logo text

100 - He’s Your Friend After All

Lilian memang merasa kalau teman Henry yang bernama Sir Adam sedikit antipati padanya. Dia tentu saja tak tahu alasannya. Pria itu selalu merengut dan murung saat bertemu dengan Lilian, berbeda dengan Sir Harold yang ramah dan lucu.
Beberapa kali saat makan malam atau makan siang, saat mereka mengerjakan proyek mereka di Hamilton Residence, saat semuanya saling bercakap-cakap dan Lilian ikut bergabung, pria itu akan langsung diam. Pun saat berpapasan dengan Lilian di rumah, dia hanya akan memberi salam dan berlalu tanpa sepatah kata pun.
Lilian sudah sangat terbiasa akan hal itu. Dia berpikir, mungkin itu karena Adam satu-satunya yang sudah menikah dan dia sangat sayang dan setia pada istrinya sehingga tak mau berinteraksi secara berlebihan dengan wanita mana pun. Termasuk Lilian.
Kenyataannya, tak satu pun dugaan Lilian benar tentang pria itu. Sir Adam hanya membencinya karena Henry memilihnya dan bukan Lady Romanov yang kaya, yang terhormat, yang memiliki pengaruh, yang akan berguna bagi masa depan proyek mereka.
Hal mengejutkan itu diketahuinya saat dia tak sengaja masuk ke ruang kerja Henry beberapa malam yang lalu karena mendengar suara seseorang yang sedang bercakap-cakap dengan nada tinggi. Mengira itu adalah Pamannya dan Henry, dia beranjak untuk menyusulnya.
“Ah! Maafkan kelancangan saya.” Dia langsung meminta maaf saat melihat bahwa bukan Pamannya yang sedang berbicara dengan Henry melainkan teman pria itu, Sir Adam. “Aa… Saya hanya berpikir siapa yang berseru di jam seperti ini. Silakan di… Henry!”
Dia berseru kaget saat tiba-tiba Henry menariknya masuk ke dalam ruangan dan menempatkannya di antara pdia itu dan Adam. Dan kemudian dia mendengar nama Lady Romanov disebut. Hal itu membuatnya mendongak. Saat itulah dia baru menyadari bahwa Adam tak menyukai Henry yang yang lebih memilihnya daripada Lady Romanov.
Hubungan kedua pria itu tak seketika menjadi baik. Mereka masih tetap saling diam bahkan setelah beberapa hari kejadian tersebut berlalu. Lilian bisa melihat betapa frustasinya Harold karena hal itu.
Dan hal tersebut terus berlanjut hingga hari kepulangan mereka ke Phoenix.
“Kau masih tak saling bicara dengan Sir Adam?” Lilian bertanya sembari mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Dia serta Paman dan Bibinya akan berangkat lusa untuk pulang ke Phoenix.
Henry mengekorinya hari ini ke mana pun dia pergi. Itu membuatnya sedikit merasa tak nyaman dan tak leluasa. Jadi dia memutuskan untuk melanjutkan membereskan barang-barangnya di kamar. Itu cukup efektif karena akhirnya Henry bersedia duduk tenang dan tak mondar-mandir lagi di sekitarnya.
“Dia yang tak mau berbicara padaku. Padahal kalau dipikir lebih lanjut, dia yang bersalah padaku. Dia memang selalu seperti itu. Merasa kalau dia paling benar.”
“Jangan seperti itu. Bicaralah kembali padanya.”
“Kau masih membelanya?!”
Lilian mendesah pasrah saat Henry malah meradang padanya. Dia tahu dia tak boleh membalas Jenry dengan kemarahan yang sama. Saat ini, pria itu sedang dilanda emosi dan dalam keadaan yang tak stabil. Dia tak senang karena keadaannya dengan temannya tak baik-baik saja, namun dia juga terlalu gengsi untuk mengambil langkah maju terlebih dahulu.
Lilian duduk di tepian ranjangnya di samping Henry dan mengambil tangan pria tersebut. Agak ragu-ragu karena dia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Mereka pernah berpelukan dan bergandengan tangan, tapi semua itu Henry lah yang berinisiatif. Lilian hanya mengikutinya saja.
Tapi kali ini dia ingin menghibur Henry, karenanya dia mengambil langkah ini meskipun rasanya dadanya hampir meledak karena berdebar.
“Lilian?”
“Aky tahu, dia tak suka padaku karena aku bukan Lady Romanov.”
“Kau tak marah?”
Lilian mendengus. Siapa bilang dia tak marah?! Malam itu dia tak bisa tidur karena memikirkan hal itu. Dia tak bisa menemukan alasan kenapa, di antara banyak pria yang mengelilinya, dia malah menginginkan Henry? Tak bisakah dia melepaskan henry hanya untuknya saja? Tanpa gadis itu mengintervensi, hubungannya dengan Henry sudah cukup rumit.
Tapi dia banyak berpikir melihat keadaan Henry dan sahabatnya itu.
“Tentu saja aku marah. Tapi bagaimanapun juga, dia adalah temanmu. Dia tak mengenalku. Dia hanya tahu bahwa aku hanyalah seorang gadis biasa yang mungkin mendekat untuk memanfaatkan sahabatnya….”
“That’s not you!” Lilian mengelus kembali punggung tangan Henry untuk menenangkannya. Dia baru tahu kalau Henry punya sisi kekanakan seperti ini. Di depannya saat ini, tak ada lagi Henry yang ceria dan pintar. Mereka bersembunya di balik Henry kekanakan yang sedang kesal. “Aku yang mengejarmu dan kau sibuk mengelak dari dulu! Dia tak tahu…”
“That’s it.”
“Huh?”
“He doesn't know me. Tugasmulah agar dia mengenalku dengan lebih baik.” Henry tertegun mendengar kalimat Lilian. “Lagipula, kalian sudah berteman cukup lama. Jangan bertengkar hanya karena perempuan.”
***
Lilian terus mengulang kalimat tersebut pada Henry. Awalnya tentu saja pria itu menolak mentah-mentah. Tapi lama-kelamaan Henry seperti mempertimbangkan idenya tersebut. Karena itulah, dia terus mempersuasi pria itu.
“Jangan lupa, pertimbangkan kembali saranku.” kata Lilian saat dia hendak masuk ke kereta kuda yang akan membawanya ke Phoenix.
“Kau benar-benar keras kepala.” Henry mendesah menjawabnya, sementara Lilian hanya tersenyum. “Baiklah, aku akan mempertimbangkannya. Tunggu aku di Phoenix. Aku akan datang dan segera menjadikanmu milikku.”
Lilian terhenyak saat Henry menariknya dan mendekatkan wajah mereka seolah-olah pria itu hendak menciumnya.
“Lilian!” Panggilan pamannya dari kereta menyentak mereka berdua. Lilian menjauh dengan wajah memerah. “Ayo naik, kita berangkat sekarang!”
Lilian melirik Henry dengan gugup untuk yang terakhir kali sebelum masuk ke dalam kereta.
“Ya, Paman!”

Komentar Buku (99)

  • avatar
    Puteri Tira

    ok.mudah dimengerti

    07/04

      0
  • avatar
    Kona

    bagus

    17/01

      0
  • avatar
    akbarrolla

    aduhhh bagusss kali

    23/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru