88 - Reconcile

"I should have more consideration about your feeling. I’m sorry, Child. Would you?”
Pamannya merentangkan kedua lengannya, mengundang Lilian untuk masuk ke dalam pelukannya. Lilian yang tak sadar telah menitikkan air mata langsung menghambur dan tersedu di pelukan pamannya. Ingin mendapatkan penghiburan dari apa yang sudah dia alami selama ini.
“I’m Sorry Lilian, I really do." Pamannya menambahkan dengan suara pelan. Menepuk punggung Lilian yang masih tersedu pelan.
“Aku takut Paman. Kau selalu mengidolakan Melanie dan sedikit mengacuhkanku saat kami bersama. Aku kira kau marah karena aku menggagalkan pertunangan Melanie. Tapi aku bersumpah aku tak melakukannya.Aku sudah menahan diriku sebaik yang aku bisa. Aku…”
“Ssshh, It’s alright, My child. I know, Lilian. I'm sorry.”
Lilian menggelengkan kepalanya, senang karena kesalahpahaman di antara mereka akhirnya terselesaikan. Akhirnya dia bisa mengusir rasa sesak yang membebani hatinya selama ini.
"Lain kali, jangan simpan sendiri perasaanmu, kau harus belajar untuk membaginya, Sayang. Mereka bisa memakanmu hidup - hidup jika kau terus seperti ini. Belajarlah untuk sedikit terbuka, sedikit percaya pada orang lain. Perjuangkan perasaanmu,demi dirimu sendiri, mengerti?"
Lilian mengangguk. Hatinya ringan karena satu persatu masalahnya kini terselesaikan. Sebenarnya, pusat masalahnya hanya satu. Satu orang yang walaupun belum bisa menjadi pusat dunianya, tapi pria itu adalah segalanya bagi Lilian. Dan pria itu adalah Henry Hamilton.
Sekarang setelah semua orang tahu tentang perasaannya, apakah artinya kini dia boleh memperjuangkan Herny secara terbuka? Dan bersaing dengan Novia Lancaster? Bisakah dia?
Dia tertawa dalam hatinya. Kenapa saingannya selalu orang-orang yang jauh di atasnya? Melanie, kakaknya sendiri, dan sekarang, Novia Lancaster. Lelucon macam apa ini.
"Uncle," gumamnya pelan.
"Hmmm?"
"Jadi aku dan Henry…"
"Aku akan merestui kalian. Aku akan menjadi orang pertama yang akan membela kalian jika perasaan kalian diragukan oleh orang lain. He's a good man, Lilian. Dia terlihat tulus denganmu. Jadi, aku akan mencoba mempercayainya dan merestui kalian. Namun jika dia melukaimu meskipun hanya sedikit saja, Lilian, aku tak akan segan - segan untuk memburunya. Tak peduli dia seorang Hamilton atau bukan!"
Lilian tersenyum mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh pamannya untuknya. Mendadak dia teringat sosoak yang tak ingin dia dan Henry bersamanya.
"Paman…"
"Hmm?"
"Menurutmu, seorang Novia Lancaster itu, bagaimana?"
Pamannya mengangkat salah satu alisnya. "Novia Lancaster? Orang seperti apa dia?"
"Ya."
Mereka mengurai pelukannya. Pamannya kini mengelus rambutnya dan menyelipkan ikal coklatnya yang teramat ikal itu ke belakang telinganya.
"Sedikit manja kalau boleh bilang. Karena dia adalah anak tunggal. Seingatku, Ayahnya pernah berkata bahwa apa pun yang dia inginkan harus dia dapatkan."
Lilian mengangguk dalam diam. Dia tak suka dengan sifat gadis itu. Sifatnya yang semena-mena akan membuatnya berurusan dengan orang yang sulit.
"Apakah kalian dekat, Paman?
"Tidak, tentu saja tidak. Biasanya dia hanya mengakrabkan diri saat berada di luar, untuk membangun citranya mungkin. Ada apa? Kenapa kau bertanya tentang Novia Lancaster?"
Lilian sedikit ragu-ragu. Membuka perasaannya bukanlah hal yang mudah untuk dia lakukan. Tapi seperti yang pamannya bilang, dia harus mencobanya.
"Aku sedikit terintimidasi olehnya."Akhirnya hanya itu yang dia katakan.
Dia tak ingin terburu-buru menghakimi. Dia akan bersaing dengan adil untuk memperjuangkan Henry. Dia tak akan mundur kali ini. Dia pernah mundur demi Melanie, dan sekarang saat Henry memperjuangkannya, maka dia juga harus berjuang.
"Apa yang dia lakukan padamu?"
"Untuk saat ini belum ada. Tapi sepertinya dia tak terlalu menyukaiku."
Pamannya memegang dagunya dan menahannya tetap terangkat. "Chin up. Jika ada yang merasa terganggu akan kehadiranmu, maka dia bukan Untukmu. Nah sekarang, aku harus keluar, karena ada ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.
Lilian mengerutkan keningnya. "Siapa?" Siapa yang malam-malam bertamu ke rumah seseorang?
"Kau akan tahu sebentar lagi. Dia sudah menunggu untuk diijinkan masuk sedari tadi. Lebih lama lagi, mungkin dia akan mendobrak pintu kamar ini." Pamannya terkekeh. "Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Dan terima kasih sudah kembali. Cepatlah sehat. Besok kita akan berangkat ke Hamilton Residen. Jangan sampai mai melewatkan kesenangan yang akan kau dapat di sana."
***
Henry berjalan mondar-mandir di ruang depan sendirian. Dia harus menunggu, tapi dia sudah amat tak sabaran. Beberapa saat yang lalu, saat dia meminta ijin untuk diperbolehkan masuk pada Lord Stevan, itulah jawaban pria itu.
“Yes, My Lord. I understand clearly. Can I leave now? Can I see her now?”
"Not so fast, Young Man. Aku harus berbicara dengan Lilian sebentar. Jika kai bersedia menunggu, maka kau akan bisa bertemu dengannya. Jika kau tak bisa menunggu, kau tahu di mana letak pitu keluar, bukan?"
Dan karena itulah, dia bersedia menunggu meskipun dengan kesabaran yang semakin terkuras
Dia berhenti mondar mandir saat Lilian's Aunty melangkah mendekat padanya.
"Makan malam lah dulu bersama kami, setelahnya baru temui Lilian." Tawar wanita itu
Henry nyaris menolaknya seketika. Saat ini dia hanya bisa memikirkan Lilian dan Lilian. Tapi setelah dipertimbangkan dalam waktu yang singkat, menolak tawaran tersebut bukanlah hal yang bijaksana untuk dilakukan.
"Baiklah, My Lady. as you wish for."

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Puteri Tira

    ok.mudah dimengerti

    07/04

      0
  • avatar
    Kona

    bagus

    17/01

      0
  • avatar
    akbarrolla

    aduhhh bagusss kali

    23/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru