Tepuk tangan yang riuh menyambut si Tuan Rumah penyelenggara pesta. Tepat setelah pembawa acara memperkenalkan si Tuan rumah, beberapa gadis yang sedang dalam misi untuk mencari suami, termasuk Melanie, mulai mencoba yang terbaik untuk menarik perhatian si bintang utama pesta dansa kali ini Henry Hamilton. Pemuda yang sedang mencari pasangan. Tapi tidak dengan Lilian. Dia tetap diam di tempatnya. Dia tidak suka keramaian. Selain itu, dia masih shock. Bahwa dia ternyata berdansa dengan Henry Hamilton! Dia tidak akan menyangkal bahwa sejauh ini, ini adalah pesta dansa paling berkesan yang pernah dia hadiri. Ada yang mengajaknya untuk menari dan dia juga berbicara dengan bebas dengan seseorang yang dia sukai. Meskipun mengejutkannya, dia adalah tuan rumah pesta. Dari tempatnya, dia bisa melihat Melanie akhirnya berhasil membuat Henry berdansa dengannya juga. Tak hanya sekali, tapi dua kali putaran. Itu luar biasa. Meskipun sedikit ada perasaan tak rela menyelusup ke hatinya, dia memaksakan diri untuk terlihat senang dengan kemajuan Melanie itu. Mereka pulang jam sebelas malam. Tak lama, memang. Melanie masih menikmati pesta saat dia memintanya pulang. Tentu saja Kakaknya itu menolak, tapi tukang kereta kuda juga butuh waktu istirahat. Sewa mereka hanya sampai tengah malam nanti. “Kalian sudah, kembali? Begitu cepat?" Ibu mereka ternyata masih terjaga saat mereka sampai. Dia sedang merajut di depan perapian. Mungkin menunggu mereka kembali, atau menunggu Ayah mereka yang sepertinya belum juga pulang? “Lilian bersikeras untuk pulang. Kami pergi ketika suasananya tepat di puncaknya. Sayang sekali!" Melanie tidak menyembunyikan kekesalannya pada Lilian. “Papa bilang sewanya habis tengah malam. Aku hanya tidak ingin kita membayar lebih.” Dia menjawab dengan suara rendah. "Lagi pula, Melanie sudah berdansa dengan beberapa bujangan. Bahkan dengan Henry Hamilton juga." Dia melanjutkan dengan penuh semangat, menekan perasaan tak enak yang terus saja mengganggu hatinya setiap kali memikirkan Henry Hamilton dan Melanie bersama. "Aku yakin dia akan mendapatkan surat lamaran pernikahan besok!" Mrs. Kendall menatap putri bungsunya dengan tatapan sedih. Dia tahu niat Lilian, bahwa gadis kecilnya itu hanya tidak ingin mereka terlilit hutang lebih dari sekarang, tapi dia juga mengerti bagaimana perasaan Melanie. Ini sudah tahun ketiga setelah debutnya di Bursa pencarian suami. Kebanyakan gadis, biasanya, akan dilamar oleh para bujangan pada tahun kedua atau ketiga setelah debut mereka. Bujangan akan kehilangan minat mereka pada gadis yang tidak dapat menemukan suami sampai tahun ke-3. Mereka cenderung akan memilih debutant lain yang lebih muda dan segar. Bukannya tak ada yang melamar Melanie, tapi, biasanya mereka mundur setelah tahu keadaan keluarganya yang sebenarnya. Terlilit banyak hutang. Padahal, jika saja mereka mau bertanya lebih dalam, Baron dan Barones tak pernah berpikir untuk melimpahkan hutang - hutang tersebut pada anak maupun menantinya. “Maafkan aku, Sayang. Kalian berdua amatlah cantik. Kalau saja kalian tidak berasal dari orang tua miskin seperti kami. Gelar bangsawan ini tidak berguna tanpa uang. Aku minta maaf." Ucap Mrs. Kendall dengan isak tangis tertahan yang menggetarkan tubuhnya. Melanie yang terlihat sangat marah barusan tiba - tiba bangkit dari kursinya dan bergegas menghampiri ibunya. Dia merasa menyesal atas perilakunya barusan. Dia mengerti kekhawatiran kakaknya. “Tidak, Ma. Maafkan aku. Aku sangat egois!” Melihat pemandangan di depannya, Lilian tidak bisa berbuat apa - apa selain berdiri di tempatnya dengan bimbang. Dia sangat mengerti, untuk mengurangi beban dan membantu membayar hutang, saudara perempuannya dan juga dia, pada akhirnya, harus menikah dengan seorang bujangan yang kaya. Tidak harus yang paling kaya, tapi minimal pendapatan tahunannya harus lima puluh ribu poundsterling. Dan dengan uang sebanyak itu, akan berbeda jika mereka menikah dengan bujangan lokal. Mereka harus menikah dengan pria yang lebih kaya. Seperti putra Duke Hamilton, atau setidaknya keturunan daru Granduke. Selain dua keluarga ini, tidak ada bangsawan yang cukup kaya untuk mereka di Phoenix. Kedengarannya materialistis, tetapi ada kehidupan nyata di dalamnya. "Maafkan saya." Dia akhirnya bergabung dalam bisikan itu. Kepalanya tertunduk masih di tempatnya. Ibunya menatapnya dengan mata berkaca - kaca yang masih basah. "Oh, Sayang. Kemari dan peluk Mama." Mereka bertiga berpelukan malam itu sambil menangisi takdir mereka. Melanie merasa harus segera menikah untuk membantu keluarganya, Lilian yang tidak mau menambah beban keluarganya, dan ibunya, Mrs. Kendall yang terus merasa bersalah. Dia yang ingin tidak pernah menikah karena sistem sosial yang akan membuatnya menjadi gender kedua harus merelakan rencananya untuk membantu keluarganya. Tapi… kepada siapa? Apakah ada bujangan yang mau menerima dia apa adanya? Dia tidak pandai di dapur, canggung dengan pekerjaan rumah tangga, dan sangat menyukai buku. Mrs. Kendall sering mengingatkannya untuk menyembunyikan minatnya pada buku saat berbicara dengan bujangan mana pun. Jadi dia bisa bertemu dengan seorang suami. Pria tidak suka diintimidasi oleh wanita. Mereka tidak suka pasangan mereka lebih pintar darinya. Untuk menjadi menonjol dari dia. Ini adalah era ketika wanita masih memiliki begitu banyak batasan di sekitar mereka. "Maafkan aku Melanie." Dia berbisik masih dalam isak tangis rendah. Pintu depan sekali lagi terbuka. Ayah mereka Mr. Kendall akhirnya sampai di rumah. Dia bekerja sebagai tukang jahit di kota. Dan ketika mereka pergi ke pesta dansa, Mr. Kendall juga pergi bekerja karena ada pelanggan yang ingin memperbaiki rompinya. Dan itu membutuhkan perawatan segera. "Ladies? Apakah tempat tidur kita rusak? Kenapa kalian semua berbaring di lantai seperti ini?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua