Herman bersama Chika turun dari pelaminan, dengan puas, Herman dia kembali duduk di kursinya, Chika pun demikian, dia bercakap dengan Asmi, tersenyum bersama, bercerita tentang bagiamana Chika bisa menyukai Herman dan bagaimana mereka bisa menjadi sepasang kekasih, sikap Asmi kepada Chika cukup lembut, hingga dia mendapatkan pertanyaan, kenapa dia bisa memberi gombalannya pada Tom. "Hmm, soal itu, aku…, aku ditantangin oleh teman sekelas, kalau aku harus ngegombal om-om…." Chika berusaha menahan tawanya, begitu juga dengan Tom yang mendengar Chika yang berusaha menjelaskannya, Chika juga bingung ingin memanggil Asmi dengan panggilan apa, Tante? Ibu? Nyonya? Atau mungkin Kakak Ipar? Karena itulah dia ingin sekali meledakkan tawanya. "Kenapa senyum?" tanya Asmi tatapannya serius namun bibirnya menampilkan senyum ramah pada Chika. Herman dan Tom juga ikut tersenyum. "Gini Kak mungkin Chika malu ngejelasinnya, teman sekelasnya juga sudah minta maaf atas isengnya mereka, jadi lupakan saja soal itu," jelas Herman, senyum nampak pada bibirnya. Sementara Tom, dia terkekeh, dan berkata, "Jika kau melihat raut wajahnya saat itu, kau pasti juga akan tertawa Sayang," ucap Tom, dia meraih tangan Asmi dan menggenggamnya. Hal itu membuat Asmi nampak bingung dengan aksi Tom yang satu itu. Hal itu dia lakukan agar Herman melihat hubungan baik antara Tom dan Asmi, agar Herman berhenti curiga tentang Chika dan dirinya. "Mungkin saja aku tertawa, tapi saat menonton video itu, rasanya aku tidak suka." Asmi hanya tersenyum Kecut dan menatap Tom, dia juga membalas genggaman Tom. Chika melihatnya, sedikit rasa cemburu. Apa? Chika cemburu? Chika sendiri tidak merasa bahwa dia pantas dengan hal itu, kenapa dia harus cemburu terhadap Asmi, sudah sepantasnya Tom bermesraan dengan Asmi. Musik terdengar lembut, Asmi terus saja memandangi Chika dia ingin bertanya banyak hal pada Chika, namun dia lupa apa yang ingin ia tanyakan. Chika sendiri merasa gugup, tangannya meraih tangan Herman, dan menggenggamnya. Herman membalas genggaman itu, dia tersenyum menatap Chika, dia lalu mencondongkan kepalanya ke arah Chika, salah satu tangannya meraih kepala Chika dan mencium pucuk kepalanya, hal mesra itu dilihat oleh Tom dan juga Asmi, dan dari kejauhan di atas pelaminan mewah itu, Arinda diam-diam memberi perhatian pada mereka berdua. Asmi melihatnya, dan melihat senyum di bibir Herman, kebahagian terpancar dibalik mata belo adiknya, dia merasa bahwa memberi pertanyaan yang tidak baik pada Chika akan membuat Herman merasa tidak suka, dan akan merusak kebahagian yang dimiliki adik kesayangannya. Sedangkan Tom, dia betul-betul tidak suka dengan apa yang dilakukan Herman, dia tidak menyukainya, entah kenapa dia tidak suka dan bahkan tidak rela jika Chika mempertahankan rasa sukanya pada Herman. Musik masih berbunyi merdu, dan terlihat Herman mulai mencicipi kue yang disediakan di atas meja, begitupun Asmi, sedangkan Chika, dia sesekali melirik ke arah Tom, mereka saling lirik. Saling mencuri pandang, namun Chika, dia tahu batasannya, dia juga mencicipi kuenya dan berbincang dengan Herman, hingga MC pada acara itu mulai berbicara dengan mic di tangannya. "Tes, tes, perhatian! Hadirin Tuan dan Nyonya yang berbahagia pada pesta ini, untuk memeriahkan acara ini, jika ada diantara kalian yang ingin berdansa dengan pasangan kalian silakan ke lantai dansa, usahakan kalian bisa dengan tarian tango," ucapnya, hingga terdengar itu pada telinga Tom. "Kau ingin berdansa Sayang?" tanyanya pada Asmi. Asmi menggeleng dan mengatakan, "Aku sudah lupa dengan tarian tango," jawabnya. Lalu tatapan Tom mengarah pada Chika. "Nona, ingin berdansa denganku? Jangan sampai ada yang mendahului ku di atas lantai dansa." Tatapannya pada Chika, dan Herman dia menatap heran pada Tom, begitupun dengan Asmi dan Chika. "Aku tidak tahu caranya tarian tango Om," ucap Chika dengan polos menatap Tom. "Tidak masalah, ikuti saja langkahku," balas Tom lagi, dengan senyum menatap Chika. "Atau kau pernah menonton film scent of a women Chika?" Chika menggeleng, tidak mungkin gadis sepertinya pernah menonton film yang sudah lama sekali. "Oh ya, aku harus meminta izin pada kekasihmu. Herman, apa kau tidak masalah jika aku mengajak kekasihmu berdansa?" Tom menatap Herman berani, sejak tadi Tom sudah merasa panas dengan sikap Herman dan Chika. Herman yang menatap Tom tidak suka, sekarang menatap ke arah Chika, dan berkata, "Bagiamana, apa kau ingin berdansa?" tanya Herman menatap Chika. Chika hanya bisa menatap Herman, dia tidak tahu harus bagaimana. "Biarkan saja Herman, berdansa lah Chika, bersama Tom, dia sudah lama tidak berdansa, aku tidak bisa menemaninya, kau temanilah dia berdansa," ucap Asmi, dia tersenyum pada Chika. Mendengar ucapan Asmi, Tom berdiri dan mengulurkan tangannya pada Chika. "Oh sepertinya kita sudah punya pedansa yang siap untuk naik berdansa," ucap MC saat melihat Tom berdiri dari duduknya. Chika masih menatap Herman, hingga Herman mengangguk dan mengizinkan Chika untuk menerima tawaran Tom. Chika berdiri dan meraih tangan Tom. Tom tersenyum, dan menggenggam tangan kecil Chika, tangan Chika mengalung pada lengan Tom. "Ikuti saja pergerakan ku, darling, usahakan untuk tidak kaku," bisik Tom saat dia berjalan ke lantai dansa. Sementara banyak gunjingan terdengar, "Bukankah dia adalah kekasih baru Herman?" "Kau ini, seperti tidak mengenal Herman, dia payah dalam berdansa." Chika mendengar gunjingan itu, dan dia merasa tidak menyukainya, apalagi ketika mendengar kata payah. Mereka sampai pada lantai dansa. "Tanganmu." Chika memberikan tangannya pada Tom, kedua tangan Chika berada pada genggaman Tom, mereka saling berhadapan, tangan kiri Chika dinaikkan ke bahu Tom, dan tangan kanan Tom berada pada pinggang bagian belakang Chika, tangan yang lainnya saling terangkat setinggi bahu Chika dan saling bergenggam. Tom menghirup harum parfum Chika, dan berkata, "Aku ingat apa yang dikatakan Al Pacino saat akan berdansa di dalam film scent of a women, 'no mistakes in the tango, not like life." Dia menempelkan tubuh Chika padanya, dan musik terdengar, musik khas tango. Tom memajukan langkahnya beberapa kali, lalu mundur beberapa kali, Chika hanya mengikut dan Tom mendominasi. Tom lalu memutar tubuh Chika dan kembali memasukkannya dalam tubuhnya, mereka larut dalam alunan musik tango, Tom betul-betul menguasai tubuh Chika, dan bisa dilihat Chika menampilkan senyum, sesekali kepalanya terbentur lembut pada dada Tom namun itu tidaklah sakit dan tidak mengganggu, lagu por una cabeza terlantun indah, Tom dan Chika, asik dalam tarian mereka. Sepertinya para penonton menikmati tarian itu, dan perhatian para penonton terfokus pada Chika dan Tom. Herman dan Asmi mereka sepertinya menyesal membiarkan Chika berdansa, tentu saja, mereka hampir terbakar akan api cemburu.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita Plotwist yang sangat sangat menarikk
23/04/2022
1cerita nya sangat bagus
9d
0bagus
27/07
0Lihat Semua