Wahyu mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, sepanjang jalan ia memikirkan keselamatan calon istrinya, ia berharap agar kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Sesekali ia menoleh ke kaca spion, ia melihat Hadi dan Haikal mengikutinya dari belakang, sesekali Wahyu mengurangi kecepatannya ketika kedua orang itu, tidak terlihat mengikutinya lagi. Di tempat lain, Humaira masih terikat di kursi kayu, di dalam hati ia terus berdoa, agar Wahyu berhasil menyelamatkan dirinya.
Setelah menerima telepon dari Wahyu, Humaira menjadi lebih tenang, namun ia merasa heran, karena pria bermasker itu seperti mengenali Wahyu, dia juga mengetahui masalah penghibahan harta dari aki Juned, padahal baru kemarin malam berita itu diterimanya. "Calon istrinya Wahyu, cantik juga ya." Pria bermasker itu memandang Humaira lekat,ia hendak menyentuh wajah wanita itu, namun ia berhasil menghindar dengan segera memalingkan muka. "Mendingan kamu sama Aa' aja Neng geulis (cantik), nggak usah sama si Wahyu. Dia itu sudah duda, kalau Aa' masih singel," ucap pria bermasker seraya terkekeh. "Maaf, sebenarnya Anda ini siapa? Kenapa bisa tahu banyak hal tentang Aa' Wahyu. Apakah Anda ini musuhnya?" Humaira menatap pria bermasker itu sesaat, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Itu bukan urusanmu!" balas pria bermasker itu. Terdengar suara pintu dibuka diiringi derap langkah yang tergesa-gesa, sepersekian detik, anak buah pria bermasker datang menemuinya. "Lapor Bos! Target sudah datang!"ucapnya. "Pastikan, ia datang seorang diri, kalau tidak, langsung hajar dia! Aku akan membawa kabur gadis ini," balas pria bermasker seraya mengerlingkan netranya ke arah Humaira. Humaira terperangah mendengar ucapan pria itu, ia merasa ketakutan jika hal itu terjadi, namun ia merasa bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan Wahyu, ia sangat berharap semoga kekasihnya itu berhasil menyelamatkan dirinya. Ti .. tidak! Jangan sakiti kami!" ucap Humaira menghiba. "Mana Bos kalian!" teriak seseorang dari luar. "AA' Wahyu ... !" teriak Humaira, berlinang air matanya mendengar suara Wahyu dari luar. "Neng Huma... !" teriak Wahyu memanggil Humaira. Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka, Wahyu berlari ke arah Humaira, ia menatap kekasihnya itu dengan penuh kerinduan. "Aa'," ucap Humaira. "Neng! Baik-baik saja kan? Mereka nggak ngapa-ngapain, Neng?" tanya Wahyu, ia bergerak mendekat ke arah Humaira, mereka saling berpandangan. Terdengar suara tepuk tangan berulangkali, Humaira dan Wahyu terperanjat, mereka menatap pria bermasker yang memperhatikan mereka sedari tadi. "Luar biasa! Pertemuan kembali dengan kekasih, yang telah berpisah selama beberapa hari," ucap pria bermasker itu, kemudian bertepuk tangan kembali. "Baiklah, sudah cukup kangen-kangenannya," imbuhnya lagi. "Cepat! Lepaskan dia!"pekik Wahyu menatap tajam ke arah pria bermasker. "Tidak semudah itu, Wahyu! Ada satu syarat," ucapnya. "Apa syaratnya? Cepat katakan!"seru Wahyu. Pria, itu menepuk tangannya sekali, kemudian datanglah anak buahnya yang berjaket hitam membawakan map berwarna coklat berikut pulpen dan triplek kecil seukuran kertas folio, kemudian diserahkan kepada bosnya itu. "Cepat! Tandatangan di sini," perintahnya seraya menyodorkan berkas tadi ke arah Wahyu. Wahyu menerima berkas tadi, ia membacanya dengan seksama, kemudian ia memandang ke arah pria bermasker tadi, meneliti wajah pria itu, lalu berkata, "Apa mau kamu Yanuar?" "Baguslah! Akhirnya kamu mengenaliku, Wahyu." Yanuar lalu membuka maskernya. "Siapa dia, A'?" tanya Humaira. "Aku saudara sepupu calon suamimu, Cantik!" Yanuar mendekat, memegang dagu Humaira secara kasar, dan hendak mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu. Namun dengan cepat Wahyu menendang tubuh Yanuar, sehingga ia jatuh tersungkur ke arah samping menyentuh lantai. "Kurang ajar!" pekiknya. "Ternyata, kamu masih belum insyaf juga Yanuar, " hardik Wahyu. "Ceking! cepat hajar dia!" teriak Yanuar. Pria kurus yang dipanggil ceking pun segera maju hendak melayangkan pukulan terhadap Wahyu. Wahyu masih berdiri dengan santainya, ketika pukulan hendak mendarat, Wahyu bergeser, sehingga pria itu jatuh terhuyung menimpa Yanuar. Bruk ... ! "Aww ... !" pekik Yanuar kesakitan "Dasar bodoh!" hardik Yanuar. "Ma ... maaf Bos!" ucapnya terbata-bata. "Epul, Ervan! hajar dia! seru Yanuar Epul siap menendang Wahyu, namun dengan sigap Wahyu mengelak, Epul pun jatuh tersungkur. Ervan sekuat tenaga menerjang membabi buta, Epul mulai bangkit kembali dan menghajar Wahyu, namun dengan mudahnya Wahyu melumpuhkan mereka semua. Disaat sedang asyik bertarung, Yanuar mendekat ke arahku, kemudian mengeluarkan pisau lipat dan diarahkan pada leherku. "Aa'! tolongin Eneng!" Humaira berteriak, kedua netranya membulat, pandangannya menatap ke arah pisau yang berjarak beberapa centimeter dari lehernya, ia merasa sangat ketakutan. Wahyu segera menghentikan aksinya, kemudian ia menoleh ke arah Humaira. "Lepaskan dia!"teriak Wahyu. "Tandatangan dulu berkas itu, baru akan aku lepaskan!" "Baiklah, aku akan menandatangani, asalkan buka dulu ikatan tangan dan kakinya," ucap Wahyu kepada Yanuar. "Epul, Ervan! buka ikatannya" perintah Yanuar. "Ceking! berikan berkas tadi sama dia!" pinta Yanuar. Wahyu membaca berkas berulang kali, seakan sedang mengulur waktu, kemudian ia segera menandatanganinya. "Ayo, cepat! Lepaskan dia!" ucap Wahyu. Akhirnya, Yanuar melepaskan Humaira, ia pun segera berlari ke arah Wahyu. "Aa'!" Humaira memeluk Wahyu dengan erat, ini merupakan pelukan pertama kalinya terhadap kekasihnya itu. "Kal! Bersiaplah! Sekarang!" teriak Wahyu. Humaira menatap Wahyu dengan penuh tanda tanya, ia merasa heran karena kekasihnya itu berteriak memanggil Haikal. "Guobl*g!" teriak Yanuar. "Tandatangan palsu! Kejar mereka!" perintah Yanuar kepada anak buahnya. Wahyu dengan sigap menggendong Humaira, ia berlari membawa kekasihnya itu menjauh dari Yanuar dan anak buahnya. Seketika itu juga muncul Hadi, Togar dan juga Imron, sementara itu Haikal berjaga-jaga, beberapa orang bapak-bapak warga sekitar juga ikut serta membantu. "Aa', udah atuh! turunin Eneng, berat," ucap Humaira ketika mereka sudah berada sedikit menjauh dari komplotan Yanuar. "Nggak apa-apa atuh, Neng! Aa' kangen," balas Wahyu seraya tersenyum penuh arti. Mereka saling memandang, ada kerinduan yang terpancar di sana, perlahan Wahyu mendekatkan wajahnya, terasa hembusan hangat nafasnya menyapu sebagian wajah Humaira, ia semakin mendekatkan wajahnya sampai menempel di wajah kekasihnya itu, namun aksi mereka terhenti ketika mendengar suara teriakan. "Aaa ... !" teriak seseorang dari arah pertarungan. "Neng! Aa' tinggal nggak apa-apa? Itu kayaknya si Imron terluka, Aa' tolongin dia dulu ya, Sayang!" "Iya A', cepetan! kasian itu!" balas Humaira. Wahyu segera berlari ke tempat pertarungan, ia ikut membantu yang lain untuk melumpuhkan lawan. Humaira memandang pertarungan mereka dari kejauhan, ia merasa khawatir dengan keselamatan Wahyu dan yang lainnya. Aksi masih terus berlanjut, sampai akhirnya terdengar suara sirine mobil polisi menghampiri tempat kejadian. Beberapa orang polisi turun dari mobil, dan segera berlari ke tempat mereka bertarung. Yanuar yang sudah jatuh tersungkur, perlahan ia mengambil pisau lipatnya, Humaira yang melihat aksi itu segera berlari dan berteriak memberitahukan Wahyu. "Aa' awas!" Wahyu menoleh ke arah Yanuar, ia pun mencoba untuk menghindar, namun, pisau itu sedikit mengenai kaki Wahyu, sehingga ia pun terjatuh. Bersamaan dengan itu, polisi segera meringkus Yanuar dan teman-temannya, akhirnya mereka berhasil di lumpuhkan.
Next
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bgusss bngt
26/05/2025
0Enjoy bgt
25/05/2025
0Yes
23/05/2025
0Lihat Semua