57. Terpuruk

Dengan penuh amarah Gio keluar dari ruang kerja Surya dengan membawa dokumen yang diberikan oleh pengacara. Gio terus melangkah menuju ke mobilnya, dan Nadia berusaha mengejar Gio sambil terus memanggil nama suaminya tersebut. Amarah yang kini sudah menguasai Gio membuatnya mengabaikan panggilan sang istri.
Gio bergegas memasuki mobilnya dan tak menghiraukan Nadia yang memukul-mukul pintu mobil agar Gio membukanya dan memberi penjelasan pada Nadia, Gio justru segera menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya dan hampir saja membuat Nadia terjatuh.
"Gio!" Nadia begitu panik melihat mobil Gio yang melaju dengan kencang.
"Dia, kau tidak apa-apa?" Noorma menghampiri putri semata wayangnya.
"Apa yang terjadi dengan Gio, Bu? Tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Nadia sampai meneteskan air mata memohon penjelasan dari wanita yang telah melahirkannya itu. "Aku yakin Ibu tahu, tolong Bu!"
"Tidak sekarang Dia, ibu tidak berhak."
"Apa bedanya sekarang dengan nanti?"
"Ibu sudah berjanji."
Nadia menghapus air mata, kekecewaan terpampang jelas di raut wajah Nadia. Nadia bergegas memasuki rumah untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal di dalam.
"Pak Selamet, Bi Asih mari kita pulang." Nadia menghampiri Noorma yang masih berdiri mematung di posisinya. Nadia meraih tangan Noorma, lalu mencium punggung tangan ibunya. "Kami pulang dulu, Bu!" Meskipun marah dan kesal pada Noorma, tetapi Nadia berusaha untuk tetap berlaku santun pada wanita yang telah melahirkannya.
Dengan berat hati Noorma melepas kepergian putrinya. Ingin rasanya memberikan penjelasan yang diminta putrinya tersebut, tetapi sebuah janji yang terucap seolah mengunci rapat mulutnya.
"Kita hanya menjalankan amanah, Bu." Sang pengacara tiba-tiba berdiri di belakang Noorma. "Saat kita menyimpan rahasia, kita diuji untuk bisa tetap mengunci mulut kita."
***
Suara bel bersahutan, menandakan tamu yang datang sudah tidak sabar atau dalam keadaan emosi. Dini asisten rumah tangga di rumah Helena berlari menuju pintu agar bisa sesegara mungkin membukanya. Baru saja kunci selesai diputar, pintu sudah di dorong dari luar, hingga membuat Dini terkejut.
"Dimana Mama?" Tatapan tajam mata Gio membuat Dini menjadi takut.
"Sedang menidurkan Den Alta di kamar atas."
"Kamarku atau kamar Leo?"
"Kamar Tuan Leo."
Gio segera meninggalkan Dini, tetapi belum sempat Gio menginjakkan kakinya di tangga, Helena sudah terlihat menuruni tangga. Melihat tatapan mata putranya, Helena tahu Gio sedang dalam keadaan diliputi oleh amarah. Masalah pernikahan dengan Hanna, Helena sudah mengaku menyerah dan kalah, tetapi dia hanya meminta agar Hanna dan Alta bersedia tinggal di rumahnya yang sebentar lagi akan diberikan pada Alta. Seharusnya hal itu tidak akan membuat Gio marah, toh Gio tetap mendapatkan bagian paling banyak dari aset keluarga Oetama. Bukan hanya penasaran dengan apa yang terjadi pada Gio, tetapi rasa takut pun menyelinap di benak Helena, perlahan-lahan merenggut ketenangan hidupnya.
"Mama bisa jelaskan ini?" Gio mengangkat dokumen yang dia peroleh dari pengacara.
Meskipun belum tahu apa isi dokumen yang dipegang oleh Gio, tetapi Helena sudah dilanda kepanikan.
"Mama tidak tahu apa itu."
"Ini adalah hasil tes DNA yang menunjukkan jati diriku dan jati diri Leo sebenarnya. Dan juga hasil outopsi yang menjelaskan penyebab kematian Leo."
"Ma Mama tidak tahu menahu tentang hal itu." Helena menjawab dengan sangat gugup.
"Ma!"
"Jangan ingatkan mama pada peristiwa kepergian Leo lagi, Gio!"
"Tolong jelaskan, Ma!"
"Mama sudah mengantuk Gio, kita bicarakan besok." Helena segera berbalik meninggalkan Gio.
Gio berusaha mengejar Helena, tetapi Helena lebih dahulu memasuki kamar. Gio mengedor-gedor pintu kamar Leo, bukan Helena yang keluar tetapi yang dia dapatkan adalah suara tangis Alta.
"Apa yang terjadi Kak?" Hanna datang dengan terburu-buru karena mendengar suara tangis anaknya.
Dengan langkah gontai Gio pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa mempedulikan Hanna.
***
Di dalam kamarnya, Nadia mondar-mandir kesana kemari menanti kedatangan Gio suaminya. Pikirannya tidak tenang karena melihat Gio pergi dalam keadaan sedang dipenuhi amarah.
Nadia mencoba menghubungi suaminya, meskipun ponselnya dalam keadaan aktif, tetapi Gio tetap tidak menjawab panggilannya. Setelah mencoba berulang kali dan hasil masih tetap sama, akhirnya Nadia berhenti mencoba menghubungi Gio dan meletakkan ponselnya di nakas.
Nadia mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, tetapi matanya tetap tak ingin terpejam. Pikirannya tak mau lepas dari sang suami yang saat ini tidak berada di sisinya. Masih lekat dalam ingatan Nadia, saat suami pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tiba-tiba terdengar bunyi dering dari ponsel Nadia, nama Hanna sahabatnya terpampang di layar ponsel. Bergegas Nadia meraih ponsel untuk menjawab panggilan dari Hanna.
"Assalamualaikum." Salam diucapkan Nadia untuk menyapa Hanna.
"Wallaikumsalam, Dia, tadi Kak Gio datang ke sini, sepertinya ada masalah dengan Mama."
"Lalu sekarang dimana Gio?" Nadia tampak tidak sabar menanyakan keberadaan suaminya.
"Karena Alta menangis Kak Gio langsung pergi lagi, apa dia belum sampai di rumah?"
"Belum," lirih Nadia menjawab pertanyaan Hanna. "Apa Gio sudah lama jalannya?"
"Sudah, seharusnya sudah sampai dari tadi." Jawaban Hanna membuat Nadia semakin mengkhawatirkan suaminya.
Nadia menatap jam di dinding, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi Gio belum pulang juga. Nadia teringat satu tempat yang mungkin saja saat ini menjadi tempat bagi Gio menyendiri, apartemen yang baru Gio beli beberapa saat yang lalu.
"Han, sudah malam, sambung besok lagi ya?" Setelah Hanna mengiyakan, mereka pun saling berbalas salam untuk mengakhiri percakapan.
Nadia segera mengenakan cardigan rajut dan jilbabnya kembali. Nadia melihat kamar Pak Selamet sudah tertutup pintu. Dia merasa tidak tega jika harus membangunkan pria paruh baya tersebut malam-malam. Tetapi untuk mengendarai motor sendirian juga bukanlah pilihan yang aman.
"Nyonya!"
"Hah!" Nadia terkejut saat mendengar suara lembut Bi Asih dari belakang.
"Maaf, mengagetkan nyonya, ada yang bisa Bibi bantu."
"Pak Selamet sudah tidur belum?"
"Butuh Pak Selamet? Saya bangunkan."
"Tapi kasihan Bi, sudah malam."
"Tak apa, kami di sini memang untuk melayani tuan dan nyonya." Bi Asih segera menuju ke kamar Pak Selamet, tak lama kemudian Bi Asih sudah datang bersama Pak Selamet.
Setelah mengetahui maksud dari majikannya membangunkannya tengah malam, Pak Selamet segera bersiap untuk mengantar Nadia ke apartemen milik Gio. Tak butuh waktu yang lama Nadia dan Pak Selamet pun akhirnya tiba di apartemen milik Gio. Dengan sabar Pak Selamet menunggu Nadia di area parkir, memastikan jika Nadia bertemu dengan Gio. Pak Selamet baru pergi setelah Nadia menghubunginya, mengabarkan jika dia sudah bersama dengan Gio.
***
Abu dan beberapa puntung rokok mengisi sebuah asbak. Gio menuang minuman keras lalu meminumnya hingga tandas. Kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan, tetapi masalah yang sedang dia hadapi saat ini seolah menjadi pemicu bagi Gio kembali menikmati minuman haram tersebut.
Dering ponsel yang tak henti-henti, hanya diabaikan oleh Gio. Hingga bunyi notifikasi pesan yang berulang mampu membuat Gio akhirnya tertarik untuk segera meraih ponselnya. Nama wanita yang dicintainya terpampang di layar ponselnya. Puluhan panggilan telah dia abaikan, dengan penuh sesal Gio membuka pesan dari Nadia, dan berniat untuk segera membalasnya agar sang istri tidak mengkhawatirkannya.
Belum sempat Gio membalas pesan dari Nadia, ponselnya berdering lagi, dan Gio pun segera menjawabnya. Ternyata Nadia sudah berada di depan pintu unitnya. Gio bergegas membuka pintu untuk wanita yang telah dia nikahi tersebut.
"Gio." Nadia menatap Gio yang saat ini penampilannya sangat berantakan. "Sebentar, aku akan menghubungi Pak Selamet dulu."
"Kau akan langsung pulang?" tanya Gio dengan wajah nelangsa, sambil meraih tubuh istrinya ke dalam apartemen dan segera menutup pintu kembali
"Pak Selamet masih menungguku di area parkir, dia akan pulang setelah memastikan aku bersamamu. Jika tidak menemukanmu di sini, dia akan menemaniku mencarimu keliling kota." Nadia menjawab sambil memainkan ponselnya.
"Assalamualaikum pak, saya sudah menemukan Gio. Terima kasih sudah mengantar, maaf mengganggu istirahat Pak Selamet." Nadia segera mengakhiri percakapannya dengan Pak Selamet.
Nadia bisa mengenali aroma rokok yang melekat di tubuh suaminya, tetapi ada aroma lain yang sangat asing bagi Nadia. Hingga mata Nadia memindai sebotol minuman keras di atas meja.
"Kau minum?" Nadia tak bisa menyembunyikan rasa kecewa pada suaminya.
"Sedikit."
"Apa yang terjadi Gio? Hingga kau seperti ini?" Kedua tangan Nadia menangkup wajah Gio yang tertunduk.
"Aku tidak bisa membayangkan akan sehancur apa hidupku, jika aku berhasil menghancurkan hidupmu."
"Apa maksudmu Gio?"
Tanya yang terlontar tak kunjung mendapat jawaban, hingga Nadia melihat dokumen yang dibawa Gio saat keluar dari rumah Noorma berada di meja dekat dengan minuman keras. Nadia melangkah meninggalkan Gio dan mengambil dokumen tersebut, Nadia membuka dan memberanikan diri untuk membacanya, karena Gio hanya diam saat melihatnya membuka dokumen itu. Nadia menutup mulutnya dengan jari lentiknya, dia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.
"Jadi Leo bukan anak Papa Surya?" Gio menangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan istrinya. "Pukulan benda tumpul?" Nadia hanya mendapati sang suami meneteskan air mata. "Apa maksud semua ini Gio?"
Tak ada jawaban, justru tangis tergugu Gio yang terdengar. Gio menjatuhkan bobot tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya. Nadia segera menghampiri Gio dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.

Komentar Buku (329)

  • avatar
    WindrianiKartika

    iiiihhhhh..... seru.... mo cari tau alasan kenapa orang tua nya ngelakuin itu. kalo memang saling mencintai kenapa nikah sahnya ama Nadia. kenapa gak dari awal aja sama Nabila. pengen liat mereka pada nyesel. semangat terus wahai penulis^^

    17/03/2022

      1
  • avatar
    NailiLitsa

    sumpah seru bangget novelnya seru

    10/04

      0
  • avatar
    Annaznissa

    menarik cerita nya

    24/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru