"Bawa Ria pulang sekarang! Sudah cukup mainnya," perintah Wira begitu mendapat kabar cucunya relaps di tengah jalanan Vegas. "Fikri tidak bisa dihubungi, Tuan. Saya takut melanggar batas jika menjemput Nona secara paksa," ujar si pengawal yang diberi perintah oleh Wira. "Kamu jemput Ria bareng dia. Langsung gendong aja dan bawa ke helipad." Wira beralih menyuruh Reynal yang sedari tadi terus berada di sisinya. "Baik, Kek." Semenjak kepergian Ria dari ruangan pimpinan, Wira tidak kehilangan sedikitpun kabar darinya. Ia menyuruh pengawal utusannya untuk menjaga Ria dari jauh dan mengabarkan apa saja yang dilakukannya. Wira terkejut mendapati Ria bersama kekasihnya. Tindakan yang begitu riskan karena bisa saja ada penggemar Tian yang tidak menyukai kedekatan mereka dan menyebarkan dokumentasi mereka selama bersama di jalanan Vegas. Beberapa pengawalnya sudah mengambil ponsel yang kedapatan mendokumentasikan cucunya. Paparazi tidak bisa dihindari, terlebih Tian merupakan sosok yang besar di dunia hiburan. Wira juga tidak menyangka bahwa Ria akan relaps. Setelah sekian lama ia dalam kondisi yang stabil, mengapa harus relaps lagi? Wira juga lelah sebenarnya jika harus menghadapi kekambuhan Ria yang tidak pernah biasa saja. Tapi, ia tidak bisa tidak turun tangan mengurus cucunya sementara anaknya sibuk bekerja. Ponsel di saku bajunya bergetar dan Wira langsung menjawab panggilan tersebut. "Ok, Kakek langsung ke sana." Bangkit dari kursinya dan bergegas menuju helipad di atas gedung AW. Mesin pesawat sudah menyala ketika Wira tiba di helipad. Terlihat beberapa pengawal berbaju hitam menjaga di sekitar helipad dengan ketat. “Nona dan Tuan Muda sudah di dalam,” lapor sang pilot yang menyambut Wira di bawah tangga pesawat. **** “Ada kejadian apa sebelum kambuh?” tanya Ardi melalui panggilan video bersama Wira. “Dia main di jalanan Vegas yang ramai dan padat. Sebelumnya main di casino yang ramai dan remang-remang. Saya pikir karena itu triggernya,” ungkap Wira berusaha mengingat dari laporan yang disampaikan pengawalnya. Keheningan melingkupi keduanya. Ardi tengah berpikir keras, karena sudah lama ia tidak melakukan konseling dengan Ria. Seharusnya baik-baik saja karena ia tidak mendapati laporan Ria relaps belakangan ini. “Dia ada pengawalnya, kan? Coba panggil pengawalnya. Saya yakin bukan karena main ke tempat seperti itu saja penyebabnya,” suruh Ardi, mencoba mengumpulkan kejadian yang menimpa Ria belakangan ini. Kekambuhan Ria tidak semudah itu muncul. Bukan hanya karena berada di tempat yang menjadi fobianya. Fikri tiba di kamar Ria dan tetap dalam kondisi diam. Ia memang selayaknya pengawal pribadi yang tidak banyak bicara. “Ada kejadian apa selama di US?” tanya Ardi langsung. “Kejadian apa?” Fikri balik bertanya. Ia bingung maksud dari pertanyaan Ardi. “Kejadian yang membuat Ria hilang kontrol,” tekan Ardi yang langsung dimengerti oleh Fikri. “Bertemu Tuan Reno, bertengkar dengan Julio, temannya diracun oleh Tuan Reno,” jawab Fikri langsung pada intinya. Ardi mengernyitkan dahi seolah berpikir keras. Bertemu dengan Reno memang sangat traumatis bagi Ria, Ardi tahu itu. “Julio siapa? Kenapa Ria bisa bertengkar dengannya dan membuat hilang kontrol?” Ardi tidak pernah mendengar seorang Ria bertengkar dengan orang lain selain dengan kakaknya. “Salah seorang GMC. Ibunya Julio salah satu korban Lidya dan mereka bertengkar kala itu dengan Julio yang terus membahas Lidya di hadapan Nona,” jelas Fikri secara singkat. Apalagi yang harus disampaikan? Ia yakin Ardi lebih tahu kisah di baliknya karena ia psikiater pribadi Ria. Ardi menghela napas berat. Ia tahu hal ini akan terjadi ketika Reno dan Ria bersatu setelah bertahun-tahun mereka terpisah jarak. “Dengan Reno pasti mereka bertengkar dan saling menyalahkan satu sama lain?” tanya Ardi yang disetujui oleh Wira. “Apa Ria ada minum alkohol akhir-akhir ini?” “Sebelum relaps Nona minum cocktail. Ketika di New York minum alkohol juga. Seingat saya Nona minum ketika bersama temannya saja,” ungkap Fikri yang membuat Ardi dan Wira cukup terkejut. Mengapa Ria menjadi alcoholic ketika bersama teman-temannya? Ardi meresepkan sesuatu pada kertas di atas mejanya. “Jangan lupa diminum obatnya untuk menetralisir efek dari alkohol di tubuhnya. Obat rutinnya jangan ditinggalkan,” kata Ardi layaknya seorang dokter yang menasihati wali pasien. “Jadi, Ria kambuh kenapa? Apakah harus dipisahkan lagi dari Reno untuk sementara waktu?” tanya Wira memastikan kembali langkah yang harus dilakukannya. “Sejauh ini dikarenakan Ria mengonsumsi alkohol sehingga membuat sistem saraf di otaknya mengalami kesalahan persepsi. Pantang sekali untuk Ria mengonsumsi alkohol, terlebih stressornya terus diungkit dan berada di sekitarnya. Akan saya pantau selama tiga hari ke depan apakah halusinasinya masih muncul. Jika hal itu tetap terjadi setelah tiga hari, maka ia memasuki fase relaps, bukan lagi efek dari alkohol.” Dengan berat hati Ardi mengatakannya. Wira dan Randy mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Hal terberat sejauh ini yang mereka hadapi adalah menghadapi fase relaps Ria. “Terkait Reno, harus saya pisahkan atau biarkan saja di satu rumah?” tanya Wira kembali. “Reno lagi sakit juga, kan? Biarkan saja dulu mereka satu rumah. Tetap awasi dan jangan biarkan mereka berdua dulu dalam satu tempat. Khawatir saling menyakiti dan berujung tidak baik,” kata Ardi yang disetujui oleh semua orang yang hadir menyimak konsultasi singkat barusan. “Rumit banget jadi Kakak.” Reynal mengakui bahwa kondisi Ria tidak main-main. “Jangan hanya terfokus pada Ria. Kalian masih ada Reno yang harus diperhatikan juga,” peringat Ardi dan Wira mengakhiri panggilan video tersebut. Satu per satu orang meninggalkan kamar Ria dan menyisakan Ria sendiri yang mereka anggap masih dalam keadaan tidak sadar. Salah besar, Ria tidak hilang kesadaran sedari tadi. Ia hanya memejamkan mata karena suara di sekitarnya sangat ramai. Ria lelah, sungguh. Mengapa mereka hanya memberinya obat tanpa mencoba memahami apa yang dirasakan? Ria juga tidak mau split dan seolah membawanya kembali pada kejadian tersebut. Ria tidak berkuasa untuk menahan agar tidak kembali pada memori tersebut. Ia juga tidak ingin masih terbayang oleh ibunya. Mencoba menahan itu semua selama beberapa waktu ke depan. Pada akhirnya Ria menyerah. Ia tidak bisa menghilangkan memori yang tengah terputar di kepalanya saat ini beserta suara yang berlomba masuk ke telinganya. Bangun dari posisi rebah dan berusaha menggapai gagang telepon di meja nakas. Bukan gagang telepon yang didapat, justru gelas beling yang bergeser hingga terjatuh ke lantai. Ia mendengar suara pecahan tersebut, tapi suara yang lain masih mendominasi. “Papah,” panggil Ria dengan meraung. Ia tidak tahan dengan kondisi yang tengah dihadapinya. Tangis Ria semakin kencang tatkala tidak seorangpun yang datang untuk menolongnya. Ria butuh seseorang yang dapat membawanya keluar dari situasi ini. “Papah,” panggil Ria lagi, berharap lelaki tersebut hadir di sisinya saat ini. Seseorang yang tidak beranjak sedikitpun sedari tadi, menghubungi Antara. “Pulang! Ria mencarimu,” kata Wira dengan pelan. Ia membiarkan teleponnya tetap terhubung agar Antara dapat mendengar tangis meraung dari putrinya. “Papah,” panggil Ria lagi dengan putus asa. “Fine, aku pulang. Kasih obat penenang dulu melalui suntikan. Ada suster jaga di sana, kan?” Wira berdehem menjawab pertanyaan Antara. Memang ada suster jaga di rumah ini untuk Reno. Tidak menyangka obat penenangnya akan digunakan juga oleh Ria. “Tanya Ardi dosis obat penenangnya. Dia tahu obat yang digunakan juga oleh Reno.” Wira menghela napas berat ketika menyaksikan betapa tersiksanya Ria menghadapi halusinasinya sendiri. Ria tidak pernah benar-benar sendiri, Wira hanya tidak mampu bereaksi saja ketika hal tersebut terjadi di hadapannya. Wira akui ia bodoh dalam mengurus hal seperti itu. Ia hanya akan bereaksi ketika Ria mulai melukai dirinya. Tapi tidak berusaha membantu Ria untuk keluar dari kondisi tersebut sebelum semuanya menjadi tambah parah. “Apakah ini karma dari Tuhan akibat dosaku di masa lalu?” Batin Wira bertanya-tanya ketika menghadapi Ria yang seperti ini. #########################################################################
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Kurang menarik
23/09/2024
0terbaik
27/07/2022
0okhchch
01/07/2022
0Lihat Semua