seperti ini. Mengapa sang pencipta menganugerahkan rasa cinta untuk kuberikan padamu tetapi aku jugaendapat kesakitan darimu Mas. Kenapa Sang kuasa menciptakan itu? Supaya aku bisa terus berjuang dengan rumah tangga ini? Mengapa aku tidak bisaencintaimu tanpa rasa sakit Mas?
Kemesraan kamu berlanjut sampai akhirnya untuk beberapa bulan. Aku baru merasakan kenikmatan ini. Ya semenjak mas Bara selingkuh. Aku tidak mau melakukannya. Tetapi malam ini aku benar benar sudah di buat mabuk kepayang oleh Mas Bara. Entah kenapa rasanya mengalir begitu saja. Mungkin karena aku sudah belajar ikhlas untuk merelakan Mas Bara menikah lagi. Mungkin ada rasa kalau aku yang harus mempunyai anak terlebih dahulu sebelum Arum. Bolehkah memiliki rasa itu?
Kulihat Mas Bara sudah tertidur pulas di balik selimut yang menutupi sampai dadanya. Dia terlelap sangat manis sekali. Hidung mancung dan bibir dengan bentuk sempurna itu sangat membuatku menyayangi Mas Bara. Ku elus pipi itu dengan pelan menggunakan jari jempolku. Dia adalah suamiku dan juga akan menjadi suami Arum. Heh, sangat tidak menyangka aku bisa melewati ini semua tanpa mama mertuaku tahu. Bahkan aku juga tidak cerita kepada ibuku sendiri. Entah kapan aku akan bercerita dengan lepas.
Subuh telah tiba. Adzan berkumandang sangat ramai. Karena aku denger di beberapa masjid dan musholla. Kakiku turun dari ranjang. Aku langsung mandi pagi hari ini. Setelah membersihkan diri kulihat Mas Bara yang masih terlelap. Tanganku membangunkan dia. Tetapi dia hanya bergerak sesaat lalu tidur lagi.
Aku langsung saja solat subuh terlebih dahulu dan ku panjatkan doa yang selama ini aku sering ucapkan.
“Ya Allah kuatkan lah aku untuk menjadi istri Mas Bara. Aku ingin bersama Mas Bara sampai di surga nanti. Aku tidak ingin hanya bersama di dunia saja. Aku ingin di surgamu bersama Mas Bara. Kuatkan lah selalu jiwaku untuk menghadapi rumah tangga ini. Kuatkan lah aku untuk bisa melawan setan yang berbisik meminta untuk bercerai. Ya Allah semoga akan tiba saatnya aku bisa merasakan kebebasan. Akan tiba saatnya aku bisa bercerita kepada mama dan ibuku. Aku ingin sekali ya Allah bercerita kepada mereka. Semoga waktu itu akan datang dengan cepat,” aku menghembuskan nafas karena air mata ini mulaie eyes satu demi satu.
“Ya Allah lembutkanlah hati Mas Bara, agar Mas Bara selalu berlaku adil kepada ku dan kepada Arum nanti. Ya Allah kuatkan lah aku. Hari ini aku akan menyaksikan suamiku sendiri mengucapkan ijab kabul. Kuatkan lah aku ya Allah,” kedua telapak tanganku mengusap keseluruhan wajah. Hati ini rasanya sudah tenang sekali.


Komentar Buku (127)

  • avatar
    dwiiindahh

    soo good

    5d

      0
  • avatar
    Nurhadidah 123

    bagus banget

    01/01

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    16/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru