"Henry, tunggu aku!!" Henry mengabaikan panggilan keras dengan mendesak tersebut yang berasal dari belakangnya. Dia tak menyuruh apalagi mengajak gadis itu untuk mengikutinya berjalan di hari yang dingin bersalju menyusuri sungai kecil di halaman belakangnya menuju ke suatu tempat. "Henry, if you hear me you better stop and wait for me in this instance!!" Novia Romanov berseru kesal karena Henry tak juga berhenti dan mengabulkan permintaannya. Kakinya mulai membeku dan kaku karena terus berjalan mengikuti langkah Henry yang lebar di cuaca membeku begini. Tentu saja dia tak akan mengatakan secara terang-terangan apa yang dia rasakan pada pria itu. Meskipun hal itu sudah jelas, tapi mendeklarasikan hal itu kemudian mengatakannya dengan amat gamblang membuatnya terdengar murahan dan tak pantas. Sebenarnya ke mana pria ini menuju di cuaca seperti ini?! Tentu saja Henry mendengarnya, tapi terkutuklah dia jika berbalik dan meladeni keluhan gadis itu. Dia sengaja berjalan menyusuri halaman belakang kastil Hamilton menuju ke padang rumput yang ada di depan rumah Baron. "Ah!! Henry aku terjatuh!" Serunya setengah terisak. Henry berbalik dan menatap gadis itu dengan gemas. "Kalau tak terbiasa berjalan di medan seperti ini kenapa nekad mengikutiku?! Aku tak pernah memintamu untuk datang!" gertaknya kesal. Wajah yang awalnya merengut tak senang itu sekarang berubah menjadi kesal. "Bagaimana bisa kau berbicara begitu pada tu…" "Kau bukan siapa-siapaku." potongnya cepat. "Kita tak pernah ada hubungan apa pun setelah pembatalan pertunangan yang dilakukan oleh Ibumu dulu! Pulanglah. Biarkan aku sendiri kali ini." Henry berbalik dan bergegas secepat mungkin meninggalkan Novia Romanov. Kepergian Henry itu membuat dia tak bisa mengikutinya lagi. Novia masih berusaha memanggil Henry beberapa kali namun tak digubris oleh pria itu. Henry berbelok ke jalan kecil yang nantinya akan membuatnya sampai pada kebun anggur dan lahan pertanian lainnya yang berada di sekitar rumah Dang Baron. Saat ini tujuannya adalah satu, yaitu bertemu dengan Lilian. Dia gelisah karena tidak dapat bertemu gadis itu secara langsung beberapa hari terakhir ini. Dia tahu bahwa hari ini Viscount dan Viscountess of Greenwich akan pulang kembali ke kediaman mereka. Dan itu membuat Henry kehilangan kesempatan besar yang dia punya untuk Lilian. Namun dia juga tahu lebih baik dari orang lain bahwa saat ini dia sedang dalam tekanan yang tak mudah. "Lilian, maafkan aku." Dia sampai di depan rumah sang Baron tepat saat kereta sang Viscount bertolak meninggalkan halaman rumah tersebut. Kereta besar yang muat untuk empat orang, ditarik oleh dua kuda gagah dan besar itu berderap meninggalkan empat orang lainnya do belakang. Itu adalah Baron, Baroness dan kedua putri mereka. Sepertinya Viscount dan Viscountess berangkat cukup sore untuk karena masih menunggunya datang. Namun dia tetap terlambat, dan satu-satunya yang bisa membantunya kini pergi dengan membawa kekecewaan terhadapnya. Dia sudah merusak kepercayaan dua orang terdekat Lilian yang dulu dia bangun dengan sepenuh hati. Dia berjalan pelan menghampiri pohon besar di mana Lilian biasa menghabiskan waktunya membaca di bawahnya di saat hari cerah. Di musim dingin seperti ini, pohon tersebut hanya berupa batang dan ranting tegak dengan kulit kayu yang membeku. Dia melihat keluarga sang Baron yang tetap berdiri di di sana hingga kereta sang Viscount tak lagi terlihat setelah tikungan. Baroness terisak sedih di pelukan sang Baron karena harus berpisah dengan saudaranya. Mereka hendak kembali ke dalam rumah saat Melanie menangkap sosoknya berdiri mengintip dari kejauhan. Mereka berpandangan selama beberapa saat sebelum Kakak Lilian itu menyenggol rusuk adiknya dan mengedikkan dagu ke arahnya. Henry sedikit terkejut. Dia tak menyangka jika Lilian sudah memberitahu Melanie tentang mereka. Dia yakin, dari apa yang dilakukan Melanie barusan, pasti garis itu sudah tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Lilian. Hal itu membuatnya sedikit tak enak. Meskipun pertunangannya dengan putri pertama keluarga Kendall itu sudah resmi berakhir, tapi menjalin hubungan kembali dengan sang adik… apakah seharusnya Henry memberikan beberapa penjelasan pada Melanie? Tapi Arfy bilang gadis itu sudah bertunangan dengan Sang Earl. Mungkin sebaiknya tak usah? Dia hanya ingin menghindari hal - hal yang tak menyenangkan di kemudian hari. Matanya bertaut dengan mata Lilian. Wajah gadis itu amat datar dan pucat di tengah udara yang membeku. Henry ingin sekali berlari ke sana dan mendekapnya, berbagi kehangatan dan kenyamanan dengan gadis itu. Tentu saja dia tahu hal itu adalah hal bodoh, karenanya, dia hanya membayangkannya saja. Dari tempatnya berdiri, dia melihat Lilian berbalik pada kedua orang tuanya dan bercakap-cakap sebentar. Kemudian mereka berempat berpisah jalan: Baron dan Baroness ke dalam rumah, sedangkan Lilian ditemani oleh Melanie menghampirinya di tempat ini. Jantungnya berdetak amat kencang seiring langkah Lilian yang kian dekat. Dia baru berani menyapanya setelah gadis itu cukup dekat padanya. "Lili…" "What are you doing here, Liar!" Suara kesiap kagetnya tersamarkan oleh kesiap Melanie yang kencang, tapi gadis itu tak mengatakan apa pun lagi setelahnya. Malah, sekarang Melanie sedikit menjauh untuk memberikan mereka ruang untuk berbicara. Henry amat berterima kasih pada Melanie karena itu. "Lilian…" "Ya. Kau harus meminta maaf. Aku sangat kecewa padamu, Tuan Hamilton." Lilian berkata dengan nada dingin yang terasa jauh, membuat Henry menjadi panik. "Bukan maksudku untuk mengecewakanmu, My Love." "Don't." Henry segera terdiam, tak lagi mencoba untuk menjelaskan. "We're over. Kau menghancurkan kepercayaanku." "No! Lilian, aku bisa menjelaskan. Ini semua karena…" "Henry?!" Ketiganya, bersama Melanie juga yang tak jauh dari sana, menoleh kaget saat mendengar sebuah suara memanggil Henry dari balik pepohonan. "Oh? Miss Kendall. Didn't expect to see you here. Henry, you walk so fast. Beruntung aku bisa mengejar." Melihat sosok dan mendengar suara orang tersebut membuat darah Lilian semakin menggelegak mendidih. Dengan mata berkilat-kilat, dia mengembalikan atensinya pada Henry dan berkata dengan mendesis kareka kedua rahangnya saat ini terkatup erat. "Jadi karena ini? Very well! Wish you happiness with her!" Dan setelahnya, dia berderap pergi dari sana sambil menarik Melanie, sama sekali tak menggubris panggilannya. Dengan kesal, Henry menoleh pada pengganggu yang tak diharapkan kehadirannya itu. "Bersiap untuk meninggalkan kastil Hamilton. Malam ini adalah malah terakhirmu bertemu denganku!"
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ok.mudah dimengerti
07/04
0bagus
17/01
0aduhhh bagusss kali
23/11
0Lihat Semua