logo text

44 - Melanie's Departure

Setelah gelisah seharian, akhirnya kereta kuda yang akan menjemputnya datang juga. Dibantu Lilian, Bibi Jane, Paman Stevan dan Ayahnya, Melanie membawa barang - barang yang akan dia bawa selama menginap di kastil Lord Mathis.
Mereka membawa turun barang - barang tersebut sambil sedikit mengobrol. Melanie sedang menertawakan kisah lucu yang diceritakan oleh Bibinya saat mereka masuk ke ruang depan. Tawanya langsung berhenti saat menyadari siapa yang datang menjemputnya. Lord Mathis sendiri!
“Astaga.” Bisiknya sambil terhuyung.
Untungnya Lilian dan Bibi Jane yang berada di belakangnya sigap menopang tubuhnya untuk tetap tegap, meskipun dengan kaki yang gemetaran luar biasa.
“My Lord.” Lilian menekuk sedikit Lututnya untuk memberi salam sambil menundukkan kepalanya, menarik Melanie serta agar melakukan hal yang sama.
Pria dingin berbahu kokoh dan lebar yang membuat ruang rumahnya kini tampak sedikit sesak itu menundukkan kepalanya, menyambut salam mereka.
“Miss Kendall, terima kasih karena sudah bersedia memenuhi undangan saya untuk tinggal di kastil. Saya sangat menghargainya.”
Melanie tersengal, nyaris tak bisa menjawab ucapan terima kasih dari sang Earl. Lilian yang berada di belakangnya menyenggol lengan Melanie sehingga gadis itu kembali menemukan suaranya.
"Suatu kehormatan bagi saya, My Lord."
Lord Mathis mengangguk, menerima jawabannya, lalu melongokkan sedikit lehernya untuk melihat barang bawaan Melanie.
"Itu yang akan anda bawa? Orang saya akan membantu menaikkannya ke dalam kereta."
Lagi-lagi Melanie kehilangan suaranya sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah mengangguk.
Dia memaki dirinya sendiri karena mendadak segugup ini dan nyaris mempermalukan dirinya. Dia akan sering melihat pria ini karena dia akan tinggal di rumahnya. Apakah dia akan selalu seperti ini?! Dia harus segera menemukan kewarasannya kembali!
Tapi Melanie tak bisa sepenuhnya disalahkan. Pria itu entah bagaimana terlihat sepuluh kali lebih menarik dan lebih kharismatik dari terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya tetap tampan, tatapan matanya yang intens itu seolah mampu melihat menembus hati dan pikirannya. Lalu suara dalam selembut beludru saat berbicara dengannya seolah mengelusnya di tempat yang tak terjangkau elusan fisik.
Dia kira, setelah patah hati dengan Henry kemarin, dia tak akan bisa merasakan sensasi wajah merona dan jantung berdebar lagi seperti ini. Tapi ternyata apa yang dia rasakan pada Henry Hamilton sama sekali tak sebanding dengan apa yang dia rasakan pada Lord Mathis saat ini.
Dia duduk diapit oleh Lilian dan Bibi Jane, sementara menunggu Lord Mathis berbasa-basi dan berpamitan kepada orang tuanya. Tangannya meremas tangan Lilian kuat saat tatapannya bertemu dengan Lord Mathis, membuat debaran jantungnya menggila sampai-sampai dia khawatir kalau mereka akan berhenti mendadak.
"Saya akan mengantarkan Miss Kendall kembali pulang tanpa ada yang kurang sedikitpun, Baron, Baroness." Adalah kalimat penutupan yang diucapkan oleh Sang Earl sebelum berdiri dan berpamitan.
Melanie dituntun juga oleh Lilian keluar dari rumah. Adiknya itu memeluknya erat sesaat sebelum dia naik ke atas kabin kereta.
"Temukan jawabanmu di sana, Melanie. Aku sungguh berharap agar kau bahagia. Aku sedih jika melihatmu bersedih."
Melanie membalas pelukannya dengan tak kalah erat. "Tentu, adik kecil. Jaga dirimu baik-baik. Kita harus lebih bahagia dari saat ini saat kita kembali ke rumah, okay? Jangan lupa kirimi aku surat ketika kau berada di London. I love you."
***
Suasana di dalam kabin kereta amat sunyi dan canggung. Mereka duduk masing-masing di ujung bangku, berjauhan satu sama lain. Tak ada satu pun dari mereka sepertinya yang berniat memecahkan keheningan yang pekat ini. Tidak pria itu, tak juga dirinya.
Itu bukan karena dia tak mau. Dia beberapa kali membuka mulutnya untuk dikatupkan kembali. Keberaniannya tidak besar. Dan saat itu terjadi, mereka pergi disapu oleh keragu-raguan sehingga dia mengurungkan niatnya dan kembali pada kebisuannya sambil meremas kedua telapak tangannya dan melengkungkan jari - jari kakinya yang tertutup sepatunya
Karena tak tahu harus bagaimana, akhirnya Melanie melayangkan pandangannya ke luar jendela. Memandangi padang rumput yang membentang dengan kuda atau hewan ternak yang sedang digembalakan di sana. Pemandangan kemudian berubah menjadi pemukiman, toko-toko, workshop dan berbagai pusat berkumpulnya manusia di kota. Ya, mereka baru saja memasuki pusat kota Phoenix. Matanya menatap kosong pada deretan toko - toko yang memajang dagangannya di luar toko dan pada beberapa orang yang lalu lalang di jalanan. Menggendong anjing, menenteng tas, bercakap-cakap di kafe yang menyediakan kopi dan makanan bagi pengunjungnya, atau hanya duduk sendirian membaca koran.
“Anda ingin mampir dulu di sini?” Suara berat yang tiba - tiba terdengar itu membuat bahu Melanie terlonjak. Sontak membuat si pemilik suara langsung meminta maaf karena kecerobohannya. “Maafkan saya sudah mengagetkan anda.”
“Oh, sungguh tak apa. Sayalah yang seharusnya meminta maaf karena melamun sepanjang perjalanan. Maafkan saya, Anda bilang apa tadi?”
“Mau mampir ke salah satu cafe itu sebelum ke kastil?”
“Oh, tak perlu. Tak perlu. Saya hanya sedikit melamun saja tadi, bukan memandangi apalagi berkeinginan untuk ke sana.”
“Maafkan saya karena saya bukan teman perjalanan yang menyenangkan.”
Senyum Melanie perlahan-lahan pudar. Dia sedikit tertegun mendengar kalimat Lord Mathis. Dia menundukkan wajahnya sambil memainkan pita gaunnya saat menjawab.
“Saya juga bukan teman yang menyenangkan. Tapi karena kita akan tinggal dalam satu tempat selama beberapa saat, maukah anda berjanji?”
“Ya, tentu saja. Apapun untuk Anda.” Jawaban Lord Mathis terdengar tegas dan jelas.
“Anda harus berusaha menjadi teman saya tanpa menjadi orang lain. Jadilah diri anda sendiri. Tunjukkan pada saya orang seperti apa sebenarnya Lord Mathis.”

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Puteri Tira

    ok.mudah dimengerti

    07/04

      0
  • avatar
    Kona

    bagus

    17/01

      0
  • avatar
    akbarrolla

    aduhhh bagusss kali

    23/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru