BERBAIKAN

PART 34
Buggh...!
Satu pukulan mendarat tepat di wajah Devan, membuat ia tersungkur ke lantai.
"Kenapa kamu memukulku, Faris?" Devan menyentuh wajahnya yang terasa sakit.
"Itu untuk balasan, karena Mas Devan membuat Mbak Diba pulang ke sini sendirian," ujar Faris, sambil menatap tajam Devan.
Setelah puas melampiaskan kekesalannya, Faris membantu Devan agar bisa berdiri. Melihat dia kesakitan seperti itu, membuatnya merasa kasihan, apalagi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, membuat ia menjadi merasa bersalah.
"Apa pukulanku terlalu kencang, Mas? Sampai bibirmu berdarah seperti ini," Faris menyentuh luka yang ada di bibir Devan.
"Menurutmu?" Devan menatap tajam adik iparnya.
Faris terkekeh, lalu ia mempersilahkan Devan masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya duduk di ruang keluarga.
"Aku mau langsung menemui istriku, kenapa malah menyuruhku duduk di sini?" tanya Devan.
"Apa Mas mau aku di marahi Mbak Diba, karena telah membuatmu seperti ini? Dia bisa memotong uang jajanku satu minggu, kalau tau aku melakukan ini," papar Faris.
Tidak mau berdebat lagi dengan adik iparnya, Devan memilih diam dan membiarkan Faris mengobati lukanya sampai selesai.
~~~
Adiba merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya, dengan mata yang masih terpejam, ia menyentuhnya dan merasakan tangan seseorang sedang memeluknya dari belakang, ia sangat tau betul siapa yang melakukan ini padanya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Adiba mencoba melepaskan tangan Devan, akan tetapi usahanya itu sia-sia, Devan semakin mengeratkan pelukannya, bahkan dia menenggelamkan wajahnya di leher Adiba.
"Lepaskan Aku, Devan!" pinta Adiba, ia menarik tangan Devan agar dia melepaskan pelukannya.
"Aku tidak akan melepaskannya, sebelum kamu mendengarkan penjelasanku," papar Devan.
Adiba menghela napasnya, rasa kesal di hatinya masih menguasai egonya, untuk saat ini ia tidak ingin mendengarkan apa-apa, ia hanya ingin menenangkan diri agar bisa berpikir jernih lagi.
"Tidak perlu menjelaskan apa-apa, Aku tidak membutuhkannya," tolak Adiba, "lebih baik kamu pergi dan jangan temui aku dulu," pekik Adiba, menarik tangan Devan agar bisa terlepas dari tubuhnya.
"Kalau begitu, kita akan seperti ini sampai kamu berubah pikiran dan mau mendengarkan penjelasanku," Devan semakin mengeratkan pelukannya, bahkan kini ia mengecup leher jenjang istrinya.
Adiba menyerah, tenaganya tidak bisa melawan tenaga Devan yang lebih kuat darinya, apalagi dari semalam ia belum makan dan juga kelelahan karena berjalan terlalu jauh.
"Masih belum berubah pikiran?" bisik Devan tepat di telinga Adiba.
"Jangan seperti ini, Aku tidak suka!" Adiba menepis wajah Devan agar menjauh dari wajahnya.
"Aaww," Devan meringis, lalu melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya.
Adiba menoleh, lalu menganti posisinya menjadi duduk, ia menatap wajah Devan dan melihat ada luka di sudut bibirnya.
"Kenapa bibirmu terluka, apa yang terjadi padamu?" tanya Adiba khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja," ucap Devan tersenyum.
Devan tidak mau jika istrinya tau kalau ini semua adalah ulah adik iparnya. Sedangkan Adiba menatap curiga pada laki-laki yang ada di depannya, bahkan pikirannya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Jangan memikirkan hal yang aneh! Aku tidak akan melakukan apa yang ada di dalam pikiranmu," papar Devan, ia tau betul kalau Adiba sedang berpikir yang tidak-tidak padanya, "ini adalah balasanku karena telah membiarkanmu pulang sendiri ke rumah bunda," jelas Devan.
"Maksud kamu apa?" tanya Adiba.
Devan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Adiba, bahkan hembusan napas istrinya mengenai wajahnya.
"Faris yang melakukannya," ucap Devan dengan suara yang pelan, lalu ia mengecup sekilas bibir ranum istrinya, membuat Adiba mendorong tubuh Devan hingga terhempas di atas ranjang.
Dengan cepat Devan menarik tangan Adiba agar jatuh ke dalam pelukannya, ia tidak akan membiarkan istrinya pergi lagi sebelum memaafkan dan mendengar penjelasannya.
"Apa-apaan sih Devan, kenapa menarikku lagi?" sarkas Adiba.
"Aku 'kan sudah bilang, kita tetap seperti ini sampai kamu mau mendengarkan penjelasanku," Devan mengeratkan kembali pelukannya, tapi kali ini wajah Adiba menghadap padanya.
"Baiklah, Aku akan mendengarkan semua penjelasanmu. Tapi, lepaskan aku dulu," putus Adiba.
Devan tersenyum, tapi ia tidak melepaskan pelukannya, ia hanya melonggarkan sedikit saja agar Adiba bisa bernapas dengan nyaman.
"Kita seperti ini, sampai aku selesai menceritakan semuanya," ujar Devan dan diangguki oleh Adiba, ia sudah lelah berdebat dengan suaminya yang sangat keras kepala.
Sesuai janjinya, kini Devan sudah melepaskan pelukannya dan Adiba sudah tau apa yang sebebarnya terjadi. Walaupun masih ada rasa kesal, tapi Adiba sudah memaafkan Devan dan kini mereka sudah kembali berbaikan dan berdamai.
"Kita pulang yuk! Aku rindu rumah kita," ucap Adiba, membuat Devan menyernyitkan dahinya.
"Tapi ini masih malam, Sayang!" papar Devan, "pulangnya besok pagi aja ya," saran Devan.
Adiba mengatupkan bibirnya, ia kesal karena Devan tidak menuruti keinginannya, padahal ia hanya ingin pulang saja.
"Ya sudah, Aku pulang sendiri saja," Adiba beranjak dari ranjangnya, lalu memakai hijab yang ada di nakas.
Devan mengikuti langkah Adiba yang akan keluar dari kamarnya, ia tidak mungkin membiarkan istrinya pulang sendiri ke rumah, bisa-bisa Faris akan melayangkan pukulannya lagi jika ia melakukan itu.
"Kita akan pulang, tapi kamu harus senyum dulu, jangan cemberut seperti ini," Devan meraih tangan Adiba, lalu menyentuh bibir Adiba yang sedang cemberut karena sedang merajuk.
Adiba langsung tersenyum, lalu berhambur memeluk Devan, ia merasa senang karena Devan mau pulang bersamanya.
"Terima kasih, Devan!" ucap Adiba, masih dalam pelukan suaminya, "maaf atas sikapku yang masih kekanak-kanakan," tambahnya.
"Tidak apa-apa, Adiba! Yang terpenting adalah jika ada masalah, jangan langsung pergi tanpa mencari tau kebenarannya," tutur Devan sambil mengelus punggung istrinya.
Adiba mengangguk, lalu melepaskan pelukannya, kemudian keduanya keluar dari kamar dengan tangan yang saling bertautan.
"Mau kemana Mbak?" tanya Faris, ketika ia melihat Adiba dan Devan menuruni tangga.
"Mbak mau pulang! Nanti kamu kasih tau bunda ya, maaf Mbak enggak pamit dulu sama bunda," tutur Adiba menghampiri Faris yang sedang duduk di sofa sambil menonton pertandingan sepakbola yang ada di televisi.
"Oke, Mbak! Nanti aku kasih tau bunda," Faris menganguk.
~~~
Suasana malam yang sepi, membuat Devan bisa mengendarai mobilnya dengan cepat, selain karena Adiba yang memintanya, ia juga sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
Kini keduanya sudah berada di apartemen, mereka sedang berbaring di tempat tidur sambil berpelukan, memberikan rasa hangat dan nyaman agar mereka bisa tidur dengan nyenyak. Tapi kali ini, Adiba yang memeluk suaminya, bahkan sekarang ia yang tidak ingin jauh dari Devan.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah hampir pagi, Adiba!" Devan menatap wajah istrinya yang belum juga memejamkan matanya.
"Aku enggak bisa tidur, Devan!" jelas Adiba.
Devan menghela napasnya, ia sudah benar-benar mengantuk, tapi melihat istrinya yang belum tidur, tidak mungkin ia bisa tidur dengan nyenyak.
"Apa kamu merasa lapar?" tanya Devan.
"Aku enggak lapar, Devan! Hanya saja perutku terasa mual dan...." belum sempat melanjutkan ucapannya, Adiba langsung beranjak dan berlari menuju kamar mandi.
"Hoek... Hoek...!" Adiba mengeluarkan semua isi perutnya.
***

Komentar Buku (153)

  • avatar
    tmitami

    baik

    06/08

      0
  • avatar
    Risna Risna

    seruh ceritanya lanjut dong

    20/09/2025

      0
  • avatar
    JuliansyahRizky

    lanjut dong kak

    02/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru