Alex terbangun karena mendengar suara ponselnya yang berbunyi, ternyata August yang menghubungi nya. "Halo bos, dimana? Kenapa belum datang sih? Sudah jam berapa ini? Hari ini kita ada rapat penting loh," tanya August dari seberang telepon. "Sori bro, hari ini aku tidak bisa berangkat ke kantor, tolong kamu handle rapatnya ya," jawab Alex dengan suara khas baru bangun tidur. "Tunggu, kenapa suaramu seperti itu sih? Kamu baru bangun tidur ya?" "Iya, aku baru bangun." "Ini sudah jam sepuluh bos, tidak biasanya kamu seperti ini. Jangan-jangan tadi malam…." Alex memang bukan tipe lelaki yang suka bangun siang, biasanya setengah lima dia sudah bangun. Setelah shalat subuh dia akan joging mengelilingi apartemen. "Hahaha … tahu saja kamu nih." "Iya dong bos, lanjutkan, aku reques keponakan cewek ya." "Ok, siap, aku buat dulu." "Dasar bos mesum, dahlah, aku mau rapat dulu." "Ok bro, rapat yang benar." "Memangnya kapan aku main-main saat berurusan dengan perusahaan? Totalitas tanpa batas bro." "Hahaha ... aku percaya kepadamu kok." "Sampai ketemu besok, aku tunggu ceritamu." "Apaan sih? Dasar cowok tukang gosip." "Hahaha ... biarkan." Setelah panggilan dimatikan ternyata ponsel Casi juga berbunyi, ternyata panggilan dari Ami. "Halo Dok, kenapa belum berangkat sih?" tanya Ami dari seberang telepon. "Halo." Alex mengangkat ponsel tersebut. "Eh, babang Liminho, Dokter Casi dimana? Kenapa jam segini belum datang sih? si pasien manja nanyain tuh, nyebelin banget deh." "Dia masih tidur, siapa sih si pasien manja?" "Sean, kenapa jam segini masih tidur sih?" "Biasa, habis lembur tadi malam jadinya dia kecapekan." "Habis lembur? kecapekan tadi malam? eh, jadi…." Ami terlihat berpikir mendengar perkataan Alex. "Casi tidak bisa masuk kerja hari ini, dia mau istirahat. Sudah ya, aku mau tidur dulu daa…." "Tunggu…." Alex mematikan telepon, mengambil gambar Casi saat sedang tidur dan mengirimkannya ke nomor Ami. Dia tersenyum membayangkan betapa hebohnya Ami saat melihat gambar tersebut. Di pandangainya wajah Casi yang kelihatan sangat tenang, tidak terganggu oleh suara berisiknya. Casi terlihat mulai mengeliat dan perlahan membuka matanya, Alex segera berpura-pura tidur lagi dan menutupi wajahnya dengan selimut. "Jam berapa ini?" ucap Casi mencari ponsel ingin melihat jam. "Ami? Kenapa dia mengirim pesan sebanyak ini." Dia heran melihat banyaknya notifikasi pesan dari Ami. "Astaga? Alex?" Casi kaget melihat gambar yang dikirimkan kepada Ami. "Alex, apa yang kamu lakukan? Pencemaran nama baik ini, kenapa kamu menyebarkan fotoku saat tidur? Sudah melongo, ngiler pula, ditambah lagi aku tidak pakai baju, Alex ayo bangun! jangan pura-pura tidur." Casi menggoyang-goyangkan tubuh Alex agar segera terbangun. Alex membuka selimut dengan malu-malu, bagaimana pun juga kejadian semalam adalah pengalaman pertama untuknya, dia merasa malu untuk berhadapan dengan Casi. "Heh, kenapa kamu kayak gitu sih? Sambil senyum-senyum pula," ucap Casi. "Aku malu," ucap Alex sambil menutupi wajahnya lagi. "Yang ada tuh seharusnya aku yang malu, ini kok malah kamunya yang malu sih? Dunia memang sudah terbalik ya?" "Hehehe ... Casi, aku tadi sudah bilang kepada Ami kalau kamu tidak masuk hari ini." "Hah? Kenapa begitu?" "Soalnya tadi August bilang reques keponakan cewek." "Hah? Maksudnya?" tanya Casi tidak paham dengan maksud Alex. Tanpa menjawab pertanyaan dari Casi, Alex langsung menerkam Casi lagi. "Alex…." Seharian mereka habiskan dengan berg*m*l di ranjang, mengulangi kejadian semalam. Meneguk manisnya surga duniawi. … Keesokan harinya Alex sudah berangkat ke kantor, sepanjang perjalanan menuju ke ruangannya dia terus tersenyum dan sesekali bersiul, terlihat sekali kalau hatinya sedang senang saat itu. Jika mengingat Casi kemarin, senyumnya semakin lebar. Dia tidak menyangka kalau Casi bisa seliar itu saat di ranjang. Lamunannya buyar saat August datang menghampirinya. "Duh, yang sudah ngabisin restant selama tiga puluh tahun senyum-senyum terus ya, gimana? puas?" "Hahaha … sangat puas." "Aku bisa ngebayangin bagaimana istrimu kalau...." "Hush, diam! Bagaimana keadaan perusahaan waktu aku tinggal kemarin? Pembuatan mall tidak ada kendalakan?" "Masalah itu...." "Ada apa?" "Em, sebenarnya ada masalah dengan pembuatan mall, Sean membatalkan semua kerjasama kita. Bahkan dia sudah membujuk semua investor untuk tidak berhubungan lagi dengan perusahaan kita." "Apa? Kenapa bisa begini?" "Aku tidak tahu bos." "Kita bisa rugi besar kalau proyek ini sampai batal. Aku akan menemuinya." "Iya bos, semoga berhasil." ... Sean dan Alex terlihat duduk saling berhadapan di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari kantor Alex. "Sean, kenapa kamu membatalkan proyek kita?" tanya Alex memulai pembicaraan. "Tidak apa-apa, aku hanya iseng saja," jawab Sean sambil menyeruput kopinya. "Iseng katamu? Kamu tahukan seberapa besar kerugianku kalau proyek ini sampai batal? Banyak orang yang ada dirugikan dengan sikap isengmu itu, tolong kembalilah bekerja sama dengan perusahaanku. "Biar aku pikir-pikir dulu," jawab Sean santai. "Apakah kamu anak kemarin sore yang baru berkecimpung di bidang ini? Kalau mau main-main sebaiknya dari awal kita tidak pernah berurusan." "Aku mau kembali bekerjasama denganmu, tapi aku punya satu syarat." "Apa itu, katakanlah." "Aku mau kamu menyerahkan Casi kepadaku, maka aku akan bekerjasama denganmu lagi dan aku akan mengembalikan semua investormu." "Apa? Kamu benar-benar sudah gil* Sean." Alex menyugar rambutnya dengan kasar mendengar permintaan Sean yang tidak masuk akal. "Kamu tahukan apa efek jika aku tidak bekerjasama denganmu? Sebaiknya kamu pikirkan lagi penawaranku atau akan kubuat perusahaanmu hancur." "Dengarkan baik-baik Sean, aku tidak akan pernah menyerahkan Casi kepadamu. Aku akan mempertahankan dia agar tetap di sampingku meski harus dengan mempertaruhkan nyawaku. Silakan lakukan semua sesukamu, aku tidak takut dengan ancamanmu." "Baiklah jika itu maumu. Tunggu saja saat kehancuranmu dan saat itu terjadi aku akan mengambil Casi darimu, permisi," ucap Sean sembari meninggalkan Alex sendirian. "Si*l*n, dasar Sean br*ngs*k." Alex mengumpat mendengar perkataan Sean, permintaan Sean tersebut membuat kepalanya tujuh keliling. ... "Ini adalah panti asuhan tempat dimana anak kandung anda tinggal Nyonya," ucap Bruno kepada Deborah saat mereka menyambangi sebuah panti asuhan. "Ayo kita masuk dan segera cari tahu dimana anakku." "Baik Nyonya." Bruno mengikuti Miranda masuk ke dalam panti asuhan. Mereka segera menanyakan tentang keberadaan anak Deborah. Dari informasi yang mereka dapatkan, anak kandung Deborah di adopsi oleh pasangan yang bernama Miki dan Mini. Setelah mendapatkan alamat pasangan tersebut, mereka bergegas pergi ke rumahnya. Rumah sederhana dengan banyak tumbuhan terlihat asri diantara rumah-rumah di sekelilingnya yang mewah. Terlihat seorang wanita baru saja keluar dari dalam rumah tersebut. "K-kamu? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Deborah kaget melihat wanita yang dikenalnya itu. "Saya anak dari pemilik rumah ini Nyonya." "Jadi, Kamu?"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (510)
PopiriaRebeca
Cerita nya sangat menarik. Dari awal membaca saya sama sekali tidak merasa bosan dengan alurnya. Semangat terus menulis cerita ini, saya sangat menyukai cara penulisan anda🥰🥰
08/08/2022
2
saputraIndri
alur ceritanya bagus, tapi ada perbicangan yang absurd jadii gak jelas gto..
semangat terus Thor menulisnya🤗🤗
Cerita nya sangat menarik. Dari awal membaca saya sama sekali tidak merasa bosan dengan alurnya. Semangat terus menulis cerita ini, saya sangat menyukai cara penulisan anda🥰🥰
08/08/2022
2alur ceritanya bagus, tapi ada perbicangan yang absurd jadii gak jelas gto.. semangat terus Thor menulisnya🤗🤗
19/04/2022
0ka, lanjutam setelah casi lahiran mana??
28/12
0Lihat Semua