Tak seperti biasanya saat menghadiri undangan pesta dansa. Kali ini Lilian hanya diam saja menuruti semua keinginan Bibinya. Ini adalah pesta dansa pertamanya di London. Bibinya bilang, Duke Lancaster dan pamannya adalah mitra bisnis yang baik. Keluarga Lancaster amat baik pada Bibinya dan tak akan ragu untuk membantu jika diperlukan. Lilian di sini diperkenalkan sebagai keponakan Paman dan Bibinya, maka dia sudah seharusnya menjaga nama baik mereka berdua. Karenanya, dia tak memprotes saat Bibinya berusaha membuatnya tampak pantas di depan para Bangsawan London yang tentunya mereka berbeda dari para Bangsawan di Phoenix. "Sesak? Atau nyaman?" Bibinya bertanya saat salah satu maid yang melayani mereka menarik tali korset di sekitar dada dan pinggangnya. Mereka sedang bersiap untuk pesta dansa di kediaman Duke Lancaster atas undangan putrinya Lady Romanov- Lancaster. Undangannya nanti sekitar jam tujuh malam, tapi sejak jam dua siang mereka sudah bersiap. "Aku baik-baik saja, Bibi." "Kau harus bilang jika kau merasa tak nyaman, mengerti? Kau mungkin akan bertemu dengan para pemuda keturunan bangsawan di pesta ini. Mungkin mereka akan mengajakmu menari sampai kakimu tak terasa lagi, jadi sebaiknya kau menyamankan dirimu." Lilian tertawa kecil melihat antusiasme Bibinya. "Sure, Of course, Bibi. Saat ini, aku benar-benar merasa nyaman dengan korset ini. Jangan khawatir." "Baiklah. Lanjutkan. Buat dia cantik." "My pleasure, My Lady." Bibinya sendiri sudah selesai dengan tatanan tatanan rambutnya. Dia masih memakai dalaman gaun yang dilapisi dengan kimono saat masuk ke kamarnya. Berdalih ingin melihat sendiri proses Lilian menjadi cantik. Setelah korsetnya terpasang, maidnya mulai mengurai gelungan rambutnya yang berwarna coklat kemerahan hingga tergerai lepas. Dulu, dia suka sekali mengepang rambutnya atau mengurainya dan menahannya dengan bando. Tapi sejak memasuki usia dewasa, dia tak lagi bisa melakukan hal itu. Perempuan yang menggerai rambutnya dinilai kurang sopan dan bukan berasal dari keluarga baik - baik. "Rambut anda indah sekali, My Lady." Puhi maid yang sedang menyisir perlahan rambut ikal alami tersebut. Lilian yang menghadap ke depan kaca tersenyum tipis mendengar pujian tersebut. Mungkin jika ada satu hal yang dia percaya dia lebih unggul daripada Ibu dan Kakaknya, Melani, itu adalah rambutnya. Rambut ibunya berwarna merah sedikit ikal, sedangkan rambut Ayahnya coklat dan lurus. Rambut Melanie sedikit ikal, dengan warna pirang yang cantik, namun Lilian memiliki rambut coklat dengan ikal alami yang cantik. Dia sering dipuji karena rambutnya itu sejak dia kecil. Maidnya menggelungnya separuh di belakang kepalanya, dan membiarkan sisanya yang sedikit itu menjuntai indah membingkai wajahnya. Setelah rambutnya selesai, maidnya beralih pada wajahnya. Dia menyapukan bubuk beras yang ditumbuk dengan bunga melati yang membuat wajahnya sedikit cerah, setelahnya bubuk mawar merah muda yang dikeringkan di pipi dan mengoles pemerah bibir di kedua bibirnya. Bibinya bertepuk tangan sekali dengan puas melihat penampilan Lilian. Wajahnya bangga dan puas. Itu membuat Lilian ikut tersenyum. Dia tak merasa penampilannya sebagus itu. Tapi jika Bibinya bahagia dengan ini, maka dia pun akan ikut bahagia. "Kau sudah selesai. Maka aku akan memakai gaunku sekarang. Kita akan bertemu di selasar depan saat selesai nanti. Aku juga mendengar pamanmu sudah menyiapkan kereta kuda. Kita akan langsung berangkat begitu kita siap.." "Ya, Bibi." *** Mereka berangkat bertiga menggunakan kereta kuda dan sampai di kastil Lancaster yang bagi Lilian lebih terlihat seperti istana tak lama kemudian. "Ayo, Lilian, kita harus menyapa Tuan Rumah." Bibinya menggandeng tangannya untuk masuk, membuatnya yang sedang mengagumi tempat ini terpaksa mengikuti. Pesta belum akan dimulai hingga satu jam lagi. Tapi tamu - tamu sudah banyak datang. Semua berpakaian indah dan glamor. Dia sedikit lega karena sudah membiarkan Bibinya mengambil keputusan. "My Lady, My Lord, terima salam hormat kami. Lady Romanov, terima kasih sudah mengundang lami dalam perayaan yang membahagiakan ini.." "Oh, Viscountess! Senang akhirnya dapat bertemu anda kembali! Saya sungguh tak percaya saat Novia bilang bahwa Anda benar-benar berada di London." Seorang perempuan yang mungkin seusia mamanya, menyambut mereka dengan tangan terbuka. Keduanya saling mencium pipi sebelum akhirnya memisahkan diri. Dan saling mengagumi penampilan masing-masing. Pamannya juga menyapa Duke Lancaster dan berbincang-bincang sebentar. "Oh, perkenalkan. Ini keponakanku. Lilian Kendall. "Terima hormat say, My Ladies and My Lord." Dia menekuk lututnya memberi salam pada metiga tuan rumah. "Keponakan yang selalu Anda sanjung tinggi karena kecantikan mereka. Dan Anda tak bohong rupanya. Dia memang sangat cantik!" Lilian sedikit tersipu mendengar pujian tersebut, "Terima kasih, My Lady." "Kami akan menunggu Ball di buka di sana sambil bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kami kenal." "Ah, anda benar-benar harus berada di sini sampai pesta selesai. Setelah itu akan aku kenalkan pada kalian tunanganku." Novia Romanov-Lancaster, atau yang lebih akrab disapa Lady Romanov berseru pada Bibinya dengan wajah berbinar senang. Sementara Ibu dan Ayahnya terbahak. "Novia masih menganggapnya sebagai Tunangan, My Lord." Sementara keluarga tuan rumah masih berbincang tentang 'Tunangan' ini, Lilian beserta Paman dan Bibinya berkeliling. Bibi dan Pamannya mengenal banyak orang di London. Dan dia diperkenalkan sebagai keponakannya. Nada bangga dalam suara Bibinya memberi tahu Lilian bahwa malam ini dia tak membuat kesalahan. Dan itu melegakannya. Pesta sudah dibuka dan sekarang waktunya dansa bagi para tamu undangan. Paman dan Bibinya meninggalkannya sendiri untuk berdansa dua putaran. Dia sendiri, sudah menjadi dirinya yang semula, menjadi wallflower. Berdiri di tepi dinding dengan gelas champagne di tangannya. "Kenapa kau tak berdansa? Ayo, nikmatilah waktumu di sini! Banyak bujangan di sini!" Seru Bibinya. Dia hanya meringis. Tak menjawab dan tak menjelaskan apa pun, bahwa dia berada di sini karena tak ada yang mengajaknya berdansa. "Viscountess! Seperti yang aku janjikan sebelumnya. Perkenalkan, tunanganku." Ketiga kepala tersebut menoleh, dan saat mata Lilian menatap pada sosok yang familiar di depannya itu, nafasnya terkesiap dan gelas di tangannya terjatuh.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua