logo text

Bab 33 Ibu Mertua dan Brondong

Status Whatsapp Ibu Mertua
POV Author
Bab 33
“Jangan keras kepala, Yank! Makan yang lain aja, ya. Nanti Mas beliin,” seru Lukman yang baru saja masuk ke dalam kamar, ia sempat mendengar perbincangan antara istrinya dan Jumi sebelum masuk.
“Aku pengennya mie, Mas!” balas Kanaya dengan kekeh.
“Oke, kamu boleh makan mie tapi Mas yang akan bikin sendiri mienya,” ujar Lukman akhirnya hingga membuat wanita yang tengah hamil muda itu bersorak gembira.
Kanaya dengan senang hati menunggu suaminya yang kini tengah membersihkan diri, sambil menunggu Kanaya berseluncur di sosial media mencari sesuatu yang bisa menghiburnya. Ia juga membuka beberapa website yang berisi mengenai ilmu tentang kehamilan. Jemari lentiknya mengelus pelan perut yang masih rata, senyum mengembang di wajahnya yang terlihat semakin memancarkan aura.
Kanaya ingin waktu cepat berlalu, ia sungguh tidak sabar ingin melihat malaikat kecil yang tumbuh di rahimnya. Ia kini beralih mencari nama-nama yang cocok untuk bayi yang belum bisa diketahui jenis kelaminnya itu. Tentu saja Kanaya menyiapkan beberapa nama untuk bayi laki-laki dan bayi permepuan.
“Kamu udah nggak sabar ya buat lihat baby?” Suara Lukman membuat Kanaya terlonjak kaget, sampai ponsel di tangan wanita itu hampir lepas, karena terlalu asyik dengan ponselnya ia bahkan tidak menyadari Lukman kini berdiri di samping ranjang.
“Kamu bikin kaget aja, Mas!” gerutu Kanaya dengan wajah yang merengut kesal.
“Tunggu di sini, ya. Mas mau masak dulu,” seru Lukman.
Kanaya menolak, ia ingin melihat suaminya itu memasak ia juga sudah sangat bosan terus berada di dalam kamar. Lukman terlihat menghela nafas pasrah, ia langsung membopong tubuh istrinya itu hingga membuat Kanaya meronta. Lukman mengancam tidak akan membuatkan makanan yang diinginkan wanita itu jika Kanaya tidak mengikuti apa yang dikatakan oleh Lukman.
Akhirnya Kanaya pasrah, ia mempererat pegangan tangannya di leher Lukman karena takut terjatuh saat lelaki itu menuruni tangga. Orang lain mungkin menagnggapnya berlebihan tapi inilah bentuk perhatian dan rasa cinta seorang suami pada istrinya.
Jumi yang melihat majikannya itu kini tersenyum dan menggoda mereka membuat wajah Kanaya kini merona karena malu, Lukman hanya mengedikkan bahunya membalas Jumi dan kini menurunkan Kanaya agar bisa duduk di kursi ruang makan.
“Loh … kok kamu ngeluarin bahan-bahan itu, Mas? Aku ‘kan pengen makan mie,” gerutu Kanaya saat melihat Lukman menyisapkan bahan-bahan di atas meja.
“Udah, kamu duduk manis aja. Mas akan membuat makanan sehat buat kamu, dijamin enaknya melebihi mie instan yang kamu idamkan itu,” ungkap Lukman.
Kanaya hanya mengangguk kecil dan menunggu sang suami yang sedang mengeksekusi semua bahan hingga nanti akan menjadi santapan yang sangat lezat. Kanaya tahu apapun yang dimasak oleh suaminya itu pasti enak, Lukman adalah lelaki yang pintar masak hanya saja ia jarang berada di dapur.
Satu jam menunggu akhirnya karya tangan dingin Lukman kini tersaji di hadapan sang istri. Kanaya sudah terlihat menelan ludahnya saat mencium bau harum dari makanan itu. Lukman tersenyum puas karena ia melihat sang istri kini sudah menyantap mie yang dibuatnya sendiri yang jelas lebih aman daripada mengkonsumsi mie instan.
Hanya butuh waktu lima menit mangkok berisi mie buatan rumahan itu kini sudah habis hanya menyisakan kuahnya saja. Lukman bersyukur karena istrinya itu tidak rewel dan kekeh ingin makan mie instan, Lukman hanya tidak ingin jika Kanaya memakan makanan yanag tidak sehat bagi dirinya sendiri dan janin dalam kandungannya.
“Mau tambah lagi?” tanya Lukman.
“Nggak, aku udah kenyang banget. Mienya enak banget, makasih ya, Mas,” puji Kanaya dengan senyumnya yang tulus.
“Masak apa sih? Kok baunya sampe kecium ke pintu depan?” seru Lana yang baru saja pulang, ia duduk di sebelah Kanaya.
“Mas masak mie buat Mbak kamu tadi, itu masih ada. Kamu makan aja,” balas Lukman.
Tanpa menjawab Lana langsung mengambil panci berisi mie di atas kompor dan membawanya ke meja untuk langsung disantapnya. Lukman dan Kanaya yang melihat hanya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Lana, terlihat jelas jika ia sangat kelaparan. Mungkin ia tidak sempat makan siang saat di kantor hingga mie itu habis bahkan sebelum lima menit.
“Kamu laper apa doyan?” ledek Kanaya sambil menahan tawa.
“Dua duanya, Mbak,” balas Lana.
Bersamaan dengan Lana yang bangkit dari kursi, bel rumah berbunyi nyaring. Jumi langsung berjalan cepat untuk membukakan pintu sedangkan Lukman dan Kanaya masih duduk di meja makan, Lukman kini disibukkan dengan buah mangga yang dikupasnya.
Suara samar-samar yang kini terdengar membuat pasangan suami istri itu berpandangan. Sedangkan Lana yang baru kembali setelah mengambil air minum langsung berjalan menuju ruang tamu. Suara teriakan Lana membuat Lukman dan Kanaya langsung menghampiri.
Dua orang yang kini berdiri di hadapan mereka terlihat santai, berbeda dengan wajah sang penghuni rumah yang sangat terkejut melihat tamu tak diundang yang datang. Bahkan tanpa diminta pun dua orang itu duduk dengan santainya di sofa.
“Jumi, ambilin minum!” titahnya pada Jumi yang berdiri mematung.
“Jum, tolong buatin minum buat tamu kita!” seru Lukman yang kini membuat Jumi tersadar dari lamunannya.
Lukman menuntun Kanaya untuk ikut duduk dengannya, sedangkan Lana masih berdiri dengan tatapan mata yang tajam menusuk. Ia terlihat tidak suka dengan kedatangan mereka.
“Kalau bukan karena uang ganti rugi itu mungkin rumah kamu nggak berbentuk,” tuturnya, netra wanita itu menyapu ke seluruh penjuru rumah yang memang sudah kembali seperti semula sebelum kebakaran itu terjadi.
“Ibu salah, uang itu masih ada. Kebetulan Ibu datang, aku akan kembalikan uang itu. Aku nggak mau nerima uang yang nggak jelas asal usulnya,” jelas Lukman.
“Asal kamu tahu, ya. Uang itu dari Davin, yang sekarang sudah jadi Ayah sambung kamu.”
Mata mereka terbelalak mendengar apa yang dikatakan Husna, padangan mereka kini tertuju pada lelaki yang bernama Davin itu. Lelaki yang usianya sudah jelas beda jauh dengan Husna bahkan terlihat jika usianya sama dengan Lukman. Lana yang paling tidak bisa menerima ini langsung menumpahkan amarahnya pada sang ibu, Lukman mencoba menenangkan Lana dan meminta Kanaya untuk masuk ke dalam kamar. Jumi membawa Kanaya ke dalam kamar tamu, mengikuti intruksi dari Lukman.
Lukman tidak ingin jika Kanaya mendengar perkataan yang tidak pantas, itu akan beresiko membuat wanita itu memiliki beban pikiran yang akan mengganggu kesehatannya. Lukman meminta waktu untuk berbicara hanya empat mata dengan sang ibu, meninggalkan Davin yang duduk santai sambil menyesap minuman yang dibawa oleh Jumi.
“Bu, sebenarnya aku dan Lana itu anak Ibu atau bukan?” tanya Lukman yang membuat Hasna kini malah tertawa.
Bersambung ….

Komentar Buku (116)

  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    24/09/2025

      0
  • avatar
    MuhioloWiwin

    bagus aplikasinya

    09/09/2025

      0
  • avatar
    Ifra Bunga

    wihhhh novel ini bagus sekalai

    08/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru