"Saat kita sampai di depan penginapan, kalian berdua tembak kedua ban mobil mereka di kanan dan kiri," titah Alena lagi. Ahli kemudi yang Alena katakan, memang sangatlah jago memainkan arah kemudi. Dia bisa menghindari tembakan yang Rama dan A Raa arahkan ke mobil mereka. Sudah melewati penginapan, tapi Rama dan A Raa masih belum berhasil membuat ban mereka kempis. "Aah, Bryan. Ambil alih senjata," geram Alena. "Baik, Kak," Bryan segera mengambil senjata yang Rama dan A Raa pegang. Kemudian dia keluar jendela sebelah kiri, lalu dengan cepat berpindah ke sebelah kanan. Tanpa terdengar suara tembakan yang Bryan luncurkan, mobil ketua macan kumbang telah berhasil dilumpuhkan. Karena suara kecepatan mobil dan meliuknya jalanan, membuat mereka tidak bisa mendengar amunisi yang meluncur dari senjata Bryan. "Yes, berhasil Kak," seru Bryan, girang. Walaupun situasi sudah aman, tapi Alena tetap memacu mobil dengan kecepatan penuh. "Sudah, stop stop stop, Alena," pinta Sae. Jujur, dia yang seorang CEO tidak pernah menaiki mobil dengan kecepatan seperti itu. Asisten pribadinya selalu mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, karena semua waktunya sudah terjadwal dengan sangat detail dan rapih. "Aku pusing, bisakan nyetir mobilnya biasa saja," pintanya lagi. "Ah, Kakak payah. Masa kalah sama Bryan," ejeknya. "Maaf, Bryan. Kak Sae belum pernah naik mobil secepat ini," jawabnya. "Tau nih, kamu cepet banget sih bawa mobilnya. Rama aja kalah, aku sampai mau muntah, pusing nih kepala," timpal A Raa. Sama seperti Sae, dia juga belum pernah menaiki mobil secepat itu. Alena merasa sangat bersalah, dia hanya bisa menurunkan kecepatan menjadi sedang. Untunglah, mereka sudah sangat jauh dari desa dengan kelompok Macan kumbangnya. Satu hal yang membuat Sae dan A Raa heran adalah, ketepatan Bryan dalam menembus ban mobil ketua itu hanya dengan sekali tembak. Sangatlah mustahil jika dilakukan oleh seorang anak kecil biasa. Siapa Bryan sebenarnya? Mengapa dia bisa memiliki keahlian seperti itu? Sae, Rama dan A Raa sama-sama melihat ke arah Bryan. Anak kecil itu hanya memasang muka polosnya, sambil memakan camilan yang baru saja dibukanya. Alena menyadari keanehan yang Sae, Rama dan A Raa rasakan. Dia menatap Bryan dari balik kaca mobil, yang kebetulan Bryan juga sedang melihat ke arahnya. "Iya iya. Bryan jelasin," ucapnya tiba-tiba. Tatapan Alena seakan mengisyaratkan Bryan agar ia segera menceritakan yang sebenarnya. "Bryan itu bisa menembak karena sering latihan," jelasnya. "Latihan? Latihan apa? Militer?" Cetus A Raa. "Bukan, latihan menembak di game." Bryan kemudian tertawa setelah mengatakannya. "Astaga, anak ini," gumam A Raa. "Sebentar," ucap Alena memperlambat laju mobil. "Ada apa, Kak?" tanya Bryan. Entah desa keberapa yang mereka lewati, bukan seperti desa sebelumnya yang terlihat bersih dan sepi. Kali ini, nama desa yang terpampang jelas tertulis di sebuah papan. Gapura yang tinggi menampakkan perbatasan desa. Di sinilah tujuan mereka sebenarnya, Desa Ujung Wetan. "Kita sudah sampai?" tanya Rama. "Coba kamu lihat petanya, A Raa," titah Sae. "Kalau menurut peta sih benar ini tempatnya. Tapi kok aneh ya," seru A Raa. Apa yang terjadi di desa ini, mengapa di bagian gapura tersegel pintu masuknya. Mereka menutupinya dengan beberapa bambu, sedang di kanan jalan terdapat sungai yang entah sampai mana muaranya. "Lewat sebelah sini, Kak," ucap Bryan memberitahu para orang dewasa. "Emangnya ada jalan di sana?" tanya A Raa. "Kita tidak akan tau sebelum mencobanya," balas Alena. "Sudah, kita ikuti saja Bryan." Sahut Sae. Bryan mengambil jalur di sebelah kiri gapura. Benar, di sebelah sana memang ada sedikit jalan, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan setapak, mereka berhasil menemukan sebuah rumah yang pertama. Tok-tok-tok. Sae mengetuk pintu rumah itu. Selang beberapa menit, pintu pun terbuka. Tapi, sang pemilik rumah langsung menutupnya setelah melihat mereka. Sae dan yang lain terus berjalan maju ke depan. Ada beberapa rumah di sana, masih sama. Setelah mereka mengetuknya, sang pemilik rumah segera menutup kembali pintu saat melihat mereka. Sudah beberapa rumah, tapi hasilnya masih tetap sama. Harus ke mana mereka menanyakan tempat tumbuhnya tanaman Sikrus Hidup? Kalau semua orang yang dijumpai langsung menutup pintu, tanpa mendengar penjelasan dari mereka. "Apa yang terjadi di desa ini?" tanya Sae. Bryan berjalan-jalan di sekitar, tanpa sengaja dia melihat beberapa kaleng yang diikat menggunakan benang, mengelilingi rumah yang paling besar di antara yang lain. "Kak Lena," panggilnya. Alena dan yang lain memghampiri Bryan. Mereka juga turut bingung saat melihat semua kaleng yang digantung seperti kalung. "Untuk apa semua ini?" gumam Sae. "Apa mungkin untuk mengusir hantu bernama Zombie?" timpal A Raa. Klontang-klontang-klontang. Suara kaleng yang dihasilkan bersamaan, membuat bising seluruh desa. Semua penghuni rumah keluar setelah mendengar suara lonceng. Mereka mengerumuni rumah besar itu. Tidak tau apa yang mereka lakukan, hanya satu yang pasti, suara lonceng yang dihasilkan kaleng-kaleng tadi bergerak sendiri tanpa ada yang menyentuhnya. "Apa-apaan ini?" seru A Raa. Sae menariknya untuk segera mundur. Alena, Rama dan Bryan juga mengikuti Sae untuk menjauh dari kerumunan. Mereka pergi dari tempat itu, berjalan semakin jauh masuk ke dalam desa. Meski disebut sebagai desa terpencil, tapi penduduk desa itu sangatlah banyak. Rumah-rumah di dalamnya semakin padat. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Terdengar suara bapak-bapak dari kejauhan. Bryan mencari sumber suara tersebut. Dua rumah dari tempat mereka berdiri, ada satu rumah yang tampak sederhana sengaja membuka pintunya. Bryan menarik lengan Alena. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah itu begitu saja. Tanpa merasa curiga sedikit pun. "Maaf, kami masuk tanpa izin. Apa anda yang bertanya pada kami tadi?" tanya Sae setelah mereka semua masuk. Laki-laki itu berdiri membelakangi mereka, menghadap ke arah sebuah lukisan. "Silahkan duduk," ucapnya mempersilahkan. "Terima kasih, Pak," jawab Sae, Rama, A Raa dan Alena bersamaan. Saat laki-laki itu menghadap ke arah mereka. Sae melihatnya tampak tidak asing, dia seperti sudah pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi di mana? "Bapak-bapak itu, terlihat tidak asing," lirih A Raa. "Benar, aku rasa juga pernah melihatnya di suatu tempat," balas Rama berbisik. "Jadi, kalian juga merasakannya?" tanya Sae yang duduk di antara Rama dan A Raa. "Sae Ah Gu. Perkenalkan, nama saya Jae Sung," ucap bapak-bapak itu memperkenalkan diri. Dia tau namanya, siapa laki-laki ini? "Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya saya tidak asing dengan wajah bapak," balas Sae. "Belum, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi, mungkin saja kamu masih ingat satu foto yang ada di dalam komputer Prof. Han," ucapnya, semakin membuat penasaran. "Foto? Komputer Prof. Han?" ulang Sae.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Novelnya sangat bagus
06/06/2025
0bagus
30/04/2025
0mantap banget kak, alurnya bagus suka
28/04/2025
0Lihat Semua