logo text

143 - Since You Look Appetizing

Melanie membekap mulutnya kencang, menahan dirinya untuk tak mengerang kencang saat ini karena ulah suaminya.
Saat ini Willem sedang sibuk mengeksplorasi bagian bawah Melanie dengan lidah dan mulutnya; menjilat, mengelus, menyentil, menyesap, semua yang dilakukannya di sana membuat Melanie tak tahan. Jika bukan karena Willem menopangnya dan memegangi kedua kakinya, dia pasti sudah merosot jatuh ke lantai sedari tadi.
"Willem … Willem … aku … nggh … it's coming! It's coming … Ahh!!" Melanie menghujamkan kukunya ke bahu Willem dengan kepala mendongak ke atas, sementara dia menahan desahannya agar tak terlalu keras saat sensasi yang dinanti-nanti akhirnya menghampiri, menggulungnya dalam gelombang kenikmatan yang membuatnya lemas.
Namun, Willem ternyata tak berhenti sampai di situ saja. Dia masih melanjutkan invasinya di bagian bawah Melanie tanpa memberi istrinya istirahat. Bahkan, salah satu tangannya kini merambah ke atas ke dada Melanie yang hanya tertutup oleh gaun tidur satin tipis.
"Willem! Willem! No, please. Lilian will get angry at me … oh God, yes, there, there! I'll cum again! Oh! Willem!!"
Baru saat itulah Willem berhenti, menurunkan kaki Melanie hingga istrinya itu hampir terjatuh karena lemas. Nafasnya masih terengah-engah dan pandangannya sedikit kabur karena datang dua kali secara berurutan. Padahal, Willem hanya melakukannya dengan jari dan mulutnya saja. Seperti itu saja, Melanie sudah kepayahan.
Melanie menatap pura-pura kesal pada pria itu. Dia baru saja selesai mandi setelah tadi membantu ibunya di dapur untuk menyiapkan makan siang dan membereskan rumah setelah Lilian mencoba memakai gaun pengantinnya tadi. Karena nyaman, dia hanya memakai gaun tidurnya saja dan belum berganti pakaian untuk makan malam nanti.
"Bagaimana kalau Lilian mendengar semuanya. Dia bisa ngambek lagi."
Willem tak menjawab. Alih-alih, dia meraih tangan Melanie dan membawanya ke tepi jendela. Melanie menurut dengan wajah bingung. Pemandangan dari jendela kamar Melanie sama seperti jendela kamar Lilian yang menghadap padang rumput di depan rumah mereka. Hanya saja, dari jendela kamar Melanie, pemandangan tersebut agak tertutup oleh batang pohon akasia yang tumbuh di halaman rumah mereka.
"Kau lihat, dua orang yang saling tindih di bawah pohon itu?" Melanie menahan nafasnya keras saat Willem menunduk dan menjilat cuping telinganya. "Mereka sedang asyik sendiri. Jadi, kita tak ada yang mengganggu sekarang. Kau boleh mendesah sedikit lebih keras, My Lady."
Melanie menahan nafas, gagal mengalihkan perhatiannya selain suara dalam yang mengalun di telinganya. Dia juga tak sadar bahwa gaun tidurnya sudah disingkap ke atas dan suaminya sudah bersiap di pintu masuknya.
"Ah!!" Melanie terbelalak kaget saat Willem memulaimenghujam tanpa memberi aba-aba. Dia sedikit panik antara harus berpegang pada kusen jendela dan membekap mulutnya agar suaranya tak terlalu nyaring. "Willemmmhhhh …."
"Yes, Sweetheart. Kau boleh bersuara, tapi jangan terlalu keras. Otherwise, orang tuamu mungkin mengira sesuatu terjadi padamu dan mereka akan naik."
Melanie merintih. Entah bagaimana, bercinta dengan Willem kali ini berbeda dari biasanya. Sensasi yang dirasakannya lebih intense daripada biasanya saat di kastil. Tubuhnya berkali-kali lipat lebih bergairah dan satu sentuhan halus dari Willem bisa membuatnya melenguh dan menggeliat.
Namun, di sisi lain, dia khawatir seseorang yang lewat di Padang rumput depan rumah mereka akan mendongak ke atas dan melihat apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Bisa orang asing, bisa Lilian dan Henry, atau bisa juga orang tuanya.
"Ngghhh …!"
"You're tighter than usual. It's so good, Melanie. Are you afraid someone might see you here?"
"Willemmmm …." Dia tak bisa menjawab selain melenguh.
Gerakan Willem konstan dan stabil di belakangnya. Sepertinya pria itu amat menikmati saat ini dan tak ingin buru-buru selesai. Dan itu membuat Melanie semakin khawatir hingga tanpa sadar dia mengetatkan dirinya.
"Oh, God … I've never had enough of you." Willem mendesah dalam dan parau.
Ini adalah malam terakhir mereka menginap di sini. Sebenarnya, kedatangan mereka ke sini adalah untuk berpamitan karena mereka akan mengantarkan Lady Wallone pulang ke utara. Mereka akan berada di sana selama beberapa saat sebelum pulang dan menghadiri pernikahan Lilian.
Namun, mereka malah belum sempat mengatakan tujuan utama kedatangan mereka sejak awal ke rumah Baron.
Lengan Melanie melemah hingga dia hanya bisa bersandar pasrah pada kaca jendela sementara gerakan Willem di belakangnya mulai tak terkendali. Beberapa saat kemudian, diiringi dengan dengusan kasar dan lenguhan panjang, mereka berdua merosot jatuh ke lantai.
"You're amazing, wifey. I love you."
***
"Kau bercanda, 'kan?!" Lilian menatap Melanie dengan pandangan terluka. Lalu pada Earl Willem Mathis yang ada di sebelah Melanie.
Mereka sedang makan malam bersama. Semua anggota keluarga hadir di sana; Baron, Baroness, Melanie, Earl Mathis dan juga Lilian. Lilian baru merasa senang karena akhirnya bisa bertemu Henry setelah seminggu penuh hanya bertukar surat saja. Dan hal kecil yang mereka lakukan di bawah pohon tadi juga membantu memperbaiki moodnya. Namun, baru beberapa jam berlalu, dia sudah menerima kabar tak menyenangkan lagi.
"Paman dan Bibi tak ada di sini untuk menemaniku, dan sekarang kau juga akan pergi. Bagaimana denganku? Katakan kau hanya menggodaku. Iya, kan? My Lord?"
"Lilian …." Baroness berusaha untuk menghentikannya, namun Lilian sudah beranjak berdiri dari kursinya.
"Aku sudah selesai makan. Maaf, aku merasa tak enak badan. Sebaiknya aku beristirahat. Permisi." Kemudian dia berbalik dan pergi dari ruang makan.
"Oh, Sayang, Mama akan berbicara padanya dan menegurnya …."
"Maafkan dia, Melanie." Baroness diam saat Baron memotong kalimatnya.
Hal itu membuat Baroness mengernyit tak setuju. "Baron, Anda selau saja membelanya. Sku juga menyayangibya tapi barusan …."
"Maafkan aku, Baroness. Aku tidak bermaksud begitu. Emosi Lilian sedang tidak stabil, dan ini minggu yang berat untuknya …."
"Tapi …."
"Papa benar, Mama." Melanie membenarkan kalimat Baron. "Dulu aku juga seperti itu. Namun kalian semua membantuku melewatinya. Aku akan berbicara padanya nanti."
"Bicaralah padanya sekarang Sebelum terlambat." Willem menambahkan sambil menangukup tangannya.

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Puteri Tira

    ok.mudah dimengerti

    07/04

      0
  • avatar
    Kona

    bagus

    17/01

      0
  • avatar
    akbarrolla

    aduhhh bagusss kali

    23/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru