logo text

Bab 100 Rencana Liburan

Terimakasih untuk support kalian para pembaca setiaku yang udah mampir baca cerbung ini
Sebaiknya jangan lupa follow, like dan komen untuk meramaikan. Kasih ulasan bintang lima sebagai penyemangat untuk nulis ya, Kak.
Subscribe biar dapat notifikasi dan gak ketinggalan kelanjutannya yang makin seru!
Kalian bisa baca juga cerbungku yang lain semoga suka.
***
Status WhatsApp Ibu Mertua
POV Author
"Pak, yang tadi itu istrinya Pak Lukman?" tanya Sandra penasaran.
"Iya, kenapa? Kamu denger ya, jangan sampai kamu bikin onar di sini apalagi mau goda Pak Lukman. Kamu nggak bakalan bisa," ujar Seno.
"Kenapa nggak bisa?" Sandra terlihat penasaran.
"Nggak perlu tahu, sana lanjutkan kerjaan kamu!" titah Seno lalu pergi.
Sandra adalah sepupu Seno, ia merekomendasikan bukan karena ada hubungan saudara dengan Sandra tapi karena memang Sandra adalah wanita berkompeten. Kebetulan saat Rania memutuskan untuk cuti, Sandra meminta bantuan untuk dicarikan pekerjaan. Sebelum diberikan pada orang lain lebih baik Seno membantu sepupunya itu. Menurutnya itu tidak salah karena memang ia tahu pekerjaan Sandra tidak akan mengecewakan.
"Aku juga ogah sama om-om, meskipun banyak duit. Mending cari brondong," gumam Sandra.
Ia kini fokus untuk mengerjakan tugas pertamanya, memeriksa dan menyusun kembali jadwal sang CEO. Sandra juga memeriksa beberapa berkas yang akan ditandatangani oleh Lukman sebelum rapat dimulai setengah jam lagi. Selesai dengan pekerjaannya, Sandra langsung bangkit, membawa berkas-berkas itu dan berjalan menuju ruangan Lukman. Ia mengetuk pelan dan mendorong pintu itu setelah sang pemilik ruangan mempersilahkan masuk. Wanita itu menyodorkan berkas pada Lukman untuk diperiksa kembali dan ditandatangani lelaki itu.
"Sepuluh menit lagi rapat akan dimulai, Pak," ujar Sandra mengingatkan.
"Iya, persiapkan semuanya dengan baik jangan sampai hari pertama kamu membuat saya kecewa," tutur Lukman lalu menyerahkan kembali berkas itu.
"Baik, Pak. Saya permisi."
"Nanti kamu harus tegur dia, jangan memakai baju minim begitu. Mungkin di luar negeri tidak masalah tapi ini Indonesia, aku juga nggak suka lihat wanita berpakaian seksi begitu," ujar Kanaya setelah Sandra keluar dari ruangan itu.
"Iya, kayaknya Seno belum kasih tahu tata cara berpakaian di kantor ini," sahut Lukman.
Kanaya memang membuat peraturan yang dikhususkan untuk karyawan wanita agar tidak memakai pakaian minim. Salah satu cara agar wanita tidak dilecehkan, karena pernah ada kejadian karyawan wanita yang sering memakai baju seksi dilecehkan oleh seorang manajer. Meskipun kejadian itu sudah lama berlalu tapi Kanaya ingin menjaga nama baik perusahaannya di mata publik. Pelaku sudah diberikan hukuman yang setimpal dan kini wanita itu masih tetap bekerja tapi dengan pakaian yang sudah tertutup.
***
Ting!
Shanum meraih benda pipi itu dari nakas, melihat pesan masuk dari Melanie.
[Lo jadi 'kan ikut ke Bali? Kalau lo ikut nggak seru nanti.]
Gadis itu hanya membaca tanpa berniat membalas pesan itu. Suasana hatinya masih belum baik setelah melihat Johan dengan gadis lain di pesta satu minggu lalu. Baru saja Shanum akan keluar tanpa membawa ponsel, benda pipi itu kembali berdenting.
[Lo nggak usah galau lagi soal Johan, cewek kemarin itu adiknya. Gue udah tanya-tanya kok sama temennya di Johan. Jadi nggak ada alasan buat Lo nggak ikut ke Bali, gue pastiin Johan ikut yang penting Bang Arga juga ikut.]
[Awas aja kalau lo nggak bisa bawa Johan kesana!] Terkirim.
Pesan masuk dari Melanie kini lebih panjang tapi membuat senyum di wajah Shanum mengembang. Ia percaya pada Melanie, gadis itu tidak akan mungkin mencari informasi yang salah. Tugas Shanum kali ini hanya membujuk Arga agar mau ikut bersamanya ke Bali. Shanum tidak akan mungkin diberikan izin jika berangkat seorang diri. Arga masih memiliki banyak waktu sebelum kembali dan menyelesaikan kuliahnya.
"Gue pastiin Bang Arga bakalan ikut," gumam Shanum dengan hati yang riang. Ia langsung turun untuk mencari kakaknya itu.
Arga dan Ayyman sedang bersantai di gazebo sedangkan Anna menyuapi Zian di ruang makan. Lukman masih berada di kantor sedangkan Kanaya mengantar Husna untuk pemeriksaan rutin.
"Bang," panggil Shanum, dua lelaki itu menoleh bersamaan.
"Shanum ngomong smaa Bang Arga kok," ujarnya mempertegas.
"Kenapa, Dek?" tanya Arga, lelaki itu selalu berbicara dengan nada lembut pada siapapun, jelas saja Melanie jatuh hati, selain wajahnya yang rupawan Arga juga sangat sopan.
"Ikut Shanum ke Bali yuk, kalau berangkat sendiri pasti nggak di bolehin Papa," ajaknya dengan memelas.
"Emang kamu udah izin ke Papa?"
Shanum menggelengkan kepalanya. "Belum sih, tapi jelas nggak di bolehin kalau berangkat sendiri," tuturnya.
"Sama Bang Ayyman aja yuk." Ayyman menawarkan diri karena tahu snag kakak tidak terlalu suka jika pergi berlibur bukan dengan keluarga apalagi banyak teman-teman Shanum nanti di sana.
"Bang Ayyman 'kan udah masuk kuliah lusa, Shanum berangkatnya besok," jelas Shanum.
Shanum terusan membujuk Arga hingga lelaki itu setuju dengan syarat jika ayah mereka mengizinkan. Arga juga tidak ingin Shanum pergi sendiri, ia akan menjaga adiknya itu sebaik mungkin. Saat Lukman pulang Shanum mengajak Arga untuk meminta izin, karena besok mereka akan berangkat siang dari rumah.
"Boleh ya, Pa? Lagian Shanum juga jarang-jarang pergi liburan," bujuknya.
"Sama siapa kamu pergi? Kalau sendiri Papa nggak bakalan kasih izin," ujar Lukman.
"Shanum pegi sama Bang Arga kok, iya 'kan Bang?" Shanum menyenggol lengan kakaknya itu.
"Iya, Pa. Abang bakalan nemenin Shanum kesana, Papa tenang aja," tutur Arga.
"Berapa lama disana?"
"Nggak lama, Pa. Seminggu aja kok," terang Shanum.
"Seminggu itu lama loh, Abang 'kan seminggu lagi mulai kuliah. Kalau dua hari nggak apa-apa," timpal Kanaya.
Arga bahkan baru mengetahui jika Shanum akan berlibur satu minggu, pikirnya hanya dua atau tiga hari saja. Shanum terlihat kecewa tapi ia tetap setuju karena jika tidak ia tidak bisa sama sekali berangkat ke Bali dan pendekatan dengan Johan. Setidaknya ia punya kesempatan meskipun dengan waktu yang sangat singkat.
"Ya udah, Shanum mau beresin dulu barangnya," ujar Shanum lalu beranjak ke kamarnya.
"Jagain Shanum disana ya, jangan teledor. Abang 'kan tahu Shanum gimana," pesan Kanaya.
"Iya, Ma."
"Ya udah, Abang juga pasti mau beresin barang yang mau dibawa 'kan," tutur Kanaya.
Kini Arga yang beranjak, meninggalkan pasangan suami istri yang terlihat masih betah menikmati suasana malam di gazebo. Coklat hangat dan kue kering menemani malam mereka sambil berbincang ringan mengenai pekerjaan. Kanaya terkadang masih disibukkan dengan masalah kantor juga, ia dan Lukman bahkan berencana pergi ke Jerman untuk memantau langsung kantor disana. Rencana mereka akan berangkat bulan depan, cabang perusahaan mereka baru dibuka dua tahun tapi sudah mulai memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Setelah Arga lulus nanti, Kanaya berencana meminta anaknya itu untuk mengurus perusahaan di Jerman. Arga yang memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata itu mengambil dua jurusan langsung, ia akan mendapatkan dua gelar nanti. Arga mengambil jurusan bisnis management dan pendidikan agama. Lelaki itu ingin membantu kedua orangtuanya tapi tidak ingin lalai akan kewajibannya sebagai seorang hamba-Nya. Arga bisa melanjutkan kuliah sembari mengurus kantor milik Kanaya disana.
Bersambung ….

Komentar Buku (116)

  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    24/09/2025

      0
  • avatar
    MuhioloWiwin

    bagus aplikasinya

    09/09/2025

      0
  • avatar
    Ifra Bunga

    wihhhh novel ini bagus sekalai

    08/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru