logo text

Trauma Eva akan pernikahan dan pendekatan Adnan pada Eva, restu dari Ibu Adnan telah didapatkan, tapi ketiga anak Eva menolak

Jika saja tak ada trauma mengenai pernikahan pada diri Eva, ia tak akan berpikir dua kali untuk segera menikah. Tawaran menjalin hubungan serius sudah ada, calon pasangannya pun juga sudah ada, bahkan anak-anaknya pun juga sudah bisa menerima kehadiran calon pengganti papa mereka.
Tapi keraguan akan munculnya luka dan trauma masih sering hadir, meski kesibukan telah menggunung, tetap saja luka itu masih tak bisa dilupakan.
Jam dinding menunjukkan pukul 07.30 saat Eva sampai di ruangannya. Shift jaga pagi umumnya lebih banyak personilnya dibanding sore atau malam, karena banyak tindakan yang dilakukan di ruang lain saat pagi hingga siang. Selain itu beberapa tindakan juga dilakukan di waktu pagi.
Seperti misalnya pagi ini, ada 3 pasien yang dijadwalkan operasi SC, maka secara bergantian Eva dan tim shift jaga pagi lainnya mengantar 3 pasien itu ke ruang operasi.
*****
Ibu Adnan telah selesai mendapat tindakan operasi, setelah itu ibu Adnan menjalani perawatan di ICCU ( Intensive Cardiac Care Unit/ ICU khusus jantung). Adnan yang tak bisa menunggu lama di kamar rawat ibunya, terpaksa harus bolak-balik rumah dan rumah sakit.
Mengingat aturan perawatan di ICU yang menerapkan pembatasan penunggu dan jam berkunjung. Sehingga Adnan memilih untuk menunggu ibunya saat malam hari dengan duduk di ruang tunggu depan ICU.
Pagi hari setelah menunggu ibunya, Adnan bersiap pulang. Berjalan sendirian menuju arah pintu keluar, ia berpapasan dengan Eva.
Ia tak menyangka akan bertemu Eva lagi pagi ini.
"Mbak," sapanya pada Eva.
"Kerja disini?"
"Iya Mas."
"Mas-nya ?"tanya Eva
"Saya lagi nunggu ibu saya Mbak."
"Oh iyakah?"
"Sakit apa, Mas?"
"Sakit jantung Mbak, kemarin abis operasi pasang ring mbak."
"Ooo jadi sekarang ibu di ICCU, Mas?"
"Iya mbak."
"Mudah-mudahan ibunya cepet sembuh ya, Mas."
"Iya mbak, Aamiin."
"Mari, Mas."
Keduanya berpisah di lorong rumah sakit.
Adnan yang sebelumnya kelelahan dan kurang tidur serasa mendapat energi baru setelah bertemu Eva.
Ia senang bisa bertemu Eva lagi.
Meski hanya sempat mengobrol sebentar, tapi membuat  jantung Adnan berdebar.
"Oh, benarkah do' a jodohku segera terkabul?"
"Aamiin aamiin," batin Adnan.
Setelah puas jogging pagi di stadion, Zayn membawa anak-anak Eva untuk sarapan soto.
Saat tengah menikmati soto. Anak-anak Eva membuka percakapan.
"Om, mau nggak jadi papaku?" tanya Rasyid.
Zayn yang kaget mendengar pertanyaan tak terduga itu seketika terbatuk saat makan.
"Mau ya Om, please, please," Rayyan dan Rayhan menambahkan sembari memohon. Ketiganya kompak menginginkan Zayn sebagai papa mereka.
Kedekatan dan keakraban yang timbul diantara mereka muncul secara alami, karena itulah ketiganya meminta Zayn menjadi papa pengganti Tama.
Zayn yang dewasa mampu mendekatkan dirinya pada anak-anak Eva, ia dengan sabar dan telaten menemani ketiganya bermain, jogging, berenang dan memancing.
Meski Eva menolaknya, Zayn tetap menyayangi anak-anak Eva. Ia ingin belajar menjadi ayah yang baik dengan mereka.
Setelah menjalani observasi pasca operasi jantung. Ibu Adnan telah sadarkan diri, meski belum boleh banyak bicara, tapi kondisinya telah membaik.
Adnan bersyukur kondisi ibunya membaik pasca operasi. Ia tak sabar untuk menceritakan kisah pertemuannya dengan Eva di rumah sakit ini pada ibunya.
Saat perawat memberinya kesempatan untuk menjenguk ibunya. Ia tak menyia-nyiakan hal itu, segera ia masuk ke ruang ICCU dan mencium tangan ibunya lama.
Melihat kondisi ibunya dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya, membuat hati Adnan sedih.
Untuk melupakan hal itu, ia mencoba menceritakan tentang Eva pada ibunya. Ibu Adnan hanya merespon dengan tersenyum.
Sorot mata yang berbinar, bibir yang penuh senyum saat bercerita mengenai Eva, menunjukkan bahwa Adnan mulai menyukai Eva.
"Eva gadis yang baik, Nak," ucap Ibu Adnan lirih.
"Adnan mohon do'anya ya Bu."
Ia sangat berharap dapat berjodoh dengan Eva.
Setelah puas jalan- jalan, Zayn mengantar tiga jagoan Eva pulang ke rumah dan kemudian ia menuju ke kantornya.
Ruang pribadi Zayn di kantor yang berada di lantai 2, dilengkapi dengan kamar dengan kamar mandi dalam, sehingga bila sewaktu-waktu ia lembur ia bisa beristirahat di ruang pribadinya.
Ia mandi dan berganti baju kemudian
menyelesaikan orderan yang telah banyak dinanti pelanggannya.
Zayn, meski ditolak oleh Eva. Ia tetap berusaha melangitkan do'a jodoh terbaik untuknya.
Ia belum ingin membuka hati untuk gadis lain, di hatinya masih terukir nama Eva.
Entah kenapa Zayn belum terpikat dengan gadis lain, meski banyak pelanggannya yang menaruh hati padanya, pun dengan beberapa karyawannya. Tapi tetap hanya Eva di hatinya.
"Bu, ini uangnya."
"Tadi Om Zayn nggak ngebolehin adik bayar soto, jadi dibayarin semua sama Om Zayn," ucap Rasyid seraya mengangsurkan 1 uang merah kepada Eva.
"Lho kok dibayarin?" tanya Eva.
"Iya uangku tadi dikembaliin ib-uuu sama Om Zayn," protes Rasyid.
"Om Zayn baik ya Bu, Aku mau punya papa kayak Om Zayn," ucap Rasyid yang disetujui oleh kedua kakaknya.
"Iya Bu, baik banget Om- nya, seneng deh kalo jalan- jalan ma Om Zayn."
"Besok kalo kita libur, kita jalan ma Om Zayn lagi yuk, dik?"
"Ok."
"Jangan sering- sering  dong Kak sama Om Zayn nya, entar ganggu kerjaan Om-nya." ucap Eva menasehati.
Mengingat percakapan dengan anaknya, Eva mulai berpikir untuk membuka hati.
Karena kini ia tak boleh egois, hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri, tapi juga harus memikirkan kebahagiaan ketiga buah hatinya.
Kebahagiaan merekalah saat ini yang menjadi prioritas utama Eva. Melihat ekspresi ketiga anaknya setelah bersama Zayn, ia melihat kebahagiaan di wajah anak-anaknya.
Bahkan ketiganya menginginkan kebersamaan dengan Zain berulang.
Istikharah adalah solusi bagi Eva untuk memohon petunjukNya, untuk tetap menolak dan menjauh dari Zayn atau sebaliknya, menerima Zayn demi anak-anaknya.
Bagi sebagian orang aroma rumah sakit adalah hal yang dibenci, tapi itu tak berlaku bagi Adnan.
Karena baginya rumah sakit adalah tempat spesial, di rumah sakit saat menunggu ibunya sakit, berkali-kali ia bertemu Eva, gadis pujaan hati yang ia incar untuk menjadi jodohnya kelak.
Seperti pagi ini, Adnan yang tengah sarapan di kantin rumah sakit, melihat Eva yang sedang antri beli makanan.
Mungkin benar kata orang, jodoh pasti bertemu.Hal ini pun juga terjadi pada Adnan, ia segera menghabiskan sarapannya dan menghampiri Eva.
Melakukan pendekatan dengan meminta nomor telepon Eva. Restu dari ibunya telah ia kantongi. Adnan hanya tinggal memaksimalkan usahanya mendekati Eva.
Setelah mendapatkan nomor telpon Eva, Adnan senang bagai memenangkan lotre.
"Iyes, iyes, iyes." Adnan ucapkan kata itu berkali-kali untuk mewujudkan rasa senangnya.
Setelah mendapatkan nomor telepon Eva, Adnan gencar mengirimkan pesan ke sosial media Eva dan menelponnya.
Selagi ibunya dirawat di rumah sakit, Adnan selalu berharap dapat bertemu Eva setiap harinya.
Terkadang Adnan menunggu Eva di pintu masuk, di kantin atau di pintu keluar. Hal itu ia lakukan demi melihat sang pujaan hati.
Ia sangat yakin, do'a nya di Baitullah terkait jodoh akan segera dikabulkan Allah dalam waktu dekat ini.
Itulah sebabnya, ia melakukan berbagai usaha pendekatan pada Eva.
Jika Aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Song by Afgan

Komentar Buku (138)

  • avatar
    IrafRafaini

    Bagus ceritanya kak. Terasa sangat dekat degan kehidupan. Best👍

    16/05/2022

      0
  • avatar
    WidiyastutiReniasih

    Semangat lanjut, Thor! Cerita yang keren! 😍😍🔥🔥

    07/04/2022

      0
  • avatar
    RachmawatiLeny

    bagus banget ceritanya..sekilas hampir mirip sm crt rmh tanggaku...di tunggu lanjutan ceritanya ka

    30/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru