Lala mengetuk pintu pondok Bu Erlin Ningsih. Dengan perasaan was-was serta ketakutan yang mendesir sekujur tubuhnya, Lala tetap menuruti perintah sang kepala asrama. Sahutan Bu Erlin terdengar dari dalam, tampaknya wanita itu masih sibuk di dalam pondoknya. Entah apa yang ia kerjakan. Kepulan asap tipis menerobos keluar dari celah jendela juga pintu. Bau khas dupa yang terbakar, menyeruak di sekitarnya. Lala yang tak sengaja menghirup hampir pusing dibuatnya, segera ia mundur, menjauh dari pondok Bu Erlin menuju ke tempat yang lebih netral. Setelah mengibas-ngibaskan udara di sekitar hidungnya. Lala kembali bernapas lega, namun gugup masih menghinggapi dirinya. Rasa ingin kabur hendak ia tunaikan, mengingat kekejaman serta kebengisan hingga tak mengerti akan arti peri kemanusiaan dari seorang Bu Erlin yang layak disebut psikopat. Lolongan anjing terdengar dari kejauhan, menambah suasana suram dan mencekam di tempat itu. Lala melangkah lagi untuk menuntaskan janji yang harus ia tepati dengan Bu Erlin. Lala terperangah, ia memukuli kepalanya karena baru teringat bahwa pinta Bu Erlin untuk menemuinya di balai utama asrama, bukan di pondoknya. Sesampainya di balai utama asrama, Bu Erlin masih belum menampakkan dirinya di sana, Lala mengelus dada dengan lega. Sebab, jika sebaliknya, maka dirinya akan kena semprot dan makian bertubi-tubi seperti pertama kali ia menempati asrama. Kala itu, Lala sedang becanda dengan beberapa temannya. Gelak tawa mereka membuat kepala asrama putri itu, habis kesabaran. Dicerca habis-habisan dan terkena hukuman berat seperti harus menyetorkan barang antik padanya dari berbagai daerah setiap mereka pulang ke kampung halaman selama tiga bulan berturut-turut. "Bangun!" teriak Bu Erlin seraya menggebrak meja dengan tangan dempalnya, hingga Lala tersentak dari rasa kantuk yang tak terelakkan. "M-maaf, Bu." Lala mengusap-usap matanya dan mulai fokus pada wanita tambun yang sedang memperbaiki posisi duduk di hadapannya. "Lala, kamu tahu kenapa kusuruh ke sini. Sebagai kepala asrama, juga membawahi para pengurus asrama sementara. Kamu harus mengikuti aturan di sini. Paham?!" "Saya tak habis pikir, remaja seperti kalian memang sangat berkeingin tahuan sangat tinggi. Maka dari itu, saya memberi batasan pada kalian untuk tidak ikut-ikutan mengungkap masalah yang terjadi di sini. Bila saya tahu, ternyata ada di antara kalian mencampuri urusan asrama terkhusus urusan saya, kalian akan tahu akibatnya!" Tegas Bu Erlin dengan mendelik hampir keluar saraf otot pada matanya. Herannya, setiap ia berorasi selalu membelalakkan mata seperti itu, ibarat akan memangsa umpan di depannya. "Jawab! Kamu ngerti nggak? Jangan diam aja!" bentak Bu Erlin. Napasnya menderu, seiring ia berteriak, semakin napasnya tersengal. Hal itu nampak pada dadanya yang naik turun, tak beraturan. Ancaman Bu Erlin, membingungkan Lala. Sebab, bila benar Bu Erlin telah mengetahui gerak gerik dari Geng Kapak selama ini, tentu tak mungkin ia memberikan ultimatum seperti itu. Apalagi pada Lala, yang jelas-jelas adalah ketua geng itu sendiri. Insomnia menyerang gadis manis itu, yang akhirnya menyeduh teh hangat untuk sekedar menenangkan pikirannya. Bau anyir mampir di indera penciumannya, hingga ingin muntah. Jelas seperti yang pernah dikatakan oleh Ardi, bila tercium aroma menyengat khas bangkai. Tak lain itulah perwujudan kaki tangan Bu Erlin, yaitu Kurnia, si hantu rambut panjang. Lala menaiki ranjangnya, dan memegang selimut kuat-kuat. Rasa takut menguasai dirinya. Lelembut jahat yang suka mendatangi orang yang tak disukai majikannya, bila orang tersebut lemah, Kurnia akan menyerap energinya. Tak ingin bila harus kalah menghadapi lelembut macam ini, Lala nekat menantang Kurnia. Benar, hantu itu takkan bisa menampakkan wujudnya di hadapan orang yang tak mempunyai mata batin yang terbuka macam Lala. "Aku tahu kamu Kurnia, 'kan? Sini kau! Perlihatkan wajahmu. Aku tak takut!" tantang Lala dengan membusungkan dada. Selang beberapa menit, tak ada satupun tanda-tanda dari perlawanan Kurnia, Lala pun akhirnya terlentang kembali dan terlelap karena kelelahan. * Tiba-tiba Ardi duduk di depan Lala, kala gadis itu sedang mengunyah makanan favoritnya di kantin. Tak berkata apa-apa, Ardi menatap lekat Lala. Sejatinya, Ardi yang mempunyai indera keenam plus, ia bisa merasakan hingga hampir dapat membaca pikiran orang yang difokuskannya itu. Ibarat Lala kali ini. Lala meminum es tehnya, lalu bertanya pada si lelaki aneh di hadapannya itu, "Kamu ngapain, sih, Ardi? Mau membacaku?" Muka Ardi seketika berubah, bagaimana mungkin gadis polos macam Lala mengetahui bila dirinya mampu membaca pikiran. Salah tingkah, Ardi lalu beranjak tak mengatakan apa pun pada Lala. "Huh, dasar aneh!" umpat Lala, yang kebetulan sedang makan siang sendirian. Teman se-gengnya masih terpisah satu sama lain oleh berbagai kegiatan belajar di sekolah. * "Goblog, kamu! Harusnya kamu bisa menyerap energi itu!" Erlin Ningsih memarahi kaki tangan setianya itu, ia merasa akhir-akhir ini arwah yang selalu diberinya makan dengan sesajen khusus, tak mengerjakan tugasnya dengan baik. "Borneo? Siapa itu?" tanya Erlin, setelah mendapatkan bisikan dari bayangan hitam di depannya, Kurnia. Si rambut panjang melesat jauh, setelah energi kuat datang menghampiri Erlin. Arwah ibu dan anak si Puteri menuntut kewajiban Erlin, setelah hadiah mustika awet muda yang diberikannya pada wanita itu. "Ampun, Puteri. Saya masih belum dapat korban berikutnya. Mohon, saya diberi tenggat waktu atau bisa saja ada bala bantuan dari Puteri untuk membantu saya." Arwah Puteri terkekeh. Namun, tampaknya mereka bukan menertawai hal lucu tapi kebodohan Erlin yang sebenarnya tak bisa berbuat apa-apa. Sebuah tombak jatuh dari jubah emas sang Puteri Anuwiryaningrat. Erlin memungutnya lalu bertanya,"Apa ini, Puteri?" Seonggok jantung yang berdetak jatuh dari langit-langit pondoknya. Erlin mendapati bisikan di telinganya untuk menusuk jantung itu dengan tombak yang dipegangnya. Mustika Lokawigna berkilau-kilau melayang di atas tangan roh Puteri. Dengan mantap hati setelah melihat mestika itu, Erlin Ningsih menancapkan tombak pada jantung itu. Sekejap darah muncrat dari jantung yang telah hancur itu. Sedangkan mestika itu jatuh ke tanah, roh duo Puteri sudah hilang ditelan malam. Erlin Ningsih girang bukan kepalang. Mestika itu kini dipakaikan pada boneka kuntilanak yang terpajang diantara dupa dan kembang tujuh rupa di lantai bawah tanah pondoknya. Kini, Kurnia menjadi lebih kuat. Ia dapat menyerap energi serta aura dari manusia. Perwujudannya yang biasa disertai bau anyir darah atau bangkai, serta wajah yang rusak dan belatung gemuk-gemuk disekujur tubuhnya, mulai detik ini akan berubah. Wangi kamboja serta wajah yang rupawan, dapat membuat dirinya semakin mudah menjerat manusia. Menjadikan sang majikan naik level dan semakin dekat oleh tujuan yang ingin di capai oleh arwah penasaran duo Puteri yang menaungi gedung Van de Burgh itu. Jin Borneo serta jin Nurdin memaksa Ardi untuk melakukan sesuatu. Karena mereka telah mengetahui rencana jahat Erlin serta kaki tangannya yang sudah naik level, yang berarti akan sulit dikalahkan oleh jin sekelas mereka. Hantu rambut panjang-Kurnia—mendatangi Ardi. Jin Borneo menghadangnya, terjadilah perkelahian sengit antara mereka berdua. Seiring berjalannya perselisihan itu, raga Ardi melemah. Hingga ia tak sadarkan diri di kamarnya. Di tempat lain, Erlin Ningsih yang tak pernah bersedih atas apa yang dilakukannya kini mendapatkan karma instan. Ia mendapati kabar dari kampung halamannya, bahwa suaminya telah meninggal tadi malam. Pas, disaat roh duo Puteri menghadiahkan mestika Lokawigna untuknya. Bersambung...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (166)
Dodi Cahyono Eko
ceritanya sangat bagus...jadi ingat anak yang lagi mondok di pesantren..dia tinggal di asrama yg menurut ceritanya ada hal2 berbau horor..
ceritanya sangat bagus...jadi ingat anak yang lagi mondok di pesantren..dia tinggal di asrama yg menurut ceritanya ada hal2 berbau horor..
31/08/2023
0saya sangat senang membaca apa lagiberbau horor
16/07/2025
0seru
25/05/2025
0Lihat Semua