logo text

BABY TWINS

PART 36
Keduanya menoleh, menunggu apa yang akan disampaikan oleh Dokter Aisyah. Ada rasa khawatir di dalam hati Adiba, ia takut terjadi sesuatu dengan calon anaknya, tapi Devan mencoba menenangkannya agar ia tetap berpikir positif dan yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Apa terjadi sesuatu dengan kandungan istri saya, Dok?" tanya Devan khawatir.
"Tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja," Dokter Aisyah tersenyum sambil menatap Adiba dan Devan yang terlihat cemas.
Setelah mendengar Dokter Aisyah mengatakan itu, Adiba dan Devan bisa bernapas lega karena kandungannya dalam keadaan baik-baik saja.
"Lantas, apa yang akan dokter sampaikan pada kami?" tanya Devan, ia masih penasaran dan menunggu apa yang akan disampaikan oleh Dokter Aisyah.
"Selamat ya, kalian akan mendapatkan dua anak sekaligus," papar Dokter Aisyah.
Keduanya terdiam membeku, mencerna apa yang baru saja mereka dengar. Setelah mengerti dan paham, Devan langsung memeluk Adiba dengan sangat erat. Rasa haru dan bahagia menjadi satu, baik Devan maupun Adiba tidak bisa berkata apa-apa, hanya rasa syukur dan terima kasih yang mereka panjatkan kepada Allah SWT. atas karunia yang saat ini mereka dapatkan.
"Istri saya sedang mengandung baby twins, Dok?" Devan memastikannya, ia juga ingin mendengar berita bahagia itu sekali lagi.
"Betul sekali! Di dalam rahim Adiba ada calon bayi kembar kalian," jawab Dokter Aisyah, "tolong dijaga baik-baik ya, Devan!" pinta Dokter Aisyah.
"Pasti, Dok! Saya akan menjaga mereka dengan baik," ucap Devan tanpa rasa ragu.
~~~
Setelah Adiba selesai menjalani pemeriksaan ibu hamil, kini ia sedang berada di kantin rumah sakit, menunggu makanan yang sedang dipesan oleh suaminya.
Netra Devan tidak pernah lepas dari Adiba. Bahkan saat ini, ia masih menatap istrinya dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.
"Kenapa menatapku seperti itu, Devan? Apa ada sesuatu di wajahku?" Adiba menyentuh wajanya. Memastikan tidak ada sesuatu di wajahnya.
"Kamu cantik! Aku tambah cinta sama kamu," puji Devan sambil tersenyum manis.
Mendengar suaminya mengatakan itu, pipi Adiba merona. Padahal, ini bukan pertama kali Devan memujinya, tapi ia masih saja merasa malu.
Baru saja Adiba ingin membalas pujian Devan, datang seorang pramusaji yang mengantarkan makanan mereka, membuat ia mengurungkan niatnya dan langsung melihat makanan yang tertata di meja. Tanpa menunggu lama, Adiba langsung menyantap makanannya.
"Kamu enggak makan?" Adiba menghentikan makannya ketika ia melihat Devan hanya diam dan mengabaikan makanan miliknya.
"Ini aku mau makan," dengan cepat Devan menyuapkan makanannya, dan itu membuat Adiba tersenyum.
Adiba kembali menyantap makanannya, tapi baru beberapa sendok, tiba-tiba ia merasa mual, bahkan keringat dingin juga membasahi dahinya.
"Ada apa, Sayang? Kenapa makannya hanya sedikit? Kamu mau makanan yang lain?" tanya Devan menatap istrinya.
"Tiba-tiba kepalaku pusing, Devan! Aku juga merasa mual," lirih Adiba.
Devan terdiam, menatap istrinya yang terlihat pucat, lalu ia menghampirinya dan segera mambawa ke ruangannya.
"Kamu istirahat di sini dulu ya, aku akan mengambilkan obat pereda mual," ucap Devan, setelah membaringkan istrinya di sofa yang ada di ruangannya.
Setelah memberi obat untuk Adiba, Devan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya dan meminta istrinya untuk menunggu di sini sampai pekerjaannya selesai.
"Kalau kamu membutuhkan sesuatu, telepon aku ya, aku akan segera menemuimu," ujar Devan dan diangguki oleh Adiba.
Devan sudah menghilang dari pandangannya, lalu Adiba kembali merebahkan tubuhnya di sofa, memejamkan mata dan mencoba menghilangkan rasa pusing yang masih terasa.
Belum sampai lima menit ia memejamkan matanya, tiba-tiba pintu terbuka. Dengan terpaksa ia menoleh dan melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan suaminya, dan netranya melihat Dokter Reyhan yang berjalan masuk menghampirinya.
"Astagfirullah, Dokter Reyhan!" Adiba terkejut dengan kedatangan Dokter Reyhan, ia mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kenapa kamu ada di sini, Adiba? Di mana Devan?" tanya Dokter Reyhan, setelah ia sudah berada di dekat Adiba.
"Devan sedang kerja, Dok!" sahut Adiba, "baru beberapa menit yang lalu dia keluar," tambahnya.
Dokter Reyhan menggeleng, lalu ia duduk di samping Adiba, membuat Adiba tersentak, lalu dia beranjak dari duduknya dan menjauh darinya.
"Mau kemana, Adiba? Kenapa pergi?" tanya Dokter Reyhan.
"Mau keluar, Dok! Sa--Saya mau ke ruangannya Mas Riza," papar Adiba sedikit gugup.
Adiba tidak tahu harus mengatakan apa, tidak mungkin ia berada di sini hanya berdua dengan Dokter Reyhan.
"Untuk apa kamu ke sana? Lebih baik di sini saja," pinta Dokter Reyhan.
"Memangnya kenapa saya tidak boleh ke sana, Dok?" Adiba menatap Dokter Reyhan yang kini terlihat gugup.
Dokter Reyhan menoleh sekilas pada Adiba yang kini berdiri tidak jauh darinya, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
'Ya Allah, kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apa yang terjadi padaku,' batin Dokter Reyhan.
"Dokter Reyhan!" panggil Adiba.
Suara Adiba yang memanggilnya, membuat Dokter Reyhan tersadar dari lamunannya, ia segera beranjak dan pergi meninggalkan Adiba tanpa mengatakan apa-apa. Adiba yang melihat itu semua merasa bingung dengan perubahan sikap Dokter Reyhan, tapi ia tetap mencoba berpikir pisitif.
Dengan cepat Dokter Reyhan masuk ke dalam ruangannya, lalu ia mengunci pintunya dari dalam. Saat ini ia hanya ingin menenangkan hatinya agar bisa mengendalikan pikirannya.
"Ya Allah, kenapa jadi seperti ini, kenapa aku tidak bisa menahan perasaan ini?" Dokter Reyhan mengusap wajahnya, ia benar-benar frustasi dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Perasaan seperti ini sudah lama tidak pernah ia rasakan dan sekarang dia tumbuh lagi. Rasa ingin memiliki kini selalu hadir di pikirannya, tapi ia tetap mencoba menepis dan melupakan semuanya, ia tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain.
Suara ketukan di pintu membuat Dokter Reyhan tersadar dari lamunannya, lalu ia segera beranjak dan membuka pintu untuk melihat siapa yang ada di luar.
"Maaf, Dok! Anda sudah ditunggu di ruang operasi," ujar seorang perawat, ketika pintu sudah terbuka.
"Siapkan semuanya, lima menit lagi saya akan menyusul," ucap Dokter Reyhan dan diangguki oleh perawat itu.
~~~
Ponsel di saku Devan berdering, mebuat ia menghentikan sejenak aktifitasnya. Devan mengambil benda pipih itu dan menekan tombol hijau, setelah ia melihat nama Adiba yang tertera di layar ponselnya.
[Assalamualaikum, Sayang! Ada apa?]
[Waalaikum salam. Devan aku mau pulang saja,]
[Hah! Kenapa memangnya? Apa terjadi sesuatu di sana?]
[Enggak apa-apa, aku merasa tidak nyaman ada di sini,]
[Baiklah, aku akan mengantarmu pulang, tunggu sebentar ya dan jangan kemana-mana,]
Devan memutuskan panggilannya, lalu ia keluar dari ruang IGD. Di perjalanan, ia melihat Dokter Reyhan menuju ruang operasi.
"Dokter Reyhan," panggil Devan.
Dokter Reyhan menoleh dan menghentikan langkahnya, "ada apa, Devan?"
"Maaf, Dok! Boleh saya minta ijin untuk mengantar istri saya pulang?" pinta Devan.
Dokter Reyhan mengangguk dan membolehkan Devan untuk mengantar Adiba, asalkan setelah itu dia harus segera kembali ke rumah sakit.
Baru saja ia akan melangkah pergi, Dokter Reyhan memanggilnya lagi.
"Devan!" panggil Dokter Reyhan.
"Iya, Dok! Ada apa?" Devan menatap Dokter Reyhan yang terlihat akan mengatakan sesuatu.
***

Komentar Buku (153)

  • avatar
    tmitami

    baik

    06/08

      0
  • avatar
    Risna Risna

    seruh ceritanya lanjut dong

    20/09/2025

      0
  • avatar
    JuliansyahRizky

    lanjut dong kak

    02/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru