Karena sudah lama tak membaca buku, Lilian jadi sangat menantikan seminar ini. Dia duduk di deretan depan tapi agak ke samping bersebalahan dengan Bibinya. Narasumber yang datang menyampaikan gagasan dan pendapatnya dengan lugas dan menyenangkan tentang buku yang menjadi topik mereka, sehingga bagi Lilian, penjelasannya mejadi mudah dimengerti dan sangat menarik. Tidak membosankan. Mereka hampir seharian berada di sana, terus berdiskusi dan mendengarkan banyak informasi baru. Tapi Lilian sama sekali tak merasa bosan. Dia menggandeng lengan Bibinya dengan bersemangat saat kelas tersebut bubar. Langkahnya terasa ringan. Rasa pusing dan lemas yang tadi pagi terasa saat dia memaksakan diri untuk bersiap berangkat ke sini, kini tak lagi terasa. Hanya suka cita yang dia rasakan. “Bibi, tadi sungguh menarik! Dan ada banyak wanita juga yang datang! Mereka sama sekali tak merasa aneh melihat ada perempuan datang ke dalam diskusi seperti ini.” Lilian berseru penuh semangat. Itu sangat berbeda dengan yang selama ini dia alami di Phoenix. Bahkan dia masih ditatap dengan tak menyenangkan saat dia ingin masuk ke dalam toko buku. Padahal di toko buku, ada buku resep masakan dan buku tentang tata kerama yang harus dibaca juga oleh perempuan. “Kau senang?” Lilian mengangguk bersemangat. “Akan ada diskusi tentang buku yang berbeda dua hari lagi. Kau ingin ikut?” “Tentu saja! Aku tak mau melewatkannya. Aku akan pergi ke acara seperti ini sesering yang aku bisa selagi aku berada di sini.” Bibinya tertawa saat Lilian hampir melompat kelita menjawab tawarannya. “Dan Bibi, aku ingin membaca lagi. Aku ingin membeli buku. Bolehkah?” "Tentu saja." "Bagaimana kalau kita pergi setelah ini?" “Ah, kita harus mendiskusikan hal tersebut dengan Pamanmu dulu nanti malam. Mungkin dia bisa menyisihkan sedikit waktunya besok agar kita bisa berkeliling untuk membeli buku. Mungkin saja dia ingin membeli beberapa juga. Dia juga akan ikut seminar depan.” Mendengar Pamannya disebut, semangat Lilian sedikit meredup. Dia teringat akan kejadian tadi pagi saat Bibinya memberitahu Pamannya bahwa Henry Hamiton yang merupakan mantan tunangan Melanie adalah calon tunangan Lilian. Wajah Pamannya sedikit berubah tadi, tapi Pamannya tak berkata apa pun. Hanya saja, wajahnya sedikit menggelap, dan Lilian merasa atmosfer di sekitar mereka menjadi sedikit beku. “Bibi…” “Hmmm?” Bibinya sedang membaca jadwal seminar selanjutnya yang akan berlangsung selama sebulan di tempat ini hanya menggumam, mendengar panggilan Lilian. Matanya menyusuri tulisan tersebut dari kiri ke kanan, membaca benar- benar apa yang tertera di sana. “Kenapa tadi pagi berkata seperti pada Paman?” Bibinya menoleh padanya dengan tatapan bingung, “Maksudmu?” “Aku takut paman berpikir bahwa aku merebut Henry dari Melanie, dan…” “Gadis bodoh. Tentu saja dia tak akan berpikir seperti itu. Dia itu pamanmu. Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Henry dan Melanie tak ada hubungan apa pun saat ini. Dan kau juga sudah berusaha semampumu untuk membuat pertunangan mereka berjalan lancar. Lagipula, jika semua berjalan dengan lancar, Melanie sekarang sudah menemukan orang yang tepat untuknya.” Lilian sedikit terpekur, dia mengikuti Bibinya yang sedang menyusuri Hall untuk melihat berbagai lukisan dan pengumuman yang tertempel di papan yang terpasang di dinding. Mungkin Bibinya benar. Dia hanya terlalu khawatir akan penilaian keluarganya padanya. Dia takut dituduh merusak kebahagiaan Melanie. Dia takut jika hal itu terjadi, tak ada yang berada di depannya untuk membelanya. Dia takut. Dan bibinya juga benar. Saat ini Melanie sedang berada di kastil Earl Mathis. Jika semuanya berjalan lancar, mungkin Kakaknya itu bisa segera membuka hatinya kembali dan menerima maksud Sang Earl untuk memperistrinya dan menikah. Dari surat - surat yang dikirimkan Melanie padanya, Kakaknya itu terlihat amat bahagia tinggal di kastil tersebut. Melanie bilang Sang Earl ternyata bukan seburuk yang dibicarakan orang-orang di kota. Pria itu memperlakukannya dengan baik dan tak pernah bersikap kasar. Dari impresi yang didapat Lilian, sepertinya Melanie sudah tau apa maksud sang Earl mengundangnya ke kastilnya. Dan Melanie juga berkata bahwa Nenek Lord Mathis amat ramah dan baik padanya. Dia diperlakukannya seperti cucunya sendiri sehingga mereka cepat menjadi dekat. Lilian tersenyum saat membaca bagian tersebut. Untung saja Melanie yang dipilih. Melanie amat bagus dengan orang baru. Tidak canggung dan kikuk sepertinya. Bahkan, Lilian ragu kalau Melanie pernah canggung dengan orang lain. Kakaknya begitu pintar bergaul dan pintar mengambil hati orang lain. Saat ada orang yang menuduhnya bersalah padahal dia tak melakukan apa pun, Melanie akan berdiri dan menunjuk orang itu kemudian bertanya apa maksudnya. Tak seperti Lilian yang hanya bisa mematung dan membisu jika berada dalam keadaan yang sama. “Lilian, kau sudah selesai?” Dia tersentak mendengar suara Bibinya. “Oh, Ya, Bibi.” “Kalau begitu, ayo kita pulang. Sudah hampir waktunya makan malam….” “Miss Kendall?” Lilian dan Bibinya sama-sama menoleh saat mendengar suara lembut yang memanggilnya. Dia sedikit kaget saat mengetahui siapa yang memanggil hingga berpandang-pandangan dengan Bibinya. “Ya?” “Boleh kita bicara sebentar?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua