Di mansion Lixston terdengar suara canda tawa di sana semua orang tengah berkumpul, termasuk kedua kakek dan nenek Zio. Mereka tertawa bersama, di sana juga ada Feli dan Ratna tentunya. Hari ini Feli membuka banyak hadiah dari kakeknya. Jika di kediaman Lixston, Feli akan menjadi seperti ratu dan keinginan akan terwujud. "Terima kasih kakek," ucap Feli memeluk Abraham, kakeknya. "Sama-sama. Kakek akan memberikan apapun untuk cucu kakek yang paling cantik ini," ucap Abraham sembari mengelus kepala Feli. Sedangkan Feli tersenyum. Tanpa mereka sadari, perlakuan yang seperti ini menjadikan Feli anak manja dan tak mau mengalah. Tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi, Feli pamit untuk membuka pintu. Feli berjalan dengan langkah biasa, lalu dirinya membuka pintu. Mengapa tak ada siapa-siapa? Saat ingin berbalik badan, matanya tak sengaja melihat sesuatu berada dibawah. Dirinya berjongkok dan mengambil sebuah kotak berwarna hitam berpita merah. "Ini dari siapa?" batin Feli bertanya-tanya, ia memutar-mutar kotak itu lalu berdiri. Feli membuka kotak itu perlahan-lahan. "AAAA," teriaknya setelah melihat sesuatu yang berada di dalam kotak. Seketika seluruh keluarganya tergesa-gesa datang menghampiri dirinya, Feli langsung menangis di pelukan Ratna. Abraham mengambil kotak yang tadi sempat Feli buang, mulutnya terbuka lebar. Didalam kotak itu terdapat bangkai tikus berlumuran darah dan bau amis yang menyengat. "Mama, Feli takut hiks hiks." Feli menangis, sedangkan Ratna dan Leni mengelus punggung Feli yang bergetar. Abraham datang dengan membawa secarik kertas yang ia temukan di dalam kotak. "Siapa pengirimannya?" tanya Ratna. "Cuma ada huruf Z," jawab Abraham seraya membolak-balikkan kertas. "Zeta! Pasti dia yang udah teror aku," ucap Feli tiba-tiba. "Aku setuju sama Feli," ucap Ratna dan mendapatkan anggukkan dari Leni. "Apa kalian yakin?" tanya Abraham. Semua orang mengangguk, lantas mereka masuk ke dalam mobil dan mencari keberadaan Zeta. Ratna tak akan membiarkan sang anak seperti ini, ia berjanji akan membalas Zeta berkali-kali lipat dari apa yang dia lakukan. Di mobil terdengar suara Feli yang menjelek-jelekkan Zeta. Abraham sendiri geram setelah mendengar cerita dari Feli. "Benar-benar pelakor!" ucap Abraham marah, ia tak mau jika Albi direbut oleh Zeta. "Ternyata ulahnya sama aja dengan ibunya, aku tak sudi mempunyai cucu seperti dia!" timpal Leni. "Pokoknya kakek dan nenek harus kasih Zeta pelajaran, dia udah rebut Albi. Bahkan Zeta udah ngejelek-jelekin aku," ucap Feli memutar balikkan fakta. "Pasti, kakek nggak akan membiarkan dia hidup bahagia!" balas Abraham. Di bangku belakang, Feli dan Ratna tersenyum smirk. Mereka senang karena sebentar lagi Zeta akan melihat Abraham yang memarahinya. Tak sia-sia Feli menangis, sekarang ia tak sabar. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan ia melihat Zeta yang tengah duduk menghadap danau. Langsung saja ia menyuruh Abraham untuk memberhentikan mobilnya. Setelah mobil berhenti Feli turun terlebih dahulu, ia berjalan menuju ke arah Zeta yang menghadap ke depan. Namun matanya tak sengaja melihat gelas minuman di salah satu meja langsung saja ia mengambil gelas itu dan melanjutkan jalannya. Byur Feli menguyur kepala Zeta, seketika Zeta terkejut dan langsung berdiri diikuti oleh Vio. Untung saja baju Vio tak basah. Zeta melihat kearah Feli yang saat ini tersenyum penuh kemenangan. "Mengapa kau menyiram ku?" tanya Zeta, ia mencoba bersikap tenang walau hatinya sedang tak baik-baik saja. Apalagi sekarang mereka menjadi pusat perhatian. "Kau meneror ku?" tanya Feli, cara bicaranya bukan seperti orang bertanya namun seperti orang yang tengah menuduh. Tiba-tiba Plak Wajah Zeta menoleh ke samping, ia ditampar oleh seseorang. Rasa panas langsung menjalar di area pipinya, ia melihat ke depan dan ternyata terdapat keluarga Lixston. Zeta diam tanpa ekspresi, ternyata yang menamparnya ayah kandung dari mamanya sendiri. "Mengapa anda menampar sahabat saya?" tanya Vio, ia sedari tadi diam bukan berarti menerima kelakuan orang-orang itu terhadap Zeta. "Jangan ikut campur!" ucap Feli dengan penuh penekanan. Vio menatap Feli tak acuh, dirinya melihat ke arah Zeta dan bertanya tentang keadaan perempuan itu. Seketika Zeta mengangguk seraya tersenyum membuat Vio sedikit bernafas lega. "Berani-beraninya kamu teror anak saya!" ucap Ratna marah. "Jangan asal menuduh!" ucap Zeta, meneror? Bahkan sedari tadi ia berada disini bersama dengan Vio. "Jangan berlagak nggak tau apa-apa! Buktinya udah jelas! Kamu iri kan sama anak saya yang mendapatkan kasih sayang keluarga Lixston?" ujar Ratna dengan tersenyum remeh. "Saya tak sudi mempunyai cucu jalang seperti kamu!" ucap Leni dengan menekankan beberapa katanya. Deg Sakit sekali rasanya, neneknya sendiri mengatai cucu kandungnya jalang? Di tempat umum seperti ini? Zeta tersenyum tipis, lalu dirinya menatap mereka semua bergantian. Sebenarnya ia ingin membalas, namun mereka lebih tua dirinya. Kedua orang tuanya selalu mewanti-wanti dirinya untuk sopan dan hormat kepada orang yang lebih tua. "Saya tidak meneror Feli! Dan terimakasih atas cacian dari kalian," ujar Zeta. "Berlagak jadi orang paling baik, kenyataan munafik!" Suara Ratna terdengar ditelinga Zeta, Vio ingin maju namun dengan cepat Zeta menahan tangannya dan menggeleng pertanda menyuruh Vio untuk tetap diam. "Terserah apa yang ingin kalian katakan. Lebih baik mencari tau terlebih dahulu dan jangan asal menuduh orang sembarangan," ucap Zeta. "Jangan mengajari keluarga saya! Anak haram sepertimu tak pantas untuk hidup! Benar kata istri saya jika sekarang dirimu sudah menjadi jalang seperti Airin. Bahkan saya tak sudi mengakui dia sebagai anak dan keturunan Lixston," ucap Abraham menohok. "Kalian boleh menghina saya, namun jangan menghina kedua orang tua saya!" ucap Zeta dengan nada pelan. "Anda orang terpandang, mengapa sikap anda seperti ini? Dari cara bicara anda membuktikan bahwa anda orang miskin, miskin berattitude!" ucap Vio dengan penuh penekanan. "Jaga bicaramu!" Feli menunjuk kearah Vio. "Ini yang dinamakan cucu Lixston? Maaf, maksudnya cucu pungut! Sudah dipungut nggak tau diri," ucap Vio lagi, tentunya dengan senyum smirknya. "Udah Vio," ucap Zeta menarik tangan Vio supaya mundur ke belakang. "Kau orang asing! Jangan ikut campur!" ucap Leni dengan memasang wajah marahnya. "Saya teman Zeta. Jika dia dipojokan seperti ini, maka saya akan membela Zeta. Apalagi yang kalian omongin hanya tipuan belaka," balas Vio. Zeta melihat ke depan, di sana Leni berjalan ke arahnya. Dirinya memejamkan matanya saat Leni ingin menamparnya. Namun mengapa ia tak merasakan apa-apa, dan juga mengapa suasana menjadi hening dan angin bertiup kencang? "Berani menyakitinya kalian berurusan dengan saya! Camkan itu baik-baik tuan Lixston yang terhormat!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mantap kali baru pertama aku liat novel ini
02/04/2022
3semoga beneran berhadiah
10/08
0saya suka dgn ini
01/11
0Lihat Semua