logo text

Bab 16 Mama Trouble

Ternyata semua pikiran buruk yang hinggap di kepala tidak sehoror perkiraan. Pertama kali periksa, dokter langsung menanyakan usia perkawinan kami.
“Baru enam bulan, Dok.” sahutku.
“Suami mana? Kok datang sama Mama?” tanyanya lagi.
“Dia lagi ada kerjaan, Dok.” Mama yang menyahuti.
“Harusnya datang berdua. Kehamilan itu terjadi karena pertemuan sel telur dan sperma. Semua punya andil 60% untuk wanita dan 40% pria. Tidak bisa kalau hanya melakukan pemeriksaan dari satu pihak.”
Dokter kemudian bertanya tentang siklus menstruasi. Menurut dokter siklus menstruasi normal terjadi selama 24-35 hari. Wanita dikatakan fertil jika memiliki masa ovulasi yang teratur, sehingga dapat dengan mudah menentukan masa subur. Setelah melakukan penghitungan pada masa menstruasi serta lamanya periode haid antara 3-7 hari, dan satu lagi berkaitan banyak tidaknya darah haid yang keluar, alhamdulillah tidak ada masalah.
“Bagaimana dengan volume darah haid yang keluar?” tanya dokter Teresia tiba-tiba.
“Biasa saja,” sahutku sedikit tidak mengerti dengan pertanyaan tersebut.
“Maksudnya banyak atau sedikit.” terangnya. “Kalau banyak sampai berapa kali ganti pembalut?”
“Awal-awal banyak, paling empat kali ganti. Terus mendekati akhir tinggal sedikit.” jawabku.
“Ada beberapa kondisi haid tidak normal.” dokter Teresia sudah siap untuk berkicau. “Menoragia jika volume darah haid lebih dari 60 ml sebulan dari volume normal 30-40 ml. Biasanya tertandai dengan sering berganti pembalut tiap jam. Wanita dengan menoragia bisa menjadi lemas, pucat karena kekurangan darah.”
Tak hanya itu dokter Teresia juga menjelaskan mengenai gangguan haid yang bisa menyebabkan infertilitas. Antara lain, oligomenorrhea, polimenorrhea dan amenorea. Oligomenorrhea merupakan kondisi wanita mengalami siklus menstruasi di atas 35 hari. Wanita dengan oligomenorrhea akan sulit hamil karena tidak terjadi ovulasi.
Kebalikan dari oligomenorrhea adalah polimenorrhea_terlalu sering haid. Siklus haid lebih pendek 21 hari. Keadaan ini mengganggu proses pelepasan sel telur sehingga menyebabkan gangguan kesuburan. Sedang amenorea, keadaan berhentinya menstruasi pada masa menstruasi teratur, atau bahkan sama sekali tidak mengalami menstruasi.
Setelah memberi kuliah tentang gangguan haid, dokter Teresia menyarankan agar aku melakukan papsmer dengan mengambil sampel lendir dari miss V. Cukup khawatir itu akan merobek selaput daraku, tapi aku abaikan demi hasil pemeriksaan. Demi mengetahui ada tidaknya sel berbahaya yang bisa berkembang menjadi kanker. Terakhir aku di USG untuk mengetahui ada tidaknya miom atau sejenisnya yang bersarang di rahim.
Menurut dokter Teresia, berhubung usia perkawinan kami belum genap satu tahun dan dengan kondisi diagnosa awal keadaanku baik-baik saja, tidak akan ada masalah. Aku hanya perlu mengatur pola makan, rajin berolah raga agar kemungkinan segera hamil semakin besar.
Selanjutnya tinggal menunggu hasil papsmer. Sebagai antisipasi penyebab lain, dokter Teresia membuat coretan tentang berbagai tes laborat yang harus aku jalani. Kalau tidak salah hitung ada tujuh kategori tes. Antara lain Hormon Reproduksi, Torch, Petanda Tiroid, Faal Hemostatis, Diabetes, Protein Spesifik dan Infeksi lain. Dari masing-masing jenis tes tersebut masih terperinci lagi secara spesifik, terlihat dari centang-centang yang banyak.
Terakhir dokter Teresia mengajari aku cara menentukan masa subur. Saat yang paling tepat untuk menyemai benih, yaitu hari ke-10 sampai ke-16 setelah menstruasi berakhir. Tak lupa mengingatkan agar Mas Ros ikut periksa kondisi sperma. Untuk yang satu ini aku tidak bisa berjanji akan membawanya kemari.
Sementara aku cukup lega. Mama juga merasa puas dengan penjelasan dokter. Jadi jika sampai satu tahun belum juga punya keturunan mengingat usiaku yang 33 tahun menjelang 34 perlu pemeriksaan lebih lanjut. Seperti pemeriksaan HSG atau HCG. Pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui adakah sumbatan di saluran masuk sperma, untuk mengetahui ovariumku paten atau non paten, bisa menghasilkan sel telur atau tidak.
Satu hal lagi yang membuatku semakin bernafas lepas. Mama bilang ingin pulang setelah misi berikutnya selesai. Beliau mengatakan akan menyeret Mas Ros ke dokter agar mau melakukan pemeriksaan.
**
Ancaman Mama yang mengatakan akan tinggal bersama kami selamanya jika Mas Ros tidak mau periksa ternyata ampuh. Hari Kamis, Mas Ros punya jam kosong dan bersedia meluangkan waktu menemui dokter. Tapi dia menolak mendatangi dokter Teresia. Dia menunjuk dokter andrology untuk dia datangi.
Pada kesempatan kali ini dokter Bima yang seorang androlog gantian menyerang Mas Ros. Dia mengatakan bahwa pasangan yang sulit hamil bukan karena faktor wanita saja. Masing-masing memberikan andil sama 40% sementara yang 20% merupakan hal lain-lain. Agak berbeda dari pendapat dokter Teresia.
“Ada beberapa penyebab infertil pada laki-laki.” kata dokter Bima. “Antara lain, varicocele_pembesaran vena varicose dalam scrotum sehingga menghambat aliran darah sebagaimana mestinya. Disfungsi ereksi berupa ejakulasi dini dan impotensi.” dokter Bima mengambil nafas.
“Sperma juga tidak semuanya sehat lho, dia juga bisa mengalami gangguan. Seperti azoospermia_tidak ada sel sperma dalam semen atau air mani, lalu oliogospermia_sel sperma kurang dari 20 juta untuk satu kali ejakulasi, asthenogoospermia_gerakan sperma lambat, dan terakhir teratorspermia_bentuk sperma abnormal. Paham ya?” tandasnya pada Mas Ros.
Aku senang Mas Ros mendengar penjelasan lengkap dari dokter spesialis infertilitas laki-laki yang tidak pelit informasi ini. Setidaknya kelak jika ternyata aku sulit hamil kesalahan bukan mutlak dari pihakku. Pria pun bisa mandul. Aku juga berharap semua pria tahu sehingga tidak egois enggan periksa karena merasa sehat seutuhnya.
Meski demikian saat hendak menuju laboratorium untuk menguji sperma, Mas Ros malah kabur. Mau bagaimana lagi aku tidak bisa memaksanya.
Mama akhirnya berhasil membujuk Mas Ros untuk periksa ke laboratorium. Aku menolak ikut dengan alasan sudah sering ijin tidak masuk sekolah. Biar Mama yang menemani Mas Ros. Dia-kan anak mama.
Tiba-tiba di antara jeda jam mengajar Mama menelpon. Beliau mengatakan bahwa Mas Ros kesulitan mengeluarkan sperma. Hampir saja aku tertawa, jika kata lanjutan Mama tidak terlontar. Mama bilang aku harus datang untuk membantu Mas Ros.
"Apa?" spontan aku berteriak hingga ada seorang anak yang lewat depan ruang seni musik menoleh padaku. Aku segera mengutas senyum untuknya dengan mimik mengatakan semua baik-baik saja. Anak itu berlalu.
"Ada apa?" tanya suara di seberang.
"Anu Ma, saya sedang sibuk mengajar tidak bisa meninggalkan ruang." alasanku meski ruang seni musik masih kosong. Tidak seratus persen bohong, karena sebentar lagi sepasukan kelas X. IPS 1 akan menyerbu kemari.
"Jam berapa kamu istirahat?"
"Jam sepuluh kurang seperempat."
"Baiklah kalau begitu," Mama menutup telponnya. Aku jadi lega karena terbebas dari tugas berat itu.
Aku pikir aku bisa benar-benar bebas tugas. Ternyata pada jam istirahat Mama sudah menunggu di lobi dan sudah memintakan ijin untukku agar segera ke rumah sakit karena mendadak suamiku pingsan di sekolah. Wah, hebat juga Mama Mas Ros ini. Aku tidak bisa mengelak.
Mas Ros menatap kehadiranku dengan sebal. Aku pura-pura tidak peduli kesewotannya, sengaja mengambil tempat duduk di sebelahnya, tak lupa menggodanya.
"Jadi butuh bantuan nih?" semburku. "Apa dengan menonton BF sama sekali tidak mau keluar?"
"Seharusnya kamu tidak usah datang!"
"Mamamu sangat pintar, dia bilang suamiku tersayang pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Besok giliranku yang harus mengarang cerita tentang sakit Mas. Atau mau pilih sendiri sakit apa?" ujarku ringan.
Mas Ros tampak mendengus. Saat ini kami ditempatkan dalam ruang khusus agar Mas Ros bisa mengeluarkan sperma untuk diperiksa. Sebuah ruang tertutup dengan luas 3 x 4 meter berisikan satu buah sofa kecil yang berhadapan dengan rak penopang TV dan DVD player.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku memberanikan diri masih setengah geli.
"Kamu yang mempengaruhi Mama agar aku mau datang kemari, kan?"
"Kenapa tidak tanya sendiri pada Mama siapa yang menginginkan ini?" jawabku mulai kesal.
Mas Ros kemudian berdiri dan berjalan melewatiku menuju pintu. Aku segera mengikutinya dari belakang.
"Sudah bisa?" sambut Mama dengan wajah gembira. Mas Ros tidak mengatakan apa-apa dan terus berjalan menuju koridor keluar. "Rosid!" panggil Mama.
"Tidak bisa ya?" tanya Mama padaku dengan wajah cemas. "Apa Rosid impoten?" bisik Mama setelah menahan laju langkah beberapa meter dari Mas Ros. Aku hanya ternganga bingung mau menjawab apa.
**
Aku baru saja terlelap, saat tiba-tiba tubuhku merasa hangat. Ada sensasi nikmat yang menjalari sekujur tubuh. Bibirku terasa basah seperti ada menarik-narik. Demikian juga dengan dadaku kadang terasa nyeri seperti ada yang menggigit.
Pada puncak rasa sakit aku terbangun dan mendapati Mas Ros berada dekat tanpa jarak di atas tubuhku dengan kondisi baju atasan terbuka. Aku spontan mendorongnya kasar dan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangannya.
Tapi tangan Mas Ros berhasil mencengkeram kuat dua lenganku. "Lepaskan!" teriakku tertahan. Aku terus meronta.
"Bukankah ini yang kamu inginkan!" serunya sambil mengguncang tubuhku yang akhirnya melemas. "Aku akan membuktikan kalau aku tidak impoten seperti kata Mama, atau jangan-jangan kamu yang mengira aku ini tidak bisa menyerangmu?"
"Bukan Mas, jangan!" elakku.
"Jangan munafik, La!" Mas Ros semakin menggila menekanku.
Aku tidak mau diperlakukan seperti seorang pelacur. Aku yang telah menghimpun tenaga segera menendang dan menggigit Mas Ros dengan sekuat tenaga. Mas Ros yang kesakitan akhirnya melepaskan aku.
"Kurang ajar!" teriaknya. "Kenapa kamu jadi naif, hah? Kita selesaikan hasratmu malam ini juga. Kamu sungguh menginginkannya bukan? Aku akan beri anak yang kamu inginkan."
Aku terlalu marah sekaligus sedih hingga tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku membuka pintu dan berlari masuk ke ruang studio. Tergesa mengunci pintunya lalu jatuh terduduk bersandar pada pintu. Tanpa dapat dicegah air mataku meleleh deras.
Benar memang dulu aku menginginkannya menyentuhku, memperlakukan aku sebagaimana istri yang berhak mendapat nafkah batin. Benar, dulu aku juga pernah khilaf menciumnya hanya karena ingin mendapat sedikit keindahan dari cinta. Tapi yang kudapat malam ini, serupa pelecehan seksual. Aku jelas tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak tulus mencintai aku.
Bukankah dia sudah bilang tidak suka padaku. Bahkan sampai detik ini aku belum tahu alasan dia mau menikahi aku. Bukankah kami sudah berencana mengakhiri sandiwara ini ketika usia perkawinan kami tepat dua tahun.
Dan malam ini, kenapa dia tega memperlakukan aku dengan cara seperti itu. Dia pikir aku ini apa? Pemuas birahinya? Boneka mainannya? Aku tidak mengerti kenapa orang yang dulu aku puja bisa memberiku cinta ternyata hanya memberi luka dan luka. Aku kecewa karena orang yang demikian aku cinta tega berbuat jahat padaku.
**
Mas Ros sepertinya bosan dengan saran-saran Mama agar berobat ke alternatif untuk mengobati lemah syahwat. Apalagi setelah tahu hasil papsmer dan tes laboratoriumku bagus semua. Di luar dugaan Mas Ros suatu hari pulang dengan membawa hasil laboratorium cek sperma.
Mama membaca berulang-ulang kertas yang dibawa Mas Ros seakan tidak percaya. Tapi Mama akhirnya tersenyum puas melihat hasil tes tersebut.
"Bagaimana kamu bisa?" tanya Mama.
"Justru aku semakin tidak bisa kalau ada dia, Ma." katanya sambil melirik ke arahku.
"Syukurlah, berarti kalian masih ada kesempatan untuk memiliki momongan. Banyak berdoa dan berusaha ya. Mama juga akan ikut mendoakan." kata Mama tak melepas senyum lebarnya.
"Jadi kapan Mama mau pulang?" tanya Mas Ros tanpa basa-basi pula seperti mamanya.
"Kamu mengusir Mama?"
"Kalau Mama di sini, kami tidak bisa konsen untuk itu Ma," dalih Mas Ros.
"Rosid, Rosid," Mama menepuk lengan putra kesayangannya. "Besok Mama pulang. Dan tidak akan mengganggu kalian lagi."
Mata Mas Ros tampak berbinar. Aku tidak yakin dengan mataku berbinar atau menguar air mata. Walau Mama selalu merecoki kami, tapi aku senang Mama ada di sini. Setidaknya selama ada Mama, rumah ini menjadi lebih hidup. Aku tak bisa membayangkan jika Mama sudah pulang nanti. Pasti rumah kami akan seperti penginapan lagi. 

Komentar Buku (19)

  • avatar
    Nurlita Oktaria rahma

    AWWWW BAGUS BANGETTT

    09/04/2025

      0
  • avatar
    Alay090

    Oke

    07/01/2025

      0
  • avatar
    Wandi

    Ceritanya sangat menyenangkan

    19/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru