Henry pulang ke kastil Hamilton dalam keadaan gusar dan marah. Dia ditolak! Dia tak biasa ditolak, dan dia sebenarnya adalah orang yang kompetitif di saat-saat tertentu. Jadi saat ini, dia sedang tak baik-baik saja. “Apa kau harus mondar-mandir di depanku dan memecah konsentrasiku seharian ini?” Abangnya sang Marques menegurnya dengan suara kesal. Adiknya sudah seperti itu sejak kembali dari luar. Tadi dia meminta ijin untuk keluar sebentar, awalnya dia berjalan kaki, lalu dia melihatnya kembali dengan buru-buru dan mengambil kuda sebelum akhirnya pergi lagi. Dan setelah datang, saat dia kira urusannya yang entah apa itu sudah selesai, dia malah jadi seperti ini. “Ini tak adil, Brother.” Keluhnya, sembari berjalan ke sebuah kursi, memutar tubuhnya dan akhirnya duduk di sana. Marquis menghentikan kegiatannya dan berfokus pada adiknya. Dia melambaikan tangannya, menyuruh juru tulisnya untuk meninggalkan mereka berdua saja yang langsung dilaksanakan tak lama kemudian. “Ada apa?” Tanya Abangnya saat mereka sudah sendirian di dalam ruang kerja besar yang luas itu. Sebenarnya, ini adalah ruangan Henry. Tapi karena dia belum resmi bertugas sampai kepulangannya beberapa minggu yang lalu dari London, maka setiap kali Marquis datang mengunjungi Duke Hamilton, dia akan memakai ruangan adiknya untuk bekerja. “Aku ditolak.” “Oleh Miss Kendall?” Marquis bertanya tak percaya. “Ya.” Henry menjawab mantap. Miss Kendall yang ada di kepalanya, berbeda dengan Miss Kendal yang dibicarakan oleh Abangnya. Karenanya, Abangnya menatapnya dengan wajah bingung. “Aku kira dialah yang mengejarmu, kenapa sekarang dia yang menolakmu?” Henry sudah hampir menjawab, tapi langsung menutup mulutnya saat tersadar mereka membicarakan orang yang berbeda. “Bukan Melanie. Aku ditolak oleh Lilian.” “Adik Melanie Kendall?” Henry mengangguk, membenarkan. “Henry, benar kata Kakak iparmu. Kau sudah bertunangan dengan Melanie. Aku sebenarnya tak ingin mengurusi kisah cintamu. Kau sudah dewasa dan bisa membuat pilihan. Tapi bukannya ini keterlaluan?” “Bukan begitu…” “Lalu kenapa kau dekat dengan Lilian. Lagipula, apa maksudmu ditolak?” “Bro, dengarkan aku dulu.” Marquis menghela nafasnya dalam dan panjang. Tapi menurut untuk diam dan mendengarkan penjelasan adiknya lebih jauh. Lagipula, dia benar-benar tak mengerti apa maksud Henry sebenarnya. “Kau tau aku mendapatkan tiket untuk seminar tentang konstelasi bintang di London baru - baru ini?” Marquis mengangguk. Dia tahu tentang itu. Pelayan mengantarkan paket itu pada adiknya saat mereka sarapan, dan dia juga menjadi saksi betapa adiknya itu amat gembira menerima paket tersebut. Dia sempat mengajaknya untuk ikut ke London menemaninya, tapi istrinya tak mengijinkan. Adelia tak ingin ditinggal sendiri di kastil Duke bersama putri mereka. Melihat Abangnya mengangguk, Henry melanjutkan, kali ini kembali berdiri dan berjalan mondar mandir. “Karena kau menolak, aku mengajak Lilian pergi.” “Kau sudah tak waras atau bagaimana?!” Serunya kaget. Henry mendesah putus asa. “Ayolah, ini kan hanya ajakan untuk menghadiri forum. Bukannya aku mengajaknya berkencan atau bagaimana.” protes adiknya. Marquis paham apa maksud adiknya, tapi kenapa adiknya tak paham bahwa saat ini mereka berada di Phoenix? Bukan di London? Dengan masyarakat yang kurang modern dan dengan pemikiran - pemikiran lama. “Dan dia menolakmu?” Henry mengangguk cepat. “Syukurlah, setidaknya dia masih waras untuk tidak menerima ajakanmu.” “But why?! She likes it! Dia menyukai topik tentang bintang, tata surya sistem gravitasi dan sebagainya. Aku tak percaya dia menolakku hanya karena kakak perempuannya!” “Kau sudah tau jawabannya. Dia menolakmu karena Kakaknya. Karena hal itu akan menjadi rumor yang menyebar seperti api yang ditiup angin. Kenapa kau tak mengajak Melanie?” “Dia tak menyukai hal-hal seperti ini.” Henry kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi. Menyandarkan lehernya ke atas sandaran kursi, sementara Marquis masih duduk tenang bersandar di balik meja kerjanya. Kedua tangannya saling bertaut dan dagunya bertumpu di sana. “Sebenarnya, apa yang terjadi antara kau dan Lilian Kendall?” “Dia wanita yang menarik, Bro. Mungkin tak secantik Kakaknya, tapi, berbicara dengannya tak akan membuatmu bosan. Dan itu membuatku tertarik,” jelasnya pelan. “Lalu kenapa kau mengumumkan hubunganmu dengan Kakaknya?! Kenapa dulu kau tak mengejar Lilian saja?!” Sang Marquis menegurnya keras, tak setuju dengan tingkah laku adiknya itu. “Aku tau aku salah, aku tau aku tak bisa mundur lagi sekarang. Dulu, kupikir, bisa menjadi keluarga dengan Lilian sudah cukup. Tapi ternyata perasaanku tak begitu padanya.” Marquis mendengus. “Bisakah kau berpikir dengan matang dulu sebelum bertindak? Lihat sekarang apa yang terjadi. Jika kau tetap menikah, kau akan memiliki skandal. Jika kau tak menikahi Melanie Kendall, maka reputasinya akan tercoreng. Siapa yang akan menikahinya di kemudian hari nanti? Sementara sudah menjadi rahasia umum bahwa keluarga Baron harus menikahkan putri-putri mereka pada bangsawan kaya yang bisa membayar hutang mereka.” Henry diam, menekuri perkataan Abangnya tentang nasibnya. Lalu perkataannya pada Lilian tadi tentang seseorang yang mau menikahi Melanie terlintas di kepalanya, membuatnya seketika duduk tegak. “Bagaimana kalau ternyata ada yang mau menikahi Melanie? Apakah aku selamat? Reputasinya tak akan hancur, kan?” Lagi-lagi Marquis mendengus mendengar pertanyaan adiknya. “Memangnya siapa yang mau menikahinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pemuda tak ingin dekat dengannya bukan karena dia jelek, tapi karena takut tak cukup kaya untuk melunasi hutang keluarga Baron.” “Bagaimana dengan Lord Mathis?” “The Earl?”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua