Beranda/Marry Me Miss Kendall/
145 - Safe Return!
“Apa kakakmu sudah selesa?”
“Seharusnya dia sudah turun. Aku akan mengeceknya, Mama.”
Suasana di rumah Baron sudah aktif sekali meskipun hari masih pagi. Baroness menyiapkan sarapan di dalam rumah, Lilian membantu menata meja dan sesekali naik ke atas untuk mengecek kakaknya, Melanie yang hari ini akan berangkat ke utara mengantar Lady Wallone.
Dengan sigap, Lilian menaiki tangga, menoleh sebentar untuk melihat ayah dan kakak iparnya yang sedang memasukkan bawaan mereka ke dalam kereta, juga memastikan semua supply aman untuk beberapa hari ke depan.
Musim semi sudah berada di puncaknya. Hujan mulai jarang turun dan cuaca kini hampir selalu hangat dan cerah. Tanah yang gembur dan becek karena hujan kini mulai mengeras dan mudah untuk dilewati roda kereta yang terbuat dari kayu. Mengingat hal itu, hati Lilian pun merasa lebih tenang dan gembira. Semua aspek itu akan membuat perjalanan Melanie dan Lord Mathis ke utara akan lancar. Makin lancar, makin cepat kembali mereka ke sini. Lilian memang merestui Melanie berangkat ke utara, tapi dia juga ingin agar kakaknya itu bisa hadir pada hari pernikahannya dua minggu lagi.
Lilian sampai di depan kamar Melanie yang setengah terbuka. Kakaknya tengah mengunci koper terakhir yang akan dibawanya nanti. Lilian mengetuk pintu kamar tiga kali untuk mengumumkan kehadirannya pada Melanie sebelum memasuki kamar kakaknya.
“All done? Mama sudah menunggu kalian di ruang makan untuk sarapan.”
“Ya, hanya tinggal ini saja. Biarkan saja, Dear.” Melanie melarang Lilian saat dia hendak mengangkat koper yang diletakkan Melanie di atas ranjang dan membawanya ke bawah. “Biar Willem yang menurunkannya nanti. Ayo, kita turun saja. Mama akan mengomel kalau kita tak segera turun.”
Lilian mengangguk dan mengikuti Melanie keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana, Baron dan Lord Mathis sudah menunggu, sementara Baroness berdiri di antara mereka menuangkan kopi untuk para pria.
“Akhirnya kau turun juga, Dear. Ayo, duduklah. Suamimu sudah menunggu. Pesan pada Lady Wallone sudah dikirim beberapa saat yang lalu. Sekarang mungkin beliau sudah bersiap menunggu kalian menjemputnya. Ayo, kalian harus bergegas.”
“Mama, tidak perlu terburu-buru begitu. Kalau begini, aku malah merasa Mama sedang mengusirku.” Melanie merajuk saat duduk di kursinya di sebelah Lord Mathis.
Baroness menelengkan kepalanya dengan tatapan menegur. Ada raut sedih tersirat juga di wajahnya saat menatap anak sulungnya itu. “Tentu saja bukan begitu maksudku. Kau tahu pasti tentang hal itu, Melanie. Kalau boleh memilih, tentu saja aku ingin ….”
“Melanie hanya bercanda, Ma. Jangan diambil hati. Kau duduklah, biarkan aku yang menuangkan teh untukmu.” Lilian menendang kaki Melanie di bawah meja sebelum menghampiri Baroness dan menuntunnya ke kursi.
“Sorry, Mom. I was just joking.” Melanie berbisik, mengangkat cangkir tehnya yang baru saja diisi oleh Lilian ke bibirnya. Dia tidak menyangka kalau candaan sederhana seperti itu bisa membuat ibunya tersinggung.
Suasana sarapan pagi itu masih agak kaku, tapi semuanya berjalan lancar dan tetap hangat. Itu semua tak lepas dari usaha Lilian dan Baron, dibantu Melanie dan Willem yang terus berusaha mengobrol dengan alami. Baroness awalnya tidak mau menanggapi, tapi lambat laun, dia akhirnya terlibat dalam percakapan meja makan pagi itu.
Mereka tidak terburu-buru menghabiskan kopi setelah sarapan berakhir. Baru setelah matahari agak tinggi, Melanie dan Willem berpamitan untuk berangkat ke utara. Kelimanya saling berpamitan dengan emosional dan haru.
Melanie memeluk Baroness lama, menenangkan wanita paruh baya itu saat dia mulai terisak dengan menjanjikan bahwa dia akan segera pulang sebelum mereka sadar bahwa dia pergi dari rumah. Setelahnya, Melanie berjalan ke arah Lilian yang berdiri agak di terpisah dari mereka semua. Wajah Lilian terlihat biasa, tapi saat Melanie mendekat, adiknya itu langsung memeluknya erat. Isakan samar terdengar dari mulutnya.
“Hei, why are you crying?” Melanie bernisik mengelus lembut punggung kecil Lilian. Hari ini, rambut ikal coklat lembutnya di gelung ke atas, menyisakan beberapa helai menjuntai membingkai wajah mungil Lilian. Melanie menangkup wajah adiknya dan menempelkan dahi mereka. “Should I stay?”
Lilian menggeleng cepat-cepat. “No, pergilah., Maaf, aku hanya ….”
“Aku tahu. Aku pun ingin menemanimu saat ini sama seperti yang kau lakukan dulu menjelang aku menikah.” Lilian tersenyum lembut, ekspresi yang berbanding terbalik dengan air mata yang masih merebak di matanya. “Aku hanya sebentar. Aku pasti sudah kembali ke sini sebelum hari pernikahanmu, Lilian. Aku janji padamu.”
Lilian mengusap sudut matanya, mengangguki ucapan Melanie. “Aku tahu. Seperti yang kukatakan padamu semalam, ini adalah kesempatanmu. Kau bukan lagi seorang Kendall, melainkan istri seorang bangsawan. Kau memiliki tugas dan peran yang harus kau jalankan. Mengunjungi kediaman Lady Walone di utara adalah salah satunya. Kau harus menampakkan diri agar tak ada lagi gosip-gosip yang beredar tentang Lord Mathis.” Lalu, dengan suara berbisik, Lilian menambahkan. “Selamatkan pria itu dari gosip yang tak sedap. Tunjukkan kalau dia sekarang adalah milikmu!”
Melanie tertawa. “Sebaliknya, gosip itu sangat membantuku menghalau para wanita yang ingin mendekatinya.”
Lilian mengerucutkan bibirnya sebelum mengangguk beberapa kali. “That’s work. Namun, bagaimana kalau ada perempuan-perempuan yang nekad seperti yang terakhir kali? Kau harus membuat some preventive plans!”
“Same goes to you, Lil Sis. Henry juga sasaran empuk bagi para wanita di mana pun dia berada.”
“Kalian sudah selesai?” Lord Mathis mendekat, menyela percakapan mereka, membuat Lilian sadar bahwa ini adalah saat terakhirnya bersama Melanie sebelum kakaknya berangkat.
“Pergilah, Lady Wallone pasti sudah menunggu. Jalanan sudah tidak becek lagi, seharusnya perjalanan kalian tidak terlalu sulit. Safe return, Melanie. I’m waiting for you!”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (99)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua