56 - Love Lesson

Neneknya masih mengomelinya tentang tindakan spontan yang barusan dia lakukan; masuk ke kamar Melanie Kendall begitu saja, tanpa mengetuk, dan tanpa ditemani oleh butler atau maid satu pun.
Tentu saja dia tau itu adalah tindakan tak sopan, tapi, dia sedang kalut dan amat khawatir sehingga dia tak bisa menahan diri.
“Apa yang terjadi Nana? Kenapa dia jadi seperti itu?” Tanyanya setelah mereka hanya berdua saja di ruang rekreasi Neneknya di salah satu sayap kastil. Salah satu ruangan di kastil ini yang masih difungsikan hingga saat ini.
Sejak kedua orang tuanya meninggal dua puluh lima tahun yang lalu, banyak ruangan yang berhenti difungsikan. Salah satunya adalah kamar orang tuanya yang baru - baru ini dia buka untuk menjamu Melanie. Dia dan Neneknya yang saat itu masih tinggal bersamanya di sini pun secara perlahan menutup kastil dari kunjungan orang luar, dan pada akhirnya ditutup total setelah dia berada di umur yang legal untuk mewarisi semua aset orang tuanya.
Kabar duka yang serentak tentang meninggalnya kedua orang tuanya yang diikuti dengan pengasingan diri hingga penutupan kastil itulah yang bibir awal rumor buruk tentang dirinya.
“Ini semua salahku, Willem. Seandainya saja…”
“Katakan dengan jelas padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jadi seperti ini?!” Saking gusarnya, dia sampai memotong kalimat sang Nenek, membuat wanita itu memandangnya dengan tatapan menegur sejenak padanya sebelum melanjutkan dengan suara yang berat.
“Dia bilang dia merindukan keluarganya.” Neneknya mendesah, mengangkat tangannya ke udara sebelum kemudian menjatuhkannya lagi ke atas pangkuannya. “Lima minggu ini aku terlalu egois menahannya di sini untukku sendiri. Dia pasti bosan sekali berada di dalam kastil ini hanya bersama seorang wanita tua cerewet sepertiku. Willem, ijinkanlah dia untuk berkunjung pulang ke rumah…”
“Merindukan keluarganya? Apakah seseorang yang merindukan keluarganya menangis sampai seperti itu, Nana?”
Neneknya menipiskan bibirnya tak setuju dengan pendapatnya. “Tentu saja bisa. Kau dulu bahkan menangis lebih keras saat merindukan kedua orangtuamu.”
Dia berbalik dengan wajah penuh permohonan, meminta Neneknya untuk tidak membahas itu lagi. Dulu dia masih amat muda dan labil. Bukankah wajar untuk menangis di usia itu? Tapi cara Neneknya menceritakannya seperti dia menangis meraung-raung sambil berguling-guling di atas karpet.
“Baiklah, baiklah, aku mengerti Nana. Lalu… apakah dia tak tahu aku akan datang hari ini?”
Neneknya mengangkat sebelah alisnya saat menjawab, “Apakah kau mengiriminya surat dan memberitahunya?”
Dia menggeleng, merasa kembali gusar sebelum berderap dan duduk di samping Neneknya. “Tidak, tapi aku mengirimi surat, Nana. Tidak kah kau…”
“No! Of course no! Kau mengirim surat padaku, bukan pada kami… astaga.” Neneknya berseru sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya. Wajahnya terlihat kaget dan marah.
“Apa apa, Nana?” Dia jadi ikut waspada melihat ekspresi Neneknya. Ada apa sebenarnya?
“Jangan bilang kau tak pernah mengiriminya surat sejak kau pergi.”
“Aku mengirim surat pada Nana. Apa Nana tak membacanya bersamanya? Nana! Kau memukulku.”
“Tentu saja kau harus dipukul! Tak heran dia menangis seperti itu! Astaga Willem, kau menghancurkan hatinya! Aku tak heran jika dia besok meminta pulang dan tak ingin datang lagi ke sini.”
Mendengar kalimat Neneknya itu, tentu saja membuatnya menjadi panik. “Tapi kenapa? Aku menjamunya dengan baik selama dia di sini. Kau juga bilang kalau kau menyukainya, Nana. Kenapa dia tak ingin ke sini lagi?”
“Karena kau membuatnya merasa tak diinginkan Willem.”
“Ap- bagaimana bisa?”
Neneknya menghela nafas dalam sebelum berbalik dengannya dengan wajah lelah. “Kadang aku lupa, seberapa banyak aku sudah mengajarkanmu untuk bersikap gentleman. Aku juga lupa bahwa bersikap gentleman tak sama dengan mengambil sikap yang pantas terhadap wanita.”
Dia diam menunggu Neneknya mengungkapkan apa maksud dari perkataannya karena saat ini dia tak bisa memahami apa pun.
“Kau punya reputasi yang buruk. Karena memang ada yang sengaja menyebarkan hal itu. Melanie juga pasti sudah mendengarnya. Maka. sekarusnya kau berusaha dua hingga tiga kali lebih dari yang seharusnya untuk mengambil hatinya. Memintanya ke sini adalah tindakan yang terlalu berani. Tapi itu tak salah. Melanie menerimanya, itu adalah tanda awal yang amat baik. Tapi bukan berarti kau bisa meninggalkannya begitu saja sebegini lama tanpa kabar. Tak heran dia merasa sakit hati, merasa tak dihargai dan merasa tak diinginkan di sini.”
“Bukan begitu yang aku maksudkan. Nana, aku harus bagaimana sekarang? Aku tak mau dia pulang dalam keadaan salah paham seperti ini.” Dia berbisik dengan nada panik sambil mengusak rambutnya yang sudah tak lagi rapi.
“Kita harus memperbaikinya. Tapi pertama - tama, kau harus membersihkan dirimu.”
***
Atas instruksi Neneknya, malam ini dia yang akan mengantarkan makan malam untuk Melanie alih-alih pelayannya Vivian. Dia masuk setelah mengetuk pintunya tiga kali dan hampir saja meraung panik saat tak menemukan gadisnya di atas tempat tidur.
Untung saja, sebelum dia melakukan hal yang memalukan itu, dia melihat pintu ke balkon terbuka. Dia mengikuti instingnya dan berjalan ke sana. Di sanalah dia menemukannya. Sedang berdiri bersandar di tepian Balkon memandang langit malam.
Hujan sudah puas mengguyur Phoenix seharian ini. Dan sekarang, mendung sudah pergi, menyisakan beberapa bintang berkelipan di langit. Dia berjalan pelan, dan berhenti di samping Melanie, membuat Gadis itu tersentak kaget.
“My Lord. Anda… bagaimana…”
“Aku naik untuk mengantar makan malammu.”
Dia menekuk kakinya sedikit. “Terima kasih, My Lord.”
“Miss Melanie. Tentu kau tau apa alasanku mengundang anda tinggal di kastil ini.” Tatapannya masih jauh ke depan. Tak berani menoleh untuk menatap gadis jelita yang ada di sebelahnya.
“Ya.” Jawaban tersebut datang dalam bisikan tercekat. “Untuk menemani Nenek anda selama berkunjung ke Phoenix.”
Dia menutup matanya sesaat. Rupanya apa yang dikatakan oleh Neneknya benar adanya. Ada rasa sakit dalam suara itu. Dia tahu Melanie adalah wanita yang peka. Jadi pasti dia tahu. Hanya saja, mungkin karena perlakuannya saat ini, dia tak mau berbesar kepala.
“Kau tentu tau maksudku yang lain.”
“Saya tak mengerti apa maksud anda.”
“Aku tahu kita berdua sama-sama tau ke mana arah pembicaraan ini Melanie. Kau gadis yang cerdas, kau pasti bisa menganalisa ke mana pembicaraan ini bermuara.” Kebisuan yang mengikuti pernyataannya adalah pembenaran dari kecurigaannya. Ditambah dengan kepalanya yang menunduk seolah telah kalah dalam berperang. “Aku tak pandai dalam hal ini. Aku memohon maaf jika aku membuatmu sakit hati, aku sama sekali tak bermaksud. Aku ingin kita saling mengenal, tapi aku tak tahu caranya. Kau mungkin tahu aku bukan orang baik.” Dia terkekeh kecil. “Tak ada orang baik yang akan senang saat mendengar pertunangan orang lain hancur. Tapi itulah yang kurasakan saat mendengar pertunanganmu dengan si Bungsu Hamilton berakhir.”
Jeda. Mereka berdua sama-sama berdiri terdiam menghadap ke depan. Dia yang pertama kali bergerak, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Melanie. Kemudian gadis itu perlahan mengikuti.
“Aku ingin dekat denganmu, mengenalmu, menjadi temanmu, sekarang , nanti dan selamanya. Aku tahu aku tak menunjukkan maksudku dengan baik. Maukah kau memaafkanku? Memberiku kesempatan lagi, Miss Melanie Kendall?”

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Puteri Tira

    ok.mudah dimengerti

    07/04

      0
  • avatar
    Kona

    bagus

    17/01

      0
  • avatar
    akbarrolla

    aduhhh bagusss kali

    23/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru