Chapter 58

#Pov Laras
"Oh ya, Bang! Tadi Laura telepon, dia mau datang ke sini besok, rencana mau nikah Minggu depan," ucapku.
"Boleh, tapi kontrakan kita kan sempit, Dek! Apalagi kalau bawa suaminya nanti," jawabnya.
"Dia nggak nginap di sini katanya, dia mau nempatin rumah kita yang di Jakarta, boleh kan' Bang?" tanyaku.
"Boleh, kau atur saja Dek!
Mana si kembar, Abang mau nengok, sudah sebesar apa mereka sekarang." Bang Imron celingukan menatap ke arah kamar.
 
"Nampak lain kau sekarang ya, Dek!" Dengan seksama Bang Imron memperhatikan wajahku.
"Lain kayak mana, Bang?" tanyaku penasaran.
"Makin kusut saja kutengok! Mirip Huma yang dulu." Bang Imron memperhatikan wajah juga seluruh tubuhku.
"Gimana enggak kusut, Bang! Cape aku ngurus si kembar, cari kan dulu baby sitter buat mereka, Bang! Biar aku bisa ngurus diri sendiri lagi kayak dulu," ucapku penuh penekanan.
"Nanti Abang carikan! " jawabnya.
"Bang, kecil kali rumahnya, kita pindah ke rumah yang lebih besar lah Bang! Mau taro di mana nanti babysitter nya." Aku menatapnya penuh harap.
"Kita pikirkan nanti, Dek!"
"Sekarang abang lapar, apa ada makanan yang kau masak? " tanyanya.
"Mana sempat adek masak, Bang!Ngurus si kembar saja kewalahan. Kita pesan onlen saja ya Bang! " pintaku.
"Kelamaan, Dek! Abang maunya sekarang! Kau belikan saja dulu di kedai sebrang jalan itu." Bang Imron mengeluarkan dompetnya, kemudian mengambil uang berwarna biru.
"Uang segini mana cukuplah Bang!" ucapku.
"Kau cukup-cukupi, harus mulai berhemat kita, mungkin gaji Abang bulan ini dipotong, apalagi sudah ada si kembar, makin bengkak nanti pengeluaran." Bang Imron kembali memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya.
"Kak Saudah ke mana tadi Bang ?  Kok enggak nampak ya? " tanyaku.
"Lagi nyuci di belakang, apa kau tak' tengok tadi!" ucapnya.
"Aku enggak perhatikan, saking sibuknya ngobrol sama Abang, sudah lama kita t6ak jumpa ya Bang!" ucapku.
"Iya, Dek! Sudah lama ya? Abang jadi mau, sudah bersih Kau Dek? " Ia menatap mataku penuh arti.
"Sudah Bang! tapi Abang kan masih sakit, tunggu sembuh dulu lah! " jawabku.
"Sudah tak sabar aku." Bang Imron menggenggam jemariku.
"Aku pergi dulu ya Bang!" Aku melepaskan genggaman tangan bang Imron, kemudian beranjak pergi menuju ke luar untuk mencari makanan.
"Jangan lama-lama, Dek! Sikembar terbangun nanti," teriaknya.
"Iya, Bang " balasku.
# beberapa saat kemudian
"Apa Kau beli, Dek? Panggil dulu Kak Saudah, biar makan sama kita," ucapnya.
"Aku beli nasi uduk, sama beli lauk yang sudah jadi buat makan malam nanti," ujarku.
Aku beranjak ke belakang hendak memanggil Kak Saudah.
Terdengar kak Saudah sedang menyikat kamar mandi.
"Kak, dipanggil Bang Imron, kita makan dulu katanya," teriakku.
"Kau bantu dulu jemurkan baju-baju ini, kakak tanggung ini tinggal sikit lagi." Kak Saudah menyikat bak kamar mandi tanpa menoleh ke arahku.
Aku pun segera, membawa pakaian yang sudah dicuci untuk dijemur di halaman belakang rumah.
Kak Saudah telah selesai menyikat kamar mandi dan ia pun telah selesai mandi.
"Siap itu, kau buatkan dulu air panas buat minum susu si kembar dan aekalian buat air mandi mereka.
Aku hanya merengut menerima semua perintahnya, padahal aku sangat lapar dan ingin cepat makan.
Semenjak memiliki bayi, aku tak' sempat lagi memanjakan diri, tidur sepuasnya, bahkan untuk bersolek pun  tak' ada waktu.
Hari ini padahal aku sudah mandi sebelum Bang Imron datang tadi, niat hati mau bersolek, ada saja kerjaan yang harus kukerjakan, sehingga membuatku berkeringat kembali.
"Sambil masak air, kan' bisa sambil cuci piring daripada bengong gitu!" seru kak Saudah membuatku terkejut.
"Jangan samakan waktu belum punya anak sama setelah punya anak, kita harus gesit, kerjakan semua pekerjaan rumah selagi anak masih tidur," imbuhnya lagi.
Aku tak' menjawab apa-apa, percuma pun kalau menolak perintah dia, bisa-bisa mengadu dia nanti sama mamak mertuaku di sana. 
Dengan terpaksa aku menuruti semua perintahnya, segera aku mencuci piring yang sudah sangat bau itu, berkali kali aku menahan mual.
'Kapanlah, kak Saudah pergi dari sini, biar aku bisa bebas, tanpa perintahnya yang membuatku lelah.
"Piring yang sudah di cuci itu, coba kamu cuci ulang, biar benar benar bersih." Ia menaruh piring bekas makamnya dan makan Bang Imron, sementara aku masih harus mencuci piring padahal perut ini sudah perih minta diisi.
Akhirnya, selesai juga aku mencuci piring setelah berdiri cukup lama di depan wastafel.
Dengan langkah gontai aku menuju ke ruang tamu, hendak mengisi perutku yang sudah keroncongan sedari tadi.
Dengan lahap aku menghabiskan memakanku, Bang Imron terheran-heran melihat gaya makanku seperti itu.
"Pelan-pelan Dek! Tersedak kau nanti." Bang Imron memperhatikanku tanpa berkedip sedikit pun.
Aku sama sekali tak menanggapinya, aku tetap fokus pada makananku, sebelum si kembar  terbangun dari tidurnya.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Farel, kemudian di susul Fahrul, menjadi kontes nyanyian yang menakutkan bagiku.
Aku berusaha tak' mau mendengar tangisannya, namun irama itu seakan memanggilku untuk mendekatinya.
Aku masih sibuk dengan makananku yang tinggal setengahnya lagi.
"Dek! Apa kau pekak, diamkan dulu itu si kembar, kasihan!" seru Bang Imron membuatku tersedak. 
Aku mengambil air minum dan segera menghabiskannya.
"Tanggung, sikit' (sedikit) lagi ini Bang! Di kamar kan ada Kak Saudah, masa iya enggak dengar." Aku masih menikmati makananku, lelah aku dengan keadaaan. 
"Laras...!" teriak Kak Saudah.
"Buatkan susu si kembar, cepat...!" teriaknya lagi.
"Lagi ma,-" ucapku terpotong, Bang Imron menatapku tajam, aku pun tidak jadi untuk berkata-kata lagi.
"Cepat!" pinta Bang Imron.
Dengan malas aku pun segera bangkit dari dudukku, lalu melaksanakan semua perintahnya.
"Jangan lupa, siapkan air hangat tadi,  buat mandi si kembar," teriak Kak Saudah lagi.
Tak' terasa kedua netraku mulai berkaca-kaca, begini rupanya mengurus bayi kembar bersama keluarga suami yang banyak aturan.
Seandainya Laura yang di sini, aku bisa nyuruh-nyuruh dia, bukan aku yang di suruh-suruh seperti ini.
Aku menyerahkan dua buah botol susu yang telah kuisi penuh tak lupa menyiapkan air hangat untuk mandi mereka/ 
"Kau belajarlah memandikan si kembar, nanti kalau Kakak sudah pulang kampung, sudah pandai kau." Ia sibuk memandikan Fahrul, sementara aku membuka pakaian Farel.
"Coba tengok cara kakak mandikan Fahrul, kau langsung praktek mandikan Farel," pintanya.
Dengan ragu, aku pun mendekat lalu membasuh Farel dengan air, kemudian mencoba menyabuninya, lalu menyiramnya dengan hati-hati.
Bayi kembarku paling suka jika sedang di mandikan.
"Nah kan' bisa, kalau berani nyoba." Kak Saudah menyelimuti Fahrul dengan handuk kecil.
"Memangnya Kakak kapan mau pulang?" Aku mengeringkan tubuh kecil Farel dengan handuk.
"Tunggu Ali sembuh dulu. Kenapa, kau tak suka tengok ada kakak di sini ? " Ia menatapku tajam, aku segera mengalihkan pandangan.
"Ya enggaklah, Kak!" jawabku.
"Dek! Cepatlah sini! Bawa si kembar kemari, abang mau tengok!" teriak  Bang Imron dari ruang tamu.
Aku membawa Farel ke ruang tamu, sementara kak Saudah membawa Fahrul.
"Anak ayah sudah bangun, sini bobo dekat ayah." Ia memandang si kembar dari kejauhan.
"Gantengnya anak ayah!" Ia memperhatikan si kembar dengan seksama. 
"Mirip siapa kamu, Nak?"
Hatiku tersentak mendengar penuturannya
Next

Komentar Buku (584)

  • avatar
    Sry Syamsinar

    bgusss bngt

    26/05/2025

      0
  • avatar
    FerdiFirman

    Enjoy bgt

    25/05/2025

      0
  • avatar
    AbubakarSalisu

    Yes

    23/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru