Tak seperti anjuran Adam yang dituruti oleh Harold, dia datang dengan tampilan biasa. Bahkan, dia sama sekali tak bercukur meskipun jambang dan jenggotnya sudah semakin jelas karena sudah berumur lebih dari tiga hari? Lima hari? Dia sendiri tak ingat kapan dia terakhir kali bercukur. Biarlah seperti ini. Dia belum ingin melakukannya. Dan dia tak merasa terganggu dengan itu juga. Hal itu membuat Adam sedikit bersungut dan memelototinya saat dia datang. Tapi sebelum temannya itu bisa mengomelinya tentang penampilannya malam ini, untungnya, kedua tamu yang mereka tunggu - tunggu akhirnya datang juga. Lady Romanov dan Lady Murphy. Dua orang sahabat yang sama - sama berasal dari latar belakang keluarga yang terpandang. Terkenal di akademi karena kecantikan dan kecerdasan otak mereka. Perjuangan mereka menyamakan hak - hak wanita tak membuat mereka kehilangan keanggunan mereka, malah, itu membuat mereka semakin berwibawa dan dikagumi banyak orang baik perempuan maupun pria. Harus diakui, mereka sama - sama cantik dan menarik. Tapi kecantikan bukanlah kriteria pertama yang dicari oleh Henry. Kriteria pertamanya adalah Lilian. Selain pada gadis itu, dia tak tertarik pada wanita mana pun untuk saat ini. Itulah yang membuat Henry tak seaktif Harold dalam menanggapi kedua gadis tersebut. Dia juga tak menghiraukan tatapan menegur yang dilayangkan Adam padanya karena sikapnya yang tak acuh. "Terima kasih sudah mau menerima kami dalam diskusi ini. Kami amat tak sabar untuk merealisasikan proyek ini.". Lady Romanov, yang sepertinya menjadi juru bicara di antara mereka berdua membuka percakapan. "The pleasure is all ours. Kami juga senang sekali karena mendapat lebih banyak masukan dan ide untuk pengembangan sekolah ini." Harold menjawab manis, matanya tak teralihkan dari Lady Romanov. Sepertinya dia sudah menentukan pilihannya. "Di sini kamu juga sudah membawa beberapa rancangan gambar gedung sekolah yang akan kita dirikan. Mungkin ini bisa menjadi referensi…" "Saat ini, yang paling utama adalah membuat rancangan pengajaran. Bukan bangunan sekolah. Hal - hal yang bersifat bangunan fisik bisa dibicarakan lebih mendalam seiring berjalannya proyek." Seluruh meja terdiam mendengar Henry dengan lancang dan tak acuh menukas kalimat Lady Romanov yang belum selesai. *** "Apa yang kau lakukan, Henry?!" Adam langsung berseru padanya setelah kedua tamu mereka pamit. Senyum yang awalnya memgembang di bibirnya berubah menjadi kerutan emosi yang seketika meledak. "Apa memangnya yang kulakukan?" Tanyanya defensif karena merasa tak bersalah. "Kau menakuti kedua tamu kita!" Henry mengernyit. Dia bahkan tak banyak bicara, bagaimana mungkin dia menakuti mereka? Apakah Temannya ini waras?! "Kau meruntuhkan antusiasme mereka saat akan menunjukkan rancang bangun sekolah yang ingin mereka bangun!" Dia berseru kesal. Henry menatapnya tak percaya, lalu beralih pada Harold yang duduk diam mengangkat bahu di sampingnya. "Aku tak meruntuhkan apapun. Aku hanya memberitahu apa yang sudah kita sepakati dari lama. Apakah perkataanku tadi ada yang salah?" Harold yang ditanya menggeleng. "Aku tak menganggap itu salah. Sebenarnya, aku tak melihat adanya masalah besar di sini. Atau apakah ini karena cara penyampaian Henry yang tak berbasa basi? Tapi bukankah dia memang selalu seperti itu?" Adam mendengus kesal melihat Harold seperti lebih memihak pada Henry. "Dia hampir membuat penyumbang dana proyek kita kabur!" Kedua temannya yang lain menatap kaget. "Penyumbang dana?" "Bukankah kita sepakat menggunakan uang pribadi untuk proyek ini? Atau aku yang tak menyimak?" "Memang awalnya seperti itu, tapi kalau kita bisa mendapatkan tambahan dana, bukankah akan lebih bagus? Lagi pula, istriku kenal baik dengan mereka berdua. Sulit mendapatkan partner yang bisa memberikan sudut pandang lain seperti itu. Kenapa harus kutolak?" Adam adah satu-satunya yang sudah menikah di antara mereka. Istrinya salah seorang putri Viscount di tempatnya berasal. Mereka dijodohkan, tapi sepertinya pernikahan mereka berjalan dengan baik. "Tapi kurasa itu tak ada hubungannya dengan jawaban Henry. Justru bagus, kita memaparkan apa yang menjadi rencana kita di awal. Itu bisa menjadi bahan pertimbangan untuk mereka apakah masih tetap ingin bergabung atau tidak lagipula, lebih baik menerima keputusan mereka saat ini daripada di tengah-tengah saat proyek berjalan." Harold lagi - lagi menambahkan. Dan kali ini Adam tak bisa membantu karena dia tau Harold benar dengan perkataannya. Jadi Adam hanya mendesah pasrah saat kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang di belakangnya. "Dan kalian sepertinya gagal mendapat teman kencan" katanya lagi. "Tidak untukku. Aku sudah diberikan ijin untuk mengirim surat pada Lady Romanov jika aku ingin." Harold tersenyum senang, bangga dengan pencapaiannya. "Dan kau, bukankah Ibumu memintamu untuk segera menikah sampai mengadakan pesta dansa untukmu? Agar kau menemukan wanita yang tepat untuk kau peristri? Kau gagal mendapatkan satu di sana, kenapa kau menolak yang ini?" Henry mengerling pada sahabat-sahabatnya yang menunggu jawabannya dengan sabar. "Siapa yang bilang aku tak menemukannya di sana." "So you do find one?" "One that captured my heart but I know she can't be mine." Keduanya langsung heboh mendekat pada Henry untuk meminta cerita lengkapnya yang memang belum pernah dia ceritakan pada siapa pun. "What? What do you mean?" "How could I have never heard about this?! I want the full story this instan!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua