Dari pagi sampai menjelang malam lagi, Anin tak kunjung menemukan sosok Jonan. Sudah dua hari ini Jonan tidak pulang ke rumah. Ingin bertanya, tapi Anin tahu kalau seisi rumah sedang membencinya. Tentang perceraian itu, Anin sebenarnya tidak terlalu dipikirkan, toh Anin harus merasa lega karena sudah terbebas dari jerat pernikahan tipu-tipu dengan Bagas. Masalahnya sekarang, Anin harus mencoba hidup mandiri tanpa bantuan keluarga ini. Ini mungkin salah Anin juga karena menuruti mertuanya yang memintanya untuk tidak usah bekerja. Mereka bilang, kalau Bagas bisa membiayai tanpa Anin ikut bekerja. Bodohnya, Anin sama sekali tidak memikirkan akan berimbas seperti ini. “Kamu belum juga menemukan Jonan?” tanya Nana. Jam makan siang Nana terpaksa digunakan untuk menemani Anin yang tengah bersedih. “Aku nggak tahu Jonan pergi kemana. Aku bisa saja menelpon, tapi aku ragu. Bisa jadi dia memang nggak mikirin aku lagi kan?” Anin menatap sendu. “Jangan bilang gitu ….” sergah Nana. “Mungkin saja Jonan lagi sibuk kan? Mungkin juga dia lagi ngurus pabriknya.” Anin menghela napas dan mencoba tersenyum. Apa yang Nana katakan mungkin benar, hanya saja Anin merasa sedih karena saat sedang dibutuhkan pria itu justru menghilang entah kemana. “Sebaiknya aku fokus saja mencari pekerjaan,” kata Anin kemudian. “Aku pergi dulu ya…” Anin berdiri. Nana ikut berdiri. “Maaf ya, aku belum bisa bantu. Restoran tempat aku bekerja lagi nggak butuh karyawan baru.” Tak mau sampai Nana merasa bersalah, Anin segera menepuk pundak Nana. “Jangan dipikirkan, Aku sudah biasa seperti ini. Kamu tahu kan, aku wanita kuat.” Anin tertawa getir. Mereka berdua keluar dari ruang belakang di mana tempat Nana bekerja. Sampai di depan pintu, Nana meraih tangan Anin. Keduanya pun saling berhadapan. “Aku cuma kasih saran …,” kata Nana serius. “Apa?” tanya Anin. “Kamu jangan sampai mau kembali lagi sama Bagas. Aku nggak mau kamu disakiti lagi.” Anin mengguncang pelan lengan Anin. Anin menyapu lidah kemudian menunduk sebentar menatap tangan yang saling menggenggam. “Nggak usah khawatir. Aku sudah nggak ada rasa sama Mas Bagas. Tapi Aku tetap akan cari tahu bukti tentang video itu. Aku nggak mau terus-terusan disangka wanita murahan.” “Aku dukung kamu, tapi aku cuma bisa bantu seadanya. Kamu tahu kan, aku sibuk setiap hari.” Wajah Nana terlihat sedih. Keduanya sudah terbiasa sejak bertemu pertama kali di bangku SMP. Keduanya terus bersama sampai saat ini. Mungkin bisa dikatakan hanya Nana yang Anin punya saat ini. “Oh iya, Nin,” panggil Nana ketika Anin sudah hendak melangkah. Anin berbalik. “Satu lagi … kamu kan pernah belajar tentang bisnis perkantoran, kamu coba melamar bekerja di perusahaan swasta. Aku jamin pasti kamu diterima.” Anin tersenyum. “Aku pikirkan nanti. Sekarang cari pekerjaan sangatlah sulit. Semoga saja yang kamu katakan benar, aku bisa cepat mendapatkan pekerjaan.” Anin beranjak pergi dari restoran di mana Nana bekerja. Setelah duduk di dalam mobil, Anin memutar tas selempangnya lalu menaruhnya di atas pangkuan. Anin membuka resleting tasnya kemudian mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih. “Baru kemarin, Mas, kamu bilang akan menceraikan aku. Aku tidak menyangka kalau pagi harinya kamu langsung memberikanku surat pengadilan ini.” Anin ingin menangis saat membaca kembali lembaran kertas tersebut. “Aku akan menandatanganinya, dan hubungan antara kita segera usai. Ini memang yang terbaik.” Anin meraih pulpen di atas dasbor kemudian segera menandatangani lembaran kertas itu. Selesai dengan surat tersebut, Anin bergegas memakai sabuk pengaman. Namun, saat Anin hendak melajukan mobilnya, ponsel Anin bergetar. Anin yang semula sudah mengancing resleting tasnya, terpaksa membukanya lagi. Mata Anin seketika membelalak sempurna tatkala mengetahui nama siapa yang terpampang di layar ponselnya. Anin sampai menarik napas gugup dan mengucek mata beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Sayangnya, saat Anin baru saja memantapkan hati untuk menjawab panggilan tersebut, panggilan justru mendadak terputus. Anin refleks menjerit kecil dan membulatkan mata. Sepertinya Anin terlalu lama untuk menjawab panggilan tersebut. “Ya Tuhan, ini salahku!” umpat Anin sambil mengerutkan wajah dan menggigit bibirnya. “Aku harus bagaimana?” Anin sampai-sampai terlihat berkaca-kaca dan hendak menangis. Dan BYAR! Anin menangis sudah ketika panggilan itu kembali menyalakan ponselnya. Anin langsung menekan tombol hijau. “Ha-halo,” jawab Anin gugup. Anin terisak hingga mengeluarkan ingus. Sementara di seberang sana seseorang yang menelpon sontak mengerutkan dahi ketika mendengar cara Anin menjawab panggilan. Anin masih menunggu sambil mengusap air mata dan menata deru napasnya yang terasa sesak mendadak. “Anin ….,” panggil Jonan dengan suara lirih. Anin yang senang bukan main sampai tidak sadar membuka mulutnya bersamaan dengan banjirnya air mata membasahi wajah. Tubuh Anin melemas dengan rasa dingin yang seketika terasa menusuk pada raga. “Anin! Kamu kenapa? Anin! Jawab Aku!” Jonan lantas meninggikan suaranya karena sangat terkejut mendengar suara dan tangis Anin. “ANIIIN!!” hardik Jonan lebih keras ketika yang Jonan dengar sedari tadi hanya tangis Anin saja. “Anin, aku mohon jawab!” hardik Jonan. “Jonan, Aku kangen kamu ….” suara Anin terdengar sangat lirih. Jonan bahkan masih jelas mendengar Anin masih terisak. Degh! Jonan yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang sontak berdiri. Kalimat lirih itu membuat Jonan justru bertanya-tanya dan pikiran buruk justru menerpa. “Apa yang sedang terjadi di sana?” batin Jonan. “Jo-Jonan,” panggil Anin masih sesenggukan. Anin mendadak takut ketika suara Jonan tidak terdengar lagi. “Jonan, kamu kenapa diam?” “Anin, kamu kenapa? Kok nangis?” tanya Jonan. Di kamar hotelnya saat ini, Jonan sedang mondar-mandir sambil sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri. “A-aku … aku baik-baik saja kok. Aku cuma, e … aku—” Anin gugup sampai terbata-bata. “Kenapa, Anin? Apa ada masalah? Katakan padaku,” desak Jonan. “Enggak. Aku, Aku kangen kamu.” Lepas sudah cara Anin berbicara. Anin tak tahan kalau tidak bilang bahwa dirinya memang sangat merindukan Jonan. Anin tak peduli kalau di sana, Jonan sedang menertawainya, yang jelas Anin memang sedang rindu akan sosok Jonan. Dua hari tak melihat Jonan, Anin tak menyangka bisa serindu ini. Mungkin, ini efek dari masalahnya dengan Bagas. “Kamu kangen aku sampai nangis?” selidik Jonan. “Segitunya?” Jonan tertawa kecil. Anin sungguh tak peduli. Mendengar tawa Jonan, justru membuat air mata Anin mengalir karena bahagia. Anin sampai terasa sesak karena menahan supaya suara isaknya tidak terdengar oleh Jonan. Ini memang sangat menyiksa, tapi Anin sungguh bahagia. “Kamu di mana?” tanya Anin mengalihkan pembicaraan. “Aku lagi ada di luar kota. Aku dan Tirta harus mengurus pengiriman barang di sini. Mungkin besok aku pulang.” “Kenapa nggak bilang sama aku?” sungut Anin. Jonan tertawa lagi. “Aku pikir kamu nggak akan memerlukanku, itu sebabnya aku tidak pamit,” ujar Jonan. “Ini juga karena mendadak.” “Dasar bohong!” sembur Anin. Anin masih menahan isak tangis sambil meremas roknya sendiri. “Aku nggak bohong,” saur Jonan. “Kamu juga nggak menelponku kan?” lempar Jonan. Anin memejamkan mata sambil menelan ludah. “Itu … aku … aku cuma.” Anin bingung harus menjawab apa. “Tuh kan? Begitu kamu bilang kangen padaku. Kamu yang bohong.” Di sana, Jonan sedang mengumpat tawa. “ENGGAK!” teriak Anin yang refleks membuat Jonan membelakan dan menarik ponselnya menjauh untuk beberapa detik. “AKU NGGAK BOHONG!” teriak Anin sekali lagi. “Aku nggak bohong …” suara tangis Anin terdengar lagi dan lebih keras dari sebelumnya. Di sana, Jonan langsung berubah panik dan khawatir. Dan kepanikan itu semakin bertambah tatkala sambungan ponsel mendadak terputus. “Anin, Anin! Halo Anin!” Jonan menggeram keras sambil membanting ponselnya ke atas ranjang. “Dasar bodoh!”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (198)
AmaliLanto Chairinnisa
bagus banget ceritanya, kak lanjutin dong aku penasaran dengan ceritanya, semangat terus kakak dan sukses selalu dalam berkarya🤗 🤭😊🙏
26/01/2022
0
NayaQayyum
Bagus ceritanya, emosinya dalam ceritanya harus lebih kuat lagi biar para pembaca merasakan geteran emosinya.
bagus banget ceritanya, kak lanjutin dong aku penasaran dengan ceritanya, semangat terus kakak dan sukses selalu dalam berkarya🤗 🤭😊🙏
26/01/2022
0Bagus ceritanya, emosinya dalam ceritanya harus lebih kuat lagi biar para pembaca merasakan geteran emosinya.
25/01/2022
3seruuu
07/07/2025
0Lihat Semua