logo text

bab8. Permintaan Riska

"Kamu juga lupa tadi?" tanya Riska tidak percaya.
Angga mengangguk. Membelai kepala Riska dengan penuh kasih sayang.
Mata Angga tanpa sengaja melihat jam di dinding yang sudah hampir jam delapan, Angga lalu mengajak Riska untuk bersiap turun kebawah.
Memikirkan, jika mereka berdua tadi sama-sama melupakan pernikahan mereka, membuat Angga terkekeh geli sendiri.
Riska menatap Angga dengan bingung. "Kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Riska.
Angga menggeleng sambil tersenyum. "Bukan apa-apa. Sana, kamu cuci muka, dan gosok gigi dulu! Mandinya nanti saja!" Angga mendorong pelan Riska, menuju kamar mandi.
"Kenapa nggak mandi saja sekalian sih Ga?" protes Riska.
"Udah sana! Aku juga belum cuci muka. Lihat! Sudah jam delapan lebih," ucap Angga sambil menunjuk jam di dinding.
Riska sontak langsung melihat jam di dinding. Memang benar, sudah jam delapan lebih.
"Kamu jangan sampai telat makan Ris. Ingat kan?" ucap Angga mengingatkan.
"Masa mau sarapan belum mandi sih Ga. Nggak banget deh," gerutu Riska.
"Lebih baik sarapan tanpa mandi kan, daripada nanti masuk rumah sakit lagi?" ucap Angga. "Udah sana cepetan!" lanjutnya sambil membuka pintu kamar mandi yang ada di kamarnya.
Sedangkan di bawah, para orangtua sudah selesai sarapan, dan sedang duduk santai di ruang keluarga. Angga dan Riska yang baru saja turun langsung menghampiri mereka di sana.
"Kalian sudah bangun," sapa Sofia yang melihat mereka akhirnya turun juga.
"Kalian sarapan dulu sana, pasti kalian lapar kan." Sofia langsung mendorong Angga dan Riska tanpa menunggu jawaban mereka.
"Belum juga ucapin selamat pagi, udah di dorong saja, disuruh sarapan," batin Riska.
Selesai sarapan, mereka ikut berkumpul dengan yang lain. "Papa." Riska langsung mendekati Papanya, dan mencium pipinya seperti biasanya.
"Pagi Pa." Melihat Riska yang menyapa dan mencium Papanya, secara tidak sadar, Angga merasa cemburu.
"Beda sekali perlakuannya padaku. Bahkan, tadi pagi sapaannya mendorongku hingga jatuh ke lantai," pikir Angga.
"Sayang, masa cuma Papamu saja yang disapa, kita nggak disapa juga?" Sofia merasa iri, karena tidak pernah sekalipun Angga bersikap manis, seperti yang dilakukan Riska sekarang.
"Selamat pagi Kakek, Om dan Tante," sapa Riska sambil tersenyum.
"Lho, kok panggilnya masih Om dan Tante sih. Papa dan Mama dong sayang, kan kamu sekarang sudah jadi menantu Mama."
Riska terdiam sebentar. "Maaf Ma, Riska masih belum terbiasa," jawab Riska malu-malu.
"Tidak apa-apa, mulai sekarang panggilnya Mama dan Papa ya. Sini dong Ka, cium Mama juga." Sofia meminta ciuman selamat pagi pada menantunya.
Sofia dulu ingin sekali memiliki anak perempuan. Tapi tuhan hanya memberikan kepercayaan padanya untuk merawat satu anak saja.
Sofia ingin memiliki anak perempuan juga, yang manis seperti Riska. Tapi tidak disangkanya, ternyata malah mendapatkan Riska sebagai menantunya.
"Pagi Ma." Riska mendekat dan mencium pipi Sofia.
"Duduk sini Ka," ucap Sofia sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Riska menurut, dan duduk di sebelah mertuanya. Angga yang melihatnya, merasa iri, mungkin karena dia merasa, sapaan Riska padanya berbeda dengan yang dilakukan Riska pada orangtuanya.
"Oh ya Ga, kapan kalian akan bulan madu?" tanya Kakek.
Angga dan Riska kaget dengan pertanyaan Kakek. "Belum kepikiran Kek," jawab Angga mencoba untuk tetap tenang.
"Lho, memangnya ada apa? Bukankah sebaiknya kalian segera bulan madu?" Sofia bertanya heran.
"Itu Ma, Riska masih ada kerjaan sampai minggu depan," jawab Riska asal. Niatnya ingin menghindari pembahasan tentang bulan madu.
"Kenapa tidak kamu cancel saja Ka?" tanya Sofia.
"Tidak bisa Ma. Itu sudah mundur satu minggu dari jadwal yang seharusnya Ma."
"Iya Ma, Angga juga masih ada pekerjaan yang harus segera Angga selesaikan. Nanti setelah pekerjaan kita selesai, Angga pasti akan bulan madu sama Riska. Iya kan sayang," kata Angga tersenyum manis.
"Untung saja mulutku ini manis. Jadi bisa memberikan alasan yang bagus untuk mereka," batin Riska.
*
Hari demi hari berlalu begitu saja. Kehidupan Angga dan Riska terbilang lancar tanpa hambatan.
Mereka kini tengah mendekatkan diri mereka, agar bisa lebih cepat untuk saling mencintai. Keinginan yang kuat untuk memperjuangkan pernikahan mereka, serta kedua keluarga yang sangat menyayangi mereka. Mungkin itu juga lah yang menjadi sebab, alasan mereka menjalani hari-hari dengan bahagia.
Tidak banyak perbedaan dalam hidup mereka setelah menikah. Mereka masih sangat saling menjaga. Kemana-mana selalu bertiga dengan Fajar. Namun, frekuensinya lebih sering bersama Angga. Mungkin yang membedakan, mereka tinggal satu rumah, dan tidur satu ranjang setiap malam.
"Ga, ya! Ya! Boleh ya!" bujuk Riska dengan manja dan sedikit memaksa. Sudah menjadi kebiasaan Riska sedari dulu, ketika menginginkan sesuatu, Riska pasti akan merengek manja, pada siapa yang diinginkannya. Keluarga mereka juga memanjakan Riska, yang notabennya adalah, satu-satunya anak gadis di antara mereka.
"Nggak boleh!" jawab Angga tegas.
"Masa masih nggak boleh sih. Kan daripada kamu nganterin aku setiap hari, bolak-balik, pasti kamu capek kan? Lebih baik aku naik mobil sendiri. Ya," rayu Riska."Sekali tidak, tetap tidak Riska Anindita!"
Riska memberengut. "Jahat!" Riska memalingkan wajahnya dari Angga.
Angga menghela nafas. Jika sudah begini, Angga harus segera membujuknya, agar masalah tidak merembet kemana-mana.
"Ris, sini! Dengerin aku ngomong dulu." Angga mencoba menarik wajah Riska agar menghadapnya.
Riska yang masih ngambek, tidak mau menatap Angga. Riska merasa kesal, karena masih tidak diizinkan juga untuk mengendarai mobil sendiri.
"Riska, madep sini! Suamimu mau bicara." Angga memaksa Riska agar mau menatapnya.
"Kamu mau menyetir sendiri?" tanya Angga lembut. Angga memegang wajah Riska yang masih cemberut.
"Iya, kan aku juga mau naik mobil sendiri. Nggak kemana-mana mesti di supirin terus," jawab Riska jutek.
Angga menghela nafas. "Kamu tahu, kenapa kamu tidak diizinkan menyetir?" Angga menatap langsung ke mata Riska.
Riska mengangguk ragu. Walaupun Riska sadar, mengapa dia tidak diperbolehkan menyetir sendiri. Namun, keinginannya untuk bisa mengendarai mobil sendiri sangatlah kuat.
"Terus kenapa masih ingin menyetir sendiri?"
"Aku kan juga pengen kayak kalian, yang kemana-mana nggak perlu nungguin yang antar. Aku juga pengen bisa langsung pergi, tidak perlu nunggu Papa, atau salah satu diantara kalian yang ada waktu, baru bisa pergi." Riska menangis karena kesal dengan dirinya sendiri.
Melihat Riska menangis, Angga sungguh tidak tega. Angga kemudian langsung memeluknya dan menenangkannya.

Komentar Buku (170)

  • avatar
    SusantiSusi

    bagusss 🥰

    29/04

      0
  • avatar
    Keluarga KR

    Bagus bgt

    07/08/2025

      0
  • avatar
    hanungsabina

    bagusss

    13/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru