Risty Lagi

"Angga!" Teriak seorang wanita.
Merasa namanya dipanggil, Angga lalu menoleh ke belakang, dan mencari siapa yang sudah memanggilnya.
"Disini!" Teriak wanita itu sambil berlari kecil dan menyeret kopernya menghampiri Angga.
"Kamu …." Angga benar-benar tidak bisa berkata-kata saat melihat wanita itu.
"Mau apa kamu disini?" tanya Angga dingin.
"Kamu kok gitu sih! Aku nebeng kamu ya, sampai rumah!" ucap Risty tanpa tahu malu.
Ya, wanita yang memanggil Angga tadi adalah Risty. Wanita yang tidak tahu malu, yang selalu mengejar-ngejar Angga.
"Memangnya kamu siapa, sampai aku harus membiarkanmu ikut denganku?" tanya Angga sarkastik.
Dari dulu Angga sungguh tidak menyukai perangai Risty yang bertingkah tidak tahu malu di depannya.
Untuk sekarang, Angga masih bisa menahannya. Bagaimanapun, mereka sudah dewasa, bukan lagi anak remaja.
"Jahat banget sih! Aku kan kesini memang mah nyusulin kamu," jawab Risty dengan penuh percaya diri.
Dimas sampai melongo, mendengar jawaban Risty yang penuh percaya diri itu.
"Benar-benar kebetulan ya, kita bertemu di bandara. Kamu baru pulang dari mana?" tanya Risty mencoba mendekati Angga.
"Menjauh dariku! Jangan berani-beraninya kamu mendekatiku, jika tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali."
Angga yang tadinya sudah merasa sangat bahagia karena dia akan segera bertemu dengan Riska. Kini berubah menjadi kesal, karena dia malah bertemu dengan salah satu wanita yang tidak tahu malu.
Reflek Risty langsung berhenti untuk mendekati Angga. Walaupun kelihatannya Risty selalu penuh dengan percaya diri. Tapi jujur saja, ada kalanya Risty merasa takut jika mengingat kejadian yang lalu.
Kejadian dimana, Angga menampar dan mempermalukannya habis-habisan di hadapan banyak orang.
Itu adalah hal paling buruk yang ingin Risty lupakan dari ingatannya.
Dimas masih melihat ke arah Angga dan Risty secara bergantian. Dimas tidak mengenal wanita yang terlihat sok akrab dengan Angga itu.
Ingin bertanya, tapi Dimas sadar jika tidak mungkin Dimas menanyakan Risty secara terang-terangan.
Angga tersenyum sinis saat melihat Risty yang langsung berhenti mendekatinya, begitu Angga mengancamnya. Lalu Angga segera berbalik dan pergi dari sana.
Melihat Angga yang berbalik badan dan berjalan menjauhi wanita itu, Dimas lalu buru-buru menyusul Angga.
Risty menatap nanar kepergian Angga.
"Kamu sama sekali tidak berubah. Apakah aku benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk mendapatkanmu? Tidak apa-apa jika aku menjadi yang kedua. Tidak bisakah kamu melirikku?" gumam Risty.
Risty kemudian merubah raut wajahnya, agar terlihat selalu percaya diri.
"Masih ada kesempatan di lain waktu," ucap Risty penuh dengan keyakinan.
Angga bersungut-sungut kesal saat sudah naik ke dalam mobil.
Doni yang kebingungan, ingin sekali menanyakan kepada Dimas, apa yang terjadi kepada Angga. Tapi tidak mungkin Doni menanyakan langsung di depan Angga, itu sangat tidak sopan.
Sedangkan Dimas, dia hanya bisa diam dan mendengarkan gerutuan Angga yang tiada habisnya.
"Ingin menyela, tapi Angga adalah Bosnya," batin Dimas.
"Langsung ke rumahnya Angga, Don!" perintah Dimas kepada Doni.
"Ok!" jawab Doni sambil sesekali melirik Angga yang terlihat jelas sangat kesal.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Angga, Dimas dan Doni harus rela telinganya mendengar gerutuan dan makian yang keluar dari mulut Angga.
Tidak jarang Angga yang sudah terlanjur kesal, melampiaskan kekesalannya kepada Dimas atau Doni.
Sebagai bawahan Angga, mereka juga hanya bisa menerimanya, tanpa bisa memprotesnya.
"Angga! Bukannya aku mau ganggu kamu yang lagi marah-marah. Tapi sekarang kita sudah sampai di depan rumahmu," ucap Dimas.
Angga menoleh ke sekelilingnya. Benar saja, jika mereka sudah sampai di dekat kediaman Hermawan. Tepatnya mereka berhenti lima meter dari jarak kediaman Hermawan.
Dimas juga masih waras, tidak mungkin dia meminta Doni untuk memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang, saat keadaan Angga sedang kesal. Bisa habis dia kena omel Angga.
"Kenapa baru bilang!" protes Angga.
"Netralkan dulu raut wajahmu itu. Jangan sampai Riska nanti malah kabur saat melihatmu," ucap Dimas.
Dimas tidak bermaksud apa-apa dengan mengatakan hal itu. Dimas hanya iseng karena dari tadi Angga tidak berhenti mengomel. Apalagi memang benar, raut wajah Angga yang sedang kesal, memang sedikit menakutkan.
Angga tidak menjawab ucapan Dimas, tapi Angga menuruti ucapan Dimas untuk mengubah raut wajahnya.
Masa iya, Angga yang sudah rindu berat dengan Riska, tapi tidak bisa memeluknya saat pulang, hanya gara-gara raut wajahnya yang terlihat sangat kesal. Angga mana rela.
"Kalian langsung pulang saja!" ucap Angga tanpa perasaan.
Setelah Angga keluar dari mobil, Doni bertanya kepada Dimas. "Apa yang terjadi dengan Pak Angga? Tidak biasanya Pak Angga kesal seperti itu."
Dimas melirik Doni sebentar. "Kamu belum pernah kan melihat Angga yang sedang kesal, atau marah kan? Jangan sampai deh, kamu melihatnya," balas Dimas.
Bukannya Dimas ingin menakut-nakuti Doni, tapi memang seperti itulah kenyataannya.
"Memangnya seseram apa kalau Pak Angga sedang kesal atau marah, Dim?"
"Lebih serem Angga dari pada setan," balas Dimas asal.
"Masa sih?" Doni masih meragukan jawaban Dimas.
"Sudah, ayo pulang! Aku mau istirahat. Capek banget ini," ucap Dimas.
Doni pun akhirnya melajukan mobil perusahaan, menjauh dari kediaman Angga.
Sedangkan Angga. Dia berjalan dari mobil menuju ke gerbang rumahnya. Satpam yang sedang berjaga, sangat terkejut begitu dia melihat Angga yang sudah berada di depan gerbang.
Setahu Satpam itu, saat ini Angga masih berada di kota B. Jadi wajar saja jika Satpam itu terkejut saat melihat kedatangan Angga secara tiba-tiba.
"Den Angga! Aden sudah pulang! Kenapa tidak minta dijemput Mang Kus saja, Den?" tanya Satpam itu sambil membukakan gerbang.
"Tadi sudah di jemput orang kantor, Pak Narto," jawab Angga.
Nama Satpam tadi adalah Pak Narto, yang berumur tiga puluh lima tahun.
"Angga masuk dulu ya, Pak!" pamit Angga.
Angga sudah kembali merasa bahagia, sejak tadi Angga diingatkan Dimas jika mereka sudah sampai di kediaman Hermawan. Angga langsung membuang wajah kesalnya, sejak bertemu Risty di bandara.
Tanpa berkata-kata, Angga langsung masuk begitu saja ke dalam rumah.
Saat melewati ruang keluarga, Angga sama sekali tidak melihat siapapun.
"Kemana semua orang! Bukankah Riska sudah pulang dari rumah sakit? Kenapa mereka tidak berada di rumah?" tanya Angga pada dirinya sendiri.
Angga yang tidak melihat siapapun, seketika langsung menjadi panik. Angga takut jika Riska ternyata masih belum pulang dari rumah sakit.
"Apa Mama membohongiku, kalau Riska sudah pulang dari rumah sakit, supaya aku tidak khawatir."
Angga bahkan tidak kepikiran untuk mengecek ke tempat yang lain. Pikiran negatif langsung menghampiri Angga, begitu dia tidak melihat siapapun berada di ruang keluarga.
Angga sudah mau berlari keluar dari rumah, untuk pergi ke rumah sakit. Tapi langkahnya langsung terhenti begitu dia mendengar suara Kakek yang memanggilnya.
"Angga! Kamu mau kemana lagi?" tanya Kakek yang kebetulan keluar dari kamarnya dan melihat Angga yang hendak pergi lagi.
"Riska, Kek …."
*****

Komentar Buku (170)

  • avatar
    SusantiSusi

    bagusss 🥰

    29/04

      0
  • avatar
    Keluarga KR

    Bagus bgt

    07/08/2025

      0
  • avatar
    hanungsabina

    bagusss

    13/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru