Beranda/Siapa yang Bucin?/
Bab 89 Pindah Haluan
“Papah tertarik ke bidang konstruksi deh,” kata Antara di tengah kegiatan sarapan keluarganya. Seluruh Ananta kumpul di meja makan kali ini, momen yang langka sekali.
Ria dan Randy menghentikan kegiatan menyuapnya dan meletakkan sendok garpu secara bersamaan. “Are you serious? Mau meninggalkan FMCG?” tanya Ria memastikan perkataan papahnya barusan.
“Nggak ninggalin juga. Kan baru bilang tertarik, belum pasti akan ke sana.” Antara mendelik sebal ke arah dua anaknya.
“Lagian tiba-tiba bilang begitu, apa tidak mengejutkan,” balas Ria dengan mencibir.
“Kalau Papah ke konstruksi, yang megang Pusat siapa?” Randy ikut menyuarakan kebingungannya. Sang papah jika sudah bicara pasti akan kejadian.
“Loh, kamu dan Ria ada di sana. Tiga bulan terakhir adik kamu loh yang memimpin Pusat,” kata Antara yang membuat Ria kesal mengingat masa itu.
“Nanti perusahaannya jadi banyak perombakan loh, Pah. Kalau aku dan Ria sudah collab.” Randy mengancam Antara agar lelaki tersebut tidak pindah haluan. Mendampingi papahnya selama di US saja ia hampir menyerah, apalagi sampai mengambil alih perusahaan.
“Sudah banyak perubahan kok selama Ria menjabat kemarin dengan identitas yang disembunyikan. Nanti tanya aja pas di kantor,” timpal Antara dengan enteng. Ia hanya tertawa saja mendengar hal yang dilakukan Ria selama menggantikan kepemimpinannya sementara.
“Jadi, aku kerja dimana?” Ria menginterupsi percakapan keduanya. Karena sampai sekarang ia belum mendapatkan pekerjaan yang jelas.
“Posisi pimpinan di Pusat yang lagi kosong cuman direktur keuangan. Kalau kamu tetap mau di operasional, bisanya jadi staf biasa,” ujar Antara memberitahu lowongan di Pusat yang baru diketahuinya semalam.
“Yah, masa staf biasa. Aku kan manajer sebelumnya, Pah.” Ria merajuk mendengar informasi tersebut.
“Terus gimana? Kamu mau di Pusat bareng Papah dan tetap di divisi operasional, kan? Cuman itu doang yang kosong saat ini.”
“Ish, bener-bener nggak bisa pakai orang dalam di Pusat. Nyebelin!” ujar Ria setengah teriak. Sudah beberapa hari ini ia meminta pada Antara untuk menjadikannya manajer operasional di Pusat, tapi tidak diindahkan oleh lelaki tersebut.
“Usaha sendiri lah! Dia yang menjabat sebagai manajer operasional Pusat juga karena skill dan usahanya, bukan karena orang dalam.”
Randy memegang tangan Ria, meminta sang adik untuk tidak membalas perkataan papahnya. Antara terkait pekerjaan memang tidak bisa diganggu gugat, begitu kata dia maka akan terus begitu.
“Abang tahu kan, betapa nggak cocoknya aku jadi staf saat ini?” Ria berusaha mencari pembelaan dari Randy. Sungguh, ia tidak terbayangkan menjadi staf dengan kebiasaannya yang berlagak menjadi pimpinan.
“Tahu. Balik ke kamu, kalau mau bareng aku sama Papah di Pusat, maka hanya ada posisi itu yang sesuai dengan keinginan kamu. Kecuali kamu mau pindah haluan ke finance. Kalau kamu tidak terima dengan posisi staf operasional, maka cari perusahaan lain yang sedang membuka lowongan untuk manajer, ok?” Randy mengakhiri perkataannya dengan tepukan pelan di kepala Ria.
Reno dan Reynal hanya menikmati sarapan dalam diam. Mereka tidak begitu mengerti topik perbincangan ketiganya. Meskipun Reno juga sudah bekerja dan tahu tentang dunia perusahaan, tetap saja ia tidak paham apa yang dipermasalahkan Ria. Ia juga sedang meminimalisir interaksi dengan Ria sesuai arahan dari Antara dan Ardi agar mereka dapat tinggal bersama tanpa kegaduhan.
“Nggak masalah sih posisi staf kalau pertimbangannya bisa bareng dengan Randy dan Papah. Kamu kerja juga bukan mencari uang, kan? Gaji kamu di perusahaan manapun tidak sebanding dengan penghasilan pasif dari saham yang kamu miliki ditambah uang jajan dari Papah dan Kakek.” Reno menyampaikan pendapatnya karena melihat Ria yang sangat bimbang.
“Tapi kalau kamu memang mementingkan pride dan pengalaman beberapa tahun terakhir, hal tersebut nggak sebanding. Dimana kamu harus kembali menjadi staf lagi sementara posisimu saat ini sudah dapat menjadi manajer lingkup regional.” Reno juga mengikuti rekam jejak adiknya di dunia kerja. Sedikit banyak ia tahu beberapa hal yang sudah dikerjakan Ria dan menambah portofolionya.
“Pusing banget sih. Mending kuliah deh, jalani saja tanpa perlu banyak pertimbangan dan tanpa mempedulikan gengsi,” sahut Reynal yang langsung menjadi pusat perhatian.
****
“Selamat pagi rekan-rekan sekalian. Perkenalkan saya Ria Ananta, staf baru di divisi operasional ini. Mohon bimbingan dan arahannya dari Bapak/Ibu sekalian. Salam kenal.” Ria memperkenalkan dirinya di hadapan 10 karyawan divisi operasional Wira Corporations. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan Pusat, meskipun menjadi staf biasa.
“Salam kenal, Ria. Saya Dio, asisten manajer di sini. Bu Mita masih ada keperluan dengan direksi, jadi belum bisa menyambut kamu juga. Dan untuk yang lain yang mau kenalan bisa di luar jam ya. Kita lanjut ke kerjaan masing-masing.” Dio kembali ke tempat duduknya yang berada di ujung ruangan.
Ruangan OPR berbentuk persegi panjang, memanjang ke arah samping. Dengan dua pintu masuk di sisi kanan dan kiri, dan terdapat papan tulis serta proyektor di ujung ruangan yang biasa digunakan untuk divisi OPR rapat. Tak lupa kubikel berjumlah sepuluh dan satu meja kerja yang terpisah di pojok ruangan sendiri, milik Dio.
Ria menempati kubikelnya dan melihat sekeliling. Menghela nafas pasrah, ia mulai merapikan meja tersebut sesuai keinginannya. Kubikelnya tidak terlalu tinggi seperti yang dibayangkan, hanya setinggi leher ketika ia duduk, dan masih bisa melihat rekan kerjanya yang tengah mengerjakan sesuatu dengan berbagai ekspresi.
Seseorang meletakkan setumpuk kertas ke atas mejanya. “Kamu pelajari berkas tersebut. Bukan anak baru di OPR, kan? Jadi udah ngerti basicnya?” kata orang tersebut dengan raut wajah yang datar.
Ria hanya dapat menganggukan kepala. “Kamu tanya sama Zetta aja kalau ada yang nggak ngerti. Adaptasinya jangan kelamaan, karena ini lagi bulannya sibuk.” Wanita tersebut berlalu begitu saja tanpa mendapati tanggapan yang berarti dari Ria.
Ria mulai membaca satu per-satu lembaran kertas di hadapannya. Ia paham semua yang tertera di sana, karena sudah semenjak kuliah ia berkecimpung di dunia OPR. “Tapi, tunggu sebentar. Kenapa ada yang janggal?” tanya Ria dalam hati.
“Permisi, Mbak. Mau tanya, operasional direksi sebesar ini tiap bulannya? Terus ini.” Ria menunjuk bagian yang aneh menurutnya.
“Setiap enam bulan sekali ganti aset?”
“Iya. Operasional tersebut harusnya untuk jajaran di bawahnya sih, seperti sekretaris, asisten. Setiap enam bulan sekali mereka minta ganti aset, kurang tahu juga alasannya. Bu Mita yang acc sebagai gerbang terakhir.” Zetta menjelaskan dengan lengkap hal-hal yang mengganjal menurut Ria.
“Kenapa berkasnya dari tadi tentang ATK, transportasi dan beberapa makanan dan minuman ringan. Ini OPR apa, ya?” tanya Ria memastikan bahwa ia tidak berada di divisi yang salah.
“OPR internal, Ri.” Ekspresi Ria berubah masam. Ia memegang ujung hidung, menutupi kekesalan yang muncul saat ini.
“Thanks, Mbak.” Ria kembali ke kubikelnya dan bergegas mengambil ponsel berniat memaki seseorang.
[Ria A.] : Randy bangsat!!!!
[Reynal A.] : Wey, apeni dateng2 langsung marah.
[Antara A.] : Kenapa, Sayangku???
[Ria A.] : MANA SI RANDY? MUNCUL LO!!!
[Reynal A.] : Lagi kerja kali, Kak.
[Randy A.] : Kenapss uyy?
[Ria A.] : Kenapa gue di OPR internal? 😤 Nangis banget 😭😭😭
[Randy A.] : Salahku opo toh? Kamu yang bilang mau di OPR.
[Ria A.] : OPR Pabrik tapi wey!! Bukan internal 😭
[Randy A.] : Udah, terima nasib. Anggap aja pengalaman baru. Nggak bosen jadi orang lapangan terus?
[Ria A.] : Gue telen lu pas makan siang, liat aja!!! 😊
“Heh anak baru! Kerja! Jangan main HP terus!” kata seseorang dengan sangat keras, menghentikan seluruh kegiatan di ruangan dan memfokuskan pandangan ke arah Ria.
Ria yang kedapatan sedang memegang HP dan menjadi pusat perhatian, kembali memasang wajah datar dan meletakkan ponselnya di laci meja dengan keras. Semuanya kembali pada kegiatan masing-masing setelah mendengar Ria menutup laci meja dengan sedikit membanting.
Melanjutkan pekerjaannya, memahami biaya operasional internal yang ditanggung oleh divisinya saat ini. Ria pernah berada di OPR internal, tetapi ia tidak tahan akibat atasan yang terus menekan OPR agar menyetujui anggaran yang mereka ajukan. Untuk apa dihitung sana sini jika ujungnya tidak disetujui? Selalu seperti itu polanya di internal. Ria yang kala itu tidak tahan, beralih ke OPR pabrik yang lebih masuk akal.
“Mbak, bagaimana alur RAB-nya sampai di tangan OPR dan disetujui oleh finance?” tanya Ria lagi pada Zetta.
“Kayak biasanya aja. Setiap departemen maupun divisi merancang anggarannya dulu, kemudian dikirim ke OPR, kita yang mengatur bagaimana pengeluaran perusahaan seefisien mungkin dan baru diberikan pada finance yang langsung di acc.”
“Nggak ada pemangkasan lagi dari finance?”
“Nggak. Mereka mempercayakan semuanya ke OPR.” Zetta kembali menghadap komputernya dan melanjutkan pekerjaan.
Tidak terlalu sulit sih sebenarnya dilihat dari penjelasan tersebut. Namun ia malas sekali berurusan dengan kekuasaan di sini. Jangan sampai ia berhadapan dengan pimpinan yang tidak terima anggarannya dipangkas begitu saja.
“Ada inventarisasi ATK dan barang lainnya, Mbak? Untung memastikan perhitungan,” kata Ria yang dijawab gelengan kepala dari Zetta.
“Hah? Terus gimana? Langsung acc aja gitu selama ini tanpa melihat sisa barang tersebut?” tanya Ria sedikit keras. Zetta menjawab dengan anggukan.
Membanting kertas ke atas meja, Ria bangkit dari kursinya berniat keluar dari ruangan. Kepalanya panas sekali saat ini. Ia geram dengan informasi yang baru didapat barusan.
“Lo mau kemana?” tanya perempuan yang sedari tadi bersikap sinis pada Ria.
“Keluar.”
“Siapa yang izinin lo keluar?” tanyanya dengan sinis.
“Siapa yang melarang gue untuk keluar?”
“Gue,” sahutnya dengan pongah.
“Oh.” Tanpa mempedulikan respon wanita tersebut, Ria berjalan keluar ruang OPR dan menutup pintu dengan kencang.
****
“Lebih baik kamu nggak usah berhubungan dulu dengan Ria dalam waktu dekat ini,” ujar Januar perlahan. Ia tidak mau Tian ngambek seperti minggu lalu dan menghilang dalam waktu yang lama.
“Bisa nggak, nggak usah bahas itu dulu ketika kita lagi kerja?” tanya Tian dengan serius. Ia tidak suka membicarakan hal pribadi di tengah pekerjaan mereka.
“Aku serius, Yan. Demi kebaikan kalian berdua. Aku takut agensi ikut campur untuk memisahkan kalian berdua,” kata Januar dengan kesungguhan. Melihat dari temannya yang berada di agensi lain, mereka benar-benar menjaga pasangannya agar tidak diketahui oleh agensi.
Tian memejamkan mata dan menarik nafas dalam. Ia tahu niat Januar baik, tapi ia sungguh tidak ingin membahasnya saat ini.
“Nanti kita bahas lagi ya, Bang. Makasih atas perhatiannya, aku mau fokus kerja dulu.” Tian bangkit dari kursi tersebut dan berjalan menuju lokasi pemotretan yang sudah siap mengambil gambar mereka.
GMC sudah kembali bekerja hari ini dan langsung melakukan pemotretan untuk kerja sama dengan majalah terkenal di dunia. Setelah dari pemotretan majalah, mereka diundang ke salah satu stasiun televisi untuk melakukan wawancara terkait prestasi yang telah mereka raih selama di Amerika sana.
Lokasi studio TV yang berada di Barat Jakarta cukup jauh dari lokasi pemotretan kali ini yang berada di Timur Jakarta. Jadwal mereka hari ini hanya ada pemotretan dan wawancara.
Sekembalinya Tian dari rumah Hartanto kala itu, ia langsung disambut hangat oleh seluruh GMC dan staf. Mereka meminta maaf dari hati yang tulus kepada Tian akibat menekan Tian pada permasalahan tersebut dengan direksi. Mereka sadar mereka salah. Seharusnya berdiri bersama Tian adalah hal yang utama agar Tian tidak merasa sendiri menyelesaikan permasalahan tersebut.
Tian yang masih terbawa perasaan, tidak memberikan tanggapan yang berarti. Namun, ia tidak memasang perisai lagi di antara GMC dan staf. Mereka berhubungan dengan Tian secara profesional karena pekerjaan yang menunggu hingga beberapa hari ke depan.
####################################
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (35)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Kurang menarik
23/09/2024
0terbaik
27/07/2022
0okhchch
01/07/2022
0Lihat Semua