Beranda/CEO Mengejar Cinta Adik Mafia/
Bab 24 Kamu sudah gila Rio
Bab 24
Kamu sudah gila Rio
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam Rio dan Andra dipindahkan ke ruang rawat inap, kondisi keduanya seakan membaik membuat Andi, menatap senang! Rio yang terlebih dahulu bangun menatap tubuh Andra yang masih belum sadarkan diri dan melihat ke arah Andi yang menyandarkan badannya di sofa ruangan itu.
Apakah kak Andi terluka juga" batin Rio yang melihat Andi seakan memejamkan matanya dengan kondisi badan yang mendapat perawatan juga.
"Setidaknya Kikan, tidak kehilangan saudaranya lagi. Aku tidak ingin Kikan sedih jika sesuatu terjadi pada kedua kakaknya! Apa kamu baik-baik saja Kin" masih batin Rio yang menatap Andra dan Andi.
Tanpa memperdulikan diri dan keselamatannya sendiri, seolah nyawanya tiada berarti. Melibatkan dirinya dalam masalah lagi mengingat jika dia juga berhasil melukai Thomas. Akan membuat hidupnya dalam bahaya, karena Thomas merupakan orang yang sangat kejam.
"Jika terjadi sesuatu denganmu kak! Kikan pasti akan sangat sedih, aku tidak ingin dia kehilangan orang yang dia cintai lagi!" batin Rio menatap ke arah Andra lagi.
"Apa kamu sudah sadar Toni! Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kamu tidak cepat datang menolongku! Terima kasih Toni" ucap Andi menatap ke arah Toni yang baru sadar itu.
"Iya kak." balas Toni seakan lesu menatap Andi, yang tengah menyandarkan dirinya di sofa ruang inap itu.
"Mengenai permintaanmu yang tadi tentang menikahi Kikan, aku setuju Toni!" ucap Andi.
"Apa kak! Kakak mengijinkan aku menikah dengan Kikan?"
Seakan tidak percaya Toni yang seakan bahagia itu menatap Andi, dengan rasa bahagia, dia memancarkan senyum bahagia lewat wajahnya yang tampan, membuat Andi seakan membalas senyum bahagia Toni, ini yang aku tunggu sedari dulu kak terima kasih kak" batin Rio
"Apa yang sedang terjadi disini! Kenapa kamu tersenyum bahagia Toni" tanya dokter Eka.
"Eh dok! Aku ingin menikahkan Toni dengan Kikan" balas Andi terhadap dokter Eka.
"Oh iya! Itu memang ide yang bagus jodoh memang tidak lari kemana! Seperti yang kalian rencanakan dulu!" ucap dokter Eka, tanpa sadar membuat Andi menatap ke arah dokter Eka.
Melihat dokter Eka yang hampir terlepas omongannya, membuat Rio menatap dongkol ke arah dokter Eka sementara Andi seolah ingin bertanya terhadap dokter Eka.
"Aku harap kamu jangan membuka penyamaranku dok" batin Rio yang menatap rasa kesal terhadap dokter Eka, yang dibalas dengan tatapan senyuman dari dokter Eka, membuat perasaan Rio seakan berdebar kencang. Aku tidak bisa membayangkan jika penyamaranku terbongkar! Semua akan sia-sia mereka akan mengusirku! Dan Kikan akan membenciku" batin Rio menunjukkan tatapan ketakutan ke arah dokter Eka.
"Apa maksudmu dok?" tanya Andi seakan dokter Eka menyembunyikan sesuatu.
"Iya jodoh! Toni bercerita denganku jika dia mencintai Kikan dan meminta pendapatku dan akhirnya seperti ini, selamat ya Toni" balas dokter Eka yang mencari alasan.
"Ooh. Aku pikir kamu menyimpan sesuatu dariku! Apa Andra masih lama sadar? Aku tidak ingin Kikan, datang dan sedih melihat Andra yang belum sadarkan diri" tanya Andi
"Apa kamu menyuruh Kikan, kesini?" tanya dokter Eka.
"Iya Eka." balas Andi.
"Apa kamu baik-baik saja Toni?" tanya dokter Eka yang berjalan ke arah Toni itu
menatap Toni seakan takut jika penyamarannya di bongkar oleh dokter Eka.
"Andi, apa boleh kamu meninggalkan aku sebentar disini? Aku ingin mengobati Toni!" pinta dokter Eka terhadap Andi.
"Kenapa aku harus keluar Dok?" Tanya Andi.
"Keluar lah sebentar!" pinta dokter Eka, terhadap Andi.
Rio menatap Andi yang mulai meninggalkan ruangan inap itu, melihat dokter Eka yang duduk di sebelah Rio seolah interogasi akan dimulai, dokter Eka memilih duduk disebelah Toni, yang masih terlentang di atas kasur rumah sakit itu.
"Ada apa Dok?" tanya Rio yang menatap aneh ke arah Rio.
"Apa kamu ingin bersandiwara juga di hadapanku!" tanya dokter Eka.
"Maaf dok! Aku serius mencintai Kikan"
"Bukan itu Rio!" ucap dokter Eka, menatap rasa kuatir ke arah Rio.
"Aku mencintainya dok! Apa itu tidak cukup menjadi alasanku! Aku tidak memiliki semangat hidup setelah kak Andri, meninggal aku bertemu Kikan! Aku jatuh cinta dengannya dok?" ucap Rio tanpa sengaja terdengar oleh Andra, yang baru sadarkan diri.
"Andri! Siapa kamu sebenarnya Toni?" tanya Andra yang baru sadar itu.
"Andra? Bukan apa-apa Andra! Ini Toni, aku suruh dia jangan pulang dulu tapi dia seperti keras kepala" ucap dokter Eka
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" ucap Andra seakan penasaran.
"Tidak kak, aku tidak mengenali dokter Eka! Dia saja yang merasa sok kenal denganku kak" bales Rio Yang menyembunyikan kebenaran.
"Iya kamu betul" seakan kesal dokter Eka, memutar bola matanya ke arah Rio, mereka mulai bersandiwara takut jika penyamaran Rio terbongkar
"Bagaimana keadaanmu Andra?" tanya dokter Eka.
Andara yang baru tersadar itu menatap ke arah Rio dan dokter Eka, dengan rasa penasaran mendengar omongan keduanya. " Apa mereka saling mengenal" batin Andra yang masih menatap keduanya.
"Iya dok! Apa kamu baik-baik juga Toni" tanya Andra kepada Toni.
"Iya kak" balas Toni
"Syukurlah, terima kasih telah menolongku, jika kamu tidak cepat datang mungkin aku akan menyusul Ando!" balas Andra
"Jangan ngomong seperti itu kak! Aku tidak ingin Kikan sedih, jika dia kehilangan kakaknya!" balas Toni yang masih menatap Andra.
Melihat keduanya dokter Eka hanya bisa menatap! Seakan sulit untuk memisahkan Kikan dan Rio, tapi jika Andi tahu akan kebenarannya entah apa yang akan terjadi terhadap Rio! Masihkah Rio ingin mendapatkan Kikan. Melihat Andi bukan sosok yang mudah memaafkan orang.
"Aku rasa kalian sudah membaik aku ingin keluar dulu dan kamu Toni, jangan berpikiran keluar dulu, nanti si Andri kawanmu itu aku yang carikan!" ucap dokter Eka.
Menatap dokter Eka yang berjalan keluar pintu dengan meninggalkan kata-kata, membuat Andra seakan tidak menaruh curiga lagi terhadap Rio. Beruntung dokter Eka sosok yang pengertian ingin rasanya aku cepat bertemu dengan keponakanku" batin Rio dalam hatinya.
"Apa kamu sudah sadar Andra?" tanya Andi merasa senang menatap arah adiknya itu.
"Iya kak, dimana Kikan?" tanya Andra
"Bentar lagi dia sampai, aku sudah menyuruh dokter Eka! Menunggunya di luar." balas Andi
Andi dan Andra seolah bercerita tentang penyebab kejadian yang terjadi malam itu, kejadian bentrokan besar terjadi, sepertinya mereka suruhan Thomas yang
balas dendam atas kematian adiknya.
Jika bukan karena Rio mungkin Andi Juga akan mengalami nasib yang sama seperti yang dialami Andra.
"Terimakasih Toni" masih ucap Andi mengenang akan apa yang terjadi malam itu, yang dibalas dengan senyuman di wajah Rio, menatap rasa senang ke arah keduanya.
"Apa aku boleh mengetahui tentang keluargamu Toni! Sebelum kamu aku nikahkan dengan Kikan?" tanya Andi yang membuat Andra seakan kaget mendengar omongan yang diucapkan sang kakak.
"Keluargaku sudah tidak ada kak! Aku sebatang kara kak" balas Toni.
"Setidaknya cerita sedikit tentang kehidupanmu!"
Mendengar kata-kata Andi membuat Toni seolah mulai berpikir panjang mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Andi, hal yang tidak pernah terlintas di benak Rio jika dia mengungkapkan jati dirinya yang ada mereka akan membenci Rio.
"Aku harus berkata apa?" batin Rio yang masih menatap Andi dan Andra yang menunggu jawaban Rio.
"Aku hanya …." ucap Toni yang terhenti karena menatap ke arah pintu Kikan datang bersama dokter Eka.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya dokter Eka.
"Kak Andra" pekik Kikan. Berlari menangis ke arah sang kakak, memeluk kakaknya yang tengah terbaring di kasur rumah sakit itu.
"Kakak tidak apa-apa dek!" jawab Andra yang mengayunkan tangannya ke arah rambat Kikan.
"Haa, haaaa. aaa ….aku tidak mau kakak kenapa-kenapa? balas Kikan.
"Andra, baik-baik saja Kikan! Sudah jangan menangis biarkan dia istirahat!" ucap Andi terharu melihat ke arah sang adik.
Di Ruang inap rumah sakit itu! Rio menatap Kikan, yang sedang bersedih menatap sang kakak membuat hati Rio, merasa lega bisa menyelamatkan Andra. Membuat Kikan, tidak kehilangan kakaknya. "Apa Kikan tidak mengkhawatirkanku juga" batin Rio yang menatap Kikan seolah tidak menyapanya.
"Kak Andi, baik-baik saja kan?" tanya Kikan terhadap Andi.
Kikan memutar-mutarkan badan Andi ke belakang melihat beberapa bekas luka yang tengah di perban.
"Kakak baik-baik saja Kikan!" jawab Andi, yang melihat Kikan. Seakan berlebihan
"Apa kamu tidak bertanya kabar Toni! Yang telah menyelamatkan kedua kakakmu? singgung dokter Eka.
"Ah …. Toni, kamu baik-baik saja kan Toni. Terimakasih telah menyelamatkan kakakku!" gumam Kikan.
Rio membalas pertanyaan Kikan dengan senyum bahagia, akhirnya sang pujaan hati menyapa dirinya juga! Setelah dari tadi Rio berharap diperhatikan oleh Kikan membuat dokter Eka dengan yang lain tersenyum ke arah Rio.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (191)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
okkk
22/08
0sangat bagus
13/06
0sangat bgs ceritanya
16/04
0Lihat Semua