Malam telah tiba, keadaan Ibukota begitu gelap gulita. Tidak ada lagi lampu penerangan di setiap jalan. Arus listrik dipadamkan saat siang hari, sehingga saat mereka melakukan pembersihan tidak ada arus listrik yang mengalami korsleting. Kapal pesiar telah berlayar di tengah lautan, sebagai pencegahan agar para zombie tidak berlari ke arah mereka. "Cepat, naik kembali. Ada gerombolan zombie yang menuju bukit," ucap Sae memperingatkan beberapa tentara yang sedang beristirahat di atas bukti. Saat sore tadi, mereka memang bergantian untuk berjaga. Mengambil waktu sempit untuk saling mengisi asupan makanan. "Gggrrrr ... Aaaaaa." "Aaaa, tolong." Dor-dor-dor! Satu tembakan hampir saja meleset mengenai tentara. Beruntung dia masih diberi hidup, hingga selamat dari serangan zombie. "Cepat, segera naikan heli!" perintah Sae. A Raa mengambil alih untuk mencegah para zombie kembali mendekat. "Cepat cepat." Dor-dor!! Tengah malam, para tuan muda dan beberapa tentara kembali ke Mansion. Sedangkan beberapa lainnya pergi ke kapal pesiar. Mereka harus meninjau situasi di kapal malam ini. Saat mereka kembali, semua orang telah beristirahat. Kalau saja tidak terjadi keadaan darurat, mereka bisa segera kembali sebelum waktu tengah malam. Satu helikopter telah menjadi korban, ada sesuatu yang salah dengan sistemnya. Sehingga membuat helikopter tersebut tidak bisa kembali naik untuk diterbangkan. Beruntung, helikopter yang Sae dan A Raa tumpangi masih berada di sekitar mereka. "Kak Sae, apa yang terjadi? Kenapa kalian semua kembali begitu larut?" tanya Ree pada kakaknya. Sae dan yang lain tengah duduk beristirahat di ruang tamu, saat Ree dan Yoona menghampiri mereka semua. "Tolong ambilkan kami air," pinta Sae. Ree mengambil beberapa minuman dan Yoona membawa sedikit cemilan. Rasa lelah pasti membuat mereka lapar, tengah malam begini apa mereka akan makan nanti? "Terima kasih," ucap semua orang. "Kalian pergilah istirahat, ini sudah larut," ucap Sae. "Tapi, Kak. Ree mau dengar-" "Ree, dengarkan kakakmu. Beliau pasti sangat lelah, biarkan kami istirahat sebentar," ucap Luis. "Baiklah, kalian juga harus istirahat ya," ucap Ree kemudian mengajak Yoona kembali ke atas. Ree dan Yoona khawatir karena mereka pulang sangat larut. Karena dalam rencana, mereka harus kembali pulang setelah semuanya selesai. Dan itu diperhitungkan sekitar pukul 9 atau 10 malam. Rencana memang hanya rencana, karena kita tidak tau bahaya apa yang sedang mengancam di depan sana. Dalam kondisi seperti sekarang, semua harus bersiap dengan segala kondisi. "Bagaimana daerah Ibukota?" tanya Rama. "Kami masih belum tau, untuk zombie siang sepertinya mereka sudah tidak ada lagi. Kalau yang malam, sepertinya masih banyak. Mereka bersembunyi di tempat yang kita tidak tau," jelas Sae. "Apa kita akan kembali besok pagi?" tanya Luis. "Kita coba tanyakan pada Prof. Han dan ketua tentara dulu," jawab Sae. "Kalian sudah bekerja keras, istirahatlah lebih awal," ucap Sae kemudian pamit lebih dulu. A Raa juga menyusul Sae untuk istirahat lebih awal. Mereka sangat lelah malam ini, karena harus menghadapi segerombol zombie yang membabi buta. Penyelamatan para tentara juga membuat Sae dan timnya kewalahan. Berpacu dalam kegelapan, menembaki lawan yang tidak kenal takut dan ampun. "Ayo, kita juga istirahat," ajak Na Gun. Satu persatu dari mereka beranjak dari sofa. Mengistirahatkan tubuh dan pikiran dari hiruk pikuk gelapnya kota. ... Selama beberapa hari, mereka berpacu melawan para zombie di tengah malam. Situasi di siang hari sudah terkendali, hanya tinggal beberapa yang terus menyerang saat malam tiba. Perjuangan mereka selama satu minggu lebih, akhirnya membuahkan hasil yang baik. Ibukota dan beberapa kota di sekitarnya, telah kembali bersih dari makhluk bernama zombie. Semua orang bisa beristirahat dengan tenang di rumah mereka sekarang. Tentunya dengan tenaga ekstra saling bergotong-royong, membangun kota yang bersih dan asri. (Satu bulan kemudian). "Saudara Lim A Raa, apa anda bersedia menerima segala kelebihan dan kekurangan nona Im Yoona sebagai seorang istri, baik senang maupun susah?" "Ya, saya bersedia." "Saudari Im Yoona, apa anda bersedia menerima segala kelebihan dan kekurangan Tuan Lim A Raa sebagai seorang suami, baik senang maupun susah?" "Ya, saya bersedia." "Untuk saudara Luis Lou, apa anda bersedia menerima segala kelebihan dan kekurangan Nona Sae Ah Ree sebagai seorang istri, baik senang maupun susah?" "Ya, saya bersedia." "Untuk saudari Sae Ah Ree, apa anda bersedia menerima segala kelebihan dan kekurangan Tuan Luis Lou sebagai seorang suami, baik senang maupun susah?" "Ya, saya bersedia." "Kedua pasangan kini telah resmi menjadi suami istri. Silahkan, kalian bisa mencium pasangan kalian masing-masing," ucap Pak Pendeta, yang membantu pernikahan mereka berempat. Satu bulan lamanya, setelah semua kembali seperti semula. A Raa dan Luis mengadakan upacara pernikahan mereka di sebuah gedung. A Raa dengan Yoona dan Luis dengan Ree. "Sae, bagaimana dengan kamu? Adik dan teman kamu, A Raa sudah menikah. Kamu kapan, Nak?" tanya sang ibu. "Ma, Sae harus fokus dengan pekerjaan yang sudah sangat lama ditinggalkan," jawab Sae. "Sae, kau kalah oleh adikmu sendiri. Sedangkan aku, kalah oleh tangan kananku sendiri," ucap Rama. "Sebentar sebentar, adik Sae menikah dengan tangan kanan Rama. Itu artinya kalian berdua menjadi besan dong." Cetus Sooho. "Wah, iya ya. Kenapa tidak kepikir olehku," balas Rama. Mereka semua tertawa gembira, dua temannya kini telah memulai hidup barunya bersama orang yang mereka cintai. Pembawa acara mengumumkan kepada kedua pasangan, untuk melempar buket bunga mereka kepada para tamu undangan. Satu bunga dilemparkan, dan ditangkap oleh Alena. Sedang satu bunga lagi ditangkap oleh seorang gadis yang baru saja hadir di ruangan itu. "Wah, Kak Lena dapet bunganya. Mau nikah sama siapa Kak?" tanya Bryan. "Diam kamu anak kecil." Sungut Alena. "Wah, lihat tuh. Siapa ya, cantik banget," ucap kagum para laki-laki. "Dia yang menangkap bunga dari Yoona dan A Raa. Kira-kira siapa orang yang beruntung bisa menikah dengannya ya," timpal laki-laki lain. Para lelaki saling beradu argumen tentang gadis yang baru saja datang itu. Mereka berebut untuk mendapat perhatian si gadis. Sae Ah Gu melakukan rutinitasnya seperti dulu lagi, yaitu memimpin SaeJoon Group. Di bawah pimpinannya juga bimbingan ketua Sae, SaeJoon Hospital kembali beroperasi. Masih dengan Dr. Lim sebagai dokter kepala dan bantuin Li Soon Sae sebagai dokter bedah. Prof. Han juga kembali berpartisipasi di dalam rumah sakit tersebut. Semua telah kembali normal. Untuk Lee Rui Yoo dan Lim A Roo, mereka masih terus debut dengan lagu-lagu barunya. Beberapa iklan dan film baru yang Sooho mainkan. Namun, A Roo sudah bersolo karier, karena A Raa memilih untuk bekerja di industrinya sendiri. Yakni pengembangan dan penanaman sayuran hijau bersama sang istri dan juga adik iparnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Novelnya sangat bagus
06/06/2025
0bagus
30/04/2025
0mantap banget kak, alurnya bagus suka
28/04/2025
0Lihat Semua