logo text

Season 2 - Story Sagara dan Naira - Bab 6

"Jadi pacar Kakak ya?"
Jna menatap Naira, dan gadis itu membalas tatapan Juna. Dia dapat melihat kesungguhan dan ketulusan di mata pemuda itu.
Namun Naira tak bisa bersama Juna, tak ada rasa cinta sedikitpun untuk pria itu. Naira akui Juna memang berbeda, dia begitu pengertian dan peka dengan semua tentang Naira. tidak seperti Gara. Andai saja Naira mencintai Juna. Pasti dia akan bahagia.
Tapi sekali lagi perasaan tak bisa di paksa kan? Tetaplah seorang Naira hanya Gara bukan Juna.
"Gue cinta sama lo. Gue tahu lo suka sama Gara. Tapi gue yang lebih bisa ngertiin lo, Nai. di bandingkan dengan Gara, dia cuma cowok payah yang gak pernah peka sama perasaan lo."
Jujur apa yang Juna ucapkan tulus dari dalam hati. Namun, Naira tidak suka dengan kata-kata terakhir pemuda itu. apa dia bilang Kak Gara nya payah.
Plakkk!
"Kak Juna nggak berhak bilang kayak gitu tentang Kak Gara." Naira kini terlihat marah.
"Hm, iya maaf. Gue cuma nggak pengen aja lo sedih gara-gara mereka."
"Kak, aku pusing," gumam Naira.
Arjuna yang berdiri di sisi Naira, memegang tubuh Naira yang sudah ambruk tak sadarkan diri. Gadis itu pingsan.
"Naira! Sadar, Nai! Jangan bikin gue khawatir kaya gini." Tanpa pikir panjang, Juna pun langsung menggendong tubuh Naira dan membawanya ke rumah sakit.
"Lo harus bertahan, Nai. Lo harus bisa sembuh."
*****
"Kak Juna."
Arjuna tersenyum lega saat melihat Naira perlahan membuka matanya, pemuda berkulit putih itu mengelus lembut pipi Naira.
"Kamu udah sadar? Ada yang sakit nggak, atau masih pusing? Aku panggilin dokter ya?" Tanyanya dengan penuh kelembutan.
"Aku nggak papa Kak, makasih udah bawa aku ke rumah sakit." Naira kembali tersenyum.
Juna mengangguk, memang sunghuh cantik gadis ini. Mengapa Gara mengabaikan gadis ini begitu saja, mengapa ia tak berjuang untuk mencari kebenaran tentang perasaan gadis ini.
"Kok ngelamun, Kak?"
"Eh. Eng-enggak kok, nggak ngelamun.  Oh ya tadi Dokter bilang, kamu jangan banyak pikiran, terus harus kesehatan. Kamu inget kan kalau penyakit kamu itu nggak boleh terlalu capek." Pemuda itu memang tulus memberi perhatian pada Naira. Namun sayangnya cinta gadis itu sudah terlanjur untuk Gara seorang.
"Aku mau pulang Kak Jun," Pinta Naira.
"Boleh, tapi jalannya pelan-pelan ya. Aku bantu kamu jalan,"
Naira mengalihkan pandangannya saat ponsel di dalam tas nya berbunyi. Dengan tenaga yang masih belum sepenuh nya pulih, gadis itu meraih ponselnya. Dan langsung menerima panggilan dari Gara.
"Halo. Kak Gara,"
"Kamu di mana, Nai? Aku cariin kamu tau nggak dari tadi. kenapa malah bolos sekolah? terus sekarang kamu sama siapa?" Tanya Gara diseberang sana.
"Aku lagi sama Kak Juna. Kak  lagi jalan-jalan. Habisnya bosen belajar terus." Naira berbohong pada Gara.
"Kok nggak bilang sama aku? Harusnya kamu perginya sama aku, bukan sama si kutu kupret itu!" terdengar nada kesal dari Gara. Saat mendengar Naira tengah jalan-jalan bersama Juna.
"Maaf kak, tadi kan Kakak juga lagi sibuk sama Kirana. Aku cuma nggak mau ganggu aja kok."
"Kata siapa bakalan ganggu. Inget ya, Nai, kamu itu nomor satu buat aku. Sepenting-pentingnya Kirana lebih penting kamu. Besok jangan kayak gitu lagi ya!"
Naira tersenyum saat mendengar ucapan Gara. Sikap Gara yang seperti inilah yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali kepada laki-laki itu.
"Iya kak." Naira bisa apa, selain meng iya kan apa yang Gara ucapkan.
"Kamu di mana sekarang? Biar aku Jemput."
"Nggak usah kak. Aku udah mau pulang kok bareng Kak Juna."
"Tapi kan ka-"
"Udah dulu ya Kak, Bye."
Naira pun memutus sambungan ponselnya. Juna yang berdiri di samping gadis itu hanya bisa tersenyum kecut. Jujur dia cemburu.
"Kak, aku pingsan nya lama ya?" Tanya Naira. Tangannya masih di genggam erat oleh Juna.
"Iya lumayan, Nai. Kamu harus inget kesehatan ginjal kamu, kamu  nggak boleh capek apalagi banyak fikiran."
Naira hanya mengangguk lalu gadis itu pun tersenyum. Juna sangat suka saat Naira tersenyum, karena senyuman yang seakan tanpa beban, namun mengandung banyak luka di balik senyuman itu.
*****
Sesampainya di rumah Naira langsung memasuki kamarnya, karena ingin langsung beristirahat.
"Kok kamu bohongin Kakak, Nai?"
"Ka-kak Gara. Kok kakak ada di sini?" Tanya Naira yang terkejut saat melihat Gara duduk di ranjangnya.
"Kenapa harus bohong, jawab!"
"Maksudnya kak Gara apa? Aku nggak ngerti?"
"Kamu suka ya, bikin aku cemas sama keadaan kamu? Kamu sakit kan? Tapi kenapa kamu gak bilang apa-apa sama aku?" Cerca Gara. Dengan pandangan matanya yang tak lepas dari Naira.
Gadis itu kini hanya bisa menunduk, dia bingung harus menjawab apa
"Kata nya jalan-jalan. Tapi ternyata ke rumah sakit. Kamu udah nggak sayang lagi sama, Kakak?" Tanya Pemuda itu lagi.
"Maaf, Kak," gumam Naira pelan.
"Aku khawatir tau nggak, kamu nggak pernah mengerti perasaan aku."
"Sama Kakak juga, mana pernah mau peka sama perasaan aku." Batin Naira.
"Jangan lagi ya kayak gini, aku nggak bisa lihat kamu sakit, Nai." Gara pun langsung  memeluk Naira.
"Apa masih sakit?" Tanya Gara. Dengan lembut.
Naira hanya menggeleng, dia tidak ingin membuat Gara semakin khawatir.
"Maafin aku? Aku cuma nggak mau Kakak khawatir," gumam Naira. Gara pun membelai rambut Naira yang terurai.
"Kalau kamu nggak ngasih kabar kayak tadi. Justru itu bikin aku sangat khawatir. Aku juga nggak suka kamu terlalu deket sama Juna, kesannya aku kayak nggak ada gunanya buat kamu," Jelas Gara. Dengan pelan.
Mulut Naira hendak dibuka untuk menjawab semua pernyataan Gara. Namun, Gara sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Nai, kamu harus inget. kamu itu cuma milik aku! Kamu gak boleh deket sama cowok lain selain aku, kamu pahamkan!"
Naira mengangguk lalu dia memejamkan matanya, mencoba memahami apa yang baru saja Gara ucapkan.
"Maaf tadi aku malah sibuk sama Kirana. Sampai lupain kamu," gumam Gara yang merasa bersalah.
"Udah nggak usah di bahas lagi kak. Sekarang aku mau istirahat dulu."
"Ya udah kamu tidur aja. Kakak mau ngacak-ngacak dapur dulu ya." Gara pun menuju ke dapur setelah menyelimuti Maira yang kini sudah berbaring di ranjangnya.
Beberapa menit kemudian. Gara pun kembali dari dapur, dia membawa satu mangkok bubur dan juga satu mangkok berisi mi instan tak lupa dengan air putih.
"Nih, aku buatin bubur buat kamu. makannya yang halus-halus dulu ya biar enggak kaget perutnya,"
"Kok encer gini sih Kak. ini beneran bubur?" Tanya Naira. Menatap geli makanan yang berada dihadapannya.
"Yang penting kan rasanya. Kamu kan tahu aku nggak pandai memasak."
Gara menyantap perlahan mie kuah pedas yang baru saja ia buat, sedangkan Naira dengan terpaksa memakan bubur encer tak jelas bentuknya itu.
"Huekkk."
"Nai, kamu kenapa? Kamu hamil ya? Kok muntah-muntah kayak gitu. Tapi aku kan belum apa-apain kamu lho, tapi kok bisa sih?" Tanya Gara. Tangannya terulur untuk memijat tengkuk Naira.
"Apaan sih kak. Jangan ngawur deh! Siapa juga yang hamil. Aku muntah soalnya bubur yang Kakak bikin nggak enak keasinan, ini bubur rasa garam atau garam rasa bubur. Aku nggak suka," Ucap Naira. Dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
Sedangkan Gara hanya tertawa melihat gadis itu, dia terlihat lucu dan menggemaskan saat ngomel-ngomel seperti itu.
"Kak, aku mau Kakak di sini aja nemenin aku."
"Ya udah iya, aku temenin kamu." balas Gara.
"Kak, pinjem ponselnya boleh?" Tanya Naira. lalu membuka telapak tangannya di depan Gara. Meminta ponsel pemuda itu.
"Buat apa, Nai?" Tanya Gara. Yang langsung merogoh ponsel di saku celananya. dan memberikannya kepada Naira.
"Pengen lihat-lihat isi ponsel Kakak apa aja."
"Oh, jadi kamu mau kepoin ponsel Kakak ya?" Goda Gara sembari tangannya merangkul bahu Naira.
Naira hanya mengangguk. Dia sudah tenggelam dengan dunianya sendiri jika sudah bersama ponsel Gara. Gadis itu suka sekali mengobrak abrik isi ponsel dan isi hati pemiliknya.
"Kak, mau kemana?" Tanya Naira. Saat melihat Gara beranjak dari tempat tidurnya.
"Nggak kemana-mana, cuma mau ambil minum sama camilan aja."
"Ya udah, Sekalian ya."
Gara pun mengangguk lalu dia menuju dapur untuk mengambil minum dan camilan.
Senyum kecil Naira terbit dari bibir merahnya saat melihat isi galeri foto Gara. Yang penuh akan foto-fotonya dengan berbagai pose. Entah mengapa, pemuda itu pandai membuat hati Naira berbunga-bunga hanya dengan hal sesederhana itu.
"Kak Gara kebiasaan suka diam-diam motoin aku," Ucapnya dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya.
Namun, tiba-tiba senyuman itu luntur  saat dia beberapa foto Karina di ponsel Gara. Walaupun tak sebanyak foto-foto dirinya, namun tetap saja Naira merasa tak rela. Ibarat sudah melayang ke angkasa, lalu di jatuh kan ke dasar jurang yang dalam. Rasanya sangat sakit.
Bersambung

Komentar Buku (319)

  • avatar
    DITAPUSPAADYTIA

    suka sih cuman thour ning kesel ajah sama si septian yg suka godain cewek dan rada plinplan. dan selebih nya bagus menarik dan lumayan heppy👍 gak kasih 5 b tapi saya akan lihat cerita yang lain dan tunggu ranting saya di cerita lain punya ning 😁

    20/08/2022

      0
  • avatar
    Fina_Fey

    keren banget ceritanya seru 🥰🥰

    15/05/2022

      0
  • avatar
    Krisma Diyanti

    Jihan dan Septian seperti dalam kehidupan gue deh. kalau ketemu seperti tom&Jerry gak pernah akur sampai-sampai teman aku bilang bisa gak kalian akur satu hari aja . tapi percaya deh teman seperti itu selalu ada saat kita duka maupun bahagia . saat kita perlukan die selalu ada buat kita ya emang sih kerjaan setiap hari ribut kek tom & Jerry 😁. tapi di balik itu mereka pengen juga punya teman kek gitu susah cari 😁 sampai- sampai teman aku sekelas Kami nih pacaran karna Setiap hari barengan

    25/01/2022

      2
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru