Hanna dan Ari Nugraha berjalan beriringan sambil bergandeng tangan setelah menidurkan Alta di kamarnya. Senyum mengembang di bibir sepasangan anak manusia yang sudah memantapkan hati untuk menempuh hidup baru mengarungi bahtera kehidupan bersama. Setibanya di ruang keluarga Hanna dan Ari Nugraha duduk berdampingan di sofa panjang dengan jemari yang masih saling bertautan. "Kau harus menghubungi kedua orang tuamu, sampaikan kabar bahagia ini pada mereka!" ucap Ari Nugraha dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Tetapi tak berapa lama kemudian senyum itu sirna bersama dengan Hanna yang memalingkan muka. "Kenapa?" tanya Ari Nugraha tak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya, pengacara muda itu merasa ada yang disembunyikan oleh calon istrinya. "Aku takut mengecewakan Bapak lagi, bapak harus menanggung malu karena Leo tidak jadi datang untuk melamarku waktu itu," ucap Hanna dengan pandangan nanar mengingat masa-masa sulit yang harus dia lalui "Berdoalah! Semoga niat baik kita dilancarkan." Ari Nugraha yakin keberhasilannya meyakinkan Hanna untuk bersedia menjadi pendamping hidupnya, bukan hanya karena usaha keras yang sudah dia lakukan, tetapi juga doa-doa yang telah dia dan keluarganya panjatkan selama ini. Hanna menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda dia sepakat dengan ucapan Ari Nugraha, lalu dipandanginya wajah lelaki yang akan menikahinya. Tersanjung, itulah yang kini dirasakan oleh Hanna, dirinya yang memiliki masa lalu yang kelam sebentar lagi akan menikah dengan seorang pria yang tampan dan memiliki pekerjaan yang cukup mentereng. Setelah ujian yang datang bertubi-tubi, akhirnya tiba masanya bagi Hanna menjemput bahagia. Entah keberanian yang timbul dari mana, rasa kagum yang ada membuat Hanna lancang membelai lembut rahang Ari Nugraha. Ari Nugraha pun membalas dengan merapikan rambut Hanna dan menyelipkan ke belakang daun telinga. Suasana malam yang sunyi, sentuhan lembut dari Ari Nugraha terasa begitu memabukkan hingga membuat Hanna memejamkan matanya. Ari Nugraha memandangi wajah calon istrinya, dengan senyum yang mengembang pengacara muda itu mendekatkan wajahnya pada Hanna. "Sudah tidak ada ketakutan lagi saat dekat dengan pria?" bisik Ari Nugraha tepat di telinga Hanna. Hanna segera membuka matanya, ada kecewa saat ternyata Ari Nugraha tidak peka dengan kode yang dia berikan, belum lagi hembusan udara dari mulut Ari Nugraha saat berbisik membuat bulu-bulu halus Hanna berdiri. Merasa ada penolakan dari calon suaminya, Hanna segera memalingkan mukanya. "Aku hanya ingin memastikan jika kau nyaman di sampingku ... dan aku harap trauma itu sudah tidak menghantuimu lagi." Ari Nugraha meraih dagu Hanna hingga kini mereka saling berhadapan, kembali Ari Nugraha mendekatkan wajah pada Hanna, dan hampir saja bibirnya mendarat sempurna di bibir Hanna jika saja suara deheman tak menghentikan mereka. Betapa terkejutnya Hanna dan Ari Nugraha saat melihat Gio berada di dalam rumah. Memang secara hukum rumah tersebut sudah menjadi milik Alta, tetapi selama Helena masih hidup, Helena dan Gio masih bisa bebas menempati rumah tersebut. "Jangan tatap saya seperti itu! Karena di antara kalian berdua, bukan saya setannya." Gio melangkah dengan tenang menghampiri Hanna dan Ari Nugraha. "Sejak kapan Kak Gio di rumah ini?" Hanna memberanikan diri bertanya pada suami Nadia, sahabatnya. "Saya rasa Pak Ari tahu apa yang sebaiknya Pak Ari lakukan pada Hanna, bukankah sudah sejak awal kami mendukung niat baik Pak Ari pada Hanna?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarakan oleh Hanna, Gio justru menekan Ari Nugraha dengan mengingatkan tujuan awal pengacara muda itu mendekati Hanna. "Ya Pak Gio, kami akan segera menikah, saat ini kami sedang membicarakan tentang lamaran ke orang tua Hanna." Ari Nugraha berusaha setenang mungkin memberikan penjelasan pada Gio, pengacara muda berusaha menutupi kegugupannya karena ketahuan hendak mencium Hanna. "Baru akan?" Pertanyaan Gio hanya mendapat reaksi saling pandang dari Hanna dan Ari Nugraha. "Saya harap kalian tahu batasan-batasannya!" "Ya Kak," jawab Hanna pelan, dia merasa bersalah karena tidak bisa mengendalikan dirinya, hingga membuat Ari Nugraha pun tergoda. "Sudah malam, sebaiknya dibicarakan besok siang saja!" Tanpa basa basi Gio berucap berharap Ari Nugraha tahu, jika sebaiknya dia segera pulang. "Benar kata Pak Gio," ucap Ari Nugraha, sambil menganggukkan kepalanya. "Mungki kita bisa pulang bersama, Pak?" tawar Ari Nugraha, melihat tidak ada orang lain di sana, tentu Ari Nugraha tidak ingin Hanna hanya berdua bersama dengan Gio. "Maaf, saya masih ada urusan di sini." Dengan nada tegas suami dari Nadia itu menolak tawaran Ari Nugraha. Ari Nugraha menatap tajam ke arah Gio, pikirannya jauh berkelana berspekulasi tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika dia meninggalkan Hanna berdua dengan Gio. Ari Nugraha teringat akan masa lalu dua orang yang berada di depannya, dimana mereka berdua pernah hampir saja menikah, dan dia yang diminta oleh Helena untuk mengurus pengesahan pernikahan mereka. Dalam hati pengacara muda itu dipenuhi oleh banyak pertanyaan dan kecurigaan tentang hubungan yang terjadi antara Gio dan Hanna sesungguhnya. "Saya rasa tidak baik jika ...." "Terima kasih ya, Din! Sudah bantu beresin barang-barang Mama." Ari Nugraha tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar suara Nadia dari dalam. Meskipun belum melihat orangnya, tetapi dengan mendengar suara Nadia membuat Ari Nugraha dan Hanna mengetahui alasan Gio berada di rumah tersebut. Dengan senyum yang terukir indah di bibirnya Nadia melangkahkan kaki menuju ruang keluarga dimana suaminya beserta Hanna dan Ari Nugraha berada. Nadia menghampiri Hanna lalu saling cium pipi kanan dan kiri sebagai salam. "Bagaimana pertemuannya tadi?" tanya Nadia penuh rasa ingin tahu, tentunya dia ingin segera mendapat kabar baik dari sahabatnya. "Mereka sedang membicarakan rencana lamaran untuk Hanna." Gio segera merengkuh pinggan istrinya menunjukkan kemesraan di hadapan Hanna dan Ari Nugraha. Bukan bermaksud pamer, Gio ingin Ari Nugraha bisa mencontohnya memperlakukan Hanna dengan penuh cinta, karena bagaimana pun bagi Gio Hanna sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. "Maaf Pak Gio, sepertinya saya berubah pikiran," ucap Ari Nugraha sambil memandang Nadia, ada sesuatu yang secara tiba-tiba membuatnya berubah pikiran. "Saya tidak akan melamar Hanna." Hanna meneteskan air matanya saat mendengar ucapan Ari Nugraha, sedangkan Gio dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah segera menghampiri Ari Nugraha, tetapi Nadia bergegas mencekal tangan suami agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Sabar Gio, kita dengan penjelasan dari Pak Ari dulu," ucap Nadia berusaha menenangkan suaminya. "Bisa Pak Ari jelaskan semua ini?" Dengan tegas dan sorot mata yang tajam Nadia berucap. "Setelah melihat Bu Nadia, saya pikir saya tidak akan melamar Hanna." Nadia segera memeluk suaminya, agar tidak memukul Ari Nugraha. "Apa maksudmu? Jangan kurang ajar pada istriku!" ucap Gio dengan penuh amarah. Hanna sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, tetapi saat dia hendak meninggalkan ruang keluarga, Ari Nugraha segera mencekal tangannya. "Saya tidak akan melamar Hanna, tapi saya akan langsung menikahinya, seperti yang Pak Gio dan Bu Nadia waktu itu. Jika muaranya sama, mengapa tidak dipersingkat? Hanya buang-buang waktu saja." Bukan hanya membuat lega, tetapi ucapan Ari Nugraha mengingatkan Nadia dan Gio tentang proses pernikahan mereka yang begitu cepat dan tanpa persiapan sama sekali. Ari Nugraha tersenyum sambil dan semakin mendekat pada Hanna, di hapusnya air mata yang menetes di pipi Hanna karena ulahnya tersebut. Ari Nugraha segera merengkuh tubuh Hanna dalam pelukannya, pandangan pengacara muda itu teralih pada Gio seraya memamerkan kemesraannya bersama Hanna. Kembali Gio berdehem agar pasangan di depannya segera mengurai pelukan. Hanna tampak malu-malu saat melepaskan diri dari pelukan Ari Nugraha, dia lepas kendali atas dirinya karena perasaan bahagia yang dia rasakan saat ini. "Mungkin mulai besok kalian bisa mempersiapkan dokumen-dokumen untuk pernikahan kalian, untuk acara acara akad dan resepsi biar kami yang urus." Gio tak ingin pernikahan Hanna ditunda lagi. "Baik Pak," jawab Ari Nugraha dengan senang hati. "Sekarang pulang!" usir Gio dengan tegas. Meskipun ada rasa kecewa karena harus berpisah dengan calon istrinya, tetapi Ari Nugraha tetap tersenyum kala undur diri. Setelah Ari Nugraha keluar dari rumah, Nadia segera menghambur memeluk sahabatnya itu, dia turut merasakan kebahagian yang kini dirasakan oleh Hanna. "Akhirnya kau menemukan kebahagiaanmu, semoga dia jodoh terbaik yang diberikan Tuhan untukmu." Hanna segera mengamini ucapan Nadia, dua sahabat itu kini berpelukan sambil menangis bersama, tangis bahagia untuk pernikahan Hanna yang akan segera terlaksana. Gio pun tersenyum menyaksikan kebahagiaan dua sahabat itu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (329)
WindrianiKartika
iiiihhhhh..... seru....
mo cari tau alasan kenapa orang tua nya ngelakuin itu. kalo memang saling mencintai kenapa nikah sahnya ama Nadia. kenapa gak dari awal aja sama Nabila. pengen liat mereka pada nyesel.
semangat terus wahai penulis^^
iiiihhhhh..... seru.... mo cari tau alasan kenapa orang tua nya ngelakuin itu. kalo memang saling mencintai kenapa nikah sahnya ama Nadia. kenapa gak dari awal aja sama Nabila. pengen liat mereka pada nyesel. semangat terus wahai penulis^^
17/03/2022
1sumpah seru bangget novelnya seru
10/04
0menarik cerita nya
24/02
0Lihat Semua