logo text

Kegiatan Eva dan anak-anaknya setelah pindah rumah. Eva mengurus umroh dan anak-anaknya mengikuti berbagai kegiatan keagamaan

Mengurus calon tamu Allah ternyata menyenangkan. Selain dapat bersilaturahmi dengan banyak orang. Eva dapat melihat kondisi lain di sekitarnya yang bahkan mungkin lebih berat darinya, sehingga membuatnya mudah empati dan selalu bersyukur.
Ia bersyukur dipertemukan dengan agen umroh itu, karena hal itu juga memotivasinya untuk rajin menabung dan menyegerakan umroh atau haji bila telah mampu.
Eva sangat ingin umroh saat ini, mencari ketenangan batin dan kekhusu'an beribadah. Namun, kondisi keluarganya saat ini tidak memungkinkan ia untuk meninggalkan anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama.
Ia bertekad setelah proses perceraiannya selesai, ia berencana membawa ketiga anaknya untuk beribadah umroh.
'Ya Allah, semoga saja suatu saat nanti Aku bisa umroh, mudahkan hajatku Ya Allah," pintanya di setiap shalatnya.
Untuk itulah, ia kini tengah mencari penghasilan tambahan guna mewujudkan rencananya itu.
*****
Setelah Eva dan anak-anaknya pindah ke rumah baru mereka. Eva dan anak-anaknya harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Tetangga di lingkungan baru, meski tak tahu kondisi latar belakang Eva, mereka tetap ramah dan menganggap Eva layaknya anggota keluarga baru mereka.
Mengetahui pekerjaan Eva adalah seorang bidan di rumah sakit, para tetangga mengaku siap bila harus menjaga anak Eva yang ditinggal bekerja. Tetangga baru Eva juga membuka pintu rumahnya untuk anak-anak Eva, sehingga ketiganya tidak kesepian saat tak ada Eva di rumah.
Ketiga anaknya merasa lebih bahagia dan tenang, karena mereka menemukan banyak teman baru dan lingkungan yang agamis, sehingga anak-anak Eva- pun juga mengikuti kebiasaan mereka untuk rajin shalat ke masjid dan ikut TPA saat sore hari.
Eva bersyukur mendapatkan rumah baru, ia bisa menata kembali hidupnya dan membangun kembali bisnisnya yang sempat terganggu karena masalah rumah tangganya.
'Alhamdulillah rejeki dapat tetangga dan lingkungan yang baik,' gumamnya.
*****
Setelah urusan Eva dan Lena selesai, Eva memantapkan diri untuk mengurus perceraiannya di Pengadilan Agama Kota Semarang.
Bukan hal yang mudah bagi Eva untuk sampai di titik pengadilan.
Eva terus menerus memohon pada sang Maha pembolak - balik hati agar memberikan hidayahNya pada Tama. Selain itu, Eva juga memohon petunjukNya agar tak salah langkah mengambil keputusan berat dalam hidupnya dan hidup ketiga putranya.
Meski harus merasakan sakit hati akibat luka yang ditorehkan suaminya. Eva harus tetap kuat demi buah hatinya. Eva yakin ada Allah yang selalu menolongnya dalam menghadapi ujian hidupnya.
*******
Selain mengurus pindah rumah, Eva juga mengurus kepindahan sekolah anak-anaknya. Ia tak ingin karena masalah perceraian orang tuanya berdampak pada pendidikan anak-anaknya.
Eva memutuskan memasukkan anak-anaknya ke sekolah dasar Islam terpadu yang terletak di dekat rumah barunya. Lokasi rumah yang dekat dengan rumah sakit, memudahkan Eva untuk mengontrol anak-anaknya.
Untuk menyembuhkan trauma pada anak-anaknya. Eva terus mendampingi mereka, membawa ketiganya berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater. Eva yang terluka hatinya merasa trauma berat dengan pernikahan.
Ia terus - menerus melakukan zikir agar hatinya tenang, selain itu ia juga menjalani terapi psikologis untuk mengatasi traumanya. Tak mudah bagi Eva untuk tetap kuat mendampingi anak-anaknya, bila hatinya terluka dan psikisnya trauma.
Seringkali saat terlintas pikiran mengenai masa lalu, ia menangis tersedu-sedu di kamarnya.Trauma membuatnya sering melamun dan tidak fokus saat bicara.
Allah sayang padanya, menitipkan tiga buah hati yang selalu menguatkan dan memeluknya saat menangis dan terluka. Ketiganya selalu menemani dan terus mengajak Eva bercerita agar Eva kembali tersenyum.
*****
Bila tak ada masalah berat dengan Tama, Eva akan rela menggunakan penghasilannya untuk membayar angsuran rumah.
Tapi semenjak Eva keluar dari rumah itu, ia tak sudi menggunakan penghasilannya untuk membayar angsuran rumah yang menyimpan banyak kenangan dan trauma baginya. Rumah itu akhirnya disita bank.
*****
Setelah Eva memutuskan keluar dari rumah itu, Tama pun kembali ke rumah Bu Astuti dan Lena kembali ke kampungnya.
Eva tak lagi peduli dengan kondisi suaminya dan memutuskan kontak komunikasi.
Selama mengurus perceraian, Tama tak pernah hadir di persidangan, hal ini memudahkan dilakukannya putusan perceraian dari hakim.
Eva menolak dilakukan mediasi, karena ia telah melakukan sebelumnya dan enggan baginya membuka pintu rujuk untuk suaminya.
Ia telah mantap bercerai, meski harus menyandang gelar janda, ia tak peduli.
Yang terpenting baginya, ia harus kuat dengan berbagai fitnah, cobaan dan ujian dengan gelar barunya.
Surat putusan cerai telah Eva terima, hak asuh ketiga anaknya jatuh ke tangan Eva, pembagian harta gono-gini tidak dilakukan karena semua aset atas nama Eva. Sehingga tidak ada hak Tama didalamnya.
Sejujurnya Eva tak ingin kisah masa lalunya terulang kembali pada anak-anaknya,  ia terlahir dari keluarga yang tak utuh. Ayah dan Ibunya berpisah saat Eva berusia 6 bulan, hingga Eva tak mengenal sosok Ayah.
Sayangnya pengkhianatan yang dilakukan Tama sulit ditolerir Eva. Hingga jalan perceraian harus dipilihnya.
Status janda membuatnya harus menjadi ayah dan ibu untuk anaknya.
Meski berat, ia tak ingin ada dendam pada Tama dan Lena, ia pun telah memaafkan keduanya.
*****
Tama yang kalut dan panik karena terus dikejar-kejar oleh pihak bank, akhirnya stress.
Ia mengganti nomor teleponnya, pihak bank pun tak mau kalah, setelah mendatangi rumah keluarga Tama, akhirnya Tama menyerah kalah, ia tak bisa mempertahankan rumah itu.
Pihak bank menyegel rumah itu dan memasang tulisan sita bank di depan rumah itu
*****
Bu Astuti, meski ia adalah orang tua Tama, tapi ia terus menguatkan Eva bahkan menjadi saksi saat persidangan perceraian berlangsung.
Ia terus meminta maaf atas kelakuan Tama. Ia sangat menyesali hal itu terjadi pada pernikahan Tama dan Eva.
"Eva, Ibu minta maaf atas sikap Tama, Ibu malu padamu, Nak," ujar Bu Astuti sedih sembari menghapus air matanya.
Ia menyesalkan sikap Tama yang lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah.
Bu Astuti berharap, meski ikatan pernikahan Tama dan Eva berakhir, ia tak ingin silaturahminya dengan Eva terputus. Ia membuka lebar pintu rumahnya untuk kunjungan Eva dan ketiga cucunya. Eva telah memaafkan sikap Tama.
Meski rumah Bu Astuti kini berjarak lebih jauh dari Eva, tapi ibu mertua Eva tetap mengirimkan pesan menanyakan kabar cucu-cucunya dan mengirimkan makanan kesukaan ketiganya.
*****
"Aaaaaa Mas Tamaaaaa," Lena menangis tersedu-sedu.
Lena putus asa karena Tama tak bisa dihubungi, berkali-kali ia mencoba tetap saja nomor Tama tak bisa dihubungi.
Setelah terusir dari kostnya, Lena memilih pulang kampung dengan kondisi hamil 2 bulan.
Orang tuanya kaget dan tak percaya mengetahui kepulangan Lena dengan kondisi hamil muda.
"Keluar kamu dari sini!" ucap Bapak Lena yang emosi mengetahui kondisi Lena.
Setelah Lena bersujud di kaki Bapaknya dan meminta maaf, akhirnya Bapaknya merasa tak tega dan menerima kondisi Lena.
Orang tua Lena tak menyangka anaknya pulang dan mencoreng nama keluarganya.
Lena yang bermimpi menjadi nyonya Tama, akhirnya tak tahu kemana perginya Tama.
Kondisi mual parah disertai hilang kontaknya Tama membuat Lena putus asa. Ia berkeinginan bunuh diri.
Berkali-kali  Lena mencoba menggugurkan kandungannya dengan berbagai cara, tak juga janin itu gugur, hal ini membuatnya hilang akal.
Hingga ia mencoba melukai perutnya agar janinnya gugur, tapi tetap saja janin itu tumbuh kuat di rahimnya.

Komentar Buku (138)

  • avatar
    IrafRafaini

    Bagus ceritanya kak. Terasa sangat dekat degan kehidupan. Best👍

    16/05/2022

      0
  • avatar
    WidiyastutiReniasih

    Semangat lanjut, Thor! Cerita yang keren! 😍😍🔥🔥

    07/04/2022

      0
  • avatar
    RachmawatiLeny

    bagus banget ceritanya..sekilas hampir mirip sm crt rmh tanggaku...di tunggu lanjutan ceritanya ka

    30/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru