BAB 3

Reiki Savian Altezza adalah seorang pria yang berhasil membangun usaha Restoran di usia 22 tahun walaupun tidak berkembang besar tapi Reiki berterima kasih dengan Maha Pencipta. Berkat Restoran yang Reiki jalankan Reiki tidak perlu bersusah-susah berkeja dengan orang lain, memang awalnya Reiki menjadi karyawan sekarang Reiki menjadi pemimpin. Kalian harus yakin usah dan niat kalian untuk lebih maju tidak akan mengkhianati hasil, Reiki sudah membuktikannya.
Reiki hidup seorang diri orang tuanya sudah meninggal dunia ketika Reiki berusia 20 tahun. Mereka meninggal dalam keadaan mengenaskan, ketika itu orang tua Reiki menjalan tugas keluar negeri, musibah tidak disangka pesawat yang mereka tumpangi jatuh ke dalam sungai sebab faktor cuaca yang tidak baik. Semua korban dinyatakan meninggal dunia, butiran-butiran pesawat mulai dikumpulkan dengan petugas tapi tubuh-tubuh penumpang sudah tidak berbentuk, semua hancur dan tidak ada yang mengenali mereka.
Reiki tidak terima tapi Reiki harus ikhlas supaya mereka tenang di alam sana. Terpuruk dalam keadaan Reiki sudah merasakannya, hidup sendirian, melakukan apapun sendirian, dan harus bangkit sendirian. Reiki tidak pernah membayangkan ada diposisi sekarang tapi Maha Pencipta punya cara sendiri untuk jalan hidup kita kedepannya.
"Astaga ada Pak Reiki," kata Kaila dengan suara kecil sambil mencubit Jovanda bertanda Kaila sedang gugup.
Bayangkan saja posisi Kaila seperti maling tertanggap polisi.
"Saya tanya sekali lagi, kenapa sebut-sebut nama saya?"
Kaila semakin bingung tidak tahu harus menjawab apa. Kaila memang menyukai Reiki tapi Kaila tidak mau terlihat murahan walaupun sering bertingkah aneh untuk mendapatkan perhatian Reiki.
"Itu ... Pak ... itu," jawab Kaila terbata-bata.
"Jawab yang benar!" Sebenarnya Reiki tidak masalah namanya disebut-sebut tapi Reiki ingin mengerjai Kaila yang selalu bertingkah aneh dan selalu terpergok menyebut namanya? Apa wanita di depan matanya ini sedang jatuh cinta dengan dirinya? Kalo benar, Reiki akan mengerjainya.
"Itu Pak, saya iri sama kemampuan Bapak yang bisa membangun Restoran sendirian tanpa dampingan orang tua. Bapak sangat hebat." Itulah asalan yang cocok untuk membuat Reiki percaya.
Semua karyawan memang tahu tentang kehidupan Reiki termaksud tentang kedua orang tuanya.
"Okelah saya percaya. Saya punya kerjaan tambahan untukmu." Tujuan Reiki mencari Kaila adalah membahas tentang kerjaan tapi dari kejauhan Raiki mendengar Kaila menyebut-nyebut namanya.
"Kerjaan apa Pak?" Kaila merasa heran tidak seperti biasnya Reiki memberikan pekerjaan tambahan untuk karyawan apalagi cuma Kaila sendirian.
"Ikut sama saya untuk membeli semua kebutuhan Restoran yang habis. Kalo kamu tidak mau bisa Jovanda yang menggantikannya." Entah kenapa hati Raiki memilih Kaila padahal banyak karyawan yang lainnya.
"Tapi Pak, bagaimana pekerjaan saya?" Tanya Kaila karena tidak enak meninggalkan pekerjaan.
"Itu urusan gampang. Bagaimana kamu mau menolong saya?" Tanya Reiki meminta kepastian.
Kaila melihat ke arah Jovanda sekilas, Jovanda tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai kode 'terima saja kapan lagi diajak sama pak bos.'
"Oke saya mau." Kata simpel tapi membuat hati Kaila semakin deg-degan. Membantu Raiki itu tandanya Kaila di dekat Reiki, astaga mimpi apa Kaila semalam.
"Saya tunggu 5 menit dari sekarang," kata terakhir Raiki lalu melangkah pergi.
"Jovanda, aku tidak mimpikan jalan sama Pak Raiki." Girang Kaila sambil melompat-lompat.
Cuma sama Raiki Kaila merasakan kebahagiaan ini setelah dicap sebagai pembunuh.
"Tidak Kaila, kamu benaran akan jalan sama Pak Raiki. Selamat bersenang-senang, ingat jangan menyia-nyiakan kesempatan emas."
_____
Setalah berpamitan Kaila memasuki mobil Raiki tanpa berkata-kata mobil tersebut jalan dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang memulai percakapan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku harus mulai dari mana? Banyak hal yang perlu aku tanyakan tapi seketika aku menjadi lupa karena ketampan pak Reiki. Apa aku minta nomor WhatsAppnya? Apa aku tanya kita mau kemana? Apa aku tanya sudah punya pacar belum? Apa aku bilang suka sama dia? Memikirkannya membuat kepalaku pusing," gumam Kaila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Berbeda dengan Reiki yang tetap fokus menyetir tanpa memikirkan apa-apa. Hidup itu jangan dibawa pusing, ikutin saja alurnya kemana.
Akhirnya mereka tiba di pasar tradisional yang selalu dipenuhi dengan pembeli.
"Kenapa kita ke pasar?" Tanya Kaila.
"Apa kamu lupa kita akan membeli semua kebutuhan Restoran yang sudah habis? Inilah tempatnya." Dengan entengnya Reiki mengatakan hal tersebut lalu keluar dari mobil tanpa menunggu Kaila.
Pasar adalah pilihan yang tepat untuk membeli semua kebutuhan Restoran bukan karena murahnya tapi karena segarnya. Pasar selalu menyediakan stok sayur-sayuran dan buah-buahan yang segar bahkan baru dipanen untuk memuaskan hati pembeli dan pasar juga menyediakan berbagai pilihan. Supermarket juga bagus, tapi Reiki tidak puas berbelanja di sana.
"Kenapa tidak di supermarket?"
"Menurut saya supermarket bukan tempat yang cocok untuk membeli semua kebutuhan Restoran karena saya pernah mendapat sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak segar makanya saya memilih pasar yang terjamin kesegaran sayur dan buahnya."
"Saya pikir karena harganya murah.Kenapa Bapak tidak protes?" Seandainya Kaila yang ada di posisi Reiki pasti Kaila tidak terima.
"Harga untuk saya adalah nomor ke seratus tapi untuk kesegaran dan kualitas adalah nomor satu. Protespun tidak ada gunanya." Reiki tidak ambil pusing karena kalo sudah tahu kualitasnya tidak bagus buat apa kembali. Hidup dibawa santai saja.
"Saya tahu tidak ada gunanya tapi setidaknya agar tidak ada korban berikutnya." Kesihan sama orang-orang yang beli mahal-mahal tapi kualitasnya tidak bagus lebih baik tidak usah. Pasti korbannya banyak bapak-bapak yang tidak paham tentang kualitas sayur.
"Walaupun kita protes belum tentu kedepannya lebih baik karena itulah teknik penjualan."
"Iya sih, tapi kalo tidak ada perubahan pasti pembeli akan kabur." Kabur dan mencari tempat yang lebih bagus pasti terjadi karena orang tidak mau dikecewakan untuk kedua kalinya.
"Tidak usah dipikirin, itu urusan mereka." Berani menjalankan usaha harus berani gagal, apalagi memiliki banyak pesaing.
"Tapi kesihan ... " Belum selesai Kaila berkata Reiki lebih dahulu memotongnya.
"Sudah tidak usah banyak bicara lagi lebih baik kita cari sekarang," ajak Reiki yang diikuti sama Kaila dibelakang.
Debat masalah supermarket tidak akan ada habisnya yang ada tidak jadi membeli kebutuhan Restoran.
Masuk ke dalam pasar tidak terlalu jauh dari pintu utama Reiki menyebutkan kebutuhan yang diperlukan dengan seorang wanita tua penjual sayur, sepertinya wanita itu adalah langganan Reiki tapi kerena sudah tua jadi wanita itu pelupa. Kebutuhan yang diperlukan cukup banyak sampai tiga plastik besar, ingat itu cuma sayuran belum buah-buahan untuk membuat jus. Setelah melakukan pembayaran Raiki menenteng plastik tersebut.
"Bawa semua plastik ini!" Perintah Reiki sambil memberikan plastik tersebut ke Kaila.
"Apa?"

Komentar Buku (106)

  • avatar
    Mentari Haylan

    ceritanya bagus.. 🥰

    23/04/2022

      1
  • avatar
    LimHyeRie

    suka banget sama ceritanya😍

    15/04/2022

      3
  • avatar
    Aji Clik

    kerenn

    22/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru