Beranda/Karma Dibayar Kontan/
Bab 26 Kenapa Bayi Ny. Sari?
Karma Dibayar Kontan
Part 26
***
Sesaat aku menghentikan langkah, lalu berusaha mencoba untuk melihat sekali lagi ke arah lubang angin yang ada di atas pintu kamar tidur Meli. Aku ingin memastikan, apa benar lampu yang ada di dalam kamar itu memang sudah menyala atau hanya aku saja yang salah lihat.
Ya … dari lubang angin yang ada di atas pintu kamar bisa terlihat, kalau ternyata di dalam kamar tidur Meli memang tampak terang oleh cahaya lampu. Itu artinya, lampu di dalam kamar tidurnya memang sudah menyala.
Beberapa saat aku hanya berdiri mematung sambil terus memandangi lubang angin yang ada di atas pintu kamar tidur Meli itu. Aku lalu mengucek-ucek kedua mata, karena belum merasa yakin sepenuhnya dengan apa yang aku lihat.
Masa iya sih lampu di dalam kamar tidur Meli sudah menyala, padahal aku kan belum membuka sama sekali pintu kamar ini. Jadi siapa dong yang sudah menyalakan lampunya. Aku bergumam dalam hati.
Dengan dada berdebar tak karuan, dan sambil membaca doa bismillah, perlahan aku lalu membuka pintu kamar tidur Meli. Dan betapa terkejutnya diri ini, saat pintu kamar itu terbuka. Karena ternyata keadaan di dalam kamar tidur Meli masih gelap gulita, sebab lampu di kamar tersebut tidak menyala.
Aku menggaruk kepala yang tak terasa gatal. Merasa aneh campur heran dan bingung tentu saja. Padahal tadi dengan jelas sekali aku melihat dari lubang angin yang ada di atas pintu, kalau kamar tidur Meli terlihat terang. Tapi kenapa sekarang menjadi gelap lagi? Dan aku sangat yakin kalau tadi aku tak salah lihat.
Tanpa mau memikirkan lebih jauh, aku kemudian segera menekan stop kontak yang ada di samping pintu kamar tidur Meli dan seketika lampu menyala, keadaan di sekeliling kamar menjadi terang benderang. Setelah itu, aku lalu bergegas menutup kembali pintunya dan melangkah masuk ke dalam kamar tidurku. Aku tak ingin berlama-lama berada di dalam kamar Meli, karena khawatir akan melihat makhluk menyeramkan itu lagi.
***
"Tiara, alamat rumah kamu itu ada di mana?" tanyaku, saat sedang duduk dengan Tiara di teras depan. Dia dapat jadwal dinas malam, malam ini.
Tiara menyebutkan sebuah alamat, yang tentu saja aku tak mengetahuinya. Karena memang aku baru beberapa bulan bertempat tinggal di kampung ini dan belum mengetahui nama semua daerah yang ada di wilayah desa tempat aku tinggal sekarang.
"Jauh nggak rumah kamu sama tempat tinggal Eka?" tanyaku lagi.
Tiara diam sesaat. Dia tak segera menjawab pertanyaanku. Hal itu malah membuatku curiga. Aku mengernyitkan alis, sambil menduga-duga. Kenapa Tiara tak langsung menjawab pertanyaanku. Apakah ada hal yang dia sembunyikan dariku? Atau dia tak ingin aku mengetahui sesuatu? Aku membatin dalam hati.
"Memangnya kenapa, Bu?" Tiara malah balik bertanya, setelah beberapa saat dia tadi hanya bergeming. Dia menatapku penuh selidik.
Aneh. Rasa curiga yang tadi hanya sekadar sebuah praduga tak berdasar, sekarang berganti dengan sebuah keyakinan. Ya … aku merasa yakin, kalau ada sesuatu hal yang sedang disembunyikan oleh Tiara. Karena dia tak ingin aku mengetahui hal itu. Ada sesuatu yang menjadi rahasia Tiara tentang Eka. Tapi entah apa itu, aku belum tahu.
"Ya nggak apa sih, saya cuma ingin tahu aja. Siapa tahu suatu hari nanti saya bisa main ke rumah kamu, kan bisa sekalian mampir ke rumah Eka, kalau memang tempat tinggal kalian dekatan jaraknya," jawabku sekenanya. Untung saja jawaban itu tiba-tiba melintas di dalam kepala, jadi Tiara tak merasa begitu curiga atas pertanyaanku tadi.
Tiara manggut-manggut.
"Oh … agak jauh sih, Bu. Kalau Mbak Eka kan tinggalnya di perumahan deket sini. Kalau saya kos di sebelah pasar."
"Loh … kamu di sini kos? Memangnya rumah orang tua kamu di mana?" tanyaku heran, sebab aku tak menyangka sama sekali sebelumnya, kalau rumah Tiara ternyata jauh dari desa ini.
Tiara lalu menyebutkan nama sebuah kampung. Dan ternyata rumah orang tuanya berdekatan dengan rumah kontrakanku dulu.
"Kamu kok jauh amat kos-nya? Memangnya kamu udah nikah?" tanyaku penasaran. Untuk apa Tiara tinggal di tempat kos yang jaraknya lumayan jauh dengan rumah orang tuanya. Kecuali kalau dia sudah berkeluarga, memang sudah seharusnya ikut suami ke mana pun perginya.
"Saya belum nikah kok, Bu. Dulu waktu kuliah saya kan nggak tinggal di asrama, jadi nyari tempat kos di daerah sini yang jaraknya agak deket sama kampus. Kalau dari rumah kan kejauhan."
Aku manggut-manggut.
"Ohh … gitu. Terus kamu kenal sama Eka di mana? Apa kalian udah saling kenal sebelumnya?" tanyaku menyelidik.
Lagi-lagi Tiara tak segera menjawab pertanyaanku. Dia hanya diam sambil memandangku. Seolah sedang menduga apa maksud dari pertanyaanku. Mungkin dia takut salah menjawab.
"Kok diam, Tiara? Apa kamu sudah kenal Eka sebelum kerja di sini?" Aku mengulangi pertanyaan sambil menatap tajam wajah Tiara.
Tiara menarik napas dalam. Dia tampak agak gugup dan salah tingkah. Barangkali dia tak akan menyangka kalau aku akan menanyakan hal tersebut.
"Saya sama Mbak Eka itu kenal banget sih nggak, Bu. Cuma kenal sepintas aja. Soalnya Mbak Eka dulu kakak tingkat saya waktu kuliah di Poltekkes. Tapi kami nggak pernah teguran. Baru kemarin ini aja Mbak Eka ngajakin saya untuk kerja di sini," jawab Tiara. Nada suaranya terdengar agak ragu.
Aku hanya manggut-manggut mendengar cerita Tiara. Tak berminat untuk bertanya lebih lanjut. Antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja dia katakan. Masa iya sih kuliah di kampus yang sama bisa tak saling kenal dan bertegur sapa? Meskipun mereka adalah adik dan kakak tingkat. Apa iya selama 3 tahun kuliah mereka berdua tak pernah berpraktik bersama di sarana kesehatan yang sama? Satu hal yang aku rasa sangat aneh dan tak mungkin terjadi. Sebab di kabupaten yang aku tempati sekarang, hanya ada satu buah RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah), 3 buah RS Swasta, 2 buah RSIA (Rumah Sakit Ibu dan Anak), satu buah Puskesmas Induk dan 7 buah Pustu (Puskesmas Pembantu), serta 8 buah BPS (Bidan Praktek Swasta). Masa dalam waktu 3 tahun Eka dan Tiara tak pernah dinas bersama di sarana kesehatan itu? Kecuali kalau mereka kuliah di Poltekkes yang ada di provinsi. Di sana jumlah sarana kesehatan yang ada jauh lebih banyak dibandingkan yang ada di kabupaten.
"Udah jam 9. Saya mau nemenin Satria tidur dulu. Kamu masuk aja ke kamar pasien kalau di sini kerasa dingin," titahku, sambil beranjak dari tempat duduk.
Aku lalu menggendong Satria yang sepertinya sudah sangat mengantuk. Bocah kecil itu terlihat beberapa kali menguap sembari mengusap kedua matanya. Aku kemudian masuk ke ruang dalam dan mengunci pintunya. Sementara Tiara pun aku lihat dia masuk ke kamar perawatan.
***
"Bu … Bu Ayu … Bu …."
Tok … tok … tok ….
"Bu Ayu … Bu … ada pasien inpartu, Bu …."
Tok … tok … tok ….
Aku mendengar suara Tiara memanggil namaku sembari mengetuk pintu depan. Saat baru beberapa menit yang lalu Satria tertidur pulas.
Bergegas aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke depan. Tampak seorang laki-laki sedang duduk di bangku teras, begitu aku sampai di depan. Ada sebuah mobil yang sedang terparkir di halaman.
Tiara segera menghampiriku. Dia mengatakan bahwa ada pasien inpartu (akan melahirkan) dan sudah dia bawa ke ruang bersalin.
Aku segera melakukan pemeriksaan terhadap ibu hamil tersebut. Sementara Tiara melakukan anamnesa. Nama ibu hamil itu Ny. Sari umur 23 tahun, hamil anak pertama, umur kehamilan 38 minggu.
Ketika aku melakukan periksa dalam, ternyata pembukaan sudah hampir lengkap dan ketuban tipis. Aku lalu menyuruh Tiara untuk menyiapkan segala keperluan untuk menolong persalinan pasien itu.
Sekitar satu jam kemudian, Ny. Sari telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat. Berat lahir bayi itu 3,7 kg dan panjang 50 cm. Dua jam kemudian, Ny. Sari kami pindahkan ke kamar perawatan. Karena tak ada keluhan apa-apa dan semua hasil pemeriksaan normal. Tekanan darah, nadi, pernapasan, volume darah nifas, semuanya normal. Setelah selesai memindahkan pasien, aku lalu kembali masuk ke dalam kamar dan tak mengunci pintu depan.
Jika ada pasien yang sedang rawat inap di rumahku, aku memang tak pernah mengunci pintu depan, sebab suasana rumah pasti ramai oleh pengunjung pasien. Jadi aku pikir akan aman saja karena ada orang yang menjaga di luar. Selain itu juga agar yang piket malam mudah untuk mengetuk pintu kamar tidurku jika dia memerlukan bantuan yang berhubungan dengan pasien atau bayinya yang sedang dirawat.
Belum sampai setengah jam aku berbaring di atas kasur, terdengar suara tangisan bayi yang baru lahir itu. Suaranya melengking tinggi, seperti yang sedang merasa kesakitan. Buru-buru aku keluar kamar dan melihat apa yang terjadi.
"Bayinya kenapa, Tiara? Kok nangisnya kenceng banget?" tanyaku.
"Saya juga nggak tahu, Bu," jawab Tiara sambil menggendong bayi mungil itu.
"Tiba-tiba aja dia nangis, Bu Bidan," kata Pak Yakub, suami Ny. Sari.
Aku lalu mengambil bayi Ny. Sari dari gendongan Tiara. Kemudian menidurkannya di kasur dan membuka semua kain dan baju yang membungkus badannya. Barangkali saja ada seekor semut atau binatang kecil lainnya yang menempel di badan bayi itu. Tapi, tak kutemukan apa pun di tubuh mungil bayi itu.
Hampir sepanjang malam bayi yang baru lahir itu menangis, membuat aku merasa bingung. Ny, Sari dan suaminya tampak panik. Bermacam cara sudah aku lakukan agar dia diam, tapi tak ada yang berhasil.
Entah kenapa, tiba-tiba aku merinding. Bulu kuduk di tengkuk dan kedua tanganku meremang. Saat aku tak sengaja melihat ke arah pintu kamar tidur Meli saat sedang menggendong bayi itu, yang masih saja terus menangis.
***
BersambungUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (722)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus
19d
0ceritanya bagus
10/07
0apk ini bagus bgt
04/07
0Lihat Semua