Datang Ke Kantor Alex

Alex menoleh ke arah Casi dan ternyata dia sudah tertidur. Terdengar dengakuran halus, Casi tidur dengan sangat nyenyak.
"Astaga, dasar pelor, nempel molor."
Di dalam gelapnya kamar yang hanya dihiasi lampu temaram, Alex bisa dengan jelas melihat wajah Casi yang tertidur seperti bayi.
'Kalau anteng gini kan kelihatan tambah cantik'
Alex merasa gemas melihat Casi yang tertidur sangat pulas. Dia mendekatkan wajahnya dan berniat Ingin mencium kening Casi.
Pletak….
Belum sempat terlaksana niatnya tetapi kepalanya sudah mendapat pukulan dari Casi.
"Aduh, sakit sekali."
Alex memegangi kepalanya yang sakit.
"Casi jangan memukulku seperti itu dong, sakit nih kepalaku."
Alex mencoba berbicara kepada Casi, tetapi dia hanya diam saja.
"Woy, diajak ngomong kok diam saja."
Alex mendekat kearah Casi ingin memeriksa apakah dia benar-benar tertidur.
"Loh, tidur ternyata, jadi yang tadi itu ngelindur atau apa? Wah gawat nih, bisa remuk badanku kalau tidur di sini, mendingan aku tidur di sofa saja."
Sebenarnya Alex ingin tidur di samping Casi, tetapi melihat tingkah polah Casi saat tidur yang bisa membahayakan dirinya, Alex memutuskan untuk tidur di sofa saja.
"Selamat tidur Casi, semoga mimpi indah."
Alex segera menyelimuti Casi dan setelah itu dia berbaring di sofa.  Dia membiarkan tirai dan atap tetap terbuka agar bisa menikmati bintang sebelum tidur.
Tring … tring … tring….
Alarm di HP Alex sudah berbunyi, jam menunjukkan pukul empat. Alex segera beranjak dari sofa untuk menunaikan sholat subuh. 
Sekilas dia menengok kearah Casi yang masih tertidur pulas dan tidak tega untuk membangunkannya.
"Alex, jam berapa ini?" Casi terbangun karena suara alarm.
"Jam 4 pagi."
"Kenapa kamu tidak membangunkanku untuk sholat?"
"Aku tidak tega melihatmu yang sedang tertidur pulas seperti bayi."
"Ayo kita segera sholat subuh."
Akhirnya mereka berdua sholat subuh bersama.
"Casi, semoga kita bisa seperti ini setiap hari ya. Aku tidak sabar ingin hidup berdua denganmu."
Casi tidak menjawab perkataan Alex, pipinya menghangat mendengar kata-kata Alex.
"Jawab dong."
"Ya, semoga."
"Eh, apakah kamu sudah benar-benar bisa menerimaku?"
"Siapa bilang?"
"Lha itu, tadi kamu mengiyakan perkataanku."
"Mana ada, dahlah, aku mau tidur lagi, masih ngantuk."
"Woy, anak gadis jangan malas-malasan dong. Masak kek, bersih-bersih rumah kek, ini malah mau tidur lagi."
"Ini rumah siapa?"
"Rumahku."
"Nah, itu tau, aku tuh tamu disini jadi kenapa aku harus bersih-bersih rumah dan memasak, itukan tugas tuan rumah. Ingat ya, tamu adalah raja."
"Raja ngorok maksudnya?"
"Apa katamu? Eh, tunggu dulu, tadi malam kamu tidak melakukan sesuatu kepadaku kan?"
"Maksudmu melakukan apa?"
"Perbuatan yang tidak senonoh mungkin?"
"Bagaimana bisa aku perbuat seperti itu, baru juga di dekati kepalaku sudah kena pukul. Kamu tidurnya mimpi berkelahi sama siapa sih?"
"Eh, memangnya aku memukulmu? Aku tidak sengaja melakukannya."
"Hmm … aku tahu."
"Kalau begitu aku tidur dulu. Jangan lupa belikan sarapan untukku ya."
"Tamu kok bisanya ngerepotin saja tidak ada rasa sungkan sedikitpun."
"Biarin, week…." Casi menjulurkan lidah dan berlalu meninggalkan Alex.
Alex memutuskan untuk berolahraga, dia keluar apartemen dan berlari mengelilingi apartemen. Setelah 5 putaran Dia memutuskan untuk kembali, di lobby dia bertemu lagi dengan satpam yang kemarin dia temui.
"Halo Bos, Selamat pagi, bagaimana malammu? apakah sangat menyenangkan?" tanyanya menggoda.
"Luar biasa."
"Wow, bos memang tidak salah pilih."
"Tentu saja, aku masuk dulu."
"Iya bos, selamat bersenang-senang."
"Ya."
Setelah sampai di apartemen, Alex langsung memasak sarapan.
"Sarapan apa nih, sepertinya nasi goreng enak."
Alex memutuskan untuk membuat nasi goreng spesial. Setelah selesai, Alex bergegas mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja.
Habis itu dia menuju ke kamar untuk membangunkan Casi.
"Casi, ayo bangun, sudah pagi."
"Sebentar lagi." Casi mengeliat mendengar ucapan Alex.
"Cepat bangun, sebentar lagi aku harus berangkat ke kantor."
"Berangkat saja, aku bangunnya nanti saja, masih ngantuk ini."
"Yasudah, aku sudah menyiapkan sarapan, nanti habiskan ya."
"Iya."
Sepeninggalan Alex, Casi tidak dapat tidur lagi. Dia memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
Matanya tertuju ke meja makan yang ada tudung sajinya. Dia membukanya dan kaget melihat apa yang ada di sana.

"Astaga."
Secarik kertas yang bertuliskan 'habiskan ya sayang' terpampang jelas di samping sepiring nasi goreng itu.
Triing....
Tiba-tiba gawai Casi berbunyi.
"My future huby? Siapa ini?" Dahi Casi mengernyit melihat satu kontak telepon yang asing. Dengan malas dia mengangkat telepon tersebut.
"Pagi sayang, kamu sudah bangun?"
"Alex?"
"Iya dong, ini Alex, calon suamimu."
"Maksudnya apa makanan sebanyak ini kamu berikan untukku?"
"Tadi malam kamu makan banyak sekali, jadi aku pikir kamu pagi ini juga butuh sarapan yang banyak."
"Astaga, Alex...."
"Casi, aku butuh pertolonganmu."
"Apa?" 
"Di meja kerjaku ada map berwarna hijau, tolong kamu bawakan ke kantorku ya. Itu adalah bahan rapat nanti jam sepuluh. Sekarang baru jam sembilan kamu masih punya waktu untuk...."
"Kenapa tidak kamu ambil sendiri?"
"Sekarang aku juga baru rapat sayang, sudah dulu ya, aku sibuk. Ada baju di lemari yang dibelikan Mama kemarin, pakailah itu, daa...." Alex memutus teleponnya sepihak.
"Dasar Alex nyebelin."
Casi memutuskan untuk sarapan, menikmati nasi goreng spesial buatan Alex.
"Wah, ternyata enak juga nih nasi goreng."
Tanpa sadar nasi goreng jumbo sudah dilahap habis oleh Casi. Setelah itu dia segera mandi dan bersolek.
"Kata Alex ada baju di lemari, mana ya?" Casi membuka lemari dan mendapati sebuah gaun berwarna hitam.
"Duh, gaun lagi. Menyebalkan."
Mau tidak mau Casi memakai gaun tersebut karena tidak ada baju formal yang dia bawa. Casi mematut dirinya di cermin.

"Cantik." gumam Casi.
Setelahnya Casi berangkat ke kantor Alex. Casi menuju meja resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Alex.
"Selamat pagi Mbak, saya ingin bertemu dengan Alex. Dia ada di ruangan lantai berapa ya?"
"Apakah anda sudah membuat janji?" Resepsionis bertanya sambil melihat Casi penuh selidik.
"Sudah mbak,  saya mau mengantarkan Map ini yang katanya untuk rapat nanti jam sepuluh."
"Kalau begitu anda bisa naik ke lantai lima belas, sampai di sana anda bisa bertanya kepada satpam dimana ruang pak Alex."
"Baik Mbak, terimakasih."
"Sama-sama."
Casi segera menuju ke lift. Disana sudah ada dua orang wanita yang ingin naik ke lantai lima belas juga. Mereka berdua asyik membicarakan Alex.
"Intan, kamu tahu tidak kalau Pak Alex sudah putus dengan Jenifer?"
"Beneran?"
"Iya, sekarang dia lagi jomblo loh, ada kesempatan buat kita mendekatinya. Janji ya kalau kamu harus bersaing secara adil."
"Iya deh, aku yakin dengan pesonaku, aku bisa menaklukkan dia dengan mudah."
"Jangan sombong dulu, pak Alex tuh orang nya sangat dingin kepada perempuan loh, sulit sekali untuk mendapatkannya."
Telinga Casi panas mendengar percakapan kedua wanita tersebut. Saat itu juga ada panggilan video dari Alex. Casi merasa senang karena mendapatkan ide untuk mengerjai kedua wanita tersebut.
"Halo sayang, kamu sudah sampai mana?" tanya Alex.
Casi sengaja mengangkat teleponnya lebih tinggi agar kedua wanita itu bisa melihat wajah Alex.
"Eh, i-itu, pak Alex? Bagaimana bisa?" pekik salah satu wanita tersebut.
"Aku sudah sampai di lift, sayang." Casi sengaja menekankan kata sayang agar wanita tersebut cemburu.
Terbukti kedua wanita tersebut melongo mendengar percakapan mereka.
"Ok sayang, aku tunggu di depan lift. Muach...."
Kedua wanita itu semakin kaget melihat kemesraan Casi dan Alex.
"Mbak, anda ini siapa kok akrab sekali dengan pak Alex."
"Saya tunangannya."
"Apa?" Mata kedua wanita itu melotot mendengar jawaban Casi.
Ting....
Pintu lift terbuka, disana sudah ada Alex yang menunggu sambil merentangkan kedua tangan.
"Selamat datang sayang."
Casi segera menghampiri Alex dan menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Adegan tersebut sukses membuat dua wanita penggoda itu lemas dan luruh ke lantai.

Komentar Buku (510)

  • avatar
    PopiriaRebeca

    Cerita nya sangat menarik. Dari awal membaca saya sama sekali tidak merasa bosan dengan alurnya. Semangat terus menulis cerita ini, saya sangat menyukai cara penulisan anda🥰🥰

    08/08/2022

      2
  • avatar
    saputraIndri

    alur ceritanya bagus, tapi ada perbicangan yang absurd jadii gak jelas gto.. semangat terus Thor menulisnya🤗🤗

    19/04/2022

      0
  • avatar
    BudisetiawatiYan

    ka, lanjutam setelah casi lahiran mana??

    28/12

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru