logo text

46. Kedatangan Polisi Di Sekolah

Ara menyentuh pundak Jihan yang kini menatap kosong lapangan sekolah yang terlihat sangat luas. Dia sebenarnya menyesal telah marah-marah dan membentak Lily barusan.
Namun seorang sahabat akan sangat kecewa apabila salah satu di antara sahabatnya menyembunyikan sesuatu.
"Lily gak salah, Han."
Gadis itu berbalik dan menatap Ara. "Dia sudah membohongi kita selama ini."
Lily terlihat tidak menyukai pak Adit dan berlaku seolah-olah mereka tidak dekat sama sekali. Tapi, mereka ternyata bahkan sudah menikah dan satu rumah.
"Lo juga harus ngertiin posisi Lily. Pasti dia akan merahasiakannya dulu dari kita. Dia belum siap, Han."
"Tapi, hanya Maya yang dia kasih tahu. Kita gak dianggap apa-apa, Ra."
Ara menghela napas pelan mendengar penuturan Jihan. "Maya sudah jelaskan tadi, Lily akan menceritakannya perlahan."
Jihan mengalihkan pandangannya. Dia menangkap objek yang tidak familiar mendekati mereka.
"Gue minta maaf, hiks!" Maya bersama dengan Septian menghampiri mereka. Gadis bernama Maya itu berlinang air mata menatap mereka.
Jihan dan Ara saling memandang, menatap Maya iba dengan wajah yang sembab seperti itu.
"Dia tidak berhenti menangis ingin meminta maaf kepada kalian," ujar Septian.
Karena Maya tidak ada hentinya menangis ingin bertemu dengan sahabatnya, membuat dia mengantarkan gadis itu ke Jihan dan Ara.
Kedua sahabatnya itu mengangguk, membuat Maya memeluk mereka dengan sangat erat.
"Kita maafin lo, May. Tenang saja, tadi hanya refleks marah aja, karena kita terkejut."
"Gue mengerti. Sekarang, kalian di panggil sama pak Adit, katanya Lily pingsan."
"Kita langsung ke sana!" Jihan dan Ara menarik Maya berlari meninggalkan Septian menuju ruangan pak Adit karena khawatir.
Septian menghela napas pelan melihat persahabatan mereka. "Gue gak bisa memisahkan Maya dengan mereka, atau Maya akan menangis sehari semalam, rindu dengan sahabatnya."
***
"Mereka sudah datang!"
Lily mengangguk dan langsung memejamkan matanya di sofa ruangan Adit. Ingin sekali Adit menyentil hidung mungil Lily karena terlihat menggemaskan.
Namun dia harus menahannya. Agar rencana istrinya berjalan lancar, walaupun dia sedari tadi tertawa karena merasa aneh dengan kisah persahabatan mereka.
"Pak! Oh, assalamualaikum, Pak Adit. Lily, mana?" tanya mereka langsung masuk bergerombolan.
Mereka menatap Lily yang sekarang masih memejamkan matanya karena pingsan.
"Lily kenapa bisa pingsan seperti ini?" tanya Jihan dan Ara.
"Tubuhnya tiba-tiba lemas dan pingsan, tapi dari tadi dia meracau nama kalian."
Mereka mengangguk dan mengusap wajah sahabatnya itu dengan lembut dan simpati.
"Jangan-jangan ... Lily hamil!" Maya menyuarakan pendapatnya membuat mereka langsung melongo.
"Nggak!" teriak Lily tiba-tiba bangun, membuat mereka semuanya tersentak. Enak saja dia dikatakan hamil.
"Lo sudah sadar?" tanya mereka.
Bukannya menjawab, Lily merengkuh tubuh sahabatnya dengan sayang.
"Maafin gue! Gue sudah menyembunyikan semuanya dari kalian."
"Kita terpaksa merahasiakannya. Untuk menjaga privasi Lily menjadi siswi di sekolah ini," ujar Adit menjelaskan.
"Iya, Pak. Kami mengerti."
"Kalian sudah maafin gua?" tanya Lily memelas.
Jihan dan Ara saling memandang dan mengangguk. Mereka akhirnya tersenyum, namun tiba-tiba Maya melepaskan pelukan nya.
"Gue belum. Lo masih ada hutang sama gue."
"Hutang apa?" tanya Ara.
"Huaa ... Lily kasih gue ke Septian. Ketos yang nyebelin itu."
"Beneran itu, Liy?" tanya Jihan.
"Sebenarnya gue mau minta maaf ke Maya. Tapi, jujur! Gue gak menyesal karena Septian sayang banget sama lo."
"Maksudnya bagaimana, sih?"
"Video yang Septian sebarkan itu harus memenuhi persyaratan, yakni Septian mau Maya menjadi miliknya."
"Tuh, cowok semalam ke rumah gue bawa kedua orang tuanya. Mana, orang tua gue kenal lagi sama mereka. Matilah! Gue!"
"Kamu beruntung kalau menikah Dengan Septian. Dia murid yang cerdas dan hebat."
"Gak mau. Saya tidak ingin dikekang Pak Adit. Mau bebas."
"Iya, biar sakit-sakitan dan nangis sampai rumah."
"Bisa gak, sih? Lo jauh-jauh dari gue."
Akhirnya mereka tertawa melihat kedua insan yang sedang dalam pendekatan itu. Wajah Maya cemberut namun kembali ikut tertawa bersama mereka. Adit dan Septian pun menyungging senyum tipis melihat gadis mereka bahagia.
Ceklek!
"Maaf, Pak. Di luar ada polisi yang ingin masuk ke dalam sekolah."
Salah satu siswa membuka ruangan pak Adit dan melaporkannya. Mereka sontak terkejut dan langsung keluar dari ruangan itu menuju ke gerbang.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Maya kepada sahabatnya itu.
"Kita lihat langsung."
Mereka mengangguk dan bertemu dengan beberapa polisi.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Adit kepada para polisi itu dengan sopan namun terdengar sangat berwibawa.
"Ada yang telah melaporkan salah satu siswa di sekolah ini terlibat obat-obatan terlarang."
Semua siswa yang mendengarnya shock dengan pandangan yang penasaran. Siapa yang terlibat kasus tersebut.
"Untuk semua siswa silahkan kalian masuk ke kelas masing-masing!" tegas Adit tanpa ada bantahan.
Lily dan ketiga sahabatnya mengangguk. Mereka berpamitan dan langsung masuk ke dalam kelas.
"Silahkan ikut ke ruangan saya!"
Polisi itu langsung mengikuti langkah Adit ke ruangan pria itu. Begitupun dengan Septian yang ikut dalam penyelesaian kasus ini karena dia adalah ketua osis.
"Sebenarnya siapa yang melaporkan semua ini?" tanya Adit ketika mereka telah duduk dengan rapi di sana.
"Salah satu siswa di sekolah ini. Dia menjabat sebagai ketua osis, namanya Septian Hansen."
Adit sontak menatap tak percaya kepada Septian yang terlihat tenang mendengar semuanya. Memang dia yang sengaja melaporkannya.
"Jelaskan kepada saya, Septian! Dan siapa siswa yang kamu maksud."

Komentar Buku (668)

  • avatar
    halimahNur

    Cerita nya bagusss banget ayok kak buruan lanjuti nggak sabar udah penasaran sama cerita nya❤😁😁

    06/02/2022

      15
  • avatar
    magakurniaty

    Bagus

    23d

      0
  • avatar
    LatipHikam

    ok banget

    24/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru