BAB 31

Tiga bulan kemudian ...
Uwek ... Uwek .... Uwek.
Entah, sudah berapa banyak Kaila memuntahkan isi perutnya. Yang Kaila rasakan sekarang pusing dan lemas mungkin karena masuk angin, Kaila cukup lama duduk di kamar mandi sampai memiliki tenaga untuk kembali ke tempat tidur sedang Reiki sudah pergi dari tadi subuh menghadiri miting dengan pihak Singapura. Selama tiga bulan di Belanda, Restoran Reiki semakin berkembang. Restoran yang awalnya cuma di Jakarta dan Belanda sekarang sudah ada diberbagai Negara tentu semua itu sebab kerja keras Reiki dan doa dari sang istri.
Di rumah besar sendirian itulah yang setiap hari Kaila rasakan. Kaila yang meminta Reiki untuk tidak memperkerjakan pembantu atau semacamnya karena Kaila mau tangannya sendiri yang memasak, bersih-bersih, dan menyiapkan semua keperluan Reiki. Masalah Bi Sumi masih bekerja sama Reiki tapi di Jakarta untuk mengurus semua keperluan rumah yang di Jakarta. Reiki tidak mungki memecat Bi Sumi karena Bi Sumi adalah bagian keluarga untuk Reiki.
Kaila jadi ingin makan mangga muda. Kaila mengambil headphone di atas meja untuk menghubungi Reiki.
"Hallo sayang." Tanpa menunggu lama panggilan telpon dijawab.
"Mas, Adek mau mangga muda." Tanpa basa-basi Kaila mengatakan keinginan.
"Iya, nanti Mas belikan di Supermarket." Sesibuk apapun Reiki mengangkat panggilan telpon dari Kaila adalah utama.
"Tidak mau Mas, Adek maunya Mas petik langsung dari pohon!" Tegas Kaila tidak mau dibantah.
"Sayang, di sini memangnya ada pohon mangga?" Tanya Reiki meragukan, apa ada pohon mangga di Belanda?
"Tidak mau tahu pokoknya Mas harus dapat!" Tanpa menunggu jawaban dari Reiki, Kaila mematikan panggilan telpon sebelah pihak.
Mangga muda di Belanda memangnya ada? Author juga tidak tahu, ingat semua ini cuma imajinasi Author.
____
Miting dengan pihak Singapura sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Mereka masih duduk santai sambil bercerita pengalaman satu sama yang lain.
"Kenapa wajah anda terlihat murung?" Tanya Liam rekan kerja Reiki dari Singapura. Mereka sama-sama dari Indonesia jadi tidak perlu menggunakan bahasa Belanda.
"Istri saya mau makan mangga muda tapi saya tidak tahu dimana mencarinya?" Reiki bercerita siapa tahu menemukan petunjuk.
"Beli saja di Supermarket." Saran Liam.
"Saya juga maunya beli di Supermarket tapi istri maunya langsung dipetik dari pohon." Curhat Reiki.
"Saya tidak pernah melihat pohon mangga di sini tapi coba tanya sama karyawan anda siapa tahu mereka mengetahuinya." Saran Liam yang dapat anggukan kepala dari Reiki.
"Saya pikir anda sibuk, alangkah baiknya pembicaraan kita sampai di sini saja nanti bisa atur waktu selanjutnya." Liam peka jadi mengambil keputusan, lagian miting mereka sudah selesai.
"Terima kasih anda sudah mengerti keadaan saya, kalo begitu saya permisi dahulu." Izin Reiki.
"Baiklah, semangat cari mangga mudanya."
Reiki keluar dari ruangnya menuju dapur tempat para karyawan berkumpul. Karyawan Reiki kebanyakan orang Indonesia agar memudahkan mereka untuk menyajikan masakan Indonesia kalo yang masak orang Belanda pasti aneh karena nama Restorannya "Masakan has Indonesia."
"Apakah kalian tahu dimana ada pohon mangga?" Tanya Reiki tiba-tiba.
"Astaga, Pak Reiki mengejutkan saja." Yap, Reiki menerapkan peraturan antara atasan dan bawahan menjadi teman agar suasana Restoran selalu damai tanpa perkelahian.
"Untuk apa Pak?" Tidak biasanya Reiki menanyakan hal yang tidak bersangkutan sama Restoran.
"Istri saya mau mangga muda tapi maunya langsung dipetik dari pohonnya."
"Tetangga saya punya pohon mangga Pak tadi dia juga punya anjing galak yang dilepas begitu saja jadi orang-orang takut untuk memetik mangganya," kata Nisa mengingat tetangganya dari Indonesia juga menanam pohon mangga di depan rumahnya.
"Saya tidak masalah intinya saya mendapat mangganya." Demi Kaila, Reiki rela melakukan apa saja.
"Semoga berhasil Pak." Mereka memberikan semangat untuk Reiki.
"Baik, kalo begitu saya permisi dahulu."
Sebagai atasan Reiki tahu alamat tempat tinggal para karyawan agar memudahkan jika terjadi apa-apa di lokasi kerja. Dengan kecepatan sedangan akhirnya Reiki tiba di rumah yang Nisa maksud.
Benar, pemilik rumah itu memiliki anjing besar berwarna hitam, nyali Reiki tidak hilang begitu saja dengan keberanian Reiki melangkah ke rumah tersebut.
Guk ... Guk ... Guk ( suara anjing ketika menyadari kehadiran Reiki).
Takut, tapi Reiki berusaha tenang dan tidak lari karena kata orang kalo kita lari maka anjing itu akan mengejar kita.
"Permisi," panggil Reiki ketika tiba di depan rumah pemilik mangga tersebut dengan anjing yang terus menggonggong.
"Iya," jawaban seseorang dari dalam.
Aaaaa ... Teriak Reiki ketika kakinya digigit anjing.
"Tom, hentikan." Keget pria baru payah itu ketika tahu anjingnya berani menggigit orang.
Seketika gigitan itu terlepas.
"Tom, pergi!" Tegas pria paruh bayah itu yang diikuti dengan anjing tersebut. Tenyata benar kata orang anjing adalah hewan yang penurut.
"Maafkan anjing saya Pak."
"Tidak apa-apa Pak lagian bukan anjing Bapak yang salah tapi saya yang salah sebab berkunjung ke sini."
"Baiklah, apa kaki Bapak mau saya obatin?"
"Tidak usah Pak karena istri saya sudah menunggu di rumah. Tujuan saya kesini mau membeli mangga." Tunjuk Reiki ke pohon mangga.
"Tapi mangganya masih muda Pak."
"Saya memang cari mangga muda Pak untuk istri saya." Reiki memberi tahu alasannya.
"Oh begitu, ambillah Pak."
Setelah dapat izin Reiki memanjat pohon mangga tersebut tidak lupa Reiki memberikan uang 500.000 untuk Bapak tersebut. Reiki mengambil mangga seperlunya lalu turun dari pohon.
"Makasih yah Pak."
"Sama-sama Pak. Semoga anaknya sehat selalu."
Anak? Apa maksut Bapak itu? Bukannya tadi Reiki bilang istrinya yang ingin mangga, kenapa Bapak itu bilang anak? Ah, mungkin Bapak itu salah dengar.
"Iya Pak."
_____
Sedangkan disisi lain Kaila duduk di teras rumah sambil menunggu Reiki pulang.
"Mas, kemana?"
"Kenapa Mas tidak pulang-pulang?"
"Mas, Adek pengen mangganya." Dialog Kaila sendirian.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Mobil Ayla warna putih memasuki halaman rumah, keluarlah seoarang pria menggunakan setelan jas warna hitam yang tidak serapi tadi pagi, siapa lagi kalo bukan Reiki.
"Yeee ... Mas datang, mana mangga yang Adek minta?" Bukannya menanyakan keadaan Reiki kenapa kacau? Malah mangga yang Kaila tanya.
"Ini sayang," kata Reiki menyerahkan plastik berisi mangga.
Dengan senang hati Kaila mengambil plastik tersebut lalu duduk di tempat semula. Kaila tidak memakannya tapi cuma dicium-ciumnya saja. Perasaan Kaila bahagia keinginan terpenuhi walaupun lama.
"Mas, Adek mau lihat Mas yang makan mangga ini," kata Kaila sambil memberikan mangga.
"Apa?" Kaget Reiki.
"Ayolah Mas." Mohon Kaila, mau tidak mau Reiki menurutinya.
Entah, sejak kapan sudah ada piring dan pisau di atas meje. Dengan semangat Kaila mengupas dan memotong mangga tersebut.
"Mas, buka mulutnya," pinta Kaila dengan terpaksa Reiki membuka mulutnya.
"Asem ... "

Komentar Buku (106)

  • avatar
    Mentari Haylan

    ceritanya bagus.. 🥰

    23/04/2022

      1
  • avatar
    LimHyeRie

    suka banget sama ceritanya😍

    15/04/2022

      3
  • avatar
    Aji Clik

    kerenn

    22/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru