logo text

Kegelisahan Randy

Setelah pembicaraannya dengan Randy tadi, Fajar menjadi sadar, jika dirinya ternyata tidak cukup percaya dengan kedua sahabatnya.
Jika dia mempercayai kedua sahabatnya, mereka pasti tidak akan menikah dengan paksa seperti itu.
"Tapi itu juga tidak bisa dibilang salahku! Salahkan keadaan yang sangat mendukung waktu itu," gumam Fajar. "Benar! Itu salahnya keadaan yang saat itu seakan membuktikan jika mereka memang benar-benar sudah melakukan hal diluar batas," lanjutnya.
Fajar mondar-mandir di dalam kamarnya. Jauh di dalam hatinya, dia merasa bersalah dan bingung dengan kenyataan yang baru saja didapatkannya.
"Sekarang harus bagaimana?"
Fajar kembali teringat dengan tatapan memohon kedua sahabatnya saat mereka dipaksa menikah dengan Kakek dan juga Rosyad.
Dia juga bisa merasakan, bagaimana mereka berdua begitu tertekan saat itu. Tapi jika melihat mereka sekarang. Fajar bergidik ngeri saat mengingat bagaimana kelakuan mereka sekarang yang tidak tahu malu itu.
"Apa aku harus bilang sama Kakek?" Fajar berpikir mungkin sebaiknya dia memberitahukan masalah ini kepada Kakek, Rosyad, Rahmat ataupun Sofia.
"Tapi gimana kalau aku bilang, nanti malah akan jadi masalah buat mereka berdua."
Fajar bisa melihat bagaimana mereka berdua sekarang. Takutnya, jika masalah ini kembali diungkit, malah akan membuat masalah baru untuk mereka.
"Sebaiknya aku diam saja!" ucap Fajar pada akhirnya. "Arghh! Tapi aku penasaran!" Fajar mengacak-acak rambutnya.
Fajar kemudian berbaring di ranjang, dengan tangannya dijadikan bantal.
Pikiran Fajar masih tidak bisa tenang sekarang. Dia memikirkan masa-masa kecil mereka yang penuh dengan kebahagiaan.
Setiap salah satu dari mereka bersedih, maka yang lain akan menghiburnya. Mereka tidak akan membiarkan kesedihan menghalangi mereka.
Walaupun pertengkaran juga sering kali terjadi. Apalagi jika masalahnya hanyalah masalah sepele. Fajar tersenyum geli saat mengingatnya.
"Yang penting sekarang kalian sudah bahagia! Bagaimana dengan kemarin yang merupakan kesalahan atau bukan, itu sudah tidak penting lagi."
Berbeda dengan Fajar, Randy kini tengah ketakutan.
Setelah obrolannya tadi dengan Fajar, dia menjadi sangat yakin dengan alasan, kenapa Angga dan Riska memperlakukannya dengan buruk terakhir kali.
"Habislah sudah! Jika apa yang aku pikirkan ini benar. Mereka pasti sangat murka padaku," ucap Randy dengan hati gelisah.
Randy merasa takut bukan karena alasan. Diantara mereka bertiga, sebenarnya Riska lah yang paling kejam menurut Randy.
Karena saat Riska sedang jengkel dengan seseorang, dia tidak perlu turun tangan untuk memberi pelajaran kepada orang yang sudah membuatnya jengkel itu.
Riska cukup mengadu sambil menangis ke hadapan Angga atau Fajar, maka mereka berdua pasti akan membalas orang yang sudah membuat Riska kesal.
Randy sendiri sudah sering kali mengalaminya dulu. "Kacau! Kacau! Ini benar-benar kacau! Apa mungkin Kakek, Om dan Tante tahu?," gumam Randy mondar-mandir.
"Tidak mungkin mereka tahu! Jika mereka tahu, aku sudah pasti habis di tangan mereka," ucap Randy menganalisa.
"Saat ini, selain mereka berdua, hanya aku dan Fajar yang tahu. Aku harus memastikan kejadian ini tidak bocor. Kalau tidak, habis sudah."
Randy berpikir dengan keras, dan dia hanya bisa memikirkan untuk menyembunyikan kejadian sesungguhnya dibalik pernikahan Angga dan Riska.
"Aku harus hubungi Fajar sekarang!" Randy mencari-cari ponselnya yang entah dia taruh dimana.
"Dimana sih ponselnya! Kenapa pas dibutuhin malah ngumpet," ucap Randy mulai kesal.
Sebenarnya salah Randy sendiri yang lupa menaruh ponselnya dimana. Dia mengacak-acak ranjangnya, hingga menjadi berantakan.
Walaupun begitu, dia masih saja belum menemukan ponselnya dimana.
"Sial! Dimana sih ponselku!" umpat Randy.
Randy menyumpah serapahi ponselnya yang tidak bersalah. Padahal, ponselnya dia taruh di saku jaket yang dipakainya tadi.
Setelah tadi sampai di rumah Kakek, Randy langsung masuk ke kamar yang biasa ditempatinya jika dia menginap disana.
Sesampainya di kamar, Randy yang pikirannya sedang kacau, gara-gara mengetahui kebenaran dibalik pernikahan Angga dan Riska, menjadi tidak fokus.
Jaketnya langsung dia lepas dan dia lempar ke sofa yang berada dalam kamarnya.
Randy memukul mukul bantal karena belum juga menemukan ponselnya.
Tepat saat Randy akan meledak, dia mendengar nada dering dari ponselnya. Dia lalu menoleh untuk mencari dari mana asalnya.
Dia mengikuti suara dering ponselnya yang ternyata berada di sofa. Dengan hati gembira karena sudah menemukan ponselnya, Randy bahkan sampai loncat ke sofa.
"Kamu di sini ternyata!" Randy mengambil ponselnya di saku jaketnya, yang masih berdering.
Randy melihat nama kontak yang menelponnya sekarang.
"Fajar! Ngapain dia telepon aku?" Randy mengernyit bingung. Namun seketika, pikirannya langsung menjadi semrawut begitu mengingat, jika ini mungkin saja ada sangkut pautnya dengan masalah Angga dan Riska.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Randy begitu mengangkat telepon dari Fajar.
Randy menunggu jawaban dari Fajar dengan perasaan was-was. Takut jika sampai jawaban Fajar tidak sesuai dengan keinginannya, yang ingin menyembunyikan fakta dibalik pernikahan Angga dan Riska.
"Aku sepertinya ingin mengatakannya pada Kakek," jawab Fajar di seberang sana.
"Tidak boleh!" teriak Randy panik.
Fajar bahkan sampai harus menjauhkan ponselnya saat Randy berteriak.
"Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin bertanya kepada Kakek dan mengetahui apa yang dipikirkannya," jawab Fajar juga berteriak.
Sadar jika tadi dia sudah berteriak kepada Fajar, Randy lalu menurunkan kembali intonasinya. "Bukan begitu. Hanya saja, jika kamu bilang ke Kakek, pokoknya jangan! Bukankah yang terpenting sekarang Angga dan Riska sudah bahagia," jawab Randy yang kebingungan.
Fajar merenung, memang benar, yang terpenting itu sekarang Angga dan Riska bahagia. Tapi dia juga tidak bisa menghentikan rasa penasarannya dengan rekasi Kakek setelah mengetahuinya.
Kenapa Fajar tidak ingin mengatakannya kepada Rosyad di awal. Itu karena, Fajar sadar, sangat sadar malah, jika dia secara tidak langsung juga mengatakan, jika Angga dan Riska sudah tidur bersama.
Jika dia mengatakannya langsung kepada Rosyad, itu artinya dia cari mati.
Fajar bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana marahnya Rosyad jika sampai mengetahuinya.
"Aku hanya ingin tahu saja, akan reaksi Kakek saat mengetahui yang sebenarnya," jawab Fajar.
"Pokoknya tidak boleh! Bagaimana jika Kakek merasa bersalah, kemudian menyuruh mereka untuk berpisah. Padahal mereka sekarang sudah bahagia," ucap Randy.
Alasan itu terucap begitu saja dari bibir Randy. Dia sangat takut akan amukan Kakek dan juga On serta Tante, jika mereka mengetahui yang sebenarnya.
"Bukankah asal mereka sekarang bahagia, yang lain tidaklah penting!" Randy kembali mencoba membujuk Fajar, agar dia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Kakek.
Fajar terdiam sebentar. Randy tahu Fajar sekarang tengah berpikir, jadi dia melanjutkan ucapannya.
"Mereka sekarang sudah bahagia, bahkan mereka kini tengah berbulan madu. Mereka juga sangat saling mencintai, kalau aku lihat."
"Ucapanmu memang benar! Tapi aku-"
"Pokoknya jangan mengatakan apapun yang dapat membuat hubungan Angga dan Riska menjadi retak!" Randy memotong ucapan Fajar yang belum selesai.
*

Komentar Buku (170)

  • avatar
    SusantiSusi

    bagusss 🥰

    29/04

      0
  • avatar
    Keluarga KR

    Bagus bgt

    07/08/2025

      0
  • avatar
    hanungsabina

    bagusss

    13/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru