Chapter 47

Maryam tidak bisa memilih karena tekanan energi kutukan warna hitam berada di kedua telapak tangannya. Puluhan ribu hantu mendobrak berkali-kali. Mulai berubah wujud menjadi sosok mayat hidup semacam zombie. Erangan yang tidak kunjung berhenti. Menggetarkan dua hantu seperti Karina maupun Maryam. Keringat dingin bercucuran membasahi pipinya.
“Kenapa banyak sekali ada hantu? Eike jadi takut!”
“Firman, Awan, ikuti Fadly. Ajeng, kuserahkan perisai padamu. Dan kau Aini, bantu si Ranti menggunakan teknik kerasukan. Jaga-jaga Maryam dan Karina membantu kita semua!”
“Tunggu sebentar! Gue belum menjawab dan lu asumsikan kita berdua membantu kalian? Apa lu gila apa?”
Gadis bernama Ruly mengikat rambutnya. Mengencangkan sarung tangan bersama Fadly. Para mahasiswa lainnya mengikuti perkataan kedua orang tersebut. Masing-masing mereka mengenakan sarung tangan dua warna.
“Bagaimana, Maryam? Keputusanmu?”
Wanita berpakaian warna merah menarik napas. Lalu dikeluarkan sembari mengepalkan kedua tangannya. Karina menelan ludahnya, menunggu keputusan Maryam. Wanita itu berlari mengarah ke Rianti. Ekspresi gadis yang di depannya kebingungan, menoleh pada Aini dan Aulia. Mereka berdua memejamkan kedua mata, memalingkan wajah masing-masing.
“Kalian tanggung jawab dong! Aku tidak mau dirasuki dua hantu secara bersamaan!”
“T-t-tenang saja! Kau pasti baik-baik saja.”
“Betul yang dikatakan Aulia. Nanti aku akan mengurutmu begitu selesai dirasuki,” kata Aulia mengiyakan perkataan Aini.
“Aku tidak mendengar dari kalian, dasar pembohong tengik!” umpat Rianti.
Karina melihat Maryam mulai merasuki tubuh Rianti. Aulia menahan tubuhnya, dibantu oleh Aini. Suara erangan dari mulut para hantu menggema di setiap lubang telinga. Aulia tidak berguna jika tidak memiliki darah atau cairan berbahaya. Tetapi setidaknya dia membantu Rianti untuk berpegangan. Aini sendiri menatap tajam pada sebuah lampu penerangan. Muncullah sebuah portal yang menghubungkan dunia roh dengan dunia manusia. Ternyata pelesit terbang melayang di udara. Menyemburkan cairan beracun pada mereka. Salah satu dari mereka menjerit. Maryam dan Karina memasuki rongga mulut hingga anggota tubuhnya. Energi kutukan warna hitam mengalir begitu terasa. Sirkulasi darah dan kutukannya berhasil berjalan dengan baik. Kedua telapak tangan dikepal tiga kali. Mengedipkan mata sambil mencium aroma hidung yang bau.
“Bau sekali!” keluh Karina yang merasuki tubuh Rianti.
“Berisik! Bisa tidak kau tidak perlu mengeluh? Tubuhku hanya bisa bertahan dari rasuk sebanyak lima menit. Lebih dari itu, kalian akan dipaksa keluar.”
Tanpa basa-basi, Rianti berlari sambil mengeluarkan sebuah pukulan tinju ke dinding dari Ajeng. Pukulan tersebut begitu terasa. Sampai mereka terpental ke belakang. Menjatuhkan para hantu. Helaan napas pendek dari mulut Rianti. Berterima kasih pada Maryam dan Karina atas bantuannya. Dia melancarkan serangan kedua. Kali ini pukulan bertubi-tubi dilakukan. Aulia hanya bisa melihat dari punggung Rianti, melirik sekitarnya. Takut ada para hantu dapat menyusup ke sana.
“Fadly! Bisakah kau membantu kami?” tanya Ruly.
“Tanpa kau mengatakannya, aku akan membantumu.”
Fadly menepuk kedua telapak tangannya, mengeluarkan kutukan energi warna abu-abu. Dua jari dimainkan, mengeluarkan kilatan petir dan energi kutukan warna hitam. Menyambar para hantu hingga tidak tersisa. Hantu lainnya terperangah manusia bisa menggunakan kekuatan tersebut. Kedua kaki Fadly yang sebelumnya melebar, kini dirapatkan. Kedua tangan saling bersentuhan. Mengeluarkan energi di atas kepala. Ajeng yang melihatnya, membatalkan pelindung tersebut. Mundur ke belakang menggandeng Aulia, Aini dan Rianti. Setelah itu, dilepaskan sebuah tembakan yang dahsyat, menghanguskan jembatan tersebut sampai menyisakan sisi sebelah kiri. Energi kutukan berwarna abu-abu telah merusak sebagian jembatan, menyisakan puing-puing lubang menganga. Tangan kanan Aulia mengangkat ke langit, meski telapaknya gemetaran. Ivan dan Awan merasakan ada yang aneh. Sebuah laser dari atas, mendaratkan ke jantung Awan. Tetapi Ivan melindungi laki-laki itu, terkena serangannya hingga tersungkur ke tanah. Matanya terbelalak disertai mulut menganga. Di sisi lain, Awan mengerang kesakitan. Terkena pergelangan kakinya. Mata dia melihat sosok Ivan yang sudah tidak bernyawa.
“Ivan!” teriak Awan.
Laser tersebut mulai muncul dan berbelok ke arah Awan. Ajeng pun melindungi Awan. Tetapi, malah mengenai bahu kanan dia. Ajeng berdecak kesal. Firman bergegas ke Awan, menggunakan ilusi paling terkuat, mengaburkan pandangan musuh dan menerangkan pandangan kawan.
“Benar-benar merepotkan!”
“Aku setuju. Tapi darimana asal munculnya?” teriak Aulia.
“Tidak tahu! Aku sulit memperkirakannya,” jawab Ruly terkejut.
Tangan kiri Ruly ditadahkan area sekitar. Suara getaran jembatan begitu terasa. Rianti sendiri mewaspadai pergerakan musuh yang menyerang secara tiba-tiba. Belum selesai reda pertarungan, tiba-tiba laser tersebut menyerang Ajeng. Tetapi dia menahan sekuat tenaga. Bahkan, kedua tangan menahan sekua tenaga. Energi kutukan warna putih mulai menguat. Meski demikian, dia sudah kehabisan napas.
“Sial! Kalau begini terus, kita dalam bahaya! Apa kau punya rencana cadangan, Ruly, Fadly?” tanya Ajeng meninggi.
Sayangnya, Ruly maupun Fadly belum memiliki ide soal misteriusnya sinar laser. Ajeng tidak memiliki pilihan kecuali bertahan sendirian. Meski harus mengorbankan dirinya, tetap saja itu bukanlah keinginan dia seorang. Ajeng Yakin, Sylia dan Aini akan mengerti.
~o0o~
Beberapa hari sebelum pertemuan. Tepatnya di kost Aini berjumlah sembilan kamar. Sandal yang ada di luar hanya menyisakan lima pasang. Lampu penerangan dikurangi lantaran beberapa daerah sudah dipadamkan, akibat demonstrasi yang tidak berkesudahan.
Di sebuah kamar, banyak sekali pakaian dalam yang tergeletak di lantai. Ada tiga pasang dekat kasur besar. Ketiga gadis bernama Aini, Sylia dan Ajeng sedang tidur bersama tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Selimut cukup dimuat untuk tiga orang. Mereka bertiga tidur dengan nyenyak setelah melakukan berhubungan badan. Dengkuran pelan dari mulut Ajeng. Merangkul kedua gadis yang dia cintai. Kipas angin berputar dengan kecepatan normal, serta lampu dikurangi peneranganya.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut, dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi tersebut perlu dilaksanakan secara tertib, damai dan konstitusional demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun demikian kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan Komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi. Dengan memperhatikan keadaan diatas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan Pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan Pernyataan ini, pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998. Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sampaikan dihadapan Saudara-saudara Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang juga adalah Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat yang juga adalah pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat, pagi ini pada kesempatan silaturahmi. Sesuai dengan pasal 8 Undang-Undang Dasar '45 maka Wakil Presiden Republik Indonesia yang Prof. Dr. Ing.B J. Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998–2003. Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin Negara dan Bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya. Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan Undang Dasar '45 nya.”
Tiba-tiba, Ajeng terbangun dari mimpinya. Mengecek tanggal dekat kaca. Anehnya, tanggal tersebut masih tanggal delapan belas Mei 1998. Keringat bercucuran di bagian keningnya.
###

Komentar Buku (43)

  • avatar
    BatrisyaNuha

    bagus

    12/03/2023

      0
  • avatar
    FitraAidil

    saya suka ceritanya

    07/02/2023

      0
  • avatar
    MailiniHema

    Mantap

    07/01/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru