logo text

139 - The Wedding Dress

Setelah dua hari sepi di kediaman Baron karena Bibi Jane dan Uncle Stevan pulang ke Greenwich, Lilian yang saat itu sedang membaca buku di ruang tamu karena di harus menjaga rumah sendirian dikagetkan dengan kedatangan sebuah kereta kuda besar berwarna hitam di halaman rumahnya.
"Lily!"
"Melanie!" Dia langsung beranjak melupakan bukunya untuk menghambur ke dalam pelukan Kakak perempuannya. "My Lord." Dia langsung menekuk lututnya untuk memberi salam pada pria yang datang bersama Melanie sebelum kembali mengerling pada Kakak perempuannya. "Aku tak harus memanggilmu My Lady, bukan?"
Melanie kembali merangkul Lilian sebelum mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Aku kira kau sudah lupa jalan pulang ke rumah ini." Lilian langsung menyesal karena telah berbicara sembarangan. Jika Melanie sendirian, tentu tidak masalah. Namun, Melanie datang bersama suaminya saat ini. "Maafkan kelancangan saya, My Lord."
"Please, don't mind me. Ngomong-ngomong, maaf karena kami baru bisa datang berkunjung." Wajah Lilian tersipu merah karena malu mendengar penjelasan Lord Mathis.
Namun ada yang aneh! Pria yang dulu terlihat menyeramkan ini sekarang terlihat lebih manusiawi. Mungkinkah karena … Melanie? Sepertinya Phoenix baru saja kehilangan sosok bangsawan kejam dan mengerikan sepanjang masa, Lord Willem Mathis.
Namun Melanie segera menengahi. Wajah Kakak perempuannya itu juga merah padam seperti wajahnya sendiri saat berbicara.
"Kenapa sepi sekali? Tak ada orang di rumah?"
"Mama sedang keluar. Sudah sedikit lebih lama sekarang. Mungkin sebentar lagi akan kembali."
"Uncle dan Aunt Jane?"
Lilian menggeleng. " Mereka sudah pulang dua hari yang lalu karena Uncle Stephan harus berada di sana untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Mereka semua menunggumu tapi kau tak kunjung datang."
Lagi-lagi dia melakukannya. Dia ingin menyumpal mulutnya sendiri karena selalu saja bisa mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dikatakan.
"Maafkan saya, seharusnya saya membawa Melanie pulang lebih awal."
Suasana di ruang tamu rumah Baron yabg tiba-tiba menjadi sedikit mencekam terpecahkan karena suara tawa Melanie yang merdu. Dia tertawa karena melihat ekspresi Lilian yang serba salah. Ingin beramah tamah, tapi selalu saja berakhir dengan melontarkan kalimat konyol. Mau tak mau Melanie jadi iba pada nasib Lilian nanti setelah menikah. Dia akan menjadi Viscountess dan harus bertemu dengan banyak orang saat mendampingi suaminya.
"Kau harus berlatih untuk menggunakan mulutmu dengan baik, adik kecil. Oh? Sepertinya Mama sudah pulang?"
Terdengar suara pintu terbuka di belakang rumah dan diikuti dengan suara langkah kaki dan sesuatu diletakkan dengan keras di atas meja dapur. Setelahnya, terdengar gumaman suara seseorang dari sana. Tak terlalu jelas, namun keduanya bisa memastikan bahwa itu memang suara Baroness.
Tanpa kata, keduanya beranjak menuju dapur untuk menghampiri.
"Mama?"
Baroness sedang berjongkok untuk memeriksa roti yang dia tinggal tadi sebelum keluar. Beberapa sudah dikeluarkan dari oven tanah liat yang ada di dapur mereka. Membuat ruangan bercerobong asap dengan jendela besar di salah satu sisi dindingnya, dipenuhi dengan aroma wangi tepung dan ragi yang dipanggang dalam api panas.
"Lilian, lihatlah, ada yang sedikit gosong pinggirannya. Ini kesukaan Kakakmu. Seandainya saja … Oh, my Goodness! Melanie?!"
Melanie manghambur ke depan pada ibunya dan memeluknya erat. Mereka terus berpelukan sambil saling bertanya kabar satu sama lain dalam tangis. Jika ada orang luar yang melihat pemandangan itu, mereka pasti mengira bahwa Melanie sudah pergi lama sekali dan kini akhirnya kembali.
Tak akan ada yang berpikir bahwa Kakak perempuannya itu baru saja menikah dan baru lima minggu tak pulang ke rumah orangtuanya.
Ibunya menangkup kedua pipi Melanie, matanya menatap Melanie dengan sayang. Tiba-tiba wajahnya berubah panik dan cemas. "Oh, kau pulang bukan karena bertengkar dengan suamimu, 'kan?"
"Maafkan saya, baru bisa membawa Melanie berkunjung ke rumah sekarang, Baroness."
Saat itu, sosok kekar dan tinggi tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dapur kecil mereka membuat Ibunya sedikit malu dan tertekan.
"Oh … Oh! Astaga! Kau tak memberitahuku kalau kau datang bersama suamimu! My Lord maafkan kelancangan kami. Silakan kembali duduk di depan. Aku akan segera menyiapkan sesuatu yang hangat untuk Anda."
Baroness mendorong Melanie agar membawa suaminya kembali ke depan dan mrncekal tangan Lilian agar tinggal di dapur bersamanya. Wajahnya sedikit pucat dan was-was.
"Oh, Lily, apakah perkataanku tadi salah? Lord Mathis tak akan memiliki ide yang salah tentang keluarga kita, kan? Melanie tak akan terkena masalah, 'kan di sana?"
Wajah ibunya terlihat amat pucat sehingga Lilian tak tega untuk tertawa, meskipun situasi saat ini sebenarnya lucu. Dia pun tadi sama seperti ibunya. Ketakutan dan merasa tak nyaman dengan kehadiran Lord Mathis.
Namun, jika mau melihat lebih dekat ekspresi Lord Mathis, jelas terlihat bahwa pria itu saat ini sedang tergila-gila pada Melanie. Jadi, apa pun yang terjadi asalkan Melanie merasa senang, dia tak akan protes.
Setidaknya, itulah kesan yang diterima Lilian.
"It's alright, Ma. Ayo, aku bantu menyiapkan sesuatu untuk menjamu tamu kita."
Keduanya kemudian sibuk di dapur selama beberapa saat sebelum akhirnya keluar untuk menemui tamu mereka dengan membawa jamuan yang lebih pantas.
"Maafkan kami, My Lord. Anda datang tanpa pemberitahuan sehingga kami tak bisa mebjamu Anda dengan layak."
"Justru saya yang harus meminta maaf karena baru bisa berkunjung sekarang."
"Mama, by the way, di mana Papa? Bukankah seharusnya Papa sudah pulang di jam-jam seperti ini?"
Baroness duduk di sebelah Lilian dan menepuk-nepuk tangan putri bungsunya. "Dia pasti sudah akan datang sekarang. Hari inindia berjanji akan memperlihatkan gaun pengantin yang akan dikenakan oleh Lilian …
"Lilian's wedding dress?!"

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Puteri Tira

    ok.mudah dimengerti

    07/04

      0
  • avatar
    Kona

    bagus

    17/01

      0
  • avatar
    akbarrolla

    aduhhh bagusss kali

    23/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru